Membawa Aminah kembali

.

.

.

Beberapa orang warga datang ke rumah Aminah, hanya ingin sekedar melihat siapa orang kaya dari kota yang berkunjung?.

Sementara ada satu orang warga sudah pergi memanggil Aminah untuk mengabarkan bahwa ada orang berkunjung ke rumah Aminah.

"Bude, ada orang kota berkunjung ke rumahnya Bude," kata Nurdin.

"Siapa Din? Tanya Aminah.

"Gak tau Bude, sepertinya orang kaya, satu tampan dan satunya cantik," jawab Nurdin.

"Ya sudah, Bude cuci tangan dulu," kata Aminah dan bergegas ke pancuran air.

Setelah selesai mencuci tangan, Aminah pun mengajak Nurdin untuk pulang. Nurdin adalah tetangga dekat rumah Aminah. Dia baik dan sangat peduli dengan Aminah.

Dalam perjalanan menuju rumah, Aminah bertanya-tanya dalam hati. Siapa gerangan yang berkunjung?.

Tiba didepan rumah, Aminah memicingkan matanya melihat mobil mewah terparkir didepan rumahnya. Aminah pun mendekat.

"Ibu!" panggil Mentari saat melihat Aminah datang.

Para warga yang melihat hal itupun saling pandang. Karena setahu mereka Aminah tidak mempunyai anak.

Aminah terpaku ditempatnya. Antara percaya dan tidak saat melihat seorang gadis yang selama ini ia rindukan ada didepan matanya.

"Me-mentari?" tanya Aminah terbata-bata. Karena tenggorokan nya terasa tercekat.

Mentari berlari kecil menghampiri Aminah dan langsung memeluknya.

"Tari merindukan ibu," ucap Mentari yang sudah tidak bisa membendung air matanya.

Aminah hanya bisa mengangguk. Karena untuk berbicara terasa begitu sulit. Hanya airmata yang terus mengalir dari matanya.

"Aku mencari ibu, Alhamdulillah akhirnya ketemu," kata Mentari.

Beberapa warga mendekat, karena rasa penasaran yang tinggi membuat salah satu dari mereka pun bertanya.

"Minah, ini siapa?" tanya wanita paruh baya.

"Dia ibuku, meskipun aku tidak terlahir dari rahimnya, tapi aku sudah menganggap dia seperti ibuku," bukan Aminah yang menjawab tetapi Mentari.

Para warga manggut-manggut mendengar hal itu. Tidak dipungkiri kalau gadis ini menganggap Aminah sebagai ibunya, Aminah sangat baik pada semua orang.

"Diajak masuk, Minah. Kasihan dari tadi menunggu diluar," ucap salah satu warga. Aminah pun mengangguk.

Ferdinan tidak dapat bersalaman dengan orang-orang terlebih lagi wanita. Hanya para pria yang ia salami.

"Maaf ibu-ibu semua, dia pacar ku tidak bisa bersentuhan dengan wanita, maka penyakitnya akan kambuh," ucap Mentari berterus terang. sebelum para warga beranggapan sombong pada kekasihnya itu.

Dan Mentari juga menjelaskan bahwa hanya dirinya dan orang tuanya yang bisa disentuh oleh Ferdinan. Para warga pun mengerti dengan penjelasan Mentari.

Aminah belum bisa berkata apa-apa atau sekedar bertanya. Karena ia merasa ini seperti mimpi. Aminah membuka pintu rumahnya.

"Masuklah, Nak," ucap Aminah akhirnya. Mentari dan Ferdinan pun masuk.

Mentari duduk disamping Aminah dan perlahan menghapus airmata wanita itu. Wanita berusia 45 tahun tapi karena keadaan membuat dirinya lebih tua dari usianya yang sebenarnya.

Tetangga dekat rumah Aminah pun pergi kedapur untuk membuatkan minuman serta makanan yang untuk tamu mereka.

"Bagaimana kamu bisa menemukan ibu?" tanya Aminah. Mentari tersenyum.

"Tari mencari tahu informasi tentang ibu, dan akhirnya Tari ketemu," jawab Mentari.

"Rumah kita yang dulu sudah digusur," ucap Aminah.

"Iya, saat Tari datang, tempat itu sudah berubah," ucap Mentari.

"Setelah tiga tahun kamu pergi, tempat itu digusur dan ibu harus pindah dari sana. Ibu tidak punya pilihan lain selain pulang ke kampung," kata Aminah.

"Tari datang untuk mengajak ibu ke kota, Tari sudah membeli rumah untuk tempat tinggal kita," ucap Mentari.

Aminah terdiam sejenak. Ia berpikir mempertimbangkan tawaran Mentari.

"Mau ya, Bu. Soalnya Tari ingin selalu dekat dekat ibu," ucap Mentari.

"Terima saja Bu, lagi pula ibu disini juga sendiri," kata Ferdinan.

"Baiklah," jawab Aminah pada akhirnya.

"Mari minum dulu," ucap salah satu warga, sambil menuangkan air teh kecangkir.

"Terima kasih," ucap Mentari.

Dan warga yang lain menghidangkan makanan untuk mereka, sebenarnya mereka saat diperjalanan kesini sudah makan.

"Silahkan," ucap wanita paruh baya.

Mentari tersenyum, "Iya Bu."

Mereka pun makan. Beberapa orang warga juga ikut makan, ada juga yang pulang ke rumah masing-masing.

Berhubung hari sudah malam, Ferdinan dan Mentari menginap di rumah Aminah.

Setelah selesai makan, mereka pun mandi dan setelah itu mereka pun istirahat.

Pagi hari...

Aminah sudah berpamitan pada warga. Dan tidak lupa juga ia menitipkan kebun jagung dan tanaman lainnya kepada Nurdin.

Kini Aminah, Ferdinan dan Mentari kembali ke kota. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam dengan pikiran masing-masing.

Mentari membawa Aminah ke apartemen miliknya.

Aminah termangu melihat perubahan tempat ini. Tempat yang dulu ia tinggali kini berubah menjadi bangunan tinggi.

"Mari Bu," ajak Mentari. Lamunan Aminah pun buyar saat Mentari menyentuh pundaknya.

"Ehh, iya Nak," ucap Aminah.

Ferdinan membawakan tas milik Aminah, sementara Mentari menggandeng tangan Aminah menuju lift.

"Sementara kita tinggal disini dulu," kata Mentari saat mereka tiba di apartemen milik Mentari.

"Ini ...." Perkataan Aminah terjeda.

"Ini apartemen milikku, Bu. Aku membelinya sewaktu baru datang dari luar negeri," kata Mentari.

Kebetulan apartemen ini tersebut ada 2 kamar, jadi Aminah ditempatkan dikamar satunya.

"Ini kamar ibu," ucap Ferdinan sambil membuka pintu kamar tersebut. Ferdinan membawa masuk tas milik Aminah dan meletakkan nya disisi lemari pakaian.

"Ibu istirahat dulu ya, pasti capek setelah perjalanan jauh," kata Mentari.

"Terima kasih, Nak. Sudah mau menampung ibu," ucap Aminah.

"Ibu bicara apa sih, ibu itu adalah ibu Tari. Jadi sudah sepantasnya Tari berbuat begitu," jawab Mentari.

"Sayang, aku pulang dulu ya," ucap Ferdinan.

"Iya, hati-hati!" kata Mentari. Ferdinan tersenyum lalu mengecup kening dan kemudian bibir Mentari dengan lembut.

"Sayang, ada Bu Aminah tuh," kata Mentari.

Aminah hanya terdiam dan tersenyum melihat kebahagiaan Mentari yang sekarang.

"Gak apa-apa, ibu juga pernah muda kok. Pasti pernah mengalami seperti ini, ya kan Bu?" tanya Ferdinan.

"Iya, bahkan ibu lebih dulu makan garam dari kalian," jawab Aminah.

"Iya, tapi lihat tempat dong. Jangan main sosor aja," ucap Mentari.

"Aku pulang ya," pamit Ferdinan. Sekali lagi Ferdinan mengecup bibir Mentari. Kemudian ia kabur sebelum bogem mentah mendarat di wajah tampannya.

"Dasar m*sum," umpat Mentari. Tapi Ferdinan malah tertawa mendengarnya.

"Sepertinya Ferdinan sangat mencintaimu," ucap Aminah.

"Iya, Bu. Dan aku juga sangat mencintainya," kata Mentari.

"Ibu senang, kamu mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang kamu cintai," ucap Aminah. Mentari tersenyum lalu memeluk Aminah dari belakang selayaknya seorang anak kepada ibunya.

Sementara Ferdinan yang sudah berada diparkiran dan hendak masuk kedalam mobil. Tapi ada suara menghentikan dirinya untuk masuk. Ferdinan pun menoleh kearah suara tersebut.

"Sebaiknya kamu jauhi Mentari kalau ingin selamat," ucap suara itu.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Katarina Istinganah

Katarina Istinganah

memang kenapa

2024-11-30

1

I Love you,

I Love you,

o...o...o...o...o....w loh...masi... Boca /Panic//Panic//Panic/

2024-09-04

1

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

PASTI ABIYAN TUH

2024-08-15

3

lihat semua
Episodes
1 Awal mula.
2 Mendapat masalah.
3 Dianiaya.
4 Berhasil kabur
5 Dikeluarkan dari sekolah.
6 Aku kembali.
7 Cewek dingin
8 Gadis tangguh.
9 Dibuat kagum
10 Mengobati
11 Tidak ada yang lain
12 Sembuh
13 Siapa?
14 Kembali bertemu.
15 Mendatangi rumah sakit.
16 Balas dendam selanjutnya
17 Balasan
18 Tetangga
19 Menemui Aminah.
20 Membawa Aminah kembali
21 Memang kamu siapanya?
22 Aku bukan yang dulu.
23 Aji mumpung.
24 Pembukaan.
25 Dihadang.
26 Nyonya parasit
27 Menemui Siska.
28 Tidak terbukti.
29 Semut juga bisa menggigit.
30 Hanya sentilan kecil.
31 Jangan memandang rendah.
32 Hanya sedikit pelajaran.
33 Mengamuk.
34 Seperti di teror.
35 Seperti orang linglung.
36 Permainan baru dimulai.
37 Belum kapok juga.
38 Tidak akan memberi muka.
39 Giliran selanjutnya.
40 Undangan makan siang.
41 Couple.
42 Kedatangan Jenny.
43 Balasan setimpal.
44 Kekompakan dua sahabat
45 Berbagi.
46 Bertemu musuh lama
47 Mengambil alih
48 Part 48
49 Part 49
50 part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 Part 53
54 Part 54
55 Part 55.
56 Part 56
57 Part 57
58 part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 part 68
69 Episode 69
70 Part 70
71 Part 71
72 Part 72
73 Part 73
74 Part 74
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Awal mula.
2
Mendapat masalah.
3
Dianiaya.
4
Berhasil kabur
5
Dikeluarkan dari sekolah.
6
Aku kembali.
7
Cewek dingin
8
Gadis tangguh.
9
Dibuat kagum
10
Mengobati
11
Tidak ada yang lain
12
Sembuh
13
Siapa?
14
Kembali bertemu.
15
Mendatangi rumah sakit.
16
Balas dendam selanjutnya
17
Balasan
18
Tetangga
19
Menemui Aminah.
20
Membawa Aminah kembali
21
Memang kamu siapanya?
22
Aku bukan yang dulu.
23
Aji mumpung.
24
Pembukaan.
25
Dihadang.
26
Nyonya parasit
27
Menemui Siska.
28
Tidak terbukti.
29
Semut juga bisa menggigit.
30
Hanya sentilan kecil.
31
Jangan memandang rendah.
32
Hanya sedikit pelajaran.
33
Mengamuk.
34
Seperti di teror.
35
Seperti orang linglung.
36
Permainan baru dimulai.
37
Belum kapok juga.
38
Tidak akan memberi muka.
39
Giliran selanjutnya.
40
Undangan makan siang.
41
Couple.
42
Kedatangan Jenny.
43
Balasan setimpal.
44
Kekompakan dua sahabat
45
Berbagi.
46
Bertemu musuh lama
47
Mengambil alih
48
Part 48
49
Part 49
50
part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
Part 53
54
Part 54
55
Part 55.
56
Part 56
57
Part 57
58
part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
part 68
69
Episode 69
70
Part 70
71
Part 71
72
Part 72
73
Part 73
74
Part 74

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!