Mereka sudah duduk di warung steak. Aisah menatap menu yang terhidang di atas meja. Semua tampak begitu enak. Namun ia tidak berselera untuk memakannya. Ardi dari tadi memperhatikan gadis tersebut.
“Ais tau gak,” ucapnya kemudian yang membuat gadis itu memandang wajahnya.
“Tau apa,” tanya gadis tersebut.
“Ais tu cewek pertama yang abang bawak dinner.” Ucap nya. Yang membuat wajah gadis di depannya memerah.
“Bang Ardi tau gak?” Tanya gadis remaja itu kemudian.
“Tau apa,” tanya Ardi.
“Abang Ardi tu cowok pertama yang dinner sama Ica.” Jawabnya.
“Ah Ais curang, Ais nyontek punya bang Ardi.” Ucanya yang membuat gadis kecil itu tertawa.
“Bang, Ica punya tebak-tebakan,” ucap gadis tersebut.
“Tebakan apa,” tanyanya.
“Abang dengar ya, ubi di tanah bisa busuk. Maling bisa tertangkap. Perempuan bisa hamil. Tiga pertanyaan 1 jawaban.” Ucap gadis tersebut.
Kening Ardi mulai berkerut. Ia gak tau apa jawabannya. “Nyerah,” jawabannya kemudian.
Aisah tersenyum. “Lambat cabut.” Jawabnya.
“Kok bisa,” tanya Ardi.
“Nih ya bang, Ica jelasin,” ucap gadis tersebut.
“Ubi di tanah bisa busuk kalau lambat di cabut. Maling bisa tertangkap kalau lambat cabut.
Perempuan bisa hamil kalau lambat cabut.” Jelasnya yang membuat Ardi tertawa setelah mendengar penjelasan gadis tersebut.
“Kok abang gak mikir kesana ya dek.” Ucapnya.
“Dek, udah dingin. Kita makan ya.” Ucapnya. Yang mendapatkan balasan anggukan dari Aisah.
Ardi tidak henti-hentinya tertawa saat mendengar gadis itu bercerita. Ia masih ingat Aisah yang cerewet. Gadis itu menceritakan tentang sekolahnya, teman-temannya.
Setelah mereka selesai makan, Aisah mengeluarkan kotak jam dari dalam tasnya. Ia memberikan kotak jam tersebut. “Ini untuk bang Ardi.” Ucapnya.
Ardi diam memandang jam tangan tersebut. Ia melihat jam tangan yang di berikan gadis itu bukanlah jam tangan murah. Bagaimana mungkin gadis yang baru kelas 1 SMA bisa memberikan hadiah semahal itu. Pikirnya. Bahkan ia sendiri tidak menyiapkan apa-apa untuk gadis tersebut.
“Untuk bang Ardi?” Tanya pria itu kemudian.
Aisah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Ica harap abang suka dan mau memakainya setiap hari. Biar abang ingat Ica terus.” Ucap gadis polos tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
Ardi mengambil jam tangan yang ada di dalam kotak tersebut. Dibukanya jam tangan yang di pakainya dan kemudian diambilnya jam yang berada di dalam kotak tersebut dan memakainya. Jam lamanya di masukkannya ke dalam kotak jam tangan tersebut.
“Bang Ardi gak punya koleksi jam tangan. Jam tangan bang Ardi cuma ini.” Ucapnya melihat jam kesayangannya di dalam kotak tersebut. “Tapi sekarang abang udah punya jam dari Ais.” Ucapnya. “Jam tangan abang Ais simpankan ya.” Ucapnya kemudian yang membuat gadis itu tersenyum lebar dan kemudian menganggukkan kepalanya.
Ardi memakai cincin yang berbentuk bulat. Cincin emas 24 karat yang diletakannya di jari kelingkingnya. Ia membuka cincin tersebut dan memberikannya kepada gadis tersebut. “Ini untuk Ais.” Ucapnya sambil memberikan cincin tersebut. Aisah mengambil cincin tersebut dan memakainya di jari manisnya. Sangat pas dan cocok di jarinya.
“Makasih ya bang.” Ucapnya kemudian.
“Kita pulang ya.” Ucap Ardi ketika mereka duduk di dalam mobil.
“Bang, boleh gak kita gak pulang dulu.” Ucap gadis tersebut. Ia melihat jam masih menunjukkan pukul 8.30.
“Kenapa,” tanya Ardi.
“Ica masih mau sama abang.” Jawabnya.
“Ica mau kemana,” tanya Ardi.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Terserah kemana aja. Duduk di dalam mobil gini juga gak apa. Yang penting dekat abang,” pinta gadis tersebut.
Ardi mengangukankan kepalanya.
“Besok abang berangkat jam berapa,” tanya Aisah.
“Jam 9 pagi,” jawabnya.
“Kenapa cepat kali bang.” Ucap Aisah kemudian.
“Ia jam segitu jadwal penerbangannya,” Jawab Ardi.
“Ica sekolah,” ucap gadis tersebut.
Ardi tersenyum dan kemudian mengatakan tidak apa-apa.
“Tapi bang Ardi bakal hubungi Ica kan kalau sudah sampai.” Tanyanya. Ia mendapatkan anggukan kepala dari pria tersebut. Sudah hampir jam 10 Ardi mengantarkan gadis itu pulang.
********
Mereka sudah sampai di halaman rumah Aisah. Aisah sudah berfikir sebelumnya. Begitu pria itu sampai di Amerika, bisa aja cewek-cewek bule di sana bebas untuk mencium calon suaminya. Tentu saja dia tidak mau itu terjadi. Sebelum ia turun, ia mendekati wajahnya dengan pria tersebut. Jarak mereka sangat dekat. Ardi hanya diam. saat melihat gadis tersebut melakukan hal itu. Aisah kemudian mencium bibirnya yang membuat ia terdiam. Cukup lama bibir mereka menempel dan kemudian Ica melepaskan bibirnya dari pria tersebut. Kemudian mengatakan “itu ciuman pertama Ica”. Ucapnya sambil turun dari mobil dan masuk ke rumahnya. Ardi masih diam duduk dikursi kemudinya. Ini juga ciuman pertama untuknya.
Ia kemudian turun dari dalam mobil tersebut. Ia melihat mobil keluaran terbaru terparkir di halaman rumahnya. Mungkin mobil Habibi. Ia turun dari mobil berencana untuk berpamitan dengan calon mertuanya. Ardi masuk yang ternyata Aisah datang dari dalam mengendong gadis kecil yang bertubuh montok.
“Bang Ardi ini vira,” ucapnya.
Ardi tersenyum melihat gadis kecil yang di gendong Aisah. Tampak gadis itu kesulitan menggendongnya.
Ardi memandang Aisah, dadanya mulai berdetak cukup kuat. Mungkin karena gadis itu tadi menciumnya sebelum keluar dari mobil.
“Sama om ya,” ucapnya sambil mengembangkan tanganya yang langsung di sambut gadis kecil tersebut. “Dia genit bang,” ucap Aisah. “Suka sama cowok ganteng.” Ucapnya lagi.
Yang membuat bibir gadis kecil tersebut maju ke depan.
“Aunty ngomong apa.” Ucapnya yang membuat Ardi tertawa.
“Iya sama dengan auntynya,” ucap Ardi.
Yang membuat bibir Aisah maju kedepan.
“Mimi dan pipi mana,” tanyanya kepada gadis kecil tersebut.
“Di dalam,” ucapnya dengan masih celat.
“Vira makan apa kenapa berat sekali.” Tanya Ardi kemudian yang membuat Aisah tertawa.
“Ini kalena mimi om. Atu di pakcanya matan banyak-banyak sehingga atu gak bica diet.” Ucapnya yang membuat Ardi kembali tertawa. Ia masuk ke ruang keluarga.
Arum yang baru datang dari dapur membuatkan susu anaknya melihat ke arah Ardi.
“Dokter Ardi ada di sini,” sindirnya.
Ardi tertawa. “Iya,” jawabnya.
“Besok jam berapa berangkatnya.” Ucap Arum
“Jam 9.” Jawabnya.
“Mas Habibi mana?” Tanya nya.
“Ada di belakang sama ibu dan Azzam.”
“Kebelakang yuk.” Ajak Arum. Ia mengembangkan tanganya kearah putrinya yang mendapatkan penolakan dari sang putri.
“Mimi, atu mau cama om ganteng.” Ucap putrinya.
**********
Like komen serta vole nya ya reader.
Kisah dokter Arumi dan dan takdir dan cinta nafisa. Author akan up hari ini.
Makasih ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Mila Karmila
Dah baca yg kedua kali tp aku mash senyum2 suka gitu,,
2021-08-09
0
Mila Karmila
Dah baca yg kedua kali tp aku mash senyum2 suka gitu,,
2021-08-09
0
Anna Loebis
Hmmmmmmm
2021-06-09
0