.
.
.
Selama satu Minggu, Mentari tidak masuk ke sekolah. Selama itu pula Ferdinan tidak melihat Mentari.
Ferdinan mencoba mencari dirumahnya, tapi Mentari katanya tidak pulang.
"Sebenarnya kemana kamu pergi, Tari? Sudah satu Minggu kau menghilang bagai ditelan bumi," batin Ferdinan.
Kini Ferdinan semakin jauh dari teman sekelasnya.
Siska semakin gencar untuk mendekatinya, tetapi Ferdinan tidak peduli sama sekali. Ferdinan merasa ada yang hilang dalam dirinya.
"Tari, kemana sih kamu? Baru saja aku merasakan punya teman. Tapi kau seolah menjauh dariku," gumam Ferdinan.
Sementara didalam gudang...
Mentari berusaha untuk melarikan diri. Kali ini usahanya berhasil. Ia berjalan dengan sempoyongan karena terlalu lemah.
"Ya Tuhan. Kirimkan aku orang baik untuk menolongku," batin Mentari.
Selama satu Minggu Mentari disekap oleh Siska dan teman temannya. Selama itu pula ia tidak makan dan minum. Badannya terlihat kurus. Tubuhnya penuh luka.
Bruuk... Mentari terjatuh ke tanah. Secara kebetulan ada orang lewat dan segera menolongnya.
"Dek, Kamu tidak apa-apa?" tanya orang itu.
"Tolong aku bang, tolong antar aku pulang kerumah," ucap Mentari dengan terbata-bata.
Pria itupun merasa iba, lalu menolong Mentari dan mengantar Mentari pulang. Karena Mentari tidak mau dibawa kerumah sakit.
Dengan bantuan orang tersebut, Mentari akhirnya selamat sampai rumah. Bu Aminah yang kesusahan sejak beberapa hari lalu pun langsung menangis saat melihat kondisi Mentari.
"Tari, kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Aminah.
"Bu, saya menemukan nya dijalan dalam keadaan sangat memprihatinkan," ucap pria itu.
"Terimakasih mas, karena sudah menolong anak saya," ucap Bu Aminah.
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi," ucap pria itu. Saat Bu Aminah hendak memberi pria itu uang. Pria itu menolak.
"Maaf Bu, saya ikhlas menolongnya," ucap pria itu.
"Sekali lagi terimakasih, ya mas," ucap Bu Aminah. Pria itu mengangguk dan segera pergi dari tempat itu.
"Tari, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Aminah.
"Aku disiksa Bu, aku dianiaya mereka. Aku tidak tahu apa salahku," ucap Mentari sambil menangis.
"Ya Allah, Nak. Miris sekali nasibmu," ucap Bu Aminah menangis pula.
"Kita kerumah sakit, ya?" tanya Bu Aminah. Mentari menggeleng.
"Tapi kondisimu seperti ini?" tanya Bu Aminah lagi.
"Air ... Air, aku mau air," ucap Mentari.
"Tunggu sebentar!" kata Bu Aminah. Iapun bergegas kedapur untuk mengambil air.
Dengan tubuh dan tangan gemetar, Mentari meneguk air dalam gelas hingga tandas.
"Sebentar, ibu akan buatkan bubur untukmu," kata Bu Aminah.
Bu Aminah langsung membuatkan bubur untuk Mentari. Ia tau, pasti Mentari tidak diberi makan.
Mentari pun akhirnya tertidur, badannya yang dekil dan kurus membuat Bu Aminah merasa iba.
Bu Aminah seorang janda tanpa anak. Suaminya kawin lagi karena Bu Aminah tidak bisa memberikan keturunan. Bu Aminah yang tidak mau di poligami memilih untuk bercerai.
Sementara di sekolah...
"Ada yang tau kemana Mentari pergi?" tanya Bu Fitri.
"Tidak Bu," jawab mereka serentak. Hanya Ferdinan yang terdiam.
"Ferdinan, kamu tau kemana Mentari? Sudah satu Minggu ia tidak masuk," tanya Bu Fitri.
"Tidak Bu, terakhir sewaktu kami ingin pulang, saya pergi ke toilet. Saat saya tiba diparkiran sekolah Mentari sudah tidak ada. Tapi sepeda dan tas nya ada tergeletak ditanah," jawab Ferdinan.
"Apa mungkin dia di culik?" batin Bu Fitri.
"Baiklah, sekarang lanjutkan pelajaran kalian," ucap Bu Fitri.
"Baik Bu," jawab mereka serentak.
Akhirnya pelajaran pun usai, mereka semua bersiap-siap untuk pulang. Ferdinan berjalan menuju parkiran.
"Ferdinan!" Merasa namanya dipanggil, Ferdinan menoleh.
"Bisa gak gua pulang bareng loe?" tanya Siska.
"Maaf, aku mau kerumah sakit. hari ini Papaku pulang," jawab Ferdinan. Ferdinan kini menggunakan mobil, karena ia sekalian ingin menjemput Papanya dirumah sakit.
"Gak apa-apa, boleh ya gua pulang bareng loe?" rayu Siska.
"Kamu budeg ya...?" tanya Ferdinan dengan nada membentak.
Ferdinan akhir-akhir ini sering mudah emosi. Apalagi Mentari tidak ada kabar sampai sekarang.
Siska terkejut, dengan air mata buayanya ia menangis. Tapi itu tidak membuat Ferdinan merasa iba sedikitpun.
Ferdinan dengan cepat masuk kedalam mobil, ia begitu malas berlama-lama didekat Siska. Kemudian Ferdinan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.
"Awas saja loe Ferdinan, gua akan habisi Mentari agar loe tidak lagi bertemu dengannya," gumam Siska.
Siska berjalan kearah gudang bersama kedua temannya. Saat tiba di sana mereka tidak mendapati siapa-siapa.
"Apa jangan-jangan ia kabur?" tanya Aprilia.
"S*al," umpat Siska. kedua tangannya terkepal erat.
"Cari anak itu cepat!" perintah Siska. kedua temannya pun mencari Mentari disekitar gudang tersebut. Tapi mereka tidak menemukan yang mereka cari.
"S*al, kemana sih dia?" tanya Siska.
"Maaf Sis, kami tidak menemukannya," jawab Priscilla.
"Ya, sudah. Kita kembali saja, gua yakin dia bakalan m*mpus," ucap Siska.
Sementara Ferdinan sudah tiba dirumah sakit. Ia bergegas berjalan menuju ruang rawat sang Papa. Dilihatnya sang Mama sudah bersiap-siap.
"Sudah Ma?" tanya Ferdinan.
"Sudah," jawab Marshanda. Ia mendorong suaminya menggunakan kursi roda.
Dokter menyatakan bahwa Ferdy Prianggoro lumpuh permanen, karena kakinya terjepit.
Perusahaan miliknya terpaksa sang asisten yang tangani. Sebelum Ferdinan menggantikan nya nanti.
"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Ferdinan.
"Sudah lebih baik, hanya kaki Papa seakan-akan mati rasa," jawab Ferdy.
"Sabar ya Pa, nanti kita cari dokter yang lebih baik untuk menyembuhkan Papa," ucap Ferdinan.
Meskipun dokter memvonis Fredy akan lumpuh permanen, tapi Ferdinan masih akan terus berusaha untuk kesembuhan Papanya agar bisa berjalan normal kembali.
Ia berpikir bisa saja dokter salah, dan berusaha tidak ada salahnya. Begitulah menurut Ferdinan.
"Pa," panggil Marshanda. Fredy menoleh ke istrinya. Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang ke mansion.
"Maafkan Papa Ma, akibat menghindari anak yang sedang melintas di jalan. Papa jadi seperti ini," ucap Ferdy.
"Bukan salah Papa, semua sudah takdir Pa," kata Marshanda.
"Mama akan selalu ada untuk Papa," ucap Marshanda lagi.
Ferdy hanya terdiam mendengar ucapan istrinya. Benar apa yang dikatakan oleh istrinya, semua ini adalah takdir.
"Bagaimana dengan teman kamu itu Fer?" tanya Marshanda.
"Belum ada kabar Ma, aku sudah lapor polisi, tapi polisi sepertinya tidak peduli sama sekali," jawab Ferdinan.
"Semoga saja dia selamat ya, Nak," ucap Marshanda. Ferdinan hanya terdiam.
"Kamu menyukainya, Nak?" tanya Marshanda lagi.
"Entahlah Ma, tapi tiada dia aku merasa kehilangan," jawab Ferdinan jujur.
"Dan juga saat aku menyentuh tangannya, kulitku tidak berubah, Ma," kata Ferdinan lagi.
"Kalau begitu, kamu harus cari dia. Mungkin dia adalah jodohmu," ucap Marshanda.
"Entahlah Ma, aku belum terpikir kesitu," jawab Ferdinan.
"Mana tidak bilang sekarang, suatu saat nanti kalau dia memang jodohmu, kalian pasti akan bertemu lagi," kata Marshanda.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Shi Leseora
koid tuh anak kalau tidak makan minum selama seminggu,😅😅
2025-02-13
1
Katarina Istinganah
kok saya jdi bingung ya dgn alur ceritanya
2024-11-29
1
Nurma sari Sari
yg kira2 lah Thor kalau bikin cerita satu Minggu GK makan GK minum, mati lah orang, masih anak sekolah sdh jadi kriminal perempuan lagi, cerita seperti ini mudah2n GK dijadikan contoh buat anak2 yg otaknya memang sdh kriminal
2024-10-23
3