.
.
.
Keduanya pun pergi ke perusahaan Prianggoro group. Dengan mengendarai mobil masing-masing. Mentari mengikuti Ferdinan dari belakang. Ferdinan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mentari juga tidak mau kalah.
Dua mobil itu seperti saling kejar-kejaran bagi orang yang melihatnya.
Dalam sekejap keduanya sudah tiba didepan perusahaan tersebut. Ferdinan keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Begitu pula dengan Mentari.
Mereka langsung menuju ruang IT. Disana sudah ada beberapa orang ahli komputer yang sedang menangani masalah ini. Tapi satu pun tidak bisa mengatasinya.
"Tuan," sapa Jerry yang sejak tadi sudah gelisah.
"Akhirnya Tuan datang," katanya lagi.
"Bagaimana?" tanya Ferdinan.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa mengatasinya. Mereka hacker ternama, Tuan," jawab si A.
"Boleh aku bantu?" tanya Mentari.
Mereka semua menoleh saat mendengar suara perempuan. Tadi mereka tidak menyadari saking fokusnya pada layar komputer mereka.
"Apa kamu bisa? Kami saja empat orang tidak mampu mengatasinya," tanya si B memandang remeh pada Mentari.
"Jangan menilai orang dari luarnya saja. Lagipula kalau aku bisa, apa yang akan kamu berikan kepadaku?" tanya Mentari.
"Saya akan berikan mobil saya," jawab si B. Mentari menggeleng.
"Aku tidak butuh mobil," ucap mentari.
"Akan saya kasih uang 5 miliar untukmu, tapi kalau kamu tidak bisa kasih aku dua kali lipat," ucap si B dengan sombongnya.
"Oke. Baik," jawab Mentari.
Kemudian Mentari mengambil alih tempat si A. Si A dengan hormat menyingkir dari tempat duduknya. Sedangkan si B masih dengan sikap angkuhnya.
"Deal ya," ucap Mentari sebelum memulai aksinya. Sambil tersenyum ia memandang kearah Ferdinan.
Ferdinan semakin terpesona dengan penampilan Mentari yang sekarang. meskipun hanya berpakaian seadanya alias sederhana tapi pesonanya bagi Ferdinan begitu luar biasa.
"Deal," jawab si B.
Setelah mendengar kesepakatan dari kedua belah pihak. Mentari pun memulai aksinya menyerang balik orang yang telah membobol perusahaan milik Ferdinan.
Ferdinan hampir tidak berkedip melihat jari-jari Mentari dalam memainkan komputer. Jerry melongo, si A mulutnya terbuka. Serta yang lainnya juga dibuat takjub.
Mereka ahli komputer, tapi melihat jari-jari Mentari dalam menekan keyboard komputer membuat mereka takjub.
"Ternyata kamu semakin hebat, sayang, Aku semakin mengagumimu," batin Ferdinan.
Sementara Mentari masih fokus menarik kembali data-data yang telah mereka curi dari perusahaan. Satu jam akhirnya semua data-data bisa dipulihkan oleh Mentari.
Masih belum selesai. Mentari mengirim virus kepada lawan, sehingga komputer lawan hangus terbakar.
"Selesai," ucap mentari. Kemudian Mentari memasang keamanan pada perusahaan milik Ferdinan, agar kedepannya tidak bisa ditembus oleh hacker manapun, kecuali dirinya sendiri.
"Bagaimana? 5 miliar," tanya Mentari.
Si B terduduk karena kalah taruhan. Tubuhnya terasa lemas seketika. Teman satu tim nya segera mengangkat tubuh si B karena sudah terkulai tidak berdaya.
"Ingat. Jangan sombong, diatas langit masih ada langit. Cam kan itu," ucap Mentari.
"Tuan, apakah dia kekasih, Tuan?" tanya Jerry sambil berbisik.
"Hmmm. Jangan coba-coba menikungnya," jawab Ferdinan.
"Tidak berani, Tuan," jawab Jerry.
"Tuan, bagaimana dengan si B?" tanya si A.
"Bawa kerumah sakit. Saya yakin dia pasti syok berat," jawab Ferdinan.
Kemudian Ferdinan menarik tangan Mentari pelan agar lebih mendekat kepadanya. Lalu ia memberi kode pada Jerry untuk mengurus si B dan membawanya ke rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Mentari.
"Kamu semakin hebat, aku semakin kagum denganmu," ucap Ferdinan sambil mengelus pipi mulus Mentari.
"Karena semua itu adalah tekadku, selain menjadi kuat, aku juga ingin lebih cerdik dan jenius," jawab Mentari.
"Apa kamu ingin mendatangi musuhmu?" tanya Ferdinan.
"Tidak perlu, biarkan mereka yang datang sendiri. Aku yakin kalau aku dekat denganmu, mereka pasti akan datang kepadaku," jawab Mentari.
"Bijak," ucap Ferdinan sambil menoel hidung mancung Mentari.
"Sekarang kamu semakin cantik," kata Ferdinan.
"Iya, dulu aku dekil karena tidak pandai merawat diri," ucap Mentari.
"Dulu kamu cantik, sekarang bertambah cantik," kata Ferdinan.
"Gombal," ucap Mentari lalu melangkah pergi. Tapi baru saja dua langkah, tangannya sudah ditarik oleh Ferdinan sehingga Mentari jatuh kedalam pelukan Ferdinan.
"Tetaplah seperti ini dulu, aku masih sangat merindukanmu," ucap Ferdinan. Beberapa tetes airmata nya jatuh dipundak Mentari.
"Menangislah, bila itu bisa mengurangi bebanmu," ucap Mentari.
Ferdinan pun menangis dalam pelukan Mentari. Mentari membiarkan saja hal itu.
"Aku sekarang sudah tidak bisa menangis lagi, semua air mataku sudah aku tumpahkan beberapa tahun lalu. Saat aku dibully, saat aku disiksa dan dicaci. Saat kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan tunggal," ucap Mentari.
"Apakah aku terlalu cengeng?" tanya Ferdinan. Mentari menggeleng.
"Terkadang apa yang kita rasakan tapi tidak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata. Hanya airmata yang yang dapat berbicara," jawab Mentari.
"Sejak kamu pergi, dan Papa kecelakaan, membuat aku merasa terpuruk. Tapi aku tetap harus kuat dalam menjalani hidup. Demi Mama, demi kamu orang yang aku cintai," ucap Ferdinan tanpa sadar. Mentari tersenyum.
"Aku ingin ketemu Papamu," kata Mentari tiba-tiba.
Ferdinan melepaskan pelukannya dari Mentari. Ia menatap Mentari dalam. Kemudian Mentari mengangguk meyakinkan bahwa ia ingin bertemu dengan Papanya Ferdinan.
"Baiklah," jawab Ferdinan kemudian.
Keduanya pun keluar dari ruangan komputer. Saat mereka berdua berjalan, mereka menjadi pusat perhatian. Karena yang karyawannya tau, bosnya itu tidak pernah menggandeng perempuan.
"Itu, apakah pacarnya Tuan Ferdinan?" tanya karyawan 1.
"Bisa jadi, cocok banget mereka," ucap karyawan 2.
"Hu ... Hu. Gagal sudah harapanku untuk bersanding dengan Tuan Ferdinan," kata karyawan 3
"Halu. Mana mau Tuan Ferdinan sama kamu," ucap karyawan 4.
Mereka terus bergosip tentang Tuan mereka. Sehingga manager mereka pun menegur mereka.
"Satu mobil aja ya? Pakai mobil kamu," tanya Ferdinan.
"Boleh, Ayo," ajak Mentari.
Keduanya pun masuk kedalam mobil, Mentari menyuruh Ferdinan yang menyetir.
"Sepertinya mobil ini baru kamu beli?" tanya Ferdinan.
"Hmmm. karena aku tidak punya mobil, jadi aku beli. Biar senang untuk jalan-jalan," jawab Mentari.
Ferdinan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga mereka cepat sampai di mansion.
"Rumahmu bagus," kata Mentari saat mereka sudah tiba di mansion.
"Ini namanya mansion," kata Ferdinan.
"Mari masuk," ajak Ferdinan.
Marshanda sedang duduk diruang tamu, sedang menyuapi suaminya buah-buahan yang sudah dipotong-potong.
"Ma!" Marshanda menoleh kearah suara, karena merasa dipanggil.
Kemudian ia tersenyum saat melihat sang putra membawa seorang gadis. Ferdinan belum pernah sekalipun membawa gadis ke mansion milik keluarganya.
"Siapa dia, Nak?" tanya Marshanda.
"Saya, Mentari Tante. Temannya Ferdinan," bukan Ferdinan yang menjawab tetapi Mentari.
"Mari duduk," ajak Marshanda.
Mentari menyalami tangan Marshanda dan menciumnya. Begitu juga yang dilakukannya kepada Ferdy. Marshanda tersenyum melihat sikap sopan gadis itu.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Nurya Ningsih
ternehek mehek Ferdinand nya 😅
2025-02-20
1
Katarina Istinganah
yah ...
2024-11-29
1
Lies Atikah
kereeeeen lanjt
2024-11-15
1