.
.
.
Mentari terdiam, sedetik kemudian iapun mengangguk.
"Terimakasih, Nak," ucap Marshanda.
"Tidak perlu berterimakasih, Ma," kata Mentari.
"Ya sudah, sekarang istirahat ya, Mama juga ingin istirahat," titah Marshanda.
"Baik Ma," jawab Mentari. Mentari pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar tamu.
Marshanda masih tersenyum memperhatikan Mentari hingga Mentari hilang dibalik pintu. Marshanda pun kembali kedalam kamarnya. Dilihatnya sang suami masih tertidur pulas diatas ranjang.
Kemudian Marshanda membaringkan tubuhnya disamping suaminya dan memeluk tubuh suaminya itu.
"Semoga kamu bisa sembuh, suamiku," batin Marshanda. Kemudian ia juga memejamkan matanya dan tertidur.
Sementara Mentari sedang berada didalam kamar. Mentari mengirim pesan kepada Jenny sang sahabat. Jenny adalah sahabat Mentari satu-satunya. Sahabat yang selalu ada saat ia sedih dan suka. Sahabat yang selalu menemaninya selama ia berada di luar negeri.
Jenny adalah gadis keturunan Turki dan China. Ayahnya asli orang Turki dan ibunya asli China. Karena keduanya sama saling mencintai akhirnya ibu Jenny mau menikah dengan dan mengikuti Agama sang suami yaitu Islam.
'Kapan kamu ingin ke Indonesia?'
'Bulan depan, setelah urusanku selesai'
'Masih lama dong?'
'Gak lama menurutku '
Keduanya pun mengobrol lewat telepon. Mentari menceritakan tentang Ferdinan dan keluarganya. Jenny pun turut senang mendengarnya. Jenny pun bertanya tentang dendam Mentari pada mereka yang telah menyakitinya.
Mentari hanya bilang, masih belum dilaksanakan hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Begitulah obrolan mereka berdua. Hingga tidak sadar Mentari pun tertidur karena mengantuk.
Pagi hari...
Mentari sudah terbangun lebih pagi, Mentari langsung kekamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu Mentari pun langsung pergi kedapur.
"Selamat pagi Bu," sapa Mentari kepada pelayan.
"Ehh Nona, selamat pagi juga," jawab Dahlia pelayan di mansion ini.
"Masak apa Bu? Biar aku bantu," tanya Mentari.
"Cuma masak nasi goreng Non, karena di mansion ini semua suka nasi goreng," jawab Dahlia.
"Boleh aku yang masak Bu?" tanya Mentari.
"Apa tidak merepotkan Non?" tanya Dahlia balik.
"Gak kok Bu, Ibu tolong potong sayurnya dan yang lainnya," titah Mentari.
"Baik Non," jawab Dahlia.
"Oya, Non. Tuan muda tidak suka kalau terlalu banyak bawang," ucap Dahlia memberitahu.
"Oh baik Bu, untung Ibu kasih tau," kata Mentari.
Mentari pun memulai memasak nya, karena dia sudah terbiasa hidup sendiri jadi semua urusan ia bisa kerjakan sendiri. Mentari bisa dibilang gadis serba bisa.
"Bu, tolong ditata diatas meja makan ya," titah Mentari.
"Baik Non," jawab Dahlia.
Kemudian Mentari melihat ada bahan-bahan untuk membuat kue, Mentari pun membuat adonan kue sebagai cemilan nantinya.
Dengan telaten Mentari mengerjakan itu semua. Mentari tidak menyadari kalau sepasang mata sedang memperhatikan gerak geriknya saat didapur.
"Aku tidak salah pilih pasangan, semua serba bisa," batin orang itu yang tidak lain adalah Ferdinan.
"Sedang apa sayang?" tanya Ferdinan saat ia sudah dekat dengan Mentari.
"Ehh, kok langkah kakimu gak kedengaran? Kamu menggunakan peringan tubuh?" tanya Mentari.
"Kamu saja yang terlalu sibuk, sehingga tidak menyadari aku datang," jawab Ferdinan sambil tersenyum. Senyum yang jarang sekali ia perlihatkan diluar sana.
"Tampannya," gumam Mentari tanpa sadar.
"Aku memang tampan, kamu baru menyadarinya?" tanya Ferdinan.
"Narsis," ucap Mentari sambil menoel hidung mancung Ferdinan.
Tanpa mereka sadari Marshanda sudah sejak tadi melihat interaksi mereka berdua. Marshanda tersenyum senang melihat anaknya kini terlihat bahagia.
"Ehhem," Marshanda berdehem. Sehingga dengan refleks Mentari mendorong tubuh Ferdinan agar menjauh.
Beruntung Ferdinan memiliki kaki yang kuat sehingga tidak terjatuh saat didorong oleh Mentari.
"Masak apa sayang?" tanya Marshanda.
"Buat kue Ma, untuk cemilan nanti," jawab Mentari.
Dahlia? Jangan ditanya, dia sudah berpindah tempat sejak tadi, sejak diberi kode oleh Ferdinan agar menjauh dari dapur.
"Sepertinya enak?" tanya Marshanda.
"Kue buatan Mentari memang enak, Ma," jawab Ferdinan.
"Wah benarkah? Mama tidak sabar ingin mencicipinya," tanya Marshanda.
"Sebentar lagi matang Ma. Oya Ma, bagaimana dengan Papa?" tanya Mentari.
"Tadi masih berbaring di tempat tidur, tapi Alhamdulillah kakinya sudah bisa digerakkan," jawab Marshanda.
"Kalau sudah bisa digerakkan, berarti peredaran darahnya sudah mulai lancar. Latih Papa untuk berjalan. Karena sudah lama tidak berjalan pasti akan kaku," jawab Mentari.
"Terimakasih, Nak," ucap Marshanda.
"Sama-sama Ma," jawab Mentari.
Ferdinan begitu senang mendengar Papanya bisa sembuh. Karena menurut kata dokter, kaki Ferdy tidak bisa disembuhkan.
"Masak apa?" tanya suara serak dari seseorang. Mereka semua refleks menoleh kearah suara tersebut.
"Papa...." panggil Ferdinan dan Marshanda bersamaan.
Keduanya langsung berhambur memeluk tubuh pria itu. Keduanya menangis bukan karena sedih, tapi karena terlalu bahagia saat melihat suami sekaligus Papa sudah bisa berjalan meskipun masih tertatih-tatih.
"Jangan dipaksain Pa," ucap Marshanda.
Ferdinan segera mengambil kursi roda dan mengangkat tubuh Papanya dan mendudukkan nya dikursi roda.
"Jangan dipaksakan, Pa," kata Marshanda lagi.
"Mari sarapan dulu," ajak Mentari mencairkan suasana.
"Tadi Papa mencium bau masakan wangi sekali, jadi Papa berjalan kemari untuk melihat. Sekaligus mencoba untuk berjalan," kata Ferdy.
"Ya sudah, yang penting sekarang Papa sudah sembuh," kata Marshanda.
Akhirnya mereka pun makan bersama-sama. Mentari juga mengajak pelayan untuk makan bersama. Namun pelayan menolak karena tidak enak makan dengan majikan mereka.
Pelayan di mansion ini ada 4 orang, tukang kebun 2 orang. Dan penjaga gerbang 4 orang bergantian siang dan malam.
"Sekarang jangan panggil Om lagi, tapi panggil Papa," kata Ferdy.
"Terimakasih, Pa. Sudah mau menerima Tari," ucap Mentari.
"Kamu sudah kami anggap anak kami sendiri," ucap Ferdy. Marshanda dan Ferdinan mengangguk.
"Tapi aku mau Mentari jadi istriku, Pa. Bukan jadi adikku," kata Ferdinan. Mentari hanya tertunduk malu.
"Iya, itulah maksud Papa," kata Ferdy.
"Kamu tidak ke kantor, Nak?" tanya Ferdy.
"Cuti dulu lah, Pa. masa mau kerja terus. kemarin baru saja terbebas dari pencuri data perusahaan," jawab Ferdinan.
"Terus?" tanya Ferdy.
"Beruntung ada Mentari, Pa. Dia yang melawan hacker tersebut dan berhasil mengembalikan semua data yang telah mereka curi," jawab Ferdinan.
"Hacker nya tidak satu orang, tetapi ada 3. Aku curiga mereka pasti hanya dibayar," kata Mentari.
"Syukurlah perusahaan bisa selamat, bagaimana bisa kamu sehebat itu, Nak?" tanya Marshanda.
"Aku belajar dari sahabatku, Ma. Dan dia juga orang hebat," jawab Mentari.
"Setelah ini, aku mau pulang dulu, Ma, Pa," kata Mentari.
"Loh, kok cepat sekali? Apa tidak ingin menginap lagi disini?" tanya Marshanda.
"Kapan-kapan baru menginap lagi," jawab Mentari.
Mentari pun berpamitan kepada Marshanda dan Ferdy. Sedangkan Ferdinan ia ikut Mentari ke apartemen milik Mentari.
Kini keduanya sudah berada di gedung apartemen tersebut.
Saat keduanya turun dari mobil, mereka berpapasan dengan Brandon si playboy cap gayung.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Nurya Ningsih
ada ya play' boy cap gayung...baru dengar dech...🤣🤣
2025-02-20
1
Lies Atikah
playboy cap cip cup X
2024-11-15
1
Katarina Istinganah
betapa bahagianya keluarga Ferdinan
2024-11-29
1