Ardi melihat Arum turun dari tangga. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun yang di pakainya. Gaun tersebut melekat sempurna di tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai. Makeup yang merias wajahnya terlihat sangat cantik, dan tidak menampilkan kesan menor dan berlebihan. Ia turun bersama dengan Sarah dan Naura.
Siti sedang duduk bersama dengan Ardi, Doni dan Ari. Saat dilihat putrinya yang sedang turun dari tangga, membuat wanita yang berusia sekitar 40 tahun itu meminta izin untuk menemui tamunya yang lain dan memastikan keadaan.
Gadis itu tersenyum melihat ke arah tiga pria tersebut. Saat gadis itu sudah mendekat dengan pria tersebut, ia melihat wajah Ardi yang tidak seperti biasanya. Wajah pria tersebu tampak sangat dingin. Arum melihat tangan Ardi yang di balut perban dan tampak masih ada sedikit bercak darah yang tempus dari perban tersebut.
“Di, tangan kamu kenapa?” tampak wajah Arum panik saat melihat tangan Ardi yang terperban. Dengan reflek Arum memegang tangan yang di balut perban tersebut.
“Numbuk kaca.” ucap pemuda tersebut.
“Kenapa kamu numbuk kaca sih Di. Terus gimana kabar kacanya sekarang?”
“Hancur. Biasa latihan,” jawab Ardi dengan tatapan dingin.
“Kamu latihan taekwondo atau kuda lumping sih Di ?” Gadis itu tampak mengomel. “Ceroboh banget sih kamu repetnya.”
Ardi menatap Arum dengan tatapan tajam. “Kalau aku bilang, aku numbuk kaca karena kamu. Kamu bakal ngomong apa?” tanya kemudi.
Gadis itu tampak terkejut mendengar pertanyaan dari pemuda di depannya. Ekspresi wajah pemuda itu tampak begitu serius. Bahkan sekian lama mereka bersahabat, ini untuk pertama kalinya Arum melihat tatapan Ardi yang begitu berbeda.
“Kok karena aku?” protes gadis tersebut sambil memajukan bibirnya.
Ardi tersenyum tipis.
“Sini aku obatin,” kata Arumi sambil meraih tangan tersebut.
Ardi menepisnya, pemuda itu menggelengkan kepalanya. “Aku bisa mengobatinya sendiri. Aku gak mau tangan kamu jadi kotor karena memegang tangan aku.”
“Gak apa. Aku bisa mencucinya,” jawab gadis itu kemudian.
Ardi menggelengkan kepalanya. “Kamu ingat gak,waktu kecil kamu paling sering terjatuh, lutut dan juga siku kamu terluka dan berdarah. Aku selalu mengobati luka kamu. Kamu terkadang bisa jatuh di mana saja dan pada saat itu aku selalu mengantongi benda ini kemana-kemana.” Ardi mengeluarkan betadin, hansaplas dan juga perban dari dalam saku celananya. “Aku selalu mengantongi benda ini, aku juga selalu memasukkan benda ini di dalam tas sekolah aku. Sampai sekarang, aku masih mengantonginya dan menyimpannya di dalam tas kuliah aku. Namun aku baru sadar, bahwa saat ini kamu bukanlah gadis kecil yang selalu terjatuh, yang aku gendong dipunggung saat kamu menagis saat lutut kamu terluka. Saat ini kamu sudah menjadi gadis yang dewasa, pintar, cantik dan kuat. Kamu sudah bisa melindungi diri kamu sendiri dan juga orang lain. Aku sudah tidak perlu menjaga kamu dan sudah saatnya aku tidak membawa benda ini kemana-mana.”
Arum memegang benda yang di tangan Ardi tersebut. Mata gadis itu berkaca-kaca mendengar apa yang di sampaikan Ardi. “Di, kamu gak ninggalin Arumkan.” Terdengar suaranya yang mulai bergetar. Ia memeluk tubuh pria yang berstatus sahabatnya itu.
Ardi menunjukkan sikap tegarnya dihadapan gadis cantik pertamanya. “Aku sayang kamu Rum, lebih dari nyawa aku. Aku gak akan pernah ninggalin kamu. Aku tetaplah Ardi sahabat kecil kamu hingga sekarang. Namun sekarang kamu sudah ada yang menjaga dan mencintaimu dengan sangat baik. Jadi aku sudah tidak perlu menghawatirkan kamu.” Ucap pemuda itu yang menahan sesak di dadanya
Air mata Naura meluncur dengan lancar begitu juga dengan Sarah. Ia melihat Ardi yang tampak begitu terpukul, Sarah yang menjadi pejuang cinta untuk mendapatkan Ardi, begitu sangat kasihan melihat Ardi saat ini. Doni melihat benda yang di keluarkan Ardi dari kantongnya. Mengingatkan dirinya pada saat ada kecelakaan lalulintas yang menyerempet anak sekolah dasar. Ardi mengeluarkan betadin dan juga perban dari dalam tasnya.
Arum masih menagis saat memeluk tubuh Ardi. Ardi memeluk tubuh Arum dengan sangat erat kemudian ia melepaskannya. Ia melihat Arum yang masih menangis.
“Kamu masih ingat gak? Waktu kita kecil, kita main rumah-rumahan. Kamu jadi mama, aku jadi papa. Kita memiliki keluarga bahagia. Aku memberikan kamu perhiasan yang aku buat dari tangkai daun ubi. Aku memberikan kamu kalung dan juga gelang. Pada waktu itu itu, aku berjanji sama kamu, jika kita sudah besar dan aku punya uang, aku akan membelikan kamu perhiasan emas yang asli dan juga cincin berlian.” Ucap pemuda itu.
“Arum gak pernah menganggap itu janji,” balas gadis tersebut dengan isak tangisnya.
“Tapi aku udah janji dengan diri aku sendiri,” ucapnya. Ia mengeluarkan kotak perhiasan yang ada di saku kemeja yang dipakainya. Ia membuka kotak perhiasan tersebut.
“Ini hutang janji aku untuk kamu. Maaf kalau cincin berliannya aku gak bisa ngasi,” ucap pemuda tersebut.
Arum menagis dengan menutup mulutnya melihat benda yang di pegang Ardi. Ia merasa lututnya lemah hingga ia harus bersimpuh dengan lututnya sambil menangis.
Ardi melakukan hal yang sama, ia bersimpuh dengan lututnya. Arum menagis menutup wajahnya.
“Aku gak mau kamu menagis. Aku ingin kamu bahagia. Ini hari penting untuk kamu. Air mata kamu sudah membuat makeup kamu berantakan,” ucapnya. kalau boleh jujur seandainya bisa, ia ingin melakukan hal yang sama. Menagis melepaskan sesak yang ada di dadanya. Namun ia seorang laki-laki yang harus mempertahankan harga dirinya. Ia harus terlihat kuat walaupun di dalam hatinya begitu hancur.
“Maafkan Arum,” ucap gadis itu kemudian.
“Kamu gak salah. Jika kamu tidak berjodoh dengannya, maka aku akan jadi jodoh kamu,” jawab Ardi. Ardi membantu Arum untuk berdiri. “Udah rapikan lagi makeup kamu. Sebentar lagi calon tunangan kamu akan datang,” ucapnya yang begitu pedih di rasanya saat mengatakan tunangan.
Bayangan dimasa kecil mereka seakan terputar otomatis di pandangan Arum. Arum merasa sedang menonton film dirinya di masa lalu. Arum mengingat semua peristiwa satu persatu yang membuat ia terus menangis. Ardi pria pertama yang ia cintai sebelum Habibi. Ia tidak pernah tau ternyata Ardi juga merasakan hal yang sama.
Arum masih merapikan makeup nya kembali. Sarah dan Naura tidak ada yang berbIcara. Mereka hanya memandang Arum dari pantulan cermin.
********
Ketiga pria tersebut duduk di salah satu meja yang berada di taman samping rumah mewah tersebut. Berbagai pilihan makanan sudah ada terhidang di sana. Seorang gadis kecil datang berlari menabrak tubuh Ardi.
“Bang Ardi,” ucap gadis kecil yang terlihat begitu genit.
“Cantik amat,” Doni mengeluarkan pujian saat melihat gadis cantik, kulitnya putih dan terlihat centil tersebut.
Ari menabok pundak sahabatnya tersebut. “Itu cewek belum cukup umur,” ucap pemuda itu.
“Kalau yang namanya cantik, belum cukup umur juga pasti sudah cantik,” jawab Doni yang mendapatkan tabokan dari sahabatnya.
Doni berbisik di telinga Ardi. “Dunia belum berakhir bro. Gak dapat kakaknya, masih ada adeknya. Nih si adek gak bakalan kalah dari si kakak. Bibit unggul ini,” ucapnya yang terdengar bercanda, namun memiliki niat untuk memberikan semangat untuk sahabatnya.
Ardi memandang Doni dengan tatapan tajam. Membuat Doni menghentikan kalimatnya.
*********
like dan komen nya ya reader. jangan lupa vole nya juga.
😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Eli Mei
aisah 11 thn
2024-12-09
0
Nuruljannah Masayu
gak pernah bosan bacanya
2024-09-09
0
Aan Nurhasanah
nguras air mata😭😭😭
2023-05-23
0