Azka membawa mobilnya ke jalanan yang sepi. Dirinya sudah tidak tahan dengan segala tingkah Viona. Azka ingin urusannya dengan Viona berakhir detik itu juga. Azka menunjukkan sikap kasarnya kepada Viona membuat Viona terkejut. Viona mencoba meloloskan diri dari Azka, tetapi tenaganya tidak sebanding.
"Jika memang begitu, kenapa aku tidak melihat darah perawan di ranjang itu. Tidak ada juga bekas jika kita sudah bercinta?" ucap Azka dengan tegas. "Jangan mencoba untuk membodohiku. Aku sangat berpengalaman dalam hal ranjang. Jadi jangan coba main-main denganku."
Mata Viona melebar, ia diam dengan semua pertanyaan Azka.
"Lepaskan! Kamu sangat kasar!" Viona mencoba menjauhkan tangan Azka, tetapi tidak bertahan lama Azka pun kembali mencengkram kedua sisi wajahnya.
"Jawab!" bentak Azka.
Viona mulai merasa takut. Napasnya tersengal-sengal seperti habis berlari. Ia ingin kembali melawan, tetapi tenaganya sudah menipis. Viona juga merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Azka. Beruntung pada saat itu ada yang mengetuk kaca mobil. Hal itu membuat Azka berpaling. Azka segera melepaskan cengkeraman tangannya.
"Ya Tuhan, untunglah." Viona berucap dalam hati.
Azka menurunkan kaca mobil di sampingnya. Ia melihat dua orang pria berseragam polisi berdiri tepat di hadapannya.
"Selamat malam," sapa salah satu polisi.
"Ya selamat malam," sapa balik Azka. "Ada apa, Pak?" tanya Azka tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.
"Apa yang sedang kalian lakukan di tempat ini?" tanya polisi itu.
"Kami salah jalan, Pak?" jawab Azka.
"Salah jalan? Pembohongan handal." Viona berucap dalam hatinya.
"Jangan berbohong kalian pasti sedang berbuat macam-macam di sini! Kami sempat melihat mobil ini bergoyang," tuduh polisi itu.
"Apa maksud Bapak berdua ini?" tanya Viona.
"Jangan bergurau, Pak?" tepis Azka. "Maaf saja Pak saya tidak memiliki minat pada setan kecil ini. Lihat saja dari atas hingga ujung kakinya dia sangat kecil hanya kepalanya saja yang besar," ledek Azka.
"Berhentilah merendahkan aku!" Viona memukul lengan Azka.
"Itu memang benar," ucap Azka. " Jika aku salah, mana tunjukan bagian tubuhmu yang besar?" tantang Azka. "Tidak ada, 'kan? Dadamu saja rata lebih rata dari tembok."
Viona mendelik dengan mulut ternganga seolah tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh Azka. Viona pun berpikir keras mencari cara untuk membalas Azka. Saat ia menemukan ide Viona pun tersenyum.
"Pak saya hanya ingin meminta pertanggung jawaban … hmmp." Viona berhenti bicara karen Azka membungkam mulutnya.
"Dia tidak waras, Pak." Azka mendelik ke arah Viona lalu memintanya untuk diam.
Tanpa Azka duga Viona menggigit tangan Azka membuat Azka menjerit.
"Kenapa kamu mengigitku? Apa kamu pikir aku ini tulang," maki Azka. "Bapak lihat sendiri, 'kan? Gadis ini memang tidak waras."
"Kamu yang tidak waras!" balas Viona.
Azka dan Viona terus berdebat dan juga saling mengejek satu sama lain. Kedua polisi itu memperhatikan sembari mengela napas berat.
"Baiklah-baiklah hentikan perdebatan kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi. Lebih lama kalian di sini kami yang bisa menjadi tidak waras," ucap Polisi itu sembari mengela napas.
"Itu lebih baik, Pak," ucap Azka.
"Tujuan awal kalian ke mana?" tanya sang polisi.
"Itu …." Azka menoleh ke arah Viona bertanya dalam bahasa isyarat.
"Perumahan cermai, Pak," ucap Viona.
Azka melihat ke arah Viona dengan satu alis terangkat. Azka tertegun mendengar Viona mengatakan perumahan cermai. Yang Azka tahu perumahan cermai adalah kawasan elit. Tidak sembarangan orang bisa tinggal di tempat itu.
"Silahkan putar balik? Di sini jalanan sangat sepi dan banyak terjadi aksi kejahatan," ucap sang polisi.
"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya," ucap Azka.
Polisi pun pergi.
Azka memastikan polisi itu menjauh dan kembali mengintimidasi Viona, tetapi Viona memilih untuk diam bahkan menutup kedua telinganya dengan handset.
"Dasar perempuan tidak waras, setan kecil!"
Dan segudang makian Azka untuk Viona.
Azka memilih untuk diam dan kembali melajukan mobilnya, meksipun begitu Azka masih saja menggerutu. Azka mengendari mobilnya dengan perasaan kesal. Rasanya ingin mencekik leher Viona lalu memghisap darahnya.
Sesekali Azka menoleh ke arah Viona yang masih mendengarkan musik. Azka memutar bola matanya merasa jengah dengan sikap Viona. Azka kembali menoleh pandangannya dipertemukan dengan Viona. Azka mendengkus kesal saat Viona tersenyum puas seolah sedang mengejek dirinya.
Tidak lama Azka menghentikan laju mobilnya dengan mendadak membuat Viona terkejut. Gadis itu langsung melepas handset yang terpasang di telinganya lalu menatap Azka dengan marah.
"Kenapa kamu suka sekali mengerem secara mendadak?" maki Viona. "Kamu ingin mati, hah!"
Azka terdiam tidak peduli dengan perkataan Viona. Azka menoleh ke arah Viona menatap gadis itu dengan tajam.
"Turun!" suruh Azka.
"Apa?" Viona terkejut.
"Apa pendengaranmu bermasalah? Aku bilang turun!" bentak Azka.
"Aku tidak mau! Ini masih jauh dari rumahku," tolak Viona.
"Aku tidak peduli!" Azka keluar dari mobil dan berputar arah ke sisi lain. Ia membuka pintu dan menarik Viona keluar secara paksa. "Cepat turun!"
"Apa yang kau lakukan?" Viona kembali dikejutkan dengan sikap kasar Azka.
"Kamu sudah mengotori mobilku," ucap Azka.
"Kamu …." Viona menggeram, ia kehabisan kata-kata karena sikap kasar Azka. "Dasar sombong! Apa kamu pikir aku tidak mampu membeli mobil seperti milikmu ini, hah?" ucap Viona.
"Cukup sampai di sini aku muak melihatmu," ucap Azka.
"Apa kamu berniat meninggalkan aku di sini?" tanya Viona.
"Ya," jawab Azka dengan cepat.
"Aku tidak percaya ini. Bagaimana ada orang jahat sepertimu di dunia ini," ucap Viona.
"Bagus kalau kamu berpikir aku ini orang jahat. Ya inilah aku. Aku pria yang jahat jadi berhentilah mengejarku! Menjauh dariku atau aku akan membuatmu menyesal," ancam Azka.
Azka kembali ke mobilnya dan pergi meninggal Viona di jalanan.
"Dasar pria jahat!" Viona memaki Azka dan menendang ban mobil itu. "Awwww!" Kerasnya ban mobil itu membuat kakinya terasa sakit.
Viona melihat mobil Azka sudah menjauh, tetapi tidak menghentikan Viona untuk memakinya. Namun, sekuat apapun Viona berteriak Azka tidak akan mendengarnya.
Jika Viona berpikir Azka meninggalkan dirinya itu salah. Azka tidak benar-benar meninggalkan Viona, ia memutar arah dan menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari tempat terakhir ia meninggalkan Viona. Dari tempatnya Azka bisa melihat gadis itu masih berdiri di tempat yang sama. Mungkin sedang menggerutu.
"Rasakan itu setan kecil," ucap Azka diikuti tawanya.
Tidak lama Azka melihat mobil sport berwarna merah berhenti di depan Viona. Mata Azka menyipit melihat seorang pria muda menghampiri Viona. Pria itu langsung memeluk bahkan bisa terlihat dengan jelas Viona sangat manja dengannya.
Siapa pria itu?
Azka merasa penasaran dengan pria itu. Ada hubungan apa di antara mereka. keluarga, kekasih, atau …?
Huh siapa yang peduli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments