Ardi menghubungi Arumi. Sudah lama ia tidak menghubungi sahabatnya tersebut. Arum yang sedang duduk di meja prakteknya memandang nama yang tertera di layar ponselnya. Keningnya kemudian berkerut. Sudah lama sahabatnya itu tidak pernah menghubunginya. Walaupun mereka kuliah satu kampus. Namun ia tidak pernah berjumpa dengan sahabatnya itu. Walaupun hanya ketemu tanpa di sengaja. Arum menempelkan benda pipih itu di telinganya setelah menyentuh icon berwara hijau di ponselnya.
“Hallo,” ucapnya sedikit ragu. Ia berfikir mungkin sahabatnya itu tidak sengaja menekannya.
Ardi mendengar suara Arumi menjawab teleponnya. Suara yang begitu dirindukannya. Sudah bertahun-tahun lamanya ia menjauh dari sahabatnya itu. Beberapa kali sahabatnya itu mengirimkannya pesan wa tidak pernah dibalasnya.
“Hallo,” jawab Ardi kemudian.
Arum mendengar suara sahabatnya itu dari seberang sana. Namun tidak ada melanjutkan kalimatnya.
“Ada apa Di.” Tanyanya.
“Kangen,” jawab Ardi yang membuat sahabatnya itu tertawa.
“Arum kirain udah gak ingat Arum.” Balasnya
“Mana mungkin aku lupa sama calon kakak ipar.” Jawab Ardi kemudian.
“Selamat ya pak dokter.” Ucap Arum kemudian. Yang mengetahui pengangkatan sumpah Ardi dari Sarah
“Iya terima kasih.” Jawab pria tersebut.
“Kamu lagi apa,” tanya Ardi.
“Aku lagi coass,” jawab Arum.
Ardi tertawa. “Itu rumah sakit punya kamu. Kenapa masih coass tanyanya.”
Arum memajukan bibirnya. “Aku harus ikuti ketentuan kampus Di.” Jawabnya.
Mereka mulai bercanda seperti dulu sebelum Arum menikah. Bahkan mereka tertawa lepas. Namun setelah ia menikah dengan suaminya, sahabatnya itu seperti sengaja untuk menjauhinya.
“Apa rencana kamu setelah ini,” tanya perempuan di seberang sana.
“Aku lanjut S2 di Amerika mengambil sepesialis jantung.” Jawabnya.
Ada rasa kecewa yang di rasa Arum saat mendengar jawaban sahabatnya itu. Sahabatnya itu tidak pernah memberikannya kabar. “Kapan berangkat.” Tanyanya kemudian.
“Besok,” jawab Ardi. “Aku minta no wa calon istri aku.” Ucapnya kemudian. “Aku mau ngasih tau calon istri aku.”
Arum tersenyum. “Ia nanti aku kirim. Jangan di apa-apain ya,” ucapnya yang mengingat bagaimana centilnya adik bungsunya itu ketika berjumpa dengan Ardi.
Ardi tertawa, “gimana kalau calon istri aku yang nyerang.” Balasnya.
“Ya kamu ngelak,” ucap Arum lagi.
“Gimana mau ngelak, calon istri aku jago bela diri.” Jawab nya, yang membuat Arum memijat pelipis keningnya.
Kemudian Ardi tertawa. “Ya gaklah. Dia sekarang udah gedek. Udah gak mungkin seperti dulu lagi. Bar-bar,” jawab nya.
“Kirim aku aku ya cepat.” Pintanya sebelum menutup telepon.
**********
Ardi duduk di tepi tempat tidur kamar kosnya. Ia memandang setiap sisi kamar tersebut. Beberapa karton barang-barangnya sudah di susun rapi olehnya. Notifikasi wa nya berbunyi. Pesan masuk. Ardi melihat nomor wa Aisah. Ia mencoba menghubungi no wa tersebut, yang langsung dijawab oleh seorang gadis yang bersuara lembut. Ardi memandang layar ponselnya kembali. Suara yang menjawab teleponnya terdengar sangat merdu.
“Hallo,” jawabnya.
Aisah yang melihat foto dilayar wa nya sudah bisa mengetahui siapa yang menghubunginya. Jantungnya berdetak dengan hebatnya. “Bang Ardi.” Ucapnya kemudian.
“Ia ini bang Ardi.” Jawab pemuda tersebut. “Ais apa kabar?” Tanyanya.
“Baik. Abang Ardi apa kabar?” Tanya gadis tersebut.
“Abang Ardi baik.” Jawabnya.
Aisah diam. Ia seperti sedang bermimpi saat ini. Berulang kali ia mencubit pipinya sendiri, sehingga pipinya yang putih menjadi merah. Cukup lama mereka saling diam.
“Bang Ardi lagi apa.” Tanyanya lagi.
“Bang Ardi lagi di kamar aja.” Jawab ya. “Bang Ardi mau ngasih tahu Ais.” Namun ia tidak melanjutkan kata-katanya.
“Bang Ardi mau ngasih tau apa?” Tanya gadis tersebut.
“Bang Ardi lulus ngambil S2 untuk spesialis jantung di Amerika.” Ucap pria tersebut
Air mata Aisah serasa ingin menetes saat ini. Sekian lama ia menunggu pria tersebut menghubunginya. Mamun begitu pemuda itu menghubunginya, ia harus mendengar bahwa pria yang di cintainya itu akan pergi jauh ke luar negeri. Hatinya benar-benar perih. Dengan suara yang terdengar serak, Aisah berusaha untuk tetap berbIcara. “Apa Ica boleh jumpa dengan bang Ardi tanyanya.” Yang seiring dengan air matanya yang meluncur dengan sempurna.
Ardi mengangukan kepalanya seakan gadis di seberang sana melihatnya. “Abang rencananya mau ke rumah Ais ngajak Ais jalan nanti malam.” Ucapnya.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ardi, Aisah mereka sangat senang. Dengan cepat ia langsung menjawab. “Ica bisa bang.”
Ardi tersenyum. ”Nanti malam jam 7 abang Ardi jemput.” Ucap nya.
“Iya bang Ica tunggu,” jawab gadis tersebut.
*******
Aisah kembali ke dalam kelasnya. Ia kembali duduk di kursinya. Saat mendapatkan telpon dari Ardi, ia langsung permisi. Wajahnya yang terlihat senang namun sedih tersebut membuat sahabatnya yang duduk di kursi sebelahnya bertanya, “ada apa”.
Aisah menggelengkan kepalanya. Ia ingin menangis saat ini. Pertemuannya nanti malam. Pertemuan apa itu namanya. Pertemuan pertama dan terakhir? Setelah ini, ia tidak pernah tahu kapan akan kembali bertemu dengan calon suaminya. Yang mungkin tidak pernah menganggap dia ada.
Gadis remaja tersebut langsung ke mall untuk membelikan Ardi kenang-kenangan. Ia sudah memikirkan apa yang akan diberikannya. Awalnya ia ingin membelikan baju. Namun ia ingat, bahwa baju itu mudah koyak dan bagaimana kalau bang Ardi tidak menyukainya atau ukurannya yang tidak pas. Setelah berfikir beberapa saat ia memutuskan untuk membelikan jam tangan. Ia ingin pria itu selalu mengingatnya saat memakai jam tangan pemberiannya, atau pria itu akan ingat bahwa ada seorang gadis yang selalu menunggunya.
Aisah masuk kedalam salah satu toko jam bermerek. Ia melihat harga-harga yang sangat mahal. Ia menelan air ludahnya. Ia bisa menghabiskan seluruh uang tabungannya untuk membeli jam tangan tersebut. Ia sudah menabungkan uang jajannya selama ini agar bisa membeli motor gede. Namun ia akan membelikan jam tangan terbaru untuk calon suaminya walaupun mahal. Ia takut apa bila ia memberikan yang murah, sudah pasti tidak di pakai pria tersebut. Ia bisa menabung kembali untuk membeli motor gede yang diinginkannya. Begitu pikirnya. Sebelum ia mendapat kan motor gedek tersebut, ia akan tetap mencuri-curi untuk menbawa motor gedek abangnya. Walaupun ia harus di omelin sang abang.
Aisah memilih jam yang berwarna silver. Jam yang berantai besi tersebut, kata penjualnya jam tersebut gak perlu ganti baterai selama 10 tahun. Jam seiko yang seharga 8 juta.
********
like dan komen ya.
vole juga.
makasih ya dukungan nya .
😊🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Anna Loebis
Wah
2021-06-09
0
Daffodil Koltim
ais so sweet deh,,,,
2021-05-02
0
Endang Purwati
Aisyah...berkerudung...kebayang laahh dengn moge nya...wwwuuuiiihhhh pasti kereeennn...😘😘
2021-04-23
1