"Anjing!"
"Maaf Pak gak sengaja". Teriak jonat menyahuti satpam tadi.
" sedang apa kalian di sana hah?! Orang sedang belajar kalian malah main main". Teriak satpam itu lagi.
"Lagi ambil sepatu pak mamad yang nyangkut di genteng pak. Gak sengaja galahnya jatuh lalu menimpa pak oji". Sahut rian menimpali.
Sontak satpam itu hanya mampu geleng geleng kepala. Dia saja sudah menyerah mengurusi tiga cowok nakal biang onar itu.
" ya sudah lanjutkan ambil sepatu pak mamad nya". Ucap satpam itu lalu pergi dari sana.
Tiga cowok itu menghembuskan napasnya lega. Untung di ampuni kalau tidak sudah pasti nambah lagi masalah itu.
"Ribet banget anjing! Udah nat yan lo ambil ember dan isi air banyak. Bawa kesini entar gue yang bawa tuh sepatu". Titah sean. Banyak sekali drama nya ini membawa sepatu pak mamad.
" lah buat apaan?" tanya rian heran.
"Turutin aja jangan banyak bacot. Mau ambil tuh sepatu kagak lo pada?" sean nyolot hingga matanya sedikit memelotot. Gereget sampai sampai dia dorong tubuh dua temannya untuk cepat membawa ember.
"Iya iya anjing sante!" pekik rian ikut sebal.
Keduanya lalu menuruti perintah sang teman laknatnya itu. Membawa banyak air dalam dua ember lumayan besar. Mereka lalu menyodorkan nya pada sean yang dengan santai berkacak pinggang menatap mereka.
Tuk
Rian meletakkan nya dengan sedikit kasar, cape pegal dan kesal dia lampiaskan. Bagaimana tidak dari lantai satu ke roftoop itu melewati dua lantai dan tidak ada lift, dan dia harus membawa ember penuh isi air. Cape lah!
"Noh udah noh gue bawain buat raja mah gue bawain". Sewot rian menatap sean kesal.
Sean hanya terkekeh melihatnya. Pria itu lalu mengambil alih dua ember berisi penuh air lalu membawanya ke sisi roftoop.
"Mau lo apain nih air?" tanya jonat dengan napas ngos ngosan. Menatap sean yang malah terdiam dan mengangkat satu ember itu.
Byur-Byur
Tuk!
"Nah kan udah jatuh. Tinggal ambil aja tuh sepatu". Ucap sean.
Dia tumpahkan langsung dua ember berisi air itu pada genteng yang terdapat sepatu pak mamad. Terdorong oleh air yang cukup besar akhirnya sepatu itu jatuh.
Senyum kagum terpatri di bibir dua cowok yang merupakan teman sean itu. Mereka sampai geleng geleng kepala melihat ide cemerlang sean.
"Hebat lo an. Kenapa gak dari tadi aja?" ucap rian menghampiri satu temannya.
Lalu dia rangkul dan menarik jonat. Mereka turun dari roftoop bersamaan sambil mengobrol sesekali. Lega karena telah mengambil kembali sepatu pak mamad yang nyasar.
Tapi baru saja mereka bernapas lega kini mereka harus kembali menahan napas melihat apa di depannya. Tubuh mereka mematung sampai menelan ludah begitu terasa sulit. Bu remi, guru BK sekolah nya berdiri tegak dengan tangan terkepal. Mata memelotot nyalang tiga murid yang baru turun itu dengan gigi yang Bergemulutuk. Air terus mengalir dari rambut dan bajunya karena terguyur hujan dadakan, di tambah bonusnya kepalanya tertimpa sepatu hingga pusing berkabur kabur.
"Kalian, ke ruang Bk sekarang!!!!" bentak bu remi tegas tak terbantah.
Alamak!
..........
Agatha mengetuk ngetuk dagunya menggunakan ujung ponsel. Di pinggir gerbang dia tengah menunggu sang calon suami yang belum keluar dari sekolah. Bukan belajar tetapi di sidang bu remi.
Karena apa? Tentu saja karena masalah sepatu pak mamad, galah yang menimpa pak oji dan guyuran pada bu remi. Agatha sampai menggeleng geleng kan kepala angkat tangan dengan kenakalan cowok itu. Ini baru satu hari coba satu tahun, dapat kalian bayangkan?
Pernah satu hari Agatha di buat pasrah dengan masalah yang di buat cowok itu. Masalahnya tidak terlalu rumit tetapi banyak. Satu hari cowok itu membuat masalah sampai tujuh dan salah satunya adalah dia tak sengaja menjemur ****** pak ruslan di tiang bendera, gila bukan?
Brum Brum!
"Naik". Titah sean pada Agatha saat motornya tepat di samping cewek itu.
Tanpa berkata Agatha pun naik pada jok belakang. Motor yang di gunakan sean tinggi sehingga membuatnya harus sedikit berjengkit saat naik.
"Kata tante kita langsung ke butik aja". Ucap Agatha sesuai intruksi sang calon mertua tadi.
"Mommy!" ralat sean tak suka dengan panggilan yang di berikan Agatha.
Agatha berdecak pelan. "Iya iya mommy". Ujarnya.
Memang alana yang meminta atau lebih tepatnya perintah memanggil mommy. Meski belum resmi menjadi menantunya tetapi alana sudah menganggap agatha seperti anaknya sendiri.
Motor itu melesat keluar dari kawasan sekolah menuju butik yang di maksud. Tangan Agatha berasa di bahu cowok itu dan bukan di perut, tentu membuat sean kesal dengan itu.
Sampai di depan gedung luas itu mereka turun dari motor dan langsung di sambut oleh pelayan yang ramah.
"Selamat siang. Kalian sudah di tunggu di dalam". Ujar pegawai itu.
Agatha tersenyum mengangguk. Berbeda dengan sean yang hanya menatap datar tanpa ekspresi.
Mereka masuk sambil di tuntun oleh sang pegawai. Sampai di ruangan yang di maksud di sana pemilik butik itu dengan heboh menyambutnya.
"Sean, apa kabar? Lama kita gak ketemu. Makin pangling aja kamu makin tampan". Ucap sang pemilik butik itu.
"Baik tan. Gimana kabar tante?"
"Seperti yang kamu lihat. Selalu sehat dan seksih". Ujarnya manjah manjah.
Cecel nama wanita itu. Sean sering memanggilnya tante cece, pemilik butik terkenal di Indonesia. Ini adalah tempat sama dahulu alana dan devan fitting dan sekarang dia dan agatha.
"Ini calon istri kamu? Siapa namanya cantik?" tanya wanita itu menatap kagum pada agatha yang tersenyum Ramah.
"Agatha tante". Jawab alana ramah. Memberi senyum manis seulas.
" langsung aja ya coba. Tante sudah siapkan beberapa set yang cocok untuk kalian. Ayo coba".
Cecel menuntun agatha ke sebuah ruangan ganti yang akan di bantu satu orang pegawainya di sana nanti. Agatha pun menurut masuk ke sana.
"Ruangan kamu di sebelah sana. Jangan nyasar ke ruang calon istri". Peringat cecel pada Sean yang juga bangkit untuk berganti.
Sean hanya berdehem menanggapi. Pria itu masuk ke dalam ruangan di sebelah ruangan sang calon istri.
Pertama keluar adalah Sean sendiri, pria itu menghampiri cecel yang tengah memainkan ponsel nya.
"Tante, sepertinya ini yang cocok untuk ku". Ujar sean memperlihatkan tuxedo yang di kenakannya.
Cecel mendongak sontak melebarkan senyumnya melihat Sean yang begitu gagah memakai tuxedo hitam putih.
"Astaga tampan sekali kau ini. Benar benar bibit unggul devan ini, sudah ini yang paling cocok. Kamu tunggu di sini biar tante lihat calon istri kamu dulu". Ujar cecel dengan heboh nya menyusul Agatha yang masih berganti.
Tak lama Agatha pun keluar dari ruangan itu. Berjalan pelan menggunakan gaun yang dia gunakan, menghampiri Sean yang merupakan calon suaminya.
" ekhm!" Agatha berdehem keras.
Sean yang sedang memainkan ponsel nya sontak mendongak. Di depannya sudah ada Agatha yang cantik memakai gaun bak putri di negeri dongeng.
"Gimana? Cantik kan pilihan tante?" tanya cecel antusias menunggu reaksi Sean.
Sean menggeleng cepat. "Nggak. Ganti! Jelek di tubuh lo". Ujar Sean jujur.
Agatha pasrah, kembali masuk ke ruang ganti itu. Memilih baju baju yang sudah di siapkan. Selesai kemabli dia keluar ke hadapan sean yang masih duduk dan memainkan ponselnya.
Kembali Sean menggeleng. "Bosenin. Ganti!" titah Sean.
Agatha menghela napas nya dalam dalam. Berusaha sabar menghadapi cowok di depannya. Kembali dia masuk dan mengganti bajunya. Sampai berkali kali karena Sean terus saja menolaknya.
"𝘗𝘢𝘩𝘢 𝘭𝘰 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘎𝘢𝘯𝘵𝘪!"
"𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘴𝘪𝘤. 𝘎𝘢𝘯𝘵𝘪!"
"𝘎𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬. 𝘎𝘢𝘯𝘵𝘪!"
"𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘭𝘰 𝘬𝘦 𝘤𝘦𝘵𝘢𝘬. 𝘎𝘢𝘯𝘵𝘪!"
Begitulah kira kira jawaban Sean yang merasa tak suka dengan gaun yang di kenakan Agatha. Berkali kali Agatha mendengus bahkan mengumpat karena cowok itu yang terus menerus menolak. Kakinya sampai pegal karena terlalu sering bolak balik.
"Yang ini gimana?" tanya Agatha lirih. Cape dia bolak balik ganti baju. Di pikir mudah apa?
Sean menilik dari atas sampai bawah baju yang Agatha kenakan. Kemudian dia menggeleng kuat. "Nggak. Ganti!" ujarnya.
Sontak Agatha menghentakkan kaki nya kuat ke lantai. "Sean ish!" sentak nya kesal bukan main. Menatap tajam cowok yang malah santai menatapnya.
"** lo keliatan Agatha. Lo pengen jual badan?" tukas Sean frontal.
Memang benar, yang di gunakan Agatha sekarang bagian dadanya rendah dan lumayan menerawang. Mengetahui juga sampai memperlihatkan lekukannya.
Agatha semakin di buat kesal sekaligus malu mendengar jawaban Sean yang terdengar vulgar itu.
Mendengus kasar Agatha berbalik, dengan sebal dia masuk kembali pada ruang ganti. Terhitung ini yang ke tujuh kalinya dia berganti, jika yang ini tidak juga sungguh Agatha lempar kepala Sean pakai sepatunya.
Sepuluh menit berlalu, Agatha kembali keluar dari ruang serba pastel itu. Menghampiri Sean dengan bibir yang mencebik.
"Kalau yang ini gagal juga, gak jadi nikah". Ancam Agatha cepat sebelum Sean menjawab.
Sean menoleh, terdiam terpaku melihat wajah cantik di depannya yang begitu cocok dengan gaun itu. Seketika senyumnya merekah lebar.
" cantik". Celetuk Sean membuat Agatha melongo.
"Gaunnya cantik. Yang ini aja". Lanjut Sean meralat.
Padahal pipi Agatha sudah memerah tersipu, berubah makana menjadi kesal mendengar ucapan Sean selanjutnya.
Gadis itu berbalik sebal dan masuk kembali untuk melepas kan pakaiannya. Kaki nya sampai di hentak hentak kan saking kesalnya.
Cecel yang melihat itu menahan senyum kedua pasangan muda di depannya. Menurutnya pasangan ini sangat lucu menggemaskan sampai ingin dia culik.
"Kamu ini Sean Sean. Kalau aga nya yang cantik ya bilang aja cantik. Pake alasan gaunnya segala". Ujar cecel.
Sean menarik sudut bibirnya sedikit. Melihat kepergian Agatha yang berganti baju. " nanti dia baper". Jawabnya.
Sebelum bangkit dan ikut mengganti bajunya. Setelah selesai fitting sebelum pulang Sean mengantarkan Agatha terlebih dahulu ke rumahnya. Baru lah setelah memastikan sang calon istri selamat sampai tujuan dia tancap gas menuju kediaman keluarganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments