Bab 2: Start di Garis Awal

Bu Mulia tersenyum setuju mendengar keputusanku untuk mengikuti audisi. Ini adalah mimpiku yang sudah lama terbungkam karena aku merasa bahwa mimpi tersebut impossible. Bu Mulia lalu bertanya, "Rencana apa yang kau miliki untuk audisi?" Aku tersenyum dan menjawab, "Aku akan bernyanyi." Bu Mulia cukup kaget mendengar jawabanku. Ia ragu karena ia belum pernah mendengar aku bernyanyi sebelumnya. Ya, aku sendiri jarang bernyanyi dan aku hanya bisa menyanyikan beberapa lagu. Untuk audisi ini aku berencana untuk menyanyikan lullaby masa kecilku yang sering dinyanyikan oleh Bu Mulia saat aku masih bayi.

Bu Mulia hanya tersenyum mendengar rencanaku untuk menyanyikan lagu lullaby simplenya. Ia lalu mengajakku ke kamarnya. Aku belum pernah ke kamar bu Mulia sebelumnya. Saat aku masuk kamar, bau tek dan kue langsung bisa tercium oleh hidungku. Bu Mulia adalah orang yang bergigi manis. Ia suka segala sesuatu yang manis. Dia lalu tiba-tiba membuka lemari dan sepertinya ia sedang mencari sesuatu. Sembari mencari aku melihat-lihat gambar-gambar yang dipajang di kamar. Ada satu gambar yang membuatku tertarik yaitu gambar bu Mulia waktu dia masih muda dan sedang menari ballet. Aku tentu saja kagum melihatnya. Suara bu Mulia tiba-tiba mengagetkanku, "Amethyst, kesini, coba lihatlah." Aku lalu berjalan ke arah lemari dan melihat baju ballet yang sama persis seperti di foto kamar bu Mulia. "Dulu aku mengikuti les ballet saat muda. Ini afalah baju yang kugunakan saat pertunjukan pertamaku." Aku mengangguk lalu bu Mulia melanjutkan, "Dengan sedikit menjahit, aku bisa merubahnya menjadi pakaian yang layak untuk audisimu." Aku terdiam dan kaget. Bukankah baju tersebut adalah memori berharga untuk bu Mulia? Kenapa ia mengubahnya dan memberikannya ke aku? Bu Mulia lalu lanjut berbicara, "Itu adalah pertunjukan pertama dan terakhirku. Aku terlalu berlebihan dalam menari saat itu sehingga di akhir pertunjukan, kakiku terkilir dan semenjak saat itu susah bagiku untuk melakukan pointe." Ah, itu dia. Kukira itu adalah memori berharga tetapi kurasa baju itu malah menyimpan memori yang tidak baik.

Bu Mulia lalu mulai mengukur badanku supaya ia bisa menyesuaikan bajunya dengan badanku. Dia berkata sambil tertawa, "Kau memang sudah besar." Aku hanya tersenyum kecil. Setelah itu dia pergi ke ruang peralatan untuk mencari peralatan jahit. Aku pun kembali ke kamarku. Di sana aku berusaha mengingat-ngingat lagi lirik lagu lullaby Bu Mulia. Seingatku judul dari lullabynya adalah 'Keep running till you make it'. Menurut Bu Mulia, ia menyanyikan lagu tersebut setiap ia sedang dalam masa-masa sulitnya.

We are born weak

We're born clinging to other people

As we grow,

We see people love and hate

We see people cry and smile

We see that the world is hard

And full of unexpected surprises

Through it all, just run

Run, run, and run my dear child

Run till you get what you really want in this life

Even if snakes, sharks, and the dark forest gets to you

Keep running and running till you make it

Amethyst bernyanyi dan merekam suaranya untuk mendengar apakah dia terdengar fales atau tidak. Tiba-tiba ia kaget dengan adanya suara tepuk tangan. Dia menengok kebelakang dan menemukan teman panti asuhannya bernama Orchard. Orchard adalah teman paling dekatnya di panti asuhan ini. Ia adalah seorang gadis yang kutu buku dan suka sekali membaca. Menurutku, Orchard adalah gadis yang imut dengan frecklesnya dan bibirnya yang merah. Dia juga memiliki rambut berwarna merah. Perawakannya benar-benar mirip dengan karakter sebuah buku yang pernah aku baca yaitu Anne of Green Gables. Aku menganggap Orchard sebagai adikku. Setelah menyadari bahwa sedari tadi dia mendengarku bernyanyi di kamarku, aku pun tersipu malu. Orchard lalu berkata, "Pertunjukan yang bagus kak Amethyst!" Aku hanya berdehem lalu berkata, "Apa kau yakin? Aku tidak fales kan?" Orchard lalu tersenyum menjawab, "Tidak, aku suka mendengarkan suara kakak. Kakak bernyanyi dengan bagus." Aku tersenyum lega. Setelah cukup lama latihan bernyanyi aku mengajak Orchard ke dapur untuk mengambil pie cherry yang disimpan oleh Bu Mulia. Orchard merasa senang kegirangan dengan ajakanku.

Sesampainya di dapur, aku langsung memotongkan pie untukku dan Orchard. Sambil memakan pie, aku menceritakan pada Orchard akan rencanaku untuk mengikuti audisi The Fame Academy. Orchard sangat senang mendengar rencanaku. Dia langsung mengungkapkan bahwa ia mendukungku. Dia bahkan dengan blak-blakan mengatakan jika aku memiliki hawa-hawa seorang star. Ya, aku hanya bisa tersipu malu. Tak lama kemudian, Bu Mulia memanggilku. Aku pun menyuruh Orchard untuk mencuci piring bekas pie dan dia mengangguk. Aku pergi ke kamar Bu Mulia dan ia memperlihatkan hasil jahitannya.

Aku kagum melihat hasil jahitan dari Bu Mulia. Dengan sedikit jahitan saja bisa membuat baju balletnya menjadi indah. Baju itu memiliki kesan polos. Cocok dengan konsep yang kubawakan. Aku lalu memeluk Bu Mulia berterima kasih. Aku membawa baju itu ke lemariku dan menjaganya baik-baik. Semenjak hari itu dan seterusnya aku mulai mempersiapkan diriku dari audisi. Aku mulai sering-sering latihan bernyanyi secara ototidak. Aku tahu bahwa bu Mulia tidak memiliki banyak uang dan aku tidak ingin merepotkannya. Aku sangat bersyukur bahwa satu panti asuhan termasuk bu Mulia dan Orchard mendukung keputusanku. Jika bukan karena dukungan mereka mungkin aku tidak akan se-pede ini. Ini adalah langkah awal, start dari semua permainan yang aku tidak tahu nantinya seperti apa.

Akhirnya hari audisi pun tiba, jantungku berdegup dengan kencang. Aku tidak percaya bahwa aku benar-benar akan melakukan ini. Tetapi aku sudah memilih dan aku tidak bisa lari dari pilihanku. Aku memakai dress putih yang sudah dijahit oleh bu Mulia. Bu Mulia memberiku kata-kata penyemangat, "Semoga kau berhasil, aku yakin kamu bisa. Memang lagu lullaby itu simple tetapi aku yakin pasti bisa menarik hati para juri." Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata bu Mulia dan mengatakan, "Terima kasih." Orchard lalu tiba-tiba datang dan memelukku lalu berkata, "Hei, jika kau diterima di audisi hari ini kau harus berjanji untuk mentraktir kita semua ke restoran Steak!" Aku tertawa mendengar perkataan Orchard. Tetapi setelah itu mengangguk berjanji kepadanya. Lagipula setelah aku berhasil mendapatkan posisi 50 orang yang terpilih tidak ada salahnya untuk merayakannya dengan sedikit mewah bukan. Anak-anak lain di panti asuhan lalu memberikan semangat bagiku. Aku tersenyum pada mereka dan menyatakan rasa terima kasihku. Aku pun mulai pergi ke tempat audisi. Ini adalah langkah awal untuk menuju ke dunia stardom yang selalu aku impikan.

Terpopuler

Comments

CantStopWontstop

CantStopWontstop

Cinta banget sama karakter-karaktermu, thor. Mereka bikin ceritamu semakin hidup! ❤️

2023-11-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!