Aisah duduk di kursinya. Pagi ini dia tidak ada semangat untuk mengikuti pelajaran. Seluruh tubuhnya lemas. Semalaman dia tidak tidur. Ia hanya memikirkan Ardi dan menagis. Matanya terlihat sangat sembab.
Rika yang duduk di sebelahnya memandang sahabatnya itu. Kemudian ia bertanya, “kenapa?”
Aisah hanya diam dan kemudian ia menangis.
“Kena sih ca, cerita dong,” desaknya.
Dengan terisak-isak Aisah mulai bercerita.
“Bang Ardi ka.”
“Kenapa sama calon suami kamu yang sudah kamu tunggu itu. Dia selingkuh?” Tanya Rika yang seperti sedang menahan emosi. “Kamu gak usah pikir kan dia lagi. Setelah 4 tahun dia tidak pernah menghubungi kamu dan sekarang dia selingkuh.” Ucap Rika penuh emosi yang tidak terima sahabatnya yang sejak di sekolah tingkat pertama itu di sakiti.
“Bukan itu Ka, semalam bang Ardi nelpon aku. Dia ngasih tau kalau dia bakalan ke Amerika untuk lanjut spesialis jantung di sana. Dia lulus bea siswa. Semalam kami jalan. Dia juga ngasih aku ini.” Ucap nya sambil mengangkat jarinya yang melekat cincin emas “dan jam tangan ini, punya bang Ardi.” Sambil menunjukkan jam tangan yang kedodoran di pergelangan tangannya yang kecil
“Terus,” tanya Rika kembali.
“Bang Ardi berangkat hari ini Ka.” Dengan di iringi air mata di pipinya.
“Jam berapa?” Tanya Rika.
“Jam 9 Ka.” Jawab Aisah
“9 malam tanyanya.”
“Jam 9 pagi.” Jawab Aisah
“Kenapa kamu gak antar dia ke bandara ?” Tanya Rika.
“Gimana mau ngantarin ka, kita sekolah.” Ucap Aisah, yang membuat Rika mengusap wajahnya dengan kasar.
“Dia itu ke Amerika ya cin dan yang kamu sayangi cuman sekolah yang satu hari doang. Kamu bisa izin, pura-pura sakit kirim wa ke guru atau kamu bisa bolos. Permisi kek. Pokoknya gimana caranya kamu tu bisa ngantarin calmi lu ke bandara,” ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi
“Calmi apa Ka?” Tanya Aisah.
“Ya calon suamilah.” Kemudian Erika diam ketika di lihatnya buk Meri sudah masuk ke dalam kelas.
Aisah mengusap air matanyanya yang ada di pipi. Kenapa dia gak mikirkan seperti ini dari semalam. “Ka, menurut kamu aku gimana.” Ucapnya sedikit berbisik.
“Permisi ke piket. Buat alasan terus kejar ke bandara.”
Aisah mengangukan kepalanya. Ia berfikir bagaimana caranya untuk permisi. Ia melihat jam di tangannya yang sudah jam 7.45. Ia kemudian permisi untuk kekamar mandi dengan membawa satu buku catatannya. Ia masuk ke dalam kamar mandi, ia membasahi rok pramungkanya dengan sedikit air di bagian pantatnya. Kemudian ia berjalan dengan cepat ke meja piket. Setelah menuruni anak tangga yang mana kelasnya di lantai 2. Aisah berada di depan meja piket pak Junaidi yang duduk di meja piket tersebut memandang Aisah dan kemudian bertanya “Ada apa.”
“Buk Rina di mana pak.” Tanyanya.
“Kenapa?” Tanya guru olahraga tersebut.
“Mau minta izin pak.” Ucap Aisah
“Kenapa harus sama buk Rina? Kamu bisa mengatakannya dengan saya.” Ucap pria berusia 32 tahun tersebut.
“Tapi ini masalah perempuan pak.” Ucap Aisah.
“Kenapa kamu haid? Kamu bisa membeli pembalut di koperasi sekolah.” Ucap nya
“Tapi pak,” Aisah melihat buk Rina berjalan ke meja piket. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Rina.
“Ada apa Ica,” tanya buk Rina.
“Buk Ica mau izin. Ica tembus buk.” Ucapnya. “Boleh ya buk. Setelah ganti rok, Ica langsung kembali ke sekolah,” ucapnya lagi.
“Benar ya langsung kembali ke sekolah.” Rina memberikan penekanan.
Aisah menganggukan kepalanya dengan cepat. Rina memberikan kertas kecil yang bertuliskan izin keluar.
“Minta tanda tangan guru bidang studi kamu,” ucapnya.
Aisah menelan ludahnya mengingat ia harus kembali ke dalam kelasnya untuk meminta tanda tangan guru bidang studinya. Dengan cepat ia berlari menuju kelasnya, ia menutup pantatnya dengan buku tulis. Ia masuk kembali ke dalam kelas dan meminta tanda tangan buk Meri guru bidang studi fisika. Setelah mendapatkan tanda tangan dari guru bidang studinya, Aisah berlari lagi ke meja piket Buk Rina memberikan tanda tangan guru piket.
*******
Aisah berlari menuju parkiran mobil matic miliknya. Namun sebelum ia menjalankan mesin motor tersebut, ia mengirim pesan wa ke Ardi.
Aisah
“Abang di mana?”
Dengan cepat Ardi membalas pesan tersebut.
Ardi
“Abang udah di bandara dek.”
Aisah
“Jangan pergi dulu tunggu Ica. Ica langsung ke bandara.”
Ardi.
“Ais tapi sekolah?”
Aisah
“Udah izin piket. Tunggu Ica ya bang. Ica langsung berangkat.”
Ardi mengerutkan keningnya saat membaca pesan terakhir dari Aisah.
Aisah mengeluarkan motornya dari parkiran dan menunjukkan kertas kecil izin keluar dari guru piket ke security sekolah. Ia mengendarai motor nya dengan sangat ngebut ia membawa motor tersebut dengan sangat gesit, memotong kendaraan yang ada di depannya. Sekolahnya cukup jauh dari bandara. Aisah tidak menurunkan gas motornya walaupun dekat lampu merah. Ia bahkan menambah kecepatannya ketika ia melihat seorang polisi yang berusaha menghentikan motornya. Ia melajukan motor itu tanpa terkendalikan. Ia sudah seperti seorang pembalap wanita.
Polisi yang melihat Aisah menerobos tersebut dengan berlari mengejar motornya yang berada di posko penjagaan. Kemudian mengejar gadis berseragam pramuka tersebut. Aisah yang melihat ia di kejar dari belakang tidak menghiraukan polisi tersebut. Ia bahkan menghabiskan gas motornya dengan kecepatan tertinggi.
Ia kemudian masuk ke dalam bandar tersebut setelah memarkirkan motornya di parkiran khusus sepeda motor. Ia turun dari motornya dan berlari masuk ke dalam gedung bandar tersebut. Ia tidak melihat polisi itu berhasil mengejarnya. Ia masuk ke dalam dan berlari menuju arah tujuan Amerika. Ia melihat Mira dan juga Handoko yang berjalan dari arah keluar ruang tunggu.
“Aisah,” ucap Mira yang melihat gadis remaja tersebut.
Aisah mengejar Mira. “Bang Ardi mana tante?” Ucapnya kemudian.
“Baru aja berangkat.” Jawab Mira sambil menunjukkan pesawat yang baru akan terbang tersebut. “Itu pesawatnya.” Ucap Mira.
Kaki Aisah terasa amat lemas. Matanya berkaca-kaca. Mira berusaha untuk menenangkan gadis remaja tersebut.
“Kumu jangan sedih. Bang Ardi akan kembali ke Indonesia saat ia sudah menyelesaikan studinya.” Ucap Mira. “Ini untuk Ica.” Sambil memberikan sebuah kotak yang yang di bungkus cantik dan rapi. “Kenapa Aisah bisa datang ke sini.” Tanya Mira kepada gadis yang masih ngos-ngosan tersebut, dadanya masih turun naik.
“Ica izin tante.” Ucapnya sambil menunjukkan surat izin di kantong bajunya. “Tante, Ica mau kembali ke sekolah. Ica cuman di kasih waktu satu jam,” ucapnya.
“Hati-hati ya.” Ucap Mira sambil memelukku tubuh gadis remaja tersebut dan menghapus keringat dari keningnya. Ia juga mencium pipi gadis tersebut
********
Aisah kembali ke parkiran motornya. Matanya terbuka dengan sempurna, ketika melihat polisi yang mengejarnya tadi sudah duduk di jok motornya. Aisah menelan air ludahnya dan mendekat ke arah polisi tersebut.
Polisi itu melihat gadis remaja yang berseragam pramuka mendekat kearahnya. Polisi muda itu menarik sudut bibirnya.
“Permisi om.” Ucap gadis tersebut membuat ia memandang wajah gadis cantik tersebut.
“Jangan pangil om.” Ucap polisi tersebut.
***********
Bersambung.
Like dan komen serta vole nya ya reader.
Terimakasih dukungannya.
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Lilik Juhariah
suka ma Ais tomboy banget
2021-07-03
0
Anna Loebis
Wah ......
2021-06-09
0
Kim Yoona
bisa2nya polisi dipanggil om 🤣🤣🤣🤣
2021-05-03
0