part 7

Di bawah terik matahari pagi ini Agatha harus melihat berdiri menghadap bendera dengan tangan yang membentuk hormat. Tak ada payung atau pun penghalang setelah mereka kepergok telat akhirnya keduanya di hukum hormat pada bendera sampai istirahat nanti.

"Gara gara lo ini!" ujar Agatha menyalahkan cowok di sampingnya.

Memang gara gara pria itu dirinya telat sampai di sekolah. Akibat nya dia di hukum seperti ini, menjabat sebagai ketua osis tentu saja dia merasa bersalah karena tak bisa menjadi contoh yang baik.

"Mana panas banget lagi ini". Keluh Agatha mengusap peluh di pelipisnya. Entah kenapa dia merasa hari ini sangat panas padahal belum terlalu siang.

Sean menoleh pada agatha yang mengusap pelipisnya. Terlihat wajahnya sangat menderita sekali.

"Lo cuma satu kali kayak gini. Bayangin gue yang selalu lo hukum hormat tiang bendera hampir tiap pagi, gak pingsan aja gue bersyukur". Ucap Sean. Baru pertama Agatha merasakan seperti ini berbeda dengan dirinya yang hampir setiap pagi kayak gini.

Agatha mendengus kasar. "Kalau lo gak telat gue gak bakal hukum lo. Itu ulah lo sendiri berarti". Tungkas nya marah. Memang siapa yang akan menghukum jika muridnya tepat waktu.

Dia pegangi kepalanya yang tiba tiba merasa pening. Kabur kabur pandangannya buru buru dia menggeleng.

Sean yang melihat Agatha hampir jatuh sontak meraih tubuh itu. Dia topang supaya tidak jatuh.

"Kepala gue pusing banget". Beritahu Agatha lirih. Bangkit dan berusaha berdiri tegap lagi.

"Yaudah sono udahan aja lo. Biar gue di sini". Titah Sean pada sang gadis.

Agatha menoleh, memberi tatapan protesnya pada Sean. " nggak bisa lah. Kita telat bareng yang di hukum bareng bareng". Sergah nya.

"Iya kalau lo kuat. Ini, tubuh lo aja barusan hampir tumbang. Udah gak usah banyak protes gak usah sok kuat, lo duduk aja di bangku biar gue wakilin di sini". Ujar Sean perhatian. Gitu gitu dia juga memiliki hati apalagi untuk calon istrinya.

Agatha menatap Sean tak yakin. " lo beneran?" tanya nya masih ragu.

Menghela napas pelan Sean tatap Agatha intens. Lalu dia anggukan kepalanya dengan yakin. "Gak usah lebay. Gue udah handal soal ginian. Cepet lo duduk aja sana makin panas nanti". Titah Sean ke sekian kalinya.

Pada akhirnya Agatha menuruti ucapan cowok itu

Dia berjalan pelan dan duduk di bangku depan kelas yang menghadap langsung ke lapang.

Setelah memastikan Agatha duduk Sean kembali melanjutkan hukumannya. Sebenarnya bisa saja dia bolos dan mangkir dari hukuman ini, tapi mengingat yang bersama nya adalah Agatha tentu dia harus menjaga nama baiknya.

"Agatha evelyn! Kamu masih di hukum kenapa malah duduk?" tanya pak bambang sang kepala sekolah di sana. Dia sedang berkeliling melihat keadaan sekolah.

Agatha yang sedang memainkan ponselnya sontak terperanjat. Dia bangkit dan langsung menyimpan ponselnya itu.

"Maaf Pak. Saya istirahat sebentar". Jawab Agatha menunduk.

"Dia gak enak badan pak. Kalau di paksain berdiri terus nanti pingsan." sela Sean sembari berteriak pada pak bambang di sana.

Pak bambang menoleh sekilas dengan mata menyipit, mengetahui jika yang berdiri di sana adalah Sean kembali dia menoleh pada Agatha.

"Yasudah kalau begitu. Kalau kamu gak enak badan kamu bisa ke UKS kalau mau belajar juga gak papa masuk saja, tinggalin satu anak bandel itu yang berdiri". Titah pak bambang.

Agatha tersenyum canggung, tak mungkin dia meninggalkan Sean seorang diri di hukum, sedangkan dirinya malah masuk kelas. "Nggak perlu pak. Saya disini aja sekalian jadi hukuman gak di masukin kelas". Tolak Agatha. Tak enak jika dia meninggalkan cowok itu sendiri.

Pak bambang hanya mengangguk mendengar jawaban murid andalannya. "Dia pacar kamu?" tanya nya.

Membulatkan mata sebentar Agatha tersenyum kikuk. Pelan dia menggeleng, "bukan pak". Jawabnya.

Iya bukan pacar, tapi calon suami!

"Oh ya sudah. Bapak pergi dulu". Ujar pak bambang berlalu pergi dari dua murid berbeda sifat itu.

Agatha menghela napas panjang. Kembali dia lihat Sean yang masih setia hormat pada tiang bendera. Tidak ada raut lelah atau cape, meski beberapa keringat mengucur di pelipisnya.

Merasa sedikit kasihan Agatha bangkit menuju kantin untuk membelikan minuman air putih untuk cowok yang setia berjemur di bawah tarik matahari itu.

"Ini bi uang nya". Agatha menyodorkan selembar uang membayar dua botol aku.

"Neng aga lagi patroli?" tanya bibi omah sang pemilik warung. Karena biasanya Agatha berkeliaran di tengah pelajaran hanya ketika patroli.

Agatha menggeleng. "Nggak bi, aga lagi di hukum". Jawab Agatha.

Terlihat bi omah sedikit terperangah. "Dihukum? Di hukum kenapa neng?" tanya nya lagi.

"Aga telat datang ke sekolah bi. Gak cuma aga kok ada Sean juga yang masih jalanin hukuman". Beritahu Agatha.

Bibi itu membulatkan mulutnya. "Gak biasanya neng aga telat."

"Haha iya bi. Tadi aga kesiangan bangun jadi telat deh kebetulan barengan sama Sean". Jawab Agatha sedikit tertawa.

"Yaudah bi aga mau nyusul Sean lagi di lapangan". Pamit nya. Bi omah mengangguk dan Agatha pun pergi dari sana.

Dia hampiri Sean yang berdiri di tengah lapang, berdiri di hadapannya dan dia sodorkan satu botol minum.

Sean menunduk, melihat Agatha serta botol itu secara bergantian. Dahinya mengerut mencoba bertanya.

"Buat lo. Gratis dari gue". Ujar Agatha tahu pemikiran sang pria.

Sean menurunkan tangannya dan mengambil botol itu. " nanti gue ganti pake mahar". Ujar nya cukup serius.

Agatha sempat tertegun, tetapi kembali dia sadar. Dia buka botol minumnya dan menegaknya beberapa kali. Belum sempat dia tutup botolnya sean merebut botol itu dan meneguk nya hingga isinya habis tak tersisa.

Agatha membulatkan matanya, memelotot pada Sean yang merebut botolnya tiba tiba.

"Enak kan bekas lo kayaknya. Thank". Sahut Sean santai tak peduli raut wajah Agatha yang terkejut.

"Sinting!" maki Agatha pelan. Sean hanya terkekeh mendengar nya.

"Woy lo berdua lagi ngapain di situ? Kayak orang abis *******!" teriakan itu berasal dari rian yang datang menghampiri mereka bersama jonat.

Tak sadar keduanya bahwa bel istirahat telah berbunyi dan jadilah kini mereka jadi tontonan siswa siswi di sana. Apalagi setelah mendengar teriakan ruang yang semakin membuat praduga gila.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!