seorang profesor yang masuk ke dalam kelas mereka. membuat mereka harus menghentikan obrolan perkenalan mereka yang sudah pasti mereka akan melanjutkan nanti.
prof Elias memulai perkenalkan. dan juga kontrak perkuliahan yang harus di penuhi saat jam kuliah bersama nya.
saat prof Elias menjelaskan, Lusi masih sibuk berbicara dengan pria di sebelah nya.
yang tidak terlalu di tanggapi oleh pria itu
Lusi bisakah kau menghentikan pembicaraan mu. ucap prof Elias.
baik prof ucap Lusi. yang diam sesaat dan kemudian lanjut perbincangan nya. dengan Ardi.
Lusi apa kau ingin keluar dari kelas ku?
ucap prof Elias dengan suara yang cukup keras.
maaf prof. ucap Lusi kembali.
Ardi Tampak fokus mendengar kan penjelasan profesor yang berusaha sekitar 55 tahun tersebut. namun masih terlihat sangat gagah. rambut nya yang pirang sudah bercampur putih.
setelah menyelesaikan perkuliahan nya.
Lusi kembali mengajak Ardi bercerita. setiap kali ia berbicara dengan pria tersebut. pria itu tidak pernah mau memandang nya. Ardi selalu melihat ke lain arah.
hai, kenapa kamu tidak mau melihat ku. ucapnya.
Ardi hanya tersenyum.
berikan aku alasan. ucap Lusi yang tidak terima saat teman bicara nya tidak mau memandang nya.
aku tidak bisa melihat mu. baju mu sangat terbuka. ucap Ardi.
pria lain sudah pasti sangat menyukai aku berpakaian seperti ini. bahkan mereka tidak ingin berkedip sedikit pun. ucapnya yang tampak begitu kesal.
apa kau normal. tanya Lusi dengan kening yang berkerut.
Ardi tertawa mendengar ucapan gadis tersebut. tentu saja aku normal. karena aku normal, maka aku tidak ingin melihat nya. apa kamu tau seperti apa tersiksa nya laki-laki normal melihat apa yang sudah kau suguhkan. ucap Ardi membuat mata Lusi terbuka lebar. manik matanya yang berwarna biru, kini tampak bulat sempurna.
ia tidak menyangka pria yang dari tadi hanya diam mampu berbicara sebijak itu.
apa kamu mau makan siang bersama ku.
ucap ana yang dari tadi menjadi pendengar setia.
Ardi memandang ke arah nya.
boleh tapi aku yang memilih tempat. ucapnya.
kenapa harus kau yang memilih tempat. aku tau tempat makan yang enak di sini. ucap Lusi. aku pastikan kamu sangat menyukainya tempat makan yang aku tawar kan. ucap nya.
aku seorang muslim. tidak semua makanan yang bisa kamu nikmati bisa juga aku nikmati. ucap Ardi.
ana tersenyum. aku tau "ucapnya"
dulu sahabat ku ada yang umat muslim. aku tidak keberatan bila kau yang memilih tempat. ucap nya begitu lembut. dengan senyum yang tercetak di bibirnya nya merah.
aku ikut ucap Lusi.
apa kamu mengendarai mobil?
tanya ana. sambil memandang Ardi yang berdiri di sebelah nya.
Ardi menggeleng kan kepalanya.
tempat tinggal ku dekat dengan kampus. jadi aku hanya berjalan kaki. ucap nya.
baiklah, kita pergi pakai mobil ku saja ucap ana.
boleh jawab Lusi.
mereka berjalan ke parkiran mobil.
aku sudah menumpang di mobil mu. apa boleh aku yang mengemudi tanya Ardi. sungguh aku tidak terbiasa bila seseorang wanita yang mengemudi. ucapnya.
tentu boleh, jawab ana dengan senyum mengembang di bibirnya yang merah. ia membeberkan kunci mobil tersebut ke tangan Ardi.
Ardi mengambil kunci mobil tersebut. ia membuka pintu bagian kemudi. ia melihat kedua gadis itu tampak sedang berantam.
memperebutkan duduk di depan.
aku duduk di depan ucap Lusi yang memegang pembukan pintu.
ana menepis tangan Lusi. ini mobil ku. aku yang akan duduk di depan. ucap nya.
Ardi mengerutkan keningnya melihat dua gadis cantik yang sedang berantem berdua
aku harap kalian duduk di belakang. aku yang akan mengemudi mobil ini. dan anggap saja aku supir kalian. ucapnya.
membuat dia gadis cantik tersebut memaju kan bibirnya dan duduk di kursi penumpang. dengan saling membuang mungka.
Lusi memandang wajah Ardi yang tampak Dari kaca spion. belum juga ana yang memandang ardi dari balik kaca spion.
mereka makan di restoran yang di pilih Ardi.
apa kamu mau bercerita, apa alasan kamu kuliah ke sini?
tanya ana.
aku baru selesai pengambilan sumpah dokter . aku mengurus bea siswa ku di sini. ternyata aku salah satu dokter yang beruntung mendapatkan bea siswa di negara kalian. ucap Ardi menjelaskan.
Lusi memandang wajah Ardi sangat dekat sehingga membuat pria itu memundurkan tubuhnya nya kebelakang sehingga bersandar di sandaran kursi. wah kau sangat pintar. puji Lusi kemudian.
apa kamu punya pacar?
tanya Lusi.
Ardi Tampak ragu untuk menjawab nya.
aku sudah memiliki calon istri. jawab nya.
membuat Lusi melebarkan matanya.
apa dia dokter tanya ana.
tidak, dia masih sekolah. ucapnya.
bagaimana mungkin calon istri mu seorang siswa. tanya Lusi.
iya. aku sudah di jodohkan dengan nya sejak dulu. ucapnya membuat dua wanita itu melebarkan matanya.
sungguh gila. bagaimana mungkin kau bisa menerima perjodohan bodoh itu. ucap lusi.
Ardi tersenyum. soalnya yang di jodohkan dengan aku cantik sih. jawab nya membuat Lusi semakin kesal.
sekarang berapa usia nya. tanya ana
16 tahun jawab Ardi.
apa kamu menyukainya?
tanya Ana kembali.
Ardi memandang jam tangan yang melingkar di tangan nya. wajah gadis remaja itu langsung muncul di dalam pandangan nya. tatapan gadis itu ketika ia akan pergi. pelukan erat gadis itu yang tidak ingin melepaskan nya. Ardi teringat akan gadis remaja yang akan menjadi istrinya bila berjodoh. ia begitu merindukan gadis itu.
Ardi mengangukan kepalanya.
apa aku boleh melihat foto nya. tanya ana.
Ardi tersenyum.
ia mengeluarkan ponselnya yang di selipkan nya di saku celana jeans yang di pakai nya. .
ini ucapnya menunjukkan foto nya dengan gadis remaja.
sangat cantik dan juga imut. ucap ana
Lusi melihatnya dan memilih untuk diam.
kau masih lama di sini. aku akan berusaha untuk memiliki mu. ucapnya dalam hati.
******
apa kau tidak salah memakai kostum. ucap Elias saat melihat putri nya yang duduk di meja makan untuk sarapan.
bukan kah seperti ini yang Deddy inginkan. ucapnya sambil melebarkan ke dua tangan nya.
tapi kau mengatakan, bahwakah kau sangat cantik berpakaian serba terbuka seperti itu. semua pria melihat mu tanpa berkedip ucap Elias.
apakah kau sadar?
tanya Elias lagi.
tentu saja Ded.
Deddy lihat pria yang duduk di sebelah ku saat Deddy mengajar di kelas ku bukan.
ucap Lusi dengan wajah yang terlihat senang. serta melebarkan matanya.
lalu kenapa?
tanya Elias.
pria itu tidak mau melihat ku Ded. katanya baju ku terlalu terbuka.
aku tanya pada nya. apa dia normal.
jawab nya, tentu saja dia normal karena ia normal. maka ia tidak ingin melihatnya.
aku tidak tau,. betapa tersiksanya seorang pria normal melihat apa yang aku pertontonkan.
lupa kan dia ucap Elias.
kenapa Ded tanya Lusi. ketika Elias akan berdiri.
bukan kau wanita pujaannya. ucap elias membuat putrinya tampa kesal.
ia berangkat lebih dulu. mengingat ia ada jadwal operasi pagi ini
******
like komen serta vole nya ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Mella Merliani
tanda2 neh... jgn smpe aisya trsakiti thor... udah degdegan dluan
2021-11-23
0
Lilik Juhariah
bang Ardy laki laki yg menjaga pandangan , tutur kata yg sopan , agama kuat pinter cerdas, paket komplit dech
2021-07-03
0
Anna Loebis
Dimana-mana lg Muslim pelakor y
2021-06-09
0