.
.
.
Satrio masih ngotot ingin minta penjelasan tentang kerjasama itu. Tapi Ferdinan juga bersikeras menolak kerjasama ini.
"Bapak Satrio Kuncoro yang terhormat, pintu keluar ada disana," ucap Ferdinan sambil menunjuk pintu diruangan itu.
Dengan perasaan marah, Satrio pun keluar dari ruangan itu. Sementara Siska masih berada didalam ruangan tersebut.
"Dasar pria dingin, sebenarnya apa kekurangan gua? Gua putri orang kaya, dan gua berani jamin kehidupan loe akan lebih baik kalau menikah dengan gua. Dan perusahaan loe ini pasti akan lebih berkembang," ucap Siska dengan percaya diri.
"Tanpa bantuanmu aku juga bisa sukses," kata Ferdinan dengan nada dingin.
"Sekarang pergilah, aku tidak ingin melihatmu," kata Ferdinan.
"Baik, tapi loe jangan menyesal," ucap Siska dengan nada ancaman.
"Kau pikir aku takut?" tanya Ferdinan.
"Kita lihat saja nanti," kata Siska.
Sementara Satrio sudah berada di dalam mobil. Dia dan putrinya membawa mobil sendiri-sendiri.
"Aku akan lenyapkan bocah itu, berani-beraninya dia menentang aku," gumam Satrio.
"Aku akan melakukan hal yang sama pada bocah itu, seperti yang sudah aku lakukan pada Ferdy," gumam Satrio lagi.
Ya, Satrio yang telah mensabotase mobil milik Fredy Papanya Ferdinan. Dengan membayar orang untuk memotong rem mobil tersebut.
Flashback...
Braak... Satrio menggebrak meja didepan Ferdy, tapi Ferdy tidak bergeming sedikitpun.
"Untuk apa aku menjalin kerjasama denganmu? Sedangkan aku tau usahamu itu tidak bersih," ucap Ferdy dingin.
"Baik, kalau itu yang kau inginkan. Jangan salahkan aku," ucap Satrio, lalu segera pergi dari tempat itu.
Flashback end...
Itulah awal sebelum Ferdy kecelakaan. Karena rem mobilnya tidak berfungsi, demi mengelakkan anak kecil yang sedang menyebrang Ferdy memilih membanting setir mobilnya. Sehingga ia menabrak pembatas jalan dengan sangat kuat.
Setelah kepergian Siska, Ferdinan menghempaskan diri terduduk dikursi kebesarannya.
"Huh, aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi semua ini. Aku tau, tidak mudah menjadi pengusaha sukses di usia muda," gumam Ferdinan.
"Mentari."
Tiba-tiba Ferdinan teringat gadis itu. Gadis yang selama ini ia rindukan, dan sampai sekarang belum ada kabar.
"Aku yakin kau masih hidup, aku yakin itu," batin Ferdinan.
"Aku harus mencarinya lagi," gumam Ferdinan. Lalu ia keluar dari ruang kerjanya dan berjalan dengan tergesa-gesa kearah lift.
Tujuan Ferdinan adalah rumah Mentari yang dulu ia tinggali. Ia belum tau kalau tempat itu sudah berubah. Karena terakhir dia ketempat itu 5 tahun yang lalu.
"Aku berharap kamu kembali, Mentari. Kembali untuk menyinari hidupku yang kelam ini," batin Ferdinan.
Ferdinan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena ia sudah tidak sabar ingin tiba ditempat itu.
Setibanya ditempat yang dituju, Ferdinan tercengang melihat perubahan kawasan ini. Sekarang sudah ada beberapa buah gedung tinggi. Dulu tempat ini adalah pemukiman warga. Sekarang sudah berubah sepenuhnya.
Ferdinan menghela nafas, dan ia tertegun saat melihat sebuah mobil putih yang tadi ia lihat dilampu merah.
Namun Ferdinan mengabaikan mobil tersebut, lalu pergi dari tempat itu. Sementara mobil putih tadi sudah terparkir ditempat parkir. Yaitu disebuah parkiran apartemen.
Mentari tidak mengetahui kalau mobil yang berselisih dengannya adalah mobil Ferdinan.
Mentari keluar dari mobil, ia baru saja datang dari berbelanja di supermarket. Kemudian Mentari pun masuk kedalam gedung apartemen tersebut. Kebetulan apartemen miliknya ada dilantai 20.
Dengan susah payah Mentari menekan angka 20, karena ditangan nya banyak barang belanjaannya.
"Perlu saya bantu?" tanya seorang pemuda yang kebetulan juga masuk ke lift.
"Ah, tidak usah," jawab Mentari.
Tapi pemuda itu masih bersikukuh, "Lantai berapa?" tanyanya.
"20," jawab Mentari singkat dan jelas.
Pria itupun menekan angka 20. Pria itu memperhatikan Mentari yang sepertinya terlihat kesulitan membawa barang belanjaannya.
"Biar saya bantu," ucap pemuda itu.
"Tidak usah," jawab Mentari.
Meskipun sudah kuat, tapi Mentari tetap harus berhati-hati pada orang lain. Apalagi orang asing yang belum dikenalnya.
"Cewek dingin," ucap pemuda itu pelan. Tapi masih didengar oleh Mentari. Mentari cuek saja. Ia tidak peduli dibilang dingin atau apapun.
"Oya, kenalkan nama saya Brandon. Baru datang dari luar negeri, lulusan terbaik di universitas ternama di Jerman," kata Brandon memperkenalkan diri.
Mentari menoleh sekilas. Tampan sih, tapi terlalu narsis. Brandon terdiam karena merasa tidak mendapat respon dari Mentari.
"Beginikah rasanya dicuekin? Kebanyakan cewek yang saya pacari pada klepek-klepek dengan ketampanan dan kekayaan saya," batin Brandon.
Brandon tiba di lantai 15 tempat apartemennya. Ia segera keluar, tapi sebelum itu Brandon sempat mengedipkan matanya dengan genit. Mentari malah menoleh kearah lain.
Akhirnya Mentari tiba dilantai 20. Ia segera keluar dengan membawa barang-barangnya.
Sampai didepan pintu apartemen miliknya, Mentari menekan sandi apartemennya.
Pintu terbuka, Mentari pun segera masuk dan segera menyusun belanjaannya di kulkas. Dan barang-barang lainnya disimpan ditempat yang sepatutnya. Sepertinya sabun dan lain sebagainya.
Setelah selesai, Mentari ingin mandi terlebih dahulu. baru setelah itu ia akan masak untuk makan siang yang sudah terlewat. Untuk sementara ia akan makan mie instan dulu untuk mengganjal perutnya.
Sementara Ferdinan dalam perjalanan pulang ke mansion. Pikirannya hanya bertumpu pada seorang gadis. Serta perasaannya saat dilampu merah tadi.
"Perasaan ini hanya ada disaat dekat Mentari, apa mungkin pemilik mobil itu adalah Mentari. Sebuah mobil Lamborghini, bahkan mobil keluaran terbaru," batin Ferdinan.
Ferdinan menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan harapan bisa membuang pikirannya tentang Mentari.
Tanpa terasa, Ferdinan sudah tiba di mansion. Ferdinan keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya.
"Ma!" panggil Ferdinan saat melihat sang mama ada diruang tamu bersama Papanya.
"Bagaimana, Nak?" tanya Ferdy.
"Apanya Pa?" tanya Ferdinan balik.
"Pekerjaanmu juga perusahaan," jawab Ferdy.
"Baik, Pa. Tapi tadi sempat terjadi ketegangan gara-gara aku menolak untuk bekerjasama dengan perusahaan Satrio group," kata Ferdinan.
Deg...
Jantung Ferdy berdegup mendengar nama perusahaan itu. Ia teringat 5 tahun lalu setelah bersitegang dengan Satrio Kuncoro. Iapun mengalami kecelakaan karena rem mobilnya blong.
Ferdy yakin itu bukan suatu kebetulan atau musibah. Tapi itu sudah direncanakan.
"Nak, kamu jangan berurusan dengan orang itu. Papa juga dulu sempat menolak kerjasama dengan perusahaan itu, tapi Papa berakhir seperti ini. Setelah Papa bersitegang dengannya, dua hari kemudian Papa kecelakaan karena rem mobil Papa blong," ucap Ferdy.
"Jadi kecelakaan itu disengaja?" tanya Ferdinan.
"Papa tidak tahu pasti. Yang pasti kecelakaan itu terjadi setelah Papa bersitegang dengannya karena Papa menolak kerjasama itu," jawab Ferdy.
"Papa tidak punya bukti untuk menjebloskannya ke penjara. Meskipun Papa tahu kalau perusahaan miliknya tidak bersih," kata Ferdy lagi.
"Kalau begitu aku akan mencari buktinya Pa, aku akan buat perhitungan dengannya," ucap Ferdinan.
"Kamu harus hati-hati, Nak. Satrio itu orang yang licik," pesan Ferdy kepada Ferdinan.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Morna Simanungkalit
memtari buatlah pembalasanmu pada siska si jahat itu.
2024-08-20
1
Sulaiman Efendy
TERNYATA KCELAKAAN FERDY HINGGA LUMPUH, ULAH SATRIO..
2024-08-15
2
Umi Maryam
semoga ferdinad cepet ketemu mentari thor ....
2024-08-07
4