LU'AN COMPANY
" Aku penasaran, dengan orang-orang LU'AN COMPANY, pasti mereka kumpulan orang cerdas semua !". Ucap Revan memangku dagunya.
" Pasti betapa mematikannya orang-orang yang bekerja di sana !". seru Ronald menyandarkan kepalanya di bahu sofa yang empuk.
Jika mereka tau mereka hanya beranggotakan 4 orang saja, mungkin semuanya hanya akan melihat dengan mulut menganga karena tidak percaya. LU'AN COMPANY memang belum terlihat fisik nya namun Ruby dan yang lain nya tengah proses membangun gedung, untuk menjadi tempat operasi mereka.
Tidak ada yang tau bentuk wajah dari mereka berempat karena selama pengajuan kerjasama hanya dilakukan melalui email dan sejenisnya. Berkas untuk persetujuan nya pun dikirim lewat jasa antar barang.
****
GENZI BRAYN
RAYZEN LEE
SAVIRA KIM
Sekumpulan anak dari negara berbeda, teman satu komunitas hacker termuda dan lihai dalam menciptakan virus dan anti virusnya termasuk Ruby yang berada di lingkaran Para jenius itu. Walaupun Ruby lebih muda dari ketiganya tapi dia sangat di hormati dan disegani oleh mereka bertiga karena mempunyai kemampuan di atas rata-rata.
Brayn, Rayzen dan juga Savira berkumpul di Irlandia karena melihat tanda-tanda keberadaan Ruby di sana. Mereka berangkat dari negara mereka masing-masing saat itu menggunakan pasport yang sudah di buat dan tinggal pakai.
Tidak sulit untuk mereka bertiga yang seorang hacker mengetahui semua itu. Untuk memastikan jika Ruby benar-benar ada di sana, mereka sampai membeli rumah masing-masing agar bisa memantau seluruh cctv yang ada di Irlandia.
**
Di lain sisi, mereka sedang santai menikmati hari sore nya di sebuah kafe favorit.
" hai cantik ". Goda Rayzen dengan mimik muka centil nya.
" hmm ". jawab dingin Ruby yang baru datang dan duduk di sampingnya.
" Hai sayangku cintaku , bagaimana kabarmu baik-baik saja bukan ?!". Tanya Savira semangat melihat kedatangan Ruby dan langsung memeluknya.
" Tch ". Decih Brayn.
" Kau kenapa Brayn ku yang tampan ?!". Protes Savira.
" Tidak ada ! hanya saja kau terlaku berlebihan ". Ujar Brayn.
" Sudah-sudah, kenapa kalian berisik sekali ! aku pergi lagi ini jika kalian terus berisik !". Ancam Ruby pura-pura melangkah pergi.
" jangan ! kita akan diam ". Cegah Raizen menatap kedua temannya satu persatu.
Ruby kembali duduk dan tersenyum puas.
" Bagaimana perkembangannya Rai ?". Tanya Ruby pada Raizen.
" Semuanya lancar by tenang aja, sekarang hanya tinggal mencari karyawan perusahaan aja !". Tutur Raizen dengan wajah penuh semangat.
" Tenanglah, aku yang akan mengurusnya !". Seru Savira.
" Oke sip, aku serahkan semuanya kepada kalian, terimakasih atas kerjasamanya ". ucap Ruby.
" Kita masih bisa mengatasi semuanya, jadi jangan terlalu banyak dulu mencari karyawan ". Ucap Ruby.
" Siap kapten ". Sahut Savira.
" Jika begitu aku pamit pergi ya, ada beberapa yang harus aku urus ". Sambungnya.
" Iya iya orang sibuk tidak pernah bisa duduk lama bersama kita !". Ejek Brayn berdiri dari duduk nya mengacak-acak rambut Ruby.
" Yaak rapihkan lagi !". Sentak Savira dengan mata membulat tajam ke arah Brayn yang masih mengacak-acak rambut Ruby
" Diam, kalian ini berisik sekali ". Ruby berjalan keluar kafe dengan muka cemberut, bukan karena rambut nya yang acak-acakan, tapi pusing melihat mereka yang tiap kali bertemu pasti berantem terus.
**
Ruby mampir dahulu ke supermarket untuk membeli sesuatu di sana, saat ke luar langit pun mulai menggelap dan jalanan mulai terang oleh cahaya kendaraan dan juga lampu jalanan.
Saat Ruby mengemudikan mobil, Di tengah perjalan hendak menuju mansion, terlihat segerombolan orang berkumpul mengerumuni seseorang yang tergeletak bersimbah darah di atas aspal.
Dengan penasaran Ruby pun turun dari mobilnya dengan pakaian kasual trendi nya. Ruby pin segera bertanya kepada bapak-bapak yang hendak meninggalkan kerumunan itu.
" Maaf pak ada apa ya, kenapa di sana banyak orang berkerumun ?". Tanya ruby mencegah orang itu.
" Oh itu, tidak tau pastinya non, tapi di sana ada korban tabrak lari ". Tunjuk orang itu ke arah pertigaan jalan yang sangat gelap tanpa penerangan apapun.
" Lalu kenapa tidak segera di larikan ke rumah sakit pak ?". Ruby terus bertanya.
" Kurang tau saya non, tadi sudah menghubungi pihak rumah sakit tapi belum kunjung datang juga ". Pernyataan itu membuat Ruby reflek menghampiri dan menerobos kerumunan.
" Kalian ini sedang apa ? bukankah banyak mobil di sini, kenapa hanya mendiamkan nya saja ? Ayo cepat bawa ke mobil saya ". Sentak Ruby kesal melihat mereka hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Mereka semua hanya menuruti semua perkataan Ruby yang notabenenya hanya anak remaja.
" Cepat-cepat bantu anak ini sebelum kehabisan darah ". Ucap orang-orang yang menggendong pemuda itu menatap Ruby.
" Nona terimakasih dan maaf merepotkan mu ". Ucap salah satu orang tua yang membantu. Ruby hanya mengangguk sopan menyahuti orang tia itu.
Ruby langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sesekali memeriksa ke belakang dimana pemuda itu terbaring.
" Dok tolong dok, dokter tolong ". Teriak Ruby meminta pertolongan dan di sambut riuh oleh para dokter dan perawat.
" Tolong segera tangani dia dok, saya mohon". Ruby memohon dengan tangisnya, dia ingat dengan keadaan dirinya di saat kecelakaan yang menimpa nya, jika tidak ada kakek Jakson mungkin dia tidak akan selamat waktu itu.
Pemuda itu langsung di bawa oleh dokter keruang darurat dan di operasi hari itu juga, keadaan yang tidak memungkin kan untuk selamat terlihat sangat-sangat memprihatinkan.
Ruby menunggu dengan harap cemas dengan tidak bisa duduk diam di bangku tunggu pasien, Ruby terus melihat ke arah lampu operasi yang sudah berjam-jam belum juga selesai.
Ruby bukanlah siap-siapa orang ini, tapi dia merasa resah dan cemas, terlihat tubuh Ruby bergetar hebat dengan keringat bercucuran dari kening nya.
Tidak lama dengan lamunannya, seorang dokter keluar dengan pakaian operasi nya yang masih lengkap.
" Maaf apa saya bisa bertemu dengan keluarga pasien ?!". Pertanyaan itu membuat Ruby kelabakan karena dia tidak tau siapa keluarganya.
" Sa,, saya keluarga nya dok, bagaimana keadaan pasien ?". Dengan wajah gugup Ruby memberanikan diri menjawab pertanyaan dokter itu.
" Keadaan pasien kritis, dia masih butuh donor darah, stok darah disini tidak cukup untuk di salurkan ke pasien". Jelas dokter
" Apa golongan darahnya dok ?". Tanya Ruby tenang.
" AB Negatif ".
" Dokter bisa ambil darah saya, golongannya sama dengan darah saya ". Jawab Ruby.
" Jika begitu ayo ikut saya masuk ". Ruby mengikuti langkah dokter masuk kedalam ruangan operasi, terlihat di sana pria muda tampan sedang terbaring lemah, wajah nya begitu pucat pasi seperti mayat.
Setelah selesai pengambilan darah, Ruby tidak langsung keluar tapi dia terus duduk di samping pria itu memperhatikan tiap sudut pada wajahnya.
" Pahatan sempurna !". Seru Ruby dalam batinnya dan terselip senyum manis di sudut bibirnya.
Setelah selesai operasi, dia dipindahkan ke ruang rawat VVIP, itu pun atas permintaan Ruby dengan alasan agar nyaman.
Tampannya paras pria itu membuat betah perawat yang memeriksanya, Ruby merasa sangat risih melihat perawat itu.
" Sudah periksa nya ?!". Ucap Ruby mengagetkan perawat itu yang sedari tadi menatap intens wajah pria itu.
" Sudah, memang kenapa ?". Tanyanya kembali dengan nada sinis.
" Jika sudah, kenapa masih disini, bisa pergi sekarang ?!". Tanya Ruby begitu tidak suka dia terlalu dekat dengan nya.
Ruby melipat kedua tangannya di perut memandang suster yang berlalu pergi dari hadapannya sampai bayangannya sudah tidak terlihat.
" dasar ganjen " . Batin Ruby
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Kenangan
gak tau udah yg keberapa kali aku baca novel ini, tapi ttp aja selalu nagih. first time aku baca nomor ini tahun 2021, udah brpa tahun berlalu ttp gak bikin aku bosan🥺🥺
2024-12-09
1
Abd Rahman
ini udh ke 3 kalinya aq baca novel ini,seruuuu
2024-06-14
4
Ani Ani
ruby terlalu baik
2024-02-19
0