.
.
.
Tiba dilantai 20. Mentari segera keluar dari dalam lift. Abiyan juga keluar, ia mengekor Mentari karena apartemen miliknya bersebelahan dengan milik Mentari.
"Hai!" sapa Abiyan lagi.
Mentari menoleh lalu berbicara dengan bahasa isyarat. Abiyan tercengang dan beberapa detik kemudian iapun tersadar.
"Pantas saja ia tidak berbicara, ternyata gadis bisu," batin Abiyan.
"Ah maaf. Aku tidak tahu kalau kamu bisu," ucap Abiyan. Kemudian berjalan menuju apartemen miliknya yang baru ia beli kemarin.
Sekarang ia baru pindah setelah menyewa jasa kebersihan untuk membersihkan apartemennya.
"Cantik sih, tapi sayangnya bisu," gumam Abiyan saat memasuki apartemen.
Sementara Mentari malah tertawa terpingkal-pingkal setelah ia masuk kedalam apartemen.
"Aku harus cari tau tentang tetangga baru itu," gumam Mentari.
Mentari masuk kedalam kamarnya dan membuka laptop miliknya. Dengan gerakan cepat ia mengetik keyboard laptop. Dan mencari tahu tentang Abiyan Santoso.
"Ternyata anak orang kaya, dan baru lulus kuliah," gumam Mentari.
Tidak berapa lama bel apartemen berbunyi. Mentari pun berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka ternyata Ferdinan yang datang.
"Kenapa harus menekan bel? Bukannya kamu tau kata sandi apartemen ku?" tanya Mentari.
Ferdinan langsung memeluk Mentari. Dan membawanya masuk kedalam. Mentari memekik saat Ferdinan mengangkat tubuh Mentari.
"Bukannya menjawab, malah menggendong ku," kata Mentari.
"Aku kangen," jawab Ferdinan gak nyambung.
"Memangnya gak kerja?" tanya Mentari.
"Tadi ketemu klien didekat sini. Sekalian saja aku mampir," jawab Ferdinan.
"Sudah makan?" tanya Mentari. Ferdinan menggeleng.
"Ya sudah aku masak dulu," kata Mentari.
"Gak usah, kita makan diluar saja," ucap Ferdinan.
"Kalau begitu aku ganti pakaian dulu," kata Mentari. Ferdinan melihat penampilan Mentari yang memang berbeda.
"Aku baru menyelesaikan misi ku," jawab Mentari seolah mengerti arti tatapan Ferdinan.
"Aku gak suka kamu berpakaian seperti itu," kata Ferdinan.
"Iya, makanya aku ingin ganti," ujar Mentari.
"Ya sudah ganti sana," titah Ferdinan. Mentari pun melepaskan diri dari Ferdinan, dan mengecup singkat bibir Ferdinan.
Ferdinan terpaku ditempatnya dengan tindakan Mentari. Jujur saja ia suka.
"Tenang itu hanya khusus untuk kamu saja," ucap Mentari. Padahal Ferdinan tidak bicara apa-apa.
Ferdinan tersenyum kemudian menarik Mentari dalam pelukannya dan kali ini Ferdinan yang menc*um Mentari. Mentari hanya pasrah dan membalasnya.
"Sudah. Aku mau ganti pakaian dulu," kata Mentari saat c*uman mereka terlepas.
Ferdinan tersenyum hingga Mentari menutup pintu kamarnya.
Ferdinan kemudian duduk di sofa ruang tamu. Dia tidak pernah menyangka bisa menyentuh seorang perempuan. Dulu ia berpikir tidak akan pernah mengalami hal seperti ini. Merasakan indahnya jatuh cinta. Memeluk dan mencium gadis yang ia cintai.
Tidak berapa lama Mentari sudah keluar dengan pakaian santainya. Dan make-up diwajahnya juga sudah bersih. Mentari hanya memakai liptint untuk bibirnya agar sentiasa lembab.
"Mari!" ajak Mentari.
Ferdinan pun menggandeng tangan Mentari. Saat mereka keluar dari apartemen. Abiyan juga keluar dan melihat Mentari sedang berangkulan tangan dengan sang kekasih.
Abiyan hanya memperhatikan saja. Saat masuk kedalam lift Abiyan hanya menjadi obat nyamuk. Karena dua insan dibelakangnya sedang berbicara dengan mesra.
"Pintar juga gadis ini, dia berhasil mengelabui ku dengan berpura-pura bisu," batin Abiyan.
Tiba dilantai bawah, Ferdinan menatap curiga pada pria yang satu lift dengan mereka.
"Siapa dia sayang? Sepertinya dia dari lantai yang sama denganmu?" tanya Ferdinan.
Saat ini mereka sudah berada didalam mobil milik Ferdinan.
"Tetangga sebelah. Tapi aku tidak mengenalnya," jawab Mentari.
"Aku harus hati-hati dengan pria itu," gumam Ferdinan, tapi masih bisa didengar oleh Mentari.
"Apa yang kamu khawatirkan? Aku bukan tipe cewek seperti itu yang suka gonta-ganti pacar," tanya Mentari.
"Aku cuma takut kamu berpaling, sayang. Sedangkan aku tidak ada perempuan selain dirimu," jawab Ferdinan.
"Percayalah," ucap Mentari sambil memegang dada bidang Ferdinan.
Ferdinan mengangguk dan tersenyum, "tapi kamu juga harus hati-hati."
"Iya, tenang saja, oke!"
Mobil masih melaju dijalan raya. Keduanya terdiam beberapa saat.
"Kita makan dimana?" tanya Ferdinan.
"Restoran xxxx, aku mau makan seafood," jawab Mentari.
"Oke!" Ferdinan pun melajukan mobilnya menuju restoran yang dimaksud. 30 menit mereka tiba di restoran itu.
"Mari sayang!" ajak Ferdinan setelah ia membukakan pintu mobil untuk Mentari.
Mentari tersenyum dengan perlakuan manis sang kekasih. Dan menyambut uluran tangan tersebut.
Sepasang mata memperhatikan mereka berdua yang memang terlihat sangat mesra.
"Ku pikir kamu masih sendiri, ternyata sudah punya kekasih," batin Abiyan yang juga kebetulan ke restoran itu.
"Silahkan Tuan, Nona," ucap pelayan restoran tersebut dengan ramah. Karena itu prioritas utama dalam menyambut tamu yang datang.
"Terima kasih," ucap Mentari. Ferdinan hanya diam saja.
Kemudian mereka duduk disudut ruangan restoran itu. Sementara Abiyan baru saja masuk, matanya melihat kiri kanan seperti sedang mencari sesuatu.
"Selamat datang Tuan, silahkan," sapa pelayan lain.
"Hmmm," jawab Abiyan.
Kemudian Abiyan mencari tempat duduk, yang tidak jauh dari Mentari dan Ferdinan.
"Cantik," gumam Abiyan.
Matanya terus tertuju pada Mentari yang sesekali tertawa. Hal itu tidak luput dari pandangan Abiyan.
"Mau pesan apa Tuan?" tanya pelayan saat memberikan buku menu.
"Tuan!" panggil pelayan lagi.
"Ah iya, iya ada apa?" tanya Abiyan.
"Mau pesan apa?" tanya pelayan mengulangi pertanyaannya.
"Samakan dengan yang gadis itu makan," tunjuk Abiyan pada Mentari yang sedang mematahkan lobster berukuran besar.
"Baik Tuan, mohon ditunggu sebentar," ucap pelayan itu lalu pergi untuk menyiapkan pesanan pelanggan.
"Makan yang banyak, sayang," kata Ferdinan.
"Hmmm," jawab Mentari mengangguk karena mulutnya penuh makanan.
Ferdinan tertawa geli melihat tingkah Mentari. Sehingga ia lupa untuk menyuap kan makanan kedalam mulutnya.
"Kenapa tidak makan?" tanya Mentari.
"Aku lihat kamu makan rasanya sudah senang," jawab Ferdinan.
Mentari menghentikan makannya. Kemudian menyuapi Ferdinan dengan daging lobster. Dengan senang hati Ferdinan menerimanya.
"Bilang saja kalau mau disuapin," kata Mentari.
"Kok tau?" tanya Ferdinan.
"Nebak aja," jawab Mentari.
Di meja sebelah, pandangannya tidak luput dari Mentari yang sedang makan, dan terlihat sangat mesra.
"Andai aku yang diposisi itu," batin Abiyan.
Abiyan termasuk anak yang bebas dalam pergaulan, karena dia sekolah dan bergaul dengan orang luar negeri yang menganut budaya barat. Membuat dirinya juga ikut terjerumus pergaulan bebas.
"Baru kali ini aku bertemu dengan seorang gadis secantik dia," batin Abiyan.
"Sudah selesai makan?" tanya Ferdinan. Mentari mengangguk.
Kemudian Ferdinan bangkit dari duduknya dan pergi kekasir untuk membayar. Melihat hal itu, Abiyan pergunakan untuk mendekati Mentari.
"Boleh gabung?" tanya Abiyan.
"Maaf, itu kursi suamiku," jawab Mentari.
Abiyan tidak jadi untuk duduk. Dan dia masih berdiri.
"Ternyata sudah bersuami, tapi gak apa-apa. Aku terlanjur suka sama dia," batin Abiyan.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Katarina Istinganah
Abian tdk punya malu
2024-11-29
1
Morna Simanungkalit
belumpun menikah udah dibilang suami ,agar jangan didekati .
2024-08-21
1
Sulaiman Efendy
BARU ADA NI CALON PEBINOR, BIASANYA PARA ULAT BULU ALIAS PELAKOR,
DI KISAH ALVARO & ABBEY HNY FAREL YG CLON PEBINOR, MSKI AKHIRNYA MNYERAH, DN NIKAH MA SISKA..
2024-08-15
1