"Sudah baikan, El. Maaf baru bisa datang malam nih. Kerjaannya banyak banget," cetus Jennifer saat memasuki ruangan Eldar.
Sudah terbit bulan. Di belakangnya ada Jayden dan Erland. Mereka ngga sengaja bertemu di parkiran rumah sakit.
Eldar tersenyum melihat ketiganya. Dia pun jadi kasian saat melihat wajah lelah Jayden.
"Sudah."
"Syukurlah," sahut Jennifer lagi.
"Katanya kamu mau liburan?" tukas Jayden to the point. Seperti bukan Eldar saja. Kakak beda usia setahunnya itu kalo liburan biasanya di akhir tahun. Itu pun dua atau tiga tahun sekali.
"Kemana?" Erland yang belum tau jadi kepo.
"Belum tau."
"Jangan lama lama. Kerjaan lagi banyak banyaknya," ucap Jayden lagi. Opa Dewan hanya mengatakan kalo sementara ini dia menggantikan Eldar, menjabat wakil CEO dan menghandle semua pekerjaannya.
Sejak Eldar dirawat di rumah sakit Jayden jadi sibuk luar biasa. Padahal baru tiga hari. Apalagi dia mendengar rencana liburan Eldar yang agak lama. Tampak mumet isi kepalanya.
"Aku ikut, ya," pinta Jennifer manja.
Dalam hati Erland juga ingin ikut, tapi tau pasti ngga akan berhasil.
"Ngga boleh. Kamu harus bantu aku," sela Jayden dengan wajah betenya.
Enak saja mau senang senang, sarkas Jayden membatin
"Males kalo nyuruhnya sambil marah marah," ketus Jennifer. Dia lebih suka kalo Eldar yang jadi bosnya dari pada kembarannya Jayden. Dia bisa jadi budak di tangan Jayden.
Eldar hanya tersenyum tipis. Sedangkan Erland spontan ngakak.
"Kalo lagi kerja, atmosfirnya bedalah. Kudu serius," kilah Jayden merasa benar dan wajar kalo sesekali marah waktu nyuruh kembarannya kerja.
"Aku lebih baik kerja sama Erland aja selama Eldar liburan." tukas Jennifer cuek.
"Sembarangan. Aku pecat kamu jadi adek, biar kamu rau rasa," ancam Jayden sambil melototkan matanya.
"Pecat aja," tantang Jennifer ngga takut.
"Ya udah. Aku bakal minta ke papi, semua kartu kredit, kartu atm kamu diblokir," balas Jayden ngga kalah cuek.
Waduuh, batin Jennifer kecut. Dalam keadaan genting begini, pasti segala perkataan Jayden akan dikabulkan.
"Sabar, ya, Jen," ledek Erland kemudian diikuti tawa Jayden yang merasa sudah menang.
Eldar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Suasana ini yang bakal dikangeninya kalo nanti dia sudah pergi menjauh dari mereka.
Setengah jam kemudian.
"Temanku juga dinas di sini. Tapi kayaknya udah pulang." Jennifer menatap jam di pergelangan tangannya.
"Teman yang mana?" selidik Jayden mencibir.
"Ada aja," senyum Jennifer berahasia.
Kedatangan Skylar memang belum diketahui Jayden, Erland, apalagi Eldar. Dia pun ngga sengaja ketemu Skylar setelah belasan tahun lamanya.
Sahabatnya bertambah tambah saja cantiknya.
Jennifer melirik Eldar penuh arti.
Apalagi dia, batinnya ngga sabar.
Mereka udah bertemu, ngga,sih. Jennifer geregetan banget
Skylar pernah mengatakan padanya kalo dinas di rumah sakit ini.
Apa mereka sama sekali belum pernah ketemu, ya? Jennifer sibuk menduga duga dalam hati.
"Ngga nyangka Jennifer punya teman dokter," tawa Erland berderai.
"Dokter ahli jiwa, 'kali," ejek Jayden sinis.
"Sembarangan," bantah Jennifer ngga terima.
Bibir Eldar berkedut. Sedangkan Erland tambah tergelak.
*
*
⁰
"Biarkan saja Eldar liburan. Dia butuh waktu untuk nenangin hati dan pikirannya," kata Opa Dewan saat menemui Daiva dan Xavi di rumah mereka.
"Om, kalo Eldar tetap serius dengan niatnya gimana?" Perasaan Daiva sangat ngga tenang. Dia juga khawatir.
Xavi menghela nafas berat.
"Kita harus ngasih Eldar waktu."
"Xavi benar, Dai. Eldar terlalu lembut. Kita harus ngasih dia waktu buat memikirkan semuanya." Dewan menepuk bahu ponakannya dengan lembut.
Daiva hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan hati sedih.
Kesakitan Eldar begitu berat. Daiva sangat tau dan mengerti. Hatinya pun selalu teriris saat tau Eldar mendapatkan perlakuan yang ngga seharusnya dia terima.
Xavi merengkuh bahu Daiva erat. Dia tau kalo Daiva sudah ingin menangis.
*
*
*
Skylar kembali membuka lilitan perban di kepala Eldar dengan hati hati. Suster Rima lagi lagi menolak. Bahkan dia pun ngga bisa lagi menemani Skylar karena lagi banyak pasien kecelakaan di unit gawat darurat.
Skylar pun diminta ke sana setelah memastikan keadaan pasien istimewanyq ini. Bahkan pihak rumah sakit juga menganggapnya sebagai pasien sultan.
Eldar terus menatap Skylar lekat. Skylar berusaha keras meredam kegugupannya. Jarak mereka terlaku dekat.
Setelah dulu sekali Eldar merasakan jantungnya ngga aman gara gara teman masa kecilnya, sekarang dia bisa merasakannya lagi setelah belasan tahun lamanya.
"Oke. Nanti kamu bisa keluar dari rumah sakit tanpa perban," senyum Skyla tampak tenang. Padahal jantungnya berdebar sangat keras sampai dadanya terasa sakit.
"Makasih."
"Sama sama."
Skylar pun segera pergi, dia harus segera ke unit gawat darurat.
"Nanti siang bisa kita makan bareng?" tawar Eldar menghentikan langkah kaki Skylar. Dia ingin berterimakasih
"Maaf, ngga tau juga apa aku bisa atau engga. Sekarang lagi banyak pasien," lambai Skylar sambil bergegas pergi.
Eldar tersenyum. Hatinya ngga marah walaupun baru saja ditolak.
Gila! Dia benar benar sudah tergila gila dengan dokter cantik yqng selalu mengurus perbannya beberapa hari ini.
Tadi sepertinya dokter itu sudah memakai jas miliknya. Ada name tagnya di sana. Sayangnya ngga sempat Eldar lihat dengan lebih jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
mantap 😍
2023-11-28
2
anggita
dokter cantik... 😘
2023-11-21
1