Eldar sudah tau semuanya

Eldar melamun. Dia teringat lagi wajah sedih Skyla saat dia mengucapkan kata selamat tinggal.

Apalagi yang bisa dia katakan. Papinya saja sudah mengatakan ketaksukaannya dengannya.

Eldar juga ngga mengharapkan hadiah apapun karena sudah menyelamatkan teman adiknya.

Yang Eldar senang karena melihat tangis Jennifer yang terhenti saat melihatnya berhasil menyelamatkan Skyla. Juga hatinya merasa lega mengetahui teman Jennifer baik baik saja.

Eldar kembali mengingat wajah lali laki separuh tua dan anak laki laki seusianya yang katanya adalah keluarganya.

Dia membuang tatapannya jauh ke luar jendela. Nafas pun dia hembuskan dengan kasar.

Haruskah dia bertanya pada mami dan papinya sekarang?

Ada pertentangan dalam dirinya. Dia ingin segera tau sebenarnya apa yang sudah terjadi. Jiwa ingin taunya mendesaknya.

Tapi dia juga takut. Jika dia mengetahui lebih banyak lagi, apa dia akan bahagia?

Di balik pintu Daiva menatapnya sedih. Dia sudah tau kejadian di rumah sakit. Sebenarnya Daiva ingin melarang Jennifer pergi, tapi anak perempuannya terus merengek. Dia pun sangat menyayangi Skyla. Tapi perkataan papinya membuat dia sudah memblacklist namanya.

Dasar kurang ajar. Padahal Eldar hanpir saja kehilangan nyawa karena sudah menyelamatkan nyawa putrinya. Teganya dia berkata seperti itu.

Daiva pun mendekat.

"Melamun?" Daiva duduk di samping Eldar yang tersenyum tipis melihat kehadirannya.

"Mam," panggilnya pelan.

Daiva memijat lembut tangan putranya.

"Ya, ada apa?" Daiva sudah mempersiapkan dirinya jika Eldar bertanya padanya.

"Em.... Mami.... Ini tentang ibu kandungku," ucapnya ragu.

Daiva tersenyum bijak. Memang sudah saatnya Eldar tau.

"Namanya Aurora, sayang. Dia sepupu mami. Dia cantik sekali. Kamu mirip sekali dengannya. Sangat tampan." Hati Daiva remuk saat mengatakannya. Wajah putranya tampak datar.

"Apa pun kesalahannya, dia sudah membayarnya dengan cukup lama tinggal di dalam penjara." Air mata Daiva menitik pelan.

Eldar menyandarkan kepalanya di bahu maminya.

"Ibu kandungmu juga sayang padamu. Dia bersikap begitu karena khawatir dengan hidupmu nantinya."

Eldar ngga menjawab, masih teringat ucapan wanita itu yang menginginkan kematiannya. Itu sulit untuk dia lupakan.

"Siapa yang ibuku bunuh, mam?"

Daiva menatap lekat putranya.

Apa sudah waktunya? Tetap saja hatinya ragu.

Walaupun Eldar memiliki IQ yang sangat tinggi, bahkan digolongkan pada yang tingkat jenius, tp EQnya belum tentu. Apalagi umurnya baru tujuh tahun!

Lama Daiva terdiam.

Eldar mengusap air mata mamainya.

"Mam, aku kuat. Mami harus percaya."

Daiva memeluk Eldar. Dia tau, Omnya sudah berusaha menghack semua berita tentang Aurora dulu hingga menghilang dari jagat maya. Tapi telanjur sudah banyak orang yang tau peristiwa yang menghebohkan dulu.

Yang Xavi dan dia takutkan, Eldar mendapat informasi yang salah dari saingan bisnis mereka.

"Kemarin ada laki laki tua ngaku sebagai opaku, mam. Juga ada anak laki laki yang namanya Dave. Kata Opa itu, dia saudara kandungku satu papi," tukas Eldar karena lama menunggu maminya yang ngga juga menjawab pertanyaannya

DEG

"Aku hanya ragu, apa benar yang mereka katakan?" sambungnya lagi.

Daiva menatap putranya lekat lekat.

Oke, rasanya sudah ngga bisa dia sembunyikan lagi.

"Benar, sayang. Itu opa kamu dari papi Xavi dan papi Aiden."

"Kalo Dave?"

"Dave.... Dia anak Papi Aiden dengan tante Zerina, teman mami."

Eldar terdiam mendengar penjelassan maminya. Ternyata kedua orang itu ngga berbohong, padahal dia sempat meragukannya. Tapj tetap saja ada ganjalan dalam hatinya.

"Tapi mengapa mereka baru datang?"

Daiva membawa Eldar dalam pelukannya.

"Mami akan ceritakan."

Elsar dapat merasa tubuh maminya yang gemetar.

"Dulu, papimu mempunyai dua kekasih. Mami Aurora dan tante Zerina."

Daiva mengambil nafas lagi sebelum melanjutkannya. Tangannya masih memeluk bahu Eldar yang diam, hanya menyimak.

"Waktu itu Papi Aiden dan mami Aurora bertengkar. Mami Aurora ngga sengaja membunuh Papi Aiden."

Daiva dapat merasakan tubuh Eldar yang berubah kaku dalam pelukannya.

"Karenanya mami Aurora masuk penjara . Orang tua papi marah, dan memutuskan membawa Dave. Sedangkan kamu bersama kami."

Tubuh Eldar yang kaku agak bergetar kini.

Daiva menepuk punggung Eldar lembut.

"Tapi syukurlah opa dari papi mau menemuimu. Sebenarnya dari dulu opa dari papi selalu menanyakan kabarmu."

Eldar menatap sepasang mata maminya yang sudah berlinangan air mata.

"Mami Aurora sudah menikah lagi. Kamu punya adik perempuan, namanya Belinda. Sekarang umurnya dua tahun."

Eldar memganggukkan kepalanya. Seakan mengerti. Daiva pun membawa putranya dalam pelukannya.

"Sekarang kamu sudah tau semuanya. Kamu harus kuat, El. Ada mami, papi, opa, oma dan banyak lagi orang orang yang sangat menyayangimu."

"Ya mami." Eldar menahan genuruh perasaan yang ingin meledak di rongga dadanya.

Perasaan aneh yang begitu sulit dikendalikan. Tapi karena itu dia jadi paham, mengapa dia dibenci. Walaupun itu bukan salahnya. Hidup menjadi ngga adil buatnya.

Dia harus hidup dalam kebencian orang orang karena perbuatan ibu kandungnya. Walaupun ibu kandungnya pun sudah mendapatkan hukumannya.

Xavi yang berdiri di depan pintu kamar Eldar hanya bisa menyandarkan tubuhnya di dinding. Matanya terpejam. Dia tau, putranya sedang menahan semua bebannya. Harapannya sama seperti Daiva, hanya satu, agar Eldar kuat menjalani hari harinya di kemudian hari.

*

*

*

"El, Skyla nitip ini buat kamu," ucap Jennifer setelah pulang dari bandara. Jayden hanya menatap Interaksi keduanya dari kejauhan dengan berdiri santai. Kedua tangannya berada di saku celananya.

Eldar menerima amplop surat berwarna biru muda yang diberikan adik kembarnya tanpa suara.

"Dia menanyakan kenapa kamu ngga ikut mengantarnya," cerocos Jennifer dengan raut sedih. Hatinya ikut terbang bersama pesawat yang membawa Skyla pergi.

"Ya sudah. Aku mau nemuin mami. MAMIII," serunya sambil berlari mencari maminya. Dia ingin maminya menggolkan niatnya untuk pindah sekolah yang sama dengan Skyla.

Setelah bayangan adik perempuannya pergi, Eldar berjalan ke arah tong sampah kecil yang berisi sampah sampah kering.

Eldar menginjaknya agar terbuka, kemudian melemparkan amplop itu ke dalamnya dan berlalu pergi.

Untuk apa juga dibaca. Orangnya juga sudah pergi, batinnya dingin.

Jayden tersenyum miring saat melihatnya. Setelah Eldar ngga kelihatan lagi, Jayden menghampiri tong sampah itu, mengambil amplopnya sambil menepuk nepuknya, seolah untuk menghilangkan debu dan kotorannya.

Dia sudah lama curiga dengan sikap malu malu Skyla kalo melihat Eldar.

Dasar. Kamu itu masih kecil tapi udah berani ngirim ngirim surat, batin Jayden mengejek dengan senyum miringnya.

Terpopuler

Comments

Esih Mulyasih

Esih Mulyasih

kasian Eldar 😭

2024-06-25

1

Fenti

Fenti

bunga 🌹 buatmu kak 😊

2024-01-26

1

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

wah, mengandung bawang nih

2023-11-23

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!