Chapter 7

Azka dalam perjalanan pulang setelah pergi ke rumah Tio. Ia mengendari mobilnya dengan gelisah. Kadang pula menggusar rambutnya, berdecak, menggeram bahkan memukul gagang setir. Kemarahan dan rasa kecewa bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak Tio menceritakan masa lalu kedua orang taunya. Dimana ayahnya berselingkuh dengan wanita bernama Melisa. Meskipun perselingkuhan itu hanya terjadi sesaat. Namun hal yang paling membuatnya marah adalah ketika dirinya tahu ternyata wanita itu juga ada kaitannya dengan hilangnya sang adik.

Tio juga menceritakan masa lalu Melisa yang tega melenyapkan suaminya sendiri dan membuatnya seperti kecelakaan. Semuanya terbongkar dan saat dulu Melisa akan dibawa oleh mantan mertuanya untuk diadili wanita itu berhasil melarikan diri. Ia bersembunyi selama dua tahun tanpa ada seorangpun yang tahu. Saat ia mendengar kabar jika Keisha akan melahirkan kembali Melisa pun muncul secara diam-diam. Tanpa diketahui oleh siapapun ia berhasil membawa pergi anak kedua Keisha. Melisa membayar seorang perawat dan juga dokter untuk terlibat dalam kejahatannya.

Sayang seribu sayang wanita itu menghilang bak ditelan oleh bumi. Keberadaannya sangat sulit untuk dilacak. Setelah 17 tahun mereka berhasil menemukan keberadaan Melisa. Namun sayangnya wanita itu telah tiada dengan cara melenyapkan dirinya sendiri. Menurut informasi karena obsesinya akan Arya dan keinginan untuk membalas dendam membuat Melisa menjadi tidak waras.

Dengan menemukan keberadaan Melisa mereka berharap juga akan menemukan anak mereka yang hilang dan lagi-lagi mereka harus kecewa. Tidak ada satu pun petunjuk mengenai anak mereka. Yang mereka temukan di sana hanyalah sebuah foto bayi mirip seperti Azka kecil.

Azka menepikan laju mobilnya secara mendadak menimbulkan bunyi gesekan antara ban dan aspal. Mendadak ia teringat akan kedua orang tuanya apakah mereka akan kembali dengan membawa harapan kosong?

"Ya Tuhan." Azka tidak bisa membayangkan perasaan kedua orang tuanya.

*****

Sudah lebih dari satu minggu Azka ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Selama itu Azka sudah mendapatkan kabar dan kabar itu seperti apa yang Azka bayangkan sebelumya.

Hati itu Azka merasa malam untuk ke kantor, ia memilih untuk bermalasan di rumah dengan di temani oleh barang bernikotin yang terselip di antara jarinya. Ia merokok sambil memikirkan tentang adiknya. Mendadak ia teringat akan orang yang dilihat oleh salah satu temannya. Azka berpikir orang itu adalah adiknya yang hilang.

Tidak mungkin? Kedengarannya seperti dalam cerita novel.

Lamunan Azka buyar saat mendengar ponselnya berdering. Azka mematikkan rokoknya lalu mengambil ponsel itu dari saku celananya. Azka melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu dari kantor. Awalnya Azka ingin mengabaikannya, tetapi ponselnya terus berdering. Azka memutuskan untuk menerimanya, ia khawatir jika ada sesuatu hal yang penting.

Dari seberang telepon asisten pribadinya mengatakan ada seorang gadis yang mengacau di kantor. Azka yang mendengarkannya mengerutkan keningnya karena bingung juga kesal.

Gadis mana yang berani membuat keributan di kantornya?

Azka meminta asisten pribadinya bernama irfan untuk melakukan panggilan video. Azka duduk di tepi tempat tidur sambil memerhatikan keributan yang terlihat di layar ponselnya. Matanya melebar seketika melihat wanita yang beberapa hari yang lalu tidur satu ranjang bersamanya.

Wanita sialan!

Azka memutus panggilan itu secara sepihak lalu bergegas mengambil jas. Azka berlari keluar kamar segera memakai jas berwarna abu-abu.Tak berhenti sampai di situ saja, sampai di dalam mobil pun Azka tidak berhenti memaki gadis itu.

Dia benar-benar nekat!

Sampai di kantor Azka melihat kekacauan karena ulah gadis itu. Bahkan beberapa penjaga kewalahan membujuk gadis itu untuk pergi. Azka melihat gadis itu duduk di atas resepsionis dan tidak pergi sebelum bertemu dengannya.

Azka geram dan jengah melihat sikap ke kanak-kanakan perempuan yang ia ingat bernama Viona. Azka berjalan menerobos keramaian itu.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Azka dengan garang.

Seketika keramaian itu berhenti. Semua orang diam dan fokus kepada Azka.

"Akhirnya kamu keluar dari persembunyianmu," ucap Viona.

"Untuk apa aku bersembuyi?" balas Azka. "Sekarang katakan apa maumu?"

"Sudah aku bilang, aku akan terus mengejarmu sampai kau mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan padaku!" ucap Viona.

Azka menarik Viona turun dari meja resepsionis membawanya masuk ke lift khusus. Di dalam lift Azka diam mencoba sabar mendengarkan ocehan Viona. Azka menarik napas lalu membuangnya kembali. Gadis di sampingnya benar-benar seakan sedang menguji kesabarannya. Tidak pernah ia bertemu dengan gadis cerewet vak burung beo.

Pintu lift terbuka, Azka menarik Viona keluar dari lift lalu membawanya masuk ke ruang kerjanya. Azka melempar Viona ke sofa.

"Awww! Apa kau tidak bisa bersikap lembut danau perempuan?" Viona mengidap sikunya.

"Jangan basa-basi! Sekarang apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu berani membuat kekacauan di sini?" tanya Azka.

"Sudah aku katakan aku meminta pertanggungjawaban darimu! Aku tidak akan berhenti mengejarmu sampai aku mendapatkan itu," jawab Viona.

"Pertanggung jawaban apa maksudmu?" Azka duduk di sofa yang ada di samping Viona.

"Heh, kamu cepat sekali lupa." Viona tersenyum sinis.

"Tentu saja tidak. Tapi seingatku kamu ini wanita penghibur." Azka menileh ke arah Viona menatapnya dengan senyuman seolah sedang mengejeknya.

"Aku bukan wanita penghibur!" Viona berdiri dengan rasa kesalnya.

"Kalau bukan kenapa kamu mau menghabiskan malam dengan pria yang bukan suami kamu?" tanya Azka.

"Sudah aku bilang, aku berniat menolongmu tapi kamu memaksaku," elak Viona.

"Benarkan? Kenapa kamu tidak berusaha menolaknya?" Azka menatap Viona dengan jengah.

"Aku tidak berdaya malam itu. Tenagaku tifak sebanding denganmu," ucap Viona gagap.

"Lupkan semua itu. Aku sudah membayarmu atas jasamu. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup," ucap Azka.

"Sebanyak apapun uang yang kamu berikan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan padaku," ucap Viona.

"Aku tidak mau bertanggung jawab dengan sesuatu yang tidak aku ingat dan mungkin tidak pernah aku lakukan," tolak Azka.

"Kamu ...." Ucapan Viona terhenti ketika melihat Azka membuka jas dan juga bajunya menampakan tubuh kekarnya. "Apa yang kamu lakukan?"

Viona membulatkan matanya lalu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Viona berjalan mundur ketika Azka berjalan mendekat.

"Jangan mendekat!" ucap Viona.

Viona berniat untuk pergi, tetapi Azka mencegahnya dan melemparkan ke sofa panjang.

"Apa yang mau kau lakukan? Jangan macam-macam padaku atau aku akan melenyapkanmu!" ancam Viona.

Tubuh Viona bergetar saat Azka mengungkungi dirinya. Viona mendorong Azka, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan Azka.

"Aku tidak ingat apapun malam itu. Kita ulangi malam itu dan setelah itu aku akan bertanggung jawab." Azka menatap Viona dengan tatapan mesumnya.

"Dasar pria gila! Menyingkir dariku!" suruh Viona, tetapi Azka tidak peduli.

"Ayo kita ulangi lagi dan setelah itu aku akan menikahimu."

Terpopuler

Comments

Diana Susanti

Diana Susanti

mantab Azka

2024-07-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!