Daiva mendekati Xavi yang nampak gusar setelah mendapat telpon dari maminya.
Lagi lagi maminya memintanya mengunjunginya dan ponakannya tanpa membawa Eldar.
Beliau juga ingin bertemu dengan cucu kembarnya, Jayden dan Jennifer. Sudah tiga tahun lamanya tidak bertemu.
"Ada apa?" tanya Daiva sambil duduk di samping Xavi. Dia menggenggam lembut tangan suaminya.
"Mami meminta aku mengajak kalian ke Perth, tapi tetap ngga boleh membawa Eldar."
Daiva menempelkan kepalanya di lengan Xavi agar kemarahan suaminya mencair. Mami mertuanya itu masih saja antipati dengan Eldar. Sama saja dengan Aurora.
"Kalian pergilah. Biar aku tetap di sini bersama El."
Daiva ngga mungkin menghalangi kepergian Xavi dan anak kembar mereka.Tapi Daiva ngga akan meninggalkan Eldar. Waktu dulu, Rihana sengaja mengajak Eldar liburan bersama keluarganya. Krena Eldar sangat dekat dengan Erland, jadi anak itu mau. Tapi sekarang, di saat Eldar lagi sedih, Daiva ngga akan meninggalkannya.
Sebenarnya bisa saja da meminta Rihana liburan lagi dan mengajak Eldar, tapi dia takut Eldar curiga.
"Mami pasti akan mengomel nanti. Coba aku tanya Alexander, apa dia dan keluarganya mau liburan lagi. Eldar sangat dekat dengan Erland."
Daiva setuju dengan perkataan Xavi. Tapi ada hal lain yang dia pikirkan.
"Sekarang anak anak sudah cukup besar. Kalo mereka bercerita bertemu opa omanya, bagaimana, ya?" Daiva merasa gamang.
Xavi terdiam. Suatu saat nanti pasti Eldar akan tau juga kalo omanya ngga suka dengannya. Pasti hatinya akan tambah terluka.
"Entahlah. Tapi sebaiknya itu nanti saja kita pikirkan. Kita seleaikan semuanya secara perlahan dan bertahap." Xavi pun mengecup bibir Daiva lembut. Dengan beratnya masalah yang akan mereka hadapi nanti, dia butuh sedikit peregangan.
Daiva pun membalas ciumannya dengan ngga kalah lembutnya.
*
*
*
Paginya Eldar melirik anak perempuan kecil itu yang ikut sarapan juga dan tampak akrab dengan Jennifer. Sedangkan Jayden tampak cuek menikmati sarapannya.
"Eldar, tadi papi udah minta ijin ke guru kamu. Kamu ikut papi, ya, pagi ini," ucap Xavi setelah selesai dengan sarapannya.
"Aku juga mau ikut papi," seru Jayden sebelum Eldar menjawab.
"Nggak bisa. Kita ada kerja kelompok." Jennifer ngga kalah berseru. Melarang keinginan kembarannya yang akan lari dari tanggung jawab.
"Masih ada Biyan, kan. Dia pasti bisa menghandle semuanya," balas Jayden ngotot. Biyan adalah sepupunya yang sekelas dengan mereka.
Harusnya Biyan menginap di rumahnya juga karena tugas kelompok yang menyebalkan ini. Tapi Tante Puspa dan Om Herdin harus membawanya berobat karena pilek.
"Ngga bisa! Pokoknya kamu ngga boleh ijin," larang Jennifer ngga kalah ngototnya. Kalo Biyan besok ngga bisa datang, nanti cuna dia sama Skylar saja yang harus menjelaskan gambar gambar makhluk hidup yang mereka kerjain susah payah tadi malam.
Daiva dan Xavi tertawa melihat pertengkaran anak kembar mereka. Sedangkan Eldar pura pura sibuk dengan makanannya. Dalam hati dia pun tergelak. Tanpa sadar dia melirik Skylar yang ternyata juga meliriknya. Tapi hanya sekilas, kemudian anak perempuan kecil itu menunduk dalam dalam.
Eldar tau kalo Jayden sudah beberapa kali minta pada papinya agar dia sekelas bareng dengannya. Sama seperti Erland, sepupunya yang lebih muda beberapa bulan saja darinya, sudah sekelas dengan Eldar.
Tapi sayangnya tidak dikabulkan. Karena Xavi ingin Jayden tetap tumbuh bersama kembarannya, Jennifer.
Kalo Erland memang diijinkan Alexander dan Rihana untuk loncat kelas hingga kini bareng dengan Eldar.
"Papi ada urusan penting dengan Eldar. Lusa ngga apa kalo kamu mau bolos. Biar gantian," gelaknya semakin menjadi melihat dengusan ngga terima Jayden.
"Xavi, masa kamu ngajarin anak anak kita bolos," sela Daiva terkekeh.
"Sekali sekali ngga apa, kan, honey."
Jayden masih cemberut. Dia penasaran, kemana papinya akan membawa Eldar pergi. Dia beneran pengen ikut.
"Papi, besoknya setelah lusa, jatah aku bolos, ya," senyum jennifer sangat lebar.
TUK!
Dengan gemas Jayden menoyor kening kembarannya.
Jennifer tertawa tergelak gelak.
Daiva melirik Xavi memintanya bertanggungjawab atas niat bolos Jennifer. Tapi Xavi hanya nyengir saja sambil mengedipkan sebelah matanya.
*
*
*
Eldar bingung ketika papinya membawanya ke area pemakaman yang sangat terawat dan sangat luas. Tapi dia hanya diam saja. Otaknya masih sulit untuk berpikir. Hatinya masih terlalu sakit mendengar kata kata wanita cantik yang ngga sudi mengakuinya sebagai putranya.
Padahal opanya sampai harus memohon seperti itu. Tapi tetap saja ditolaknya. Sebenarnya apa salahnya sampai sebenci itu wanita itu pada dirinya.
Mereka pun sampai di kuburan Aiden.
Eldar ikut berjongkok di samping papinya. Papinya terdiam seakan sedang berdo'a. Iseng Eldar melihat nama.yang terukir di atas batu pualam itu.
Aiden Tanaka Permana.
Jantungnya berdebar keras.
Aiden?
Nama yang disebut wanita itu.
Jantungnya berdetak keras.
Eldar menatap papinya dengan mata terluka.
Papinya sudah tau? Dadanya sesak.
Berarti maminya juga.
Rasanya dia ngga bakal pernah percaya kalo mereka bukan orang tuanya.
Xavi membuka matanya, beradu tatap dengan Eldar.
"Dia saudara kembar papi."
Eldar ngga bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Sebenarnya papi ingin mengatakannya nanti setelah umur kamu delapan belas tahun. Yah, paling tidak setelah kamu lulus SMA."
Eldar masih terdiam dengan sorot mata hampa.
"Wanita yang bertengkar dengan opamu itu memang ibu kandungmu. Tapi mamimu juga ikut merawatmu saat kamu masih dalam kandungannya. Mami sudah memperhatikanmu sebelum kamu dilahirkan. mungkin kalo bisa meminta, mamimu ingin kamu berada di rahimnya," jelas Xavi dengan suara bergetar. Sepasang matanya berkaca kaca. Teringat masa masa dulu saat Daiva berjuang keras agar Aurora menjaga kandungannya. Juga teringat ketika mereka terpaksa berpisah.
Mata Eldar basah mendengarnya.
"Mamimu saudara sepupu ibu kandungmu. Kejadiannya cukup rumit. Tapi percayalah papi dan mami sangat menyayangimu. Jangan pernah ragukan itu," pungkas Xavi dengan suara serak.
Air mata Eldar pun mengalir tanpa bisa dia tahan lagi. Dia tau, sangat tau kalo mami dan papinya sangat menyayanginya. Begitu juga dengan dirinya.
Xavi pun memeluknya erat membuat tangis Eldar pecah.
"Kamu punya mami dan papi. Juga Jayden dan Jenifer. Biyan, Erland, Fisha dan sepupu kamu lainnya. Juga barisan om dan tantemu. Opa, oma, buyutmu, semua sangat menyayangimu. Jangan pedulikan yang lainnya," ucap Xavi lembut. Hatinya pun hancur karena harus mengatakan separuh kebenarannya sekarang.
Sementara separuh lagi dia belum sanggup. Daiva juga sudah mewanti wantinya agar ngga mengatakannya sekarang. Takut Eldar kecil ngga sanggup menerima kenyataan sebenarnya yang sangat menyakitkan.
*
*
*
Eldar tetap minta diantar ke.sekolah. Dia sayang meninggalkan pelajarannya hari ini. Apalagi ada Erland yang selalu berhasil mencuri kesempatan saar dia lengah.
Dia dan Erland memang bersaing ketat. Kadang dia juara satu, kadang Erland. Menyebalkan memang.
"Ngga bakal Erland bisa ngalahin kamu. Cuma sehari aja," tawa Xavi ketika Eldar tetap ngotot ke sekolah. Hatinya senang, gara gara Erland, Eldar sedikit lupa dengan kesedihannya. Erland dan Eldar mungkin gambaran Rihana dan Aurora dulu, saudara beda ibu.
Untunglah keduanya akur. Ngga seperti mami dan tantenya dulu.
"Erland itu mengerikan, Pi. Aku ngga mau ketinggalan banyak materi hari ini. Okelah, dua jam pertama tadi aku terpaksa ngga ikut. Tapi ngga, materi yang ini. Renang," sungut Eldar dengan semangat berkobar kobar.
"Oke, oke," tawa Xavi masih tetap berderai. Tangannya mengusap puncak kepala Eldar gemas.
Eldar tersenyum senang karena papimya mau mengerti.
Xavi teringat pada ponakannya yang lain Dave. Entah mengapa maminya sekarang berubah pikiran. Beliau malah ngga mau bertemu Eldar. Sampai Eldar sebesar ini, omanya masih ngga mau melihatnya.
Mungkin perasaan Daiva sangat peka, istrinya ngga pernah mau ikut ke Pert jjka dia mengunjungi orang tuanya.Hanya sekali itu saja saat Rihana membawa Eldar liburan bersama putranya Erland. Itupun Daiva harus sabar menerima tanggapan mami Xavi yang sangat hambar padanya.
Mereka pun bangkit dari duduknya dan bersiap meninggalkan makam Aiden.
Eldar menatap lagi batu nisan yang bertuliskan nama papi kandungnya dengan menguatkan hati.
Aku akan memgingat dan mendo'akanmu, papi.
Xavi merengkuh bahu Eldar penuh sayang.
Anak anakmu baik baik saja, Aiden.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Lilo Stitch
gimana kabar dave ya, kasihan ga ada org tua yg dampingi
2024-10-26
1
Deandra Putri
ternyata mamanya xavi tetap sburuk itu...
2024-06-02
1
Yus Nita
Aurora dan mama ny Xafi gak ada beda ny,sama2 buruk kelakuan ny.padahal Eel gak tau apa kesalahan ny.dia anya anak yg menjadi korban orang2 Dewasa, tapi...kenapa dia yg tak di ingin kan daan di tersakiti ..???
2024-03-24
2