“Permisi om.” Ucap gadis tersebut membuat ia memandang wajah gadis cantik tersebut.
“Jangan pangil om.” Ucap polisi tersebut.
“Permisi pak,” ucapnya kemudian.
“Ikut saya ke kantor polisi.” Ucap polisi muda tersebut.
“Tolong jangan bawa saya kekantor polisi pak.” Ucap Aisah sambil menangkupkan tanganya ke atas dada. Wajahnya tampak begitu sedih membuat polisi muda itu tidak tega.
“Kamu sudah melanggar rambu-rambu lalu lintas dan kenapa kamu ada di bandar saat jam sekolah, apa kamu bolos.” Ucap pria berseragam coklat tersebut.
“Saya gak cabut pak. Saya udah izin dari sekolah.” Aisah berusaha untuk menjelaskan ke pada polisi yang sekarang sedang duduk di jok motornya.
“Mana kertas izin kamu.” Tanya pria itu lagi.
Aisah mengeluarkan kertas izin keluar dari piket tersebut dan memberikannya kepada polisi didepannya.
Polisi itu membaca surat izin yang di tangannya. Ia membaca alasan keluar. “Pulang ke rumah ganti rok.” polisi itu mengerutkan keningnya. “Apa kamu ganti roknya di bandara.” Tanya polisi itu lagi
Aisah menggelengkan kepalanya. “Saya ngantar seseorang. Tapi kalau alasan saya itu pasti gak di kasih.” Ucapnya.
“Kamu sudah berbohong di sekolah, membawa kendaraan ugal-ugalan. Saya tidak mau tau, ikut saya ke kantor polisi. Saya juga akan memberi tau pihak sekolah kamu apa yang kamu perbuat.” Ucap polisi tersebut penuh ancaman membuat keringat Aisah bercucuran matanya berkaca-kaca.
“Ikut saya ucapnya kemudi.”
“Saya mohon pak,. Jangan bawa saya ke kantor polisi dan jangan kasih tau pihak sekolah. Saya janji, saya tidak akan mengulanginya lagi.” Pinta gadis tersebut.
“Kesalahan kamu fatal. Ikut saya.” Printah pria itu.
“Sebentar pak.” Ucapnya kemudian.
Aisah mencari nama di kontak telponnya. Setelah menemukan nama yang dicarinya, ia menempelkan telapak tersebut ketelinganya.
“Hallo,” ucap pria yang menerima teleponnya.
“Hallo bang rizal. Ica kena tilang dan mau di bawa ke kantor polisi” Dengan isak tangisnya ia menelepon Rizaldi.
“Kena tilang?” Jawab Rizaldi. Ia melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah jam 9 lewat.
“Iya bang Ica di tilang.”
“Bagaimana bisa Ica di tilang? Ini masih jam sekolah. Apa Ica terlambat ke sekolah,” tanya Rizaldi.
“Gak bang, Ica tadi izin dari sekolah dan Ica langar lampu merah.” Ucapnya.
“Ica di mana sekarang?” Tanya Rizaldi.
“Ica sekarang di bandara bang.”
Rizaldi memijat pelipis keningnya. Bagaimana mungkin gadis tersebut sampai ke bandara. “Ica ngapain ke bandara?” Tanya Rizaldi lagi.
“Ica tadi mau ngantar bang Ardi. Bang Ardi ke Amerika bang.” Ucap Aisah sambil menangis.
Mendengar alasan Aisah sepertinya Rizaldi mulai mengerti mengapa gadis remaja tersebut menerobos lampu merah. “Siapa nama yang nilang Ica,” tanya Rizal.
Aisah membaca nama yang tertempel didada polisi tersebut.
“Ilhan Syahdad bang.” Ucapnya lagi.
“Kasih hp sama dia,” ucap pria tersebut.
“Ia bang.”
“Pak. Ini abang saya mau ngomong.” Ucap Aisah sambil menyerahkan ponsel di tangannya.
Ilhan mengambil ponsel tersebut dan membaca nama dilayar ponsel. “Bang Rizaldi?” Ia mengerutkan keningnya saat membaca nama komandannya.
“Hallo,” ucap Ilhan.
“Ya hallo Ilhan. Saya Rizaldi.”
“Iya komandan.”
“Saya minta, tolong lepaskan adik saya.” Ucapnya. “Apa kesalahan yang di perbuat adek saya?” Tanya pria satu anak tersebut.
“Adek komandan membawa sepeda motor dengan kecepatan tinggi, dan kemudian saat lampu mereh ia menerobos lampu merah dan saat saya mengejarnya, ia semakin mempercepat lari kendaraannya.” Jelas Ilhan.
Rizaldi yang sedang berada di kantornya memijat pelapis keningnya.
“Saya akan menasehatinya.”
“Baik komandan.”
Ilhan meberikan ponsel tersebut kembali ke Aisah. Aisah meletakkan ponsel tersebut ke telinganya. Terdengar Rizaldi marah dari sebrang sana. Aisah menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan kemudian menempelkannya lagi.
“Bang jangan bilang kak Arum dan ibu ya bang. Ica janji gak bakalan mengulanginya bang.”
“Iya abang gak kasih tahu yang penting jangan diulangi ya. Kalau masih Ica ulang. Abang tidak akan mau bantu Ica.” Ancamnya.
“Iya bang Ica janji. Jangan bilang kak Tiar ya bang.” Membuat Rizaldi tersenyum .
“Ia gak abang laporin.” Ucapnya.
Ilhan memandang Aisah. Ia melihat gadis cantik tersebut.
“Apa saya boleh pergi pak?” Tanyanya. “Izin keluar saya tinggal beberapa menit lagi.” Ucapnya.
“Saya akan mengikuti kamu sampai ke sekolah,” ucap Ilhan yang mendengar lokasi sekolah gadis tersebut yang tidak bisa di tempuh 10 menit. Sudah pasti gadis itu akan kembali mengebut.
Aisah memandang polisi tersebut. “Baiklah,” jawabnya pasrah.
“Jangan pangil saya pak.” Ucap Ilhan.
“Om gak boleh, bapak juga gak boleh. Jadi saya harus manggil apa.” Omelnya yang membuat Ilhan tersenyum.
“Abang aja,” ucapnya.
“Iya bang.” Ucap Aisah kemudian.
Ilhan mengambil motornya yang di parkir tidak jauh dari parkiran motor Aisah. Gadis itu memakai helm dan kemudian menjalankan motornya. Aisah mengendarai motor miliknya dengan kecepatan sedang. Ia berhenti di depan mini market dan memarkirkan motornya di sana. Melihat ia berhenti, Ilhan juga ikut berhenti. Aisah turun dari motor miliknya begitu juga dengan Ilhan. Mereka duduk di teras depan mini market tersebut yang menyediakan kursi santai.
“Kenapa ke sini, bukannya waktu keluar kamu sudah mau habis,” tanya ilihan saat ia sudah mencacarkan pantatnya di kursi tersebut.
Aisah melihat jam yang ada di tangannya. “Udah telat juga bang.” Ucapnya. “Ica haus bang.”
Ilhan memperhatikan bibir gadis tersebut. Bibirnya yang berwarna pink tampak kering dan sedikit pecah-pecah karena kehausan.
Aisyah memesan minuman yang berjenis coffe tersebut ke salah seorang pedagang yang ada di sana. “Abang mau apa,” tanyanya.
“Sama ajalah,” ucap pria tersebut.
“Kenapa kamu segitu nekatnya tadi,” ucap Ilhan ketika ia menyedot minuman dingin dari dalam cap tersebut.
Aisah memajukan bibirnya. “Ica udah punya calon suami.” Ucapnya membuat mata Ilhan terbuka lebar. Bagaimana bisa gadis remaja seperti ini memiliki calon suami. Apa orang tuanya sudah gila. Pikirnya.
“Terus.” Ia tidak sabar untuk menunggu kalimat yang akan di sampaikan gadis tersebut.
“Calon suami Ica seorang dokter. Dia baru pengangkatan sumpah dokter. Dan sekarang ia melanjutkan sepesialis jantung ke Amerika. Makanya Ica mau mengantarnya.” Ucap gadis tersebut dengan air mata yang menetes.
Pantas aja orang tuanya mau menjodohkan anaknya di usia yang masih kecil. Ternya calon minatunya Dokter. Pikirnya.
“Ketemu?” Tanya Ilhan kemudian.
Aisah menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana bisa kamu sudah memiliki calon suami tanya?”
Aisah diam. “Ceritanya panjang bang.” Ucapnya kemudian. “Kalau Ica cerita kan. Ica bisa gak masuk lagi ke sekolah.”
Aisah membayar minuman tersebut. “Udah bang. Ica mau langsung ke sekolah. Kalau abang masih mau minum lanjut aja. Ica janji gak bakalan ngebut,” ucapnya ketika ia sudah duduk di jok motornya.
“Tunggu,” ucap Ilhan yang menyedot habis minuman di dalam cup tersebut.
“Minuman abang udah Ica bayar.” Ucap gadis remaja tersebut membuat Ilhan diam.
Mereka menjalankan motor mereka masing-masing.
Begitu sampai di depan pagar sekolahnya Aisah melambatkan tangannya dan mengucapkan terima kasih. Ia masuk ke dalam halaman sekolahnya tersebut.
Ilhan melihat motor yang di kendarai Aisah masuk ke dalam halaman tersebut. Ia baru ingat. Mengapa tidak meminta nomor ponsel gadis tersebut.
**********
like komen nya author tunggu.
Vole juga ya. 😊😊
Terimakasih 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Muhammad Yasin
ahaa sudah kepentok tu pak polisi sama ais
2023-01-18
0
Putri Auren
bang Ardi tega nian ga nunggu ica😭😭😭
awas bang ilhan nanti jatuh.... jatuh hati❤💞
2022-11-21
0
Nina Maryanie
saingan nya babang polisi nie
2022-03-20
0