Bab 4: Lucky Opportuniy

Hari ini aku bangun benar-benar pagi saking semangatnya. Sudah lama sekali aku merasa sesenang dan semangat ini. Aku mengecek emailku dan rupanya aku belum mendapatkan kabar apa-apa. Sepertinya aku memang bangun kepagian. Lagipula ini masih jam 5 pagi. Aku lalu turun ke dapur karena lapar. Bu Mulia kaget melihatku. "Kau sudah bangun?" "Iya, aku sudah tidak sabar untuk mendengar kabarnya." Bu Mulia lalu hanya tersenyum melihatku. Dia lalu berbicara, "Jika kau diterima, kita semua pasti akan merasa kesepian. Di panti asuhan ini berasa da yang kurang." Aku lalu memgang Bu Mulia dan berkata, "Aku pasti akan mengunjungi kalian jika ada waktu." The Fame Academy adalah sekolah yang sistemnya asrama. Jadi, aku harus berpisah dengan Bu Mulia dan anak-anak lain yang sudah menjadi dan kuanggap keluargaku. Aku akan memulai hidup mandiriku disana. Bu Mulia lalu menatapku khawatir, "Aku tidak yakin, apa kau bisa hidup sendiri. Bukankah dirimu tidak bisa memasak? Kamar juga yang membersihkan selalu ibu." Bu Mulia menatapku sinis. Aku hanya tertawa sambil menggaruk kepala. "Kurasa aku akan mulai belajar hal tersebut saat di asrama." Bu Mulia lalu berdiri dari meja makan dan membuat makanan. "Kau bisa memulainya dengan membantuku mempersiapkan makan pagi." "Oke bu!!"

Waktu telah berjalan dan tak lama kemudian aku mendengar suara notifikasi dari hp ku. Aku langsung berlari mengecek berharap bahwa itu adalah email dari The Fame Academy. Dan ternyata benar. Aku menarik nafas sebelum melihat email mereka. Apakah aku akan diterima atau tidak. Aku memberanikan diri dan mulai memencet inbox email. Di sana aku melihat sebuah tulisan, 'Selamat Amethyst. Anda adalah salah satu dari 5 anak yang beruntung terpilih sebagai murid The Fame Academy. Kami telah memilih 50 anak yang kami yakini memiliki potensi yang besar dengan talenta yang luar biasa. Namun, setelah hasil diskusi yang sangat panjang, kami memutuskan untuk memilih 5 anak lagi yang menurut kami dapat bersinar sebagai seorang selebriti.' Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata membacanya. Aku diterima. Aku diterima. Ini adalah kenyataan. Aku lalu segera berlari menghampiri Bu Mulia dan melihat bahwa semua anak sudah bangun untuk sarapan."Astaga kak. Kenapa kakak menangis?" Orchard menatapku dengan khawatir. "Aku berhasil. Aku berhasil. Aku diterima menjadi murid The Fame Academy!"

Tepat setelah aku mengatakan hal tersebut, pagi hari itu menjadi pagi hari yang heboh. Semua anak menyelamatiku dan Bu Mulia sangat bangga kepadaku. "Kau mendapatkan keberuntungan besar, nak. Kau harus memanfaatkannya semaksimal mungkin." Aku lalu mengangguk kepada Bu Mulia. "Aku akan membuktikan pada semua orang di The Fame Academy bahwa aku akan menjadi selebriti tingkat atas. Aku akan membuat orang-orang mengenal namaku dan diriku." Orchard lalu bertepuk tangan gembira mendengar pidato singkatku. Bu Mulia lalu berdehem dan berkata, "Anak-anak. Amethyst sekarang akan memasuki sekolah The Fame Academy dan ia akan tinggal di asrama sekolah. Maka dari itu, kita semua harus mempersiapkan kepergiannya dengan baik." Semua anak mengangguk termasuk Orchard. Aku lalu membuka file yang telah dikirim oleh The Fame Academy juga melalui e-mailku. Rupanya malam hari ini, seragam dan kartu artist akan dikirim. Kartu artist itu semacam kartu KTP tetapi khusus dibuat untuk murid-murid The Fame Academy. Sebelum masuk ke ruang kelas, setiap murid harus scanning kartu agar bisa masuk kelas. Ini dilakukan demi keamanan semua orang dan mengurangi adanya penyusup.

Aku berlari ke kamar ke Bu Mulia ingin memberitahukannya tentang perlengkapan yang akan dikirim ke panti asuhan. Sesampainya di kamar, aku melihat Bu Mulia mengenakan pakaian yang cukup modis. "Ibu kenapa berganti baju?" Bu Mulia lalu tersenyum, "Hari ini kita akan pergi berbelanja baju untuk kamu. Sebagai seorang artis kau harus selalu berpenampilan dengan baik kan?" Aku tersenyum mendengar pernyataan Bu Mulia. Aku lalu bergegas ke kamarku untuk berganti baju juga. Sudah jarang sekali Bu Mulia mengajakku berbelanja pakaian. Panti asuhan pun dijaga oleh anak-anak sembari kami pergi.

Sesampainya kita di pusat pertokoan, Bu Mulia langsung membeli banyak sekali baju yang sesuai dengan ukuranku. Dia bahkan juga membeli beberapa aksesori yang bagus. Mencoba dan membeli pakaian ini membuatku merasa seperti fashionista. Berbicara tentang fashionista, aku bertanya-tanya apakah Crush diterima di sekolah tersebut atau tidak ya. Setelah cukup lama berjalan-jalan dan membeli berbagai pakaian di pusat pertokoan, aku dan Bu Mulia memutuskan untuk pulang ke panti asuhan. Aku sangat berterima kasih pada Bu Mulia. Ia sudha repot-repot membelikanku baju. Padahal aku tahu bahwa uang yang dia miliki tidak banyak. Namun, Bu Mulia mengatakan kepadaku bahwa aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. "Kau tidak perlu khwatir denganku. Tahukan kamu? Aku melihatmu sekarang membuatku menjadi termotivasi." Aku melihat ke arah Bu Mulia. Dia lalu tersenyum dan berkata, "Kurasa tidak ada salahnya kan untuk membuka sebuah bisnis toko kue kecil-kecilan." Aku tersenyum mendengar perkataan Bu Mulia. "Aku sangat setuju bu!! Kue-kue ibu adalah yang terenak. Aku yakin jika dijual pasti laku!" Bu Mulia hanya tersenyum lalu melanjutkan perjalanan pulang bersamaku.

Sesampainya di panti asuhan, aku disambut dengan Orchard dan beberapa anak panti asuhan yang dari tatapan matanya saja aku mengerti bahwa mereka sedang menunggu sesuatu dari aku. Bu Mulia menyuruhku untuk menaruh baju-baju di dalam keranjang cuci dna menyuruhku untuk menaruh aksesori di box kosong yang terletak di kamarku. Aku menurut dan pergi ke kamarku. Tingkah anak-anak lumayan aneh. Mereka tiba-tiba mengikutiku dan Orchard tiba-tiba mulai cemberut. Ada apa dengan mereka? Apa yang mereka inginkan dariku? Aku akhirnya bertanya, "Kalian kenapa?" Orchard lalu menjelaskan, "Kau tidak ingat janjimu? Kau kan berjanji akan mentraktir kita semua setelah kamu diterima." Aku berpikir sejenak dan memang iya aku sempat membuat janji seperti itu dengan Orchard. Aku lalu tersenyum dan berkata, "Besok saja ya? Oke?" Orchard laku cemberut dan berkata, "Janji ya?!" Aku berbicara sambil tertawa, "Iya aku berjanji." Orchard dan kawan-kawannya tersenyum lalu meninggalkanku sendiri di kamarku.

Di dalam kamarku, aku masih bisa merasakan rasa tidak percaya ini. Aku benar-benar kaget bahwa aku akan terpilih. Sepertinya dunia memang memiliki takdir yang berbeda untuk diriku. Aku mulai bertanya-tanya kenapa aku bisa bisa menjadi kontestan audisi yang beruntung. Apakah karena fiturku yang unik? Atau karena suaraku? Entah apapun itu yang menjadikanku unik, aku akan membuktikan pada semua orang bahwa kerja keras dan talentaku yang membawaku ke kesuksesan. Tak lama kemudian, aku mendengar panghilan dari beberapa anak yang lebih kecil untuk membacakan cerita kepada mereka. Akupun meninggalkan kamarku. Sembari mengikuti anak-anak itu aku berpikir dalam batinku, "Apapun yang terjadi, aku akan melewati berbagai rintangan menjadi seorang selebriti!"

Terpopuler

Comments

DreamHaunter

DreamHaunter

Jangan bikin penggemarmu menderita terus thor 😭

2023-11-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!