Setelah sholat maghrib, Ardi bersiap untuk ke rumah Aisah. Jantungnya sedikit berdetak. Ini pertemuan pertama baginya setelah 4 tahun yang lalu, ia berjumpa dengan gadis tersebut. Ia memakai kemeja pendek tangan berwarna biru pekat yang memperlihatkan tangannya yang kekar dan kokoh. Tubuhnya sudah tampak berisi dan atletis. Ia mengenakan jeans hitam dan sepatu sport berwarna biru.
Ia mengendarai mobilnya masuk ke perumahan elit tersebut. Cukup lama ia tidak pernah datang ke sana. Pintu pagar terbuka saat ia datang, security tersebut langsung membuka pagar yang sudah tahu akan kedatangannya dari Aisah.
Ia turun dari mobilnya. Wangi farfumnya yang begitu sangat memanjakan indra penciuman. Saat iya akan mengetuk pintu, suara Keke langsung mengejutkannya.
“Mas Ardi,” ucap perempuan yang berstatus kepala art di rumah mewah tersebut.
Ardi tersenyum melihat mbak Keke yang menurutnya tidak ada berubahnya.
“Udah lama mas Ardi gak pernah ke sini. Mbak kangen loh mas,” ucap mbka Keke begitu hebohnya.
“Iya maaf mbak, aku sibuk,” ucap pria tersebut.
Aisah yang datang bersama ibunya dari belakang. Gadis yang memakai celana jeans biru dan juga baju kasual berwarna hitam. Ia juga memakai jelbab segi empat berwarna hitam. Penampilannya sama seperti anak remaja lainnya. Ardi cukup terkejut melihat perubahan gadis kecilnya. Ia sekarang tampak lebih tinggi dan tubuhnya memiliki banyak perubahan. Ia sudah berbodi dengan pinggul yang terlihat lebih besar dan pinggang yang ramping, dada yang menonjol.
Aisah memakai riasan wajah yang natural dan mengoleskan lip close berwarna pink di bibirnya. Ia menyandang tas di bahunya.
Ardi menyalami tangan Siti.
“Udah lama kamu gak ke sini.” Ucap Siti.
“Maaf tante aku sibuk,” jawabnya.
“Jadi nak Ardi lulus untuk dokter spesialis jantungnya di Amerika,” tanya Siti.
Ardi kemudian mengangguk, “ia tante Ardi dapat bea siswa,” jawabnya.
Setelah mendapatkan izin dari Siti, ia kemudian berjalan dengan Aisah menuju mobilnya. Aisah duduk di sebelah kursi kemudinya. Aisah melengketkan seatbelt di dadanya, begitu juga Ardi.
“Kita mau kemana bang.” Tanya Aisah.
Ardi menarik sudut bibirnya. Ia juga binggung mau membawa gadis remaja tersebut ke mana.Biasanya tempat nongkrong anak remaja pasti berbeda dengan tempat nongkrongnya.
“Coba Ais tebak.” Tanyanya kemudian.
Aisah tersenyum dan kemudian mengangkat telunjuknya. “Pasti makan di restoran Jepang kan bang?” Tanya nya.
Ardi tersenyum. “Salah.” Jawab nya. Ia sudah tau bahwa gadis remaja tersebut meminta untuk dinner.
“Terus ke mana,” tanya gadis remaja tersebut.
“Abang Ardi gak suka makanan jepang.” Jawab Ardi. “Bang Ardi pernah di ajak teman untuk makan di restoran jepang. Habis makan langsung muntah.” Ucapnya kemudian.
“Ica awal-awal juga gak suka. Tapi sekarang suka,” jawabnya.
“Kalau makan steak mau gak.” Tanya Ardi yang mendapat kan anggukan dari gadis remaja tersebut.
“Ais sekarang sudah kelas berapa,” tanyanya.
“Kelas 1 SMA bang.” Jawab Aisah.
“Pantas aja udah gedek,” ucap Ardi kemudian.
Aisah tersenyum. “Berapa lama bang Ardi di sana?” Tanyanya.
“Belum tau. Tiga, empat, lima atau enam tahun.” Jawabnya. Membuat gadis itu menelan air ludahnya. Ia ingin menagis saat ini. Ia tidak ingin pria itu pergi. Ia ingin dekat dengan pria tersebut. Ia bukan anak-anak lagi. Usianya sudah 16 tahun. 2 tahun lagi ia tampat SMA mereka sudah bisa menikah, pikirnya. Setelah menikah ia masih bisa kuliah seperti kakaknya.
“Bang Ardi gak cinta Ica,” ucap gadis remaja tersebut. Ardi diam saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut gadis remaja tersebut. Pertanyaan itu tidak mampu untuk dijawabnya. Ardi melihat kearah gadis remaja yang menatapnya.
“Kenapa Ais tanya itu.” Jawab nya kemudian.
Air mata Aisah mulai keluar. “Kenapa bang Ardi baru kasih tau sekarang.” Ucapnya yang mulai menangis. Ardi diam ada rasa bersalah yang ia rasa saat ini. Ia memberhentikan mobilnya ke pinggir. Mana bisa ia mengemudikan mobilnya, melihat seorang gadis yang menagis di sebelahnya
Ia melihat Aisah. “Maafin bang Ardi ya. Bang Ardi kemarin terlalu sibuk. Bang Ardi menyelesaikan coass, mengurus bea siswa dan juga mempersiapkan pengangkatan sumpah.” Jawabnya.
“Bang Ardi bisa telpon Ica.” Jawab gadis tersebut sambil tersedu-sedu.
“Bang Ardi gak tau bakalan lulus di Amerika.” Jawabnya.
Suara tangis gadis remaja itu semakin keras. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Suara isaknya semakin keras. Ardi binggung gak tau harus berbuat apa.
“Ica gak mau bang Ardi pergi.” Ucap gadis itu di selah-selah tangisnya
“Ais,” pangilnya. “Ais jangan marah sama bang Ardi,” ucapnya.
“Ica gak tau kapan Ica bakalan jumpa abang lagi. Hu..hu....hu....hu... Ini pertemuan pertama dan terakhir kita. Kita gak tau kapan bisa jumpa lagi.” Gadis itu tidak henti-hentinya menagis.
“Bang Ardi bakalan selesaikan semuanya secepatnya biar bisa pulang ke Indonesia lamar Ais,” Bujuknya, membuat isak gadis remaja itu terhenti.
“Bang Ardi gak bohong kan. Ica janji bakal nunggu bang Ardi datang,” ucapya.
Ardi kembali menjalankan mobilnya. Ia melirik sekali-kali ke arah gadis tersebut.
***********
Like komen nya y reader
Vole nya juga.
Makasih. 😊🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Indrijati Saptarita
hadeeeuuuuhhhhh....
2022-12-28
0
Putri Auren
nyesek amat jadi ica yaa...
pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir 😭😭😭
2022-11-21
0
Feby Rey
ayo Ardi jgn pikirin Arum lagi Dy juga ga mikirin lw ini
2021-11-13
0