Ku akui perjalanan untuk menuju The Fame Academy sangat panjang. Aku sudah mulai mempelajari berbagai hal tentang The Fame Academy. The Fame Academy memiliki berbagai cabang, salah satunya di Kota Dentro. Sekolah tersebut biasa dibangun di dekat bukit. Di sekitar sekolah tersebut adalah hutan. Maka dari itu, aku menggunakan bus agar bisa sampai ke bukit Dentro. Karena disana sekolah tersebut berada. Sesampainya di bukit, aku harus berjalan naik dan itu membuatku sangat lelah. Sekitar setengah jam, aku baru sampai di sekolah tersebut. Bangunan sekolah tersebut membuatku berkata, "Wow". Sungguh bangunan yang sangat mewah menurutku. Mungkin bagi orang-orang kaya, ini adalah sekolah biasa. Tetapi bagi anak yatim sepertiku ini adalah sebuah istana.
Aku lalu berjalan lagi lebih dalam ke area sekolah. Aku membuka pintu dan aku melihat banyak sekali wajah-wajah yang kukenal. Aku tidak percaya bahwa jika aku diterima di sekolah ini, aku akan belajar berdampingan dengan semua orang terkrnal ini. Aku lalu melihat petunjuk di kartu yang waktu itu nyonya Sumiko berikan kepadaku. Rupanya ruangan audisi ada di ruang dance kelas 1. Karena ini baru pertama kalinya, aku harus memberanikan diri untuk bertanya kepada sekitarku dimanakah ruang dance kelas 1. Aku akhirnya bertanya pada seseorang, "Permisi, apakah kamu tahu dimana ruang dance kelas 1?" Orang itu berbalik badan lalu melihatku dan berkata, "Lurus saja lalu belok kanan. Setelah belok kanan kau akan melihat di sisi kirimu ada ruangan dance kelas 1. Masuk saja sana." Aku lalu berterima kasih pada orang tersebut. Tiba-tiba dia mencegatku untuk pergi dan bertanya, "Aku belum pernah melihatmu di sekolah ini. Apakah kamu murid baru?" Aku lalu menjelaskan padanya bahwa aku sedang mengikuti audisi eksklusif yang diadakan sekolah ini. Dia lalu berkata, "Oh, audisi tersebut. Semoga kau bisa diterima ya." "Iya, terima kasih." Aku menjawab dengan antusias. Pokoknya papaun yang terjadi aku akan membuat juri kagum dengna hasil latihan menyanyiku selama ini. Aku melihat orang yang tadi berbicara denganku dan dalam benakku aku berpikir, "Dia tidak buruk. Aku belum pernah melihat wajahnya di majalah apapun tetapi ia cukup tampan." Pria tersebut memiliki rambut hitam kecoklatan, mata biru, dan hidung yang mancung.
Aku lalu mengikuti instruksi anak tadi dan akhirnya aku sampai di depan ruangan dance kelas 1. Di depan ruangan aku sudha melihat banyak anak yang berkumpul. Aku akhirnya mengambil nomorku dan aku mendapatkan nomor 75. Sepertinya audisi ini akan lama. Tak lama kemudian seseorang keluar dan mengatakan, "Audisi kami mulai sekarang. Silahkan nomor 1." Orang yang mendapatkan nomor 1 lalu masuk ke ruang ujian. Sembari menunggu namaku dipanggil, aku memanfaatkan waktu ini untuk berlatih bernyanyi dan mengatur ekspresiku agar ekspresiku cocok dengan lagu yang kunyanyikan. Aku mencari sebuah tempat kosong dan mulai latihan disitu. Aku juga sambil merekam suaraku untuk mengecek apakah ini sudah sesuai harapanku. Selesai latihan bernyanyi tiba-tiba aku mendengar langkah kaki mendekat, aku lalu melihat seorang gadis dengan rambut blonde dan pink menghampiriku. Dia lalu bertanya, "Apakah kau yang bernyanyi tadi? Aku mendengar suaramu." Akupun tersipu malu dan menjawab sambil tersenyum, "Eh, iyaa." Dia lalu mengungkapkan kekagumannya padaku, "Suaramu bagus. Kau pasti diterima. Tidaj seperti aku. Aku tidak memiliki kemampuan apa-apa selain mix and match fesyen." Memang terlihat dari perawakan perempuan ini, rambutnya yang ia warnai dengan pink, pakaiannya yang edgy namun ada sisi elegan, dia pasti orang yang eksentrik dan menyukai seni fesyen. Aku tersenyum lalu berkata, "Menjadi terkenal kan hanya tidak bisa bernyanyi saja. Kau juga bisa terkenal dengan menjadi fashion blogger." Dia lalu menggaruk kepala dan berkata, "Oh iya ya. Tapi aku masih amatir dan aku tidak yakin dengan talentaku sekarang aku bisa menjadi fashion blogger." Dia lalu melanjutkan berbicara sambil menatapku dengan mata pinknya, "Oh ya namaku Crush. Sebenarnya aku memiliki nama yang panjang tetapi orang-orang disekitarku memanggilku Crush. Kalau kamu?" Aku menjawab, "Namaku Amethyst." Dia lalu tertawa dan berkata, "Wah, cocok sekali denganmu. Kau sangat unik. Memiliki rambut berwarna ungu dan mata ungu. AAAAA, aku sangat iri!" Crush lalu menjelaskan kepadaku bahwa ia mengikuti audisi The Fame Academy karena menurutnya ini adalah kesempatan yang tidak terlewatkan. Siapa tahu keahlian mix and matchnya dia bisa menjadikan dia seorang artis. Ia sama sepertiku dan ia direkrut oleh nyonya Sumiko saat ia sedang berbelanja di mall.
Sembari menunggu, aku berbincang-bincang dengan Crush. Sepertinya aku sudah menemukan seorang teman. Ya, itu jika aku dan Crush kedua-duanya sama-sama diterima di sekolah ini. Tak lama kemudian, Crush telah dipanggil untuk masuk ke ruang audisi. "Nomor 67 silahkan masuk." "Doakan aku, Amethyst." "Tenang saja, kepercayaan dirimu bisa membuat kagum juri." Crush lalu masuk ke ruangan dan meninggalkanku sendirian. Aku menghela nafas dan tiba-tiba aku melihat sebuah pertengkaran. Anak yang tadi keluar sebelum Crush tiba-tiba terlihat sedang bertengkar dengan seseorang. Semua orang lalu pada berbondong-bondong untuk melihatnya. Rupanya, nomor 66 sedang di konfrontasi oleh nomor 30. Tiba-tiba aku mendengar suara bisik-bisik orang-orang di belakangku mengatakan, "Astaga, apa yang dilakukan anak itu untuk membuat marah Clarity." "Siapa Clarity?" Aku ikut nimbrung. "Clarity itu orang yang tadi masuk nomor 30. Dia adalah seorang influencer yang sangat berbakat kau tahu." Mendengar penjelasan dari anak-anak lain, sudah jelas bagiku bahwa Clarity adalah seorang diva. Ya, namanya juga dia sudah menjadi influencer dan sepertinya memiliki jam terbang yang lebih dari kita semua disini. Dia juga terlihat sangat cantik. Memiliki rambut hitam dan mata berwarna biru muda. Hidungnya juga sangat mancung. Badannya juga bagus dan dia terlihat sangat seksi. Karena merasa kasihan dengan nomor 66, aku akhirnya memberanikan diri untuk menjadi penengah masalah apapun yang sedang keduanya alami.
Aku lalu menenangkan 66 yang terlihat ingin menangis. Lalu Clarity menatapku dengan tajam dan berkata, "Apakah kau temannya?!!" Aku menjawab, "Bukan, aku hanya kasihan saja. Ada apa diantara kalian berdua?" Clarity menatapku diam dengan tajam. Tatapan gadis itu sangat menusuk. Nomor 66 lalu menjawab, "Aku tidak sengaja menabraknya." Aku menjadi sangat kaget. Cuma gara-gara ditabrak saja Clarity bisa sampai semarah itu. Clarity lalu menatap 66 dengan tajam dan berkata, "Dengar ya, kau jangan pernah macam-macam lagi denganku. Aku sedang memiliki banyak hal yang harus aku kerjakan!!" Dengan kalimat itu, Clarity laku pergi begitu saja. Aku menghibur nomor 66 dan mengatakan padanya bahwa mungkin Clarity sedang mengalami hal buruk yang membuat moodnya tidak baik. Nomor 66 tersenyum padaku dan memperkenalkan dirinya. "Hai, namaku Gray." Dia berbicara dengan malu-malu. Ketika aku melihat Gray aku teringat akan serigala. Anak laki-laki ini memiliki rambut berwarna abu-abu dan mata hitam. Namun siapa tahu dibalik wajahnya yang tegas, ia sebenarnya orang yang sensitif dan sepertinya ia adalah anak yang pemalu. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara Crush, "Hei, kau sefang berbicara dengan siapa? Ngomong-ngomong sudah nomor 73, lhoo." Menyadari bahwa waktu audisiku sudah dekat, aku akhirnya pergi ke ruang audisi sambil mendengar pamitan Gray dan Crush yang sudah mau pulang.
Tak lama kemudian, nomorku dipanggil. Aku lalu memasuki ruangan audisi. Aku melihat juri-juri melihatku dengan tajam. Hal ini membuatku sangat gugup. Orang yang tadi memanggilku lalu berkata, "Baik, silahkan tunjukan kemampuanmu. Hasil dari audisi ini akan kami kabarkan melewati e-mail anda besok pagi. Maka dari itu setelah audisi ini silahkan mengisi kuisioner dari QR code yang tertera di sini." Dia lalu mengarahkan sebuah QR code yang tertera di pintu. Tidak menghabiskan banyak waktu, aku menghela nafas dan membayangkan bahwa diriku sedang berada di sebuah panggung. Lalu, aku mulai bernyanyi. Memang awalnya aku gugup, tetapi saat bernyanyi seakan-akan semua rasa gugup tersebut hilang. Aku merasa sedang dalam panggung dengan banyak penonton dan fans-fansku. Setelah sudah selesai bernyanyi aku menunduk dan mengucapkan terima kasih. Para juri hanya terdiam samvil menuliskan sesuatu di dalam berkas mereka. Orang yang tadi memanggil nomorku lalu berkata, "Terima kasih sudah mengikuti audisi. Jangan lupa scan QR code ini." Aku mengangguk lalu membuka kuisioner dan mengisi biodataku. Aku bergegas pulang dengan harapan tinggi pada diriku. Semoga juri menyukai performaku yang simple.
Sesampainya di rumah panti asuhan, aku langsung menceritakan ke semua orang tentang apa yang terjadi hari ini. Orchard lalu langsung menyeletuk, "Wah, aku ikut menjadi tidak sabar untuk besok pagi." Seorang anak lalu juga berbicara, "Hmm, apakah diterima atau tidak ya???" Aku hanya tersenyum dan dalam hatiku aku berharap bahwa aku bisa diterima di sana. Aku dengan percaya diri mengatakan, "Aku tidak akan mengecewakan kalian semua."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments