Azka makin dibuat penasaran oleh gadis bernama Viona. Ia sampai menyuruh orang untuk mencari tahu tentang gadis itu. Namun tidak banyak yang bisa diketahui oleh Azka selain tempat tinggal dan juga kampus tempat Viona menimba ilmu. Informasi lain yang Azka dapatkan hanyalah, mengenai status Viona sebagai anak yatim piatu dan juga memiliki seorang kakak laki-laki.
Yang masih menjadi pertanyaan adalah alasan Viona mengejarnya?
Azka hanya bisa menduga alasan utama Viona adalah materi. akan tetapi dugaannya itu belum tentu benar, mengingat tempat tinggal Viona adalah kawasan elite.
Tidak sabar Azka memilih untuk mendatangi Viona di kampusnya. Azka duduk di dalam mobil menatap sekitar dari balik kacamata hitamnya. Setengah jam menunggu Azka melihat Viona keluar dari kampus. Azka memakai topi berwarna putih putih sebelum turun dari mobil dan langsung menarik Viona tidak peduli meskipun Viona sedang berjalan bersama teman-temannya.
"Ayo ikut," ajak Azka.
"Hei!" Tindakan Azka yang tiba-tiba membuat Viona terkejut.
Awalnya Viona tidak mengetahui orang yang tiba-tiba membawanya pergi. Matanya membulat sempurna ketika ia tahu Azka yang sedang menariknya.
"Lepaskan aku! Kenapa kau kasar sekali?" Viona mengusap pergelangan tangannya yang terasa panas.
"Aku tidak perlu bersikap lembut pada perempuan sepertimu," ucap Azka.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Viona. "Dan dari mana kamu tahu aku ada di sini?"
"Bukan urusanmu," jawab Azka.
Bibir Viona melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Aku tahu kamu pasti akan mencariku. Kenapa? Apa kamu menyesal sudah meninggalkan aku semalam dan sekarang kamu ingin meminta maaf?" tanya Viona dengan percaya dirinya.
Azka mendengkus kesal. Pertanyaan Viona bak ejekan baginya.
"Sudah diam dan ikut aku!" Azka kembali menarik Viona.
"Baiklah, aku akan ikut. Tapi sabarlah sedikit," ucap Viona diikuti tawa kecilnya.
Azka memutar bola matanya merasa jengah dengan sikap Viona. Azka membuka pintu lalu mendorong Viona masuk ke dalam mobil.
"Jangan coba-coba untuk kabur," ucap Azka.
"Tenang saja. Aku tidak akan kabur sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau," ucap Viona.
Azka berjalan memutar ke sisi lain. Ia masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi. Setelah memakai seatbelt Azka melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. Azka membawa mobilnya dengan tidak karuan seperti orang yang sedang marah.
Viona yang berada di sampingnya merasa biasa saja. Ia tidak merasa takut atas kelakuan Azka. Justru Viona merasa senang ketika ia bisa membuat Azka kesal.
Sepanjang perjalanan Vina terdengar umpatan Azka. Sampailah mereka di basement gedung apartemen. Azka turun dari mobil lebih dulu lalu berjalan ke sisi Viona. Dengan kasar Azka menarik Viona keluar dari mobilnya.
"Cepat keluar!" ucap Azka.
"Kamu mau bawa aku ke mana?" Viona menahan langkahnya.
"Bersenang-senang." Azka menjawab dengan senyuman licik.
Viona tertawa kecil. Ia tahu apa maksud dari perkataan Azka. Meski begitu tidak ada rasa takut dalam diri Viona.
"Heh, coba saja jika kamu bisa," tantang Viona.
Azka kembali mengukir senyuman licik. Ia menarik Viona ke dekatnya untuk mengikis jarak di antara mereka.
"Dengar setan kecil! Sebelumnya kamu mungkin bisa lolos. Lalu apa kamu pikir aku akan membiarkanmu lolos kali ini?" ucap Azka.
"Itu pasti. Ayo kita buktikan," tantang Viona.
"Aku suka dengan rasa percaya dirimu!" Azka menarik Viona masuk ke lift yang akan membawa mereka ke unit apartment Azka.
Setelah mereka berada di apartemen Azka langsung melempar Viona ke atas sofa panjang. Tanpa berbasa-basi lagi Azka membuka dasi juga kemejanya yang langsung menampakan tubuh kekarnya.
"Kita lihat apa kali ini kamu bisa lolos lagi?" Azka menatap Viona dengan tatapan nakalnya.
Jika boleh jujur Viona mulai merasa takut. Ia menyeret tubuhnya ketika Azka mulai mendekatinya.
"Sudah aku bilang aku tidak akan membiarkanmu lolos sekarang!" Azka memposisikan tubuhnya di atas tubuh Viona mengunci pergerakan gadis itu.
"Sekarang katakan apa tujuanmu mengusik hidupku?" tanya Azka.
"Sudah aku bilang aku ingin pertanggungjawabanmu," jawab Azka.
"Aku tahu kamu berbohong! Katakan dengan jujur atau aku akan memaksamu bicara jujur dengan caraku!" ancam Azka.
"Aku tidak takut!" Viona mencoba menggigit tangan Azka, tetapi pria itu bisa membaca pergerakannya.
"Jangan mencoba mengigit ku lagi!" Azka tersenyum miring.
"Lepaskan aku!" Viona berontak di bawah Azka.
"Kamu terlalu banyak drama! Sekarang jawab pertanyaanku!" suruh Azka.
"Bagaimana jika aku tidak mau menjawabnya?" tanya Viona dengan nada menantang.
"Baiklah jika itu yang kau mau." Azka menunjukkan senyum liciknya.
Azka mengunci pergerakan Viona. Saat ia merasa Viona tak akan bisa kabur Azka melancarkan aksinya. Azka mencium bibir Viona dengan rakus, ia tidak peduli saat Viona berusaha menghindar.
"Lepaskan aku! Jika tidak aku akan berteriak!" ancam Viona.
"Silahkan. Tapi kau harus tahu tempat ini ada di puncak gedung," ucap Azka. "Dari pada kamu membuang tenagamu dengan terus melawan lebih baik diam dan nikmati hari ini. Bukanakah ini bukan hal baru untuk kita?"
Azka membuka kancing kemeja Viona. Sesuatu terlihat saat dia kancing itu terbuka. Mata Azka membulat melihat sebagian gundukan di dada Viona. Ia menelan ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering.
Azka juga mengumpat saat ia merasakan celananya yang mendadak sesak. Hal itu juga dirasakan oleh Viona. Ia merasakan sesuatu yang keras di antara kakinya.
"Lepaskan aku!" pinta Viona.
"Tidak sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau," tolak Azka.
Azka kembali memaksa mencium bibir Viona, turun ke leher, dan meninggalkan jejak merah keunguan di sana. Belum mendapatkan apa yang ia mau Azka mulai menggila, ia merobek kemeja Viona. Kancing kemeja Viona berjatuhan membuat Viona menjerit.
"Kamu yang memaksaku, setan kecil!" Azka mengusap perut Viona, ia melihat dan merasakan keindahan di tubuh Viona.
"Jauhkan tanganmu atau aku akan mematahkan tanganmu!" ancam Viona.
Azka tersenyum puas saat Viona merasa ketakutan. Sebenarnya dirinya tidak bermaksud seperti itu, ia terpaksa melakukannya agar Viona bicara jujur.
"Kenapa? Bukankah kita pernah menghabiskan malam bersama? Jadi … kenapa kamu harus takut." Azka mengusap-usap perut Viona lalu baik ke salah satu gundukan besar di dada Viona.
Viona memejamkan matanya diikuti air matanya.
"Aku hanya ingin kejujuran darimu. Tapi … kamu tidak mau memberikannya. Jadi …." Azka menurunkan tangannya lalu membukakan kancing celana Viona. "Jangan salahkan aku jika aku melakukan ini."
"Aku benar-benar akan mematahkan tanganmu jika kamu sampai berbuat kurang ajar padaku." Viona menatap Azka dengan mata merah menunjukkan kemarahannya.
"Bagaimana jika aku tidak mau? Aku terlanjur menginginkan tubuhmu." Dengan langkah lambat Azka memasukkan tangannya ke dalam balik celana Viona.
"Singkirkan tanganmu!" Viona beteriak disambut senyuman nakal juga gelengan oleh Azka.
"Aku tidak bisa. Aku terlanjur menginginkan dirimu!" ucap Azka.
Awalnya Viona masih bungkam, tetapi saat dirinya merasakan tangan Azka makin mendekat ke inti tubuhnya Viona pun berucap yang membuat Azka menghentikan aksinya.
"Ya memang tidak terjadi apa malam itu. Aku sengaja ingin menjebakmu agar kamu menikahiku dan aku bisa masuk ke dalam keluargamu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments