“Sayang kenapa kamu genit sekali,” ucap Arum sambil mencubit gemas pipi putrinya.
“Ia mi, om alum,” ucap gadis tersebut sambil mengeratkan pelukannya.
Ardi tersenyum. “Masak sih om harum” ucapnya.
“Iya om. Atu tidak bohong.”
Ardi melihat wajah gadis kecil tersebut. “Waktu mimi kamu hamil, dia minta om datang cuman belikan nasi padang.” Ucap pria tersebut.
“Telus apa om belitan?” Tanyanya.
Membuat Ardi tertawa. “Udah pasti om belikan dong. Untuk ponakan om yang cantik.” Sambil mencium pipi gadis kecil itu.
Mereka ke belakang. Ardi melihat Siti duduk dengan menantunya dan juga Azzam. Siti tersenyum melihat Ardi yang mengendong cucunya. “Sudah pulang nak Ardi,” tanya wanita yang berusia sekitar 45 tahun tersebut.
“Sudah tante.” Ucapnya.
Habibi menyambut kedatangan Ardi dengan senyum diwajahnya. Ia menjabat tangan Ardi. Mertuanya sudah menceritakan tentang Ardi kepadanya. Ardi menjabat tangan Habibi.
“Selamat pak dokter,” ucap Habibi.
“Terimakasih mas,” jawabnya.
“Kapan berangkat ke Amrik?” Tanyanya.
“Besok mas jam 9 pagi.”
Habibi diam. “Mas ada rapat direksi jam 8 ucapnya. Maaf ya mas gak bisa antar.” Sesal pria tersebut.
Ardi tersenyum. “Gak usah repot-repot mas. Gak apa kok.” Ucapnya kemudian.
Habibi menawarkan apertemen miliknya untuk di tempati Ardi. Namun pria itu menolak karena lokasinya yang jauh dari kompusnya.
“Apertemen itu dekat dengan kampus mas dulu,” ucap pria tersebut. “Sekarang apertemen mas itu di pakai sama ponakan mami. Tapi dia udah mau selesai kuliahnya dan akan kembali ke Indonesia.”
“Aku akan tinggal di sekretariat mahasiswa Indonesia yang lokasinya dekat dengan kampus aku mas.” Ucap Ardi.
“Bagus itu,” jawab Habibi.
Azzam yang dari tadi sudah berdiri dari tempat duduknya.
Ardi memandang pria tersebut. “Azzam ucapnya.” Yang mendapatkan balasan senyum dari pemuda tersebut.
“Bang Ardi.” Ucapnya sambil menjabat tangan Ardi.
“Wah kamu udah besar sekarang.” Ucapnya.
Azzam tersenyum. “Ia bang sekarang aku udah kuliah.” Jawabnya.
“Semester berapa,” tanya Ardi.
“Semester 1 bang.”
Ardi menggeleng-gelengkan kepalanya saat di lihatnya adik sahabatnya yang kini sudah dewasa. Pria itu terlihat begitu sangat tampan dengan kulit yang putih bersih, tubuh yang tinggi dan hidung mancung.
“Jurusan apa,” tanya Ardi.
“Jurusan ekonomi bang.” Jawab azam.
Mereka mulai bercerita-cerita ringan. Aisah hanya diam mendengarkan cerita para pria tersebut.
“Sama aunty,” ucapnya sambil mengulurkan tangannyanya yang mendapat penolakan dari gadis kecil tersebut. “Minum susu dulu,” ucap Arum yang menyodorkan botol kompeng ke arah putrinya.
Ardi mengambil botol susu tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut gadis kecil yang di pangkuannya. Gadis kecil itu tertidur dipangkuannya yang masih mengisap kompengnya yang sudah kosong Ardi mencabut dod tersebut dengan sangat pelan. Ardi tertawa melihat gadis kecil yang sudah tertidur pulas dipangkuannya. “Udah gedek kok masih ngedot?” Ucapnya.
“Ia kalau udah mau tidur lupa umur,” jawab Arum kemudian. “Tapi ada juga yang sudah kelas 1 SD tapi masih ngedod,” sindir sahabatnya itu. “Terus kalau udah di sekolah sok dewasa banget. Jagain aku.”
Ardi tertawa kalau dia mengingat hal itu. Bagaimana ia menjaga Arumi dari teman-teman di sekolahnya.
“Dulu mama kamu sampai masukin botol kompeng kamu ke dalam got dan kamu mengambil botol kompeng itu kemudian menccucinya.” Ucap Siti.
Ardi hanya tersenyum mendengar cerita tentang dirinya. Bisa banyak pembahasan nanti kalau ia menjawab.
“Kami pulang dulu mi,” ucap pria satu anak tersebut saat melihat putrinya yang sudah tertidur. Rumahnya yang tidak jauh dari rumah mertuanya tersebut. Sudah dari tadi ia di rumah mertuanya. Habibi mengambil putrinya dari pangkuan Ardi. “Mas langsung pulang ya,” ucapnya.
“Ia mas,” jawab Ardi.
Mereka pergi setelah berpamitan. Ardi melihat sahabatnya itu berjalan sambil memegang lengan suaminya. Arum tidak jauh berbeda, tubuhnya masih seperti yang dulu. Hanya saja wajahnya yang tampak lebih dewasa.
“Tante aku pamit pulang,” ucapnya saat dilihatnya jam yang melingkar di tangannya sudah jam 11 malam.
“Oh iya, hati-hati ya nak Ardi.” Ucap Siti. “Nanti di saat nak Ardi sudah berada di negara orang, harus pandai-padai. Tidak boleh sombong,” ucap wanita itu.
Ardi menganggukkan kepalanya. “Makasih tante. Do’ain Ardi tante.” Ucapnya memudia.
“Sudah pasti nak.” Ucap Siti.
“Hati-hati ya bang,” ucap Azzam saat menjabat tangan Ardi.
“Yang bener ya kuliahnya,” pesan Ardi.
“Ia bang,” jawab Azzam.
Aisah mengantarkannya ke depan. Gadis itu menarik tangannya ketika mereka sedang di halaman rumahnya. Ardi melihat wajah gadis remaja tersebut. Air mata gadis itu sudah menetes. Ia benar-benar tidak tega melihatnya. Aisah kemudian memeluk tubuh kekarnya sambil menangis.
“Ais jangan sedih gini.” Ucapnya sambil mengusap puncak kepala gadis tersebut.
“Abang perginya lama.” Ucap gadis remaja tersebut.
“Ya mau gimana dek. Abang lanjutkan studi. Abang mau Ais nanti bangga menjadi istri abang.” Ucapnya sehingga suara tangis gadis itu meredah.
“Tapi Ica gak mau abang pergi.” Ucapnyanya. “Ica takut nanti abang bakalan pacaran dengan cewek bule atau punya hubungan khusus.” Ucapnya.
“Adek tau gak? Setelah bang Ardi tau kalau kita sudah di jodohkan, abang gak pernah dekat sama cewek mana pun. Kalau adek gak percaya. Adek boleh tanya dengan bang Ari dan bang Doni.” Ucapnya meyakinkan.
Perkataan yang disampaikannya membuat hati Aisah berbunga-bunga. Ia seakan melayang saat ini.
“Ais dengan abang ya. Kalau seandainya abang ingkar janji dan meninggalkan Ais, Ais masih bisa mendapatkankan yang jauh lebih baik dari pada abang. Tapi kalau Ais yang ninggalin abang, mungkin abang gak akan dapat pengantin Ais.” Ucap Ardi sambil menempelkan telapak tangannya di kedua pipi gadis remaja itu. “Ais harus ingat ini ya. Setelah abang menyelesaikan studi abang, abang akan langsung kembali ke Indonesia untuk melamar Ais,” ucapnya sungguh-sungguh.
Aisah menatap mata pria tersebut. Tampak ketulusan dari mata pria itu.
“Ais gak bakalan ninggalin abang.” Ucap Aisah penuh keyakinan.
“Abang pulang ya.” Ucap Ardi kemudian.
Aisah mengangukan kepalanya. Ardi mencium puncak kepala gadis tersebut dan kemudian mencium keningnya.
********
Like komen nya jangan lupa ya reader.
Vole juga.
Terima kasih 😊🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Tati Suwarsih Prabowi
bkn mahram udah berani peluk cium...haram!
2023-02-02
0
Muhammad Yasin
kemana udh ilmu agama nya ,dh hilang kalo jumpa sm ais
2023-01-18
0
Indrijati Saptarita
belum mahram udah main cium² aja....
2022-12-28
0