Sudah hampir setengah jam Azka berdiri di balik dinding pemisah antara dapur dan ruang makan. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Viona kepada Keisha. Namun setelah diperhatikan tidak ada yang mencurigakan. Keduanya nampak sangat akrab seperti sudah lama saling mengenal.
Merasa tidak ada yang janggal Azka memilih untuk pergi. Lagipula ia sudah merasa sangat bosan berdiri di tempat itu. Namun baru beberapa langkah justru Azka dikejutkan dengan teriakan sang Ibu.
"Aaa!" teriak Keisha.
"Mami!" Azka segera berlari menuju dapur.
Sampai di dapur Azka terkejut melihat kekacauan yang terdiri di dapur. Sayuran yang sudah dipotong berserakan di lantai. Lebih terkejut lagi ketika melihat sang ibu terduduk di lantai bersama dengan Viona juga salah satu pekerja di rumah itu.
"Mami baik-baik saja?" tanya Viona.
Keisha hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Viona.
"Mami!" Menghampiri Keisha yang juga sedang mengipasi kakinya. "Mami ada apa?"
"Kaki Mami terkena air panas." Bukan Keisha yang menjawab melainkan Viona.
Azka sangat terkejut mendengar penuturan Viona. Ia berpikir itu semua terjadi karena Viona. Viona sengaja ingin mencelakai Keisha. Telapak tangan Azka mengepal dan melirik tajam ke arah Viona, ingin rasanya ia menampar gadis itu, tetapi ia mencoba untuk menahannya. Karena saat itu yang terpenting adalah ibunya.
"Bibi ambilin air es kalau gak es batu," suruh Azka.
"Iya, Mas." Bibi berdiri ia membuka lemari pendingin mengambil es batu dan juga air es lalu memberikannya kepada Azka. "Ini, Mas."
Azka menyiram perlahan kaki sang ibu yang terkena air panas lalu menempelkan es batu. Pandangannya beralih ke Viona yang juga sedang terduduk di lantai. Ia kembali melihat Viona. Kebencian yang pernah Viona tunjukkan membuat Azka merasa yakin jika apa yang terjadi pada sang ibu adalah ulahnya.
"Kamu apakan mami?" Azka mencengkram tangan Viona. "Jawab!"
"Apa maksudmu? Atas dasar apa kamu menuduhku," protes Viona.
Semua orang yang ada di tempat itu jelas terkejut atas tindakan Azka.
"Azka hentikan, Nak! Ini bukan salah Viona," ucap Keisha.
"Gak, Mam. Mami di sini hanya berdua dengan setan kecil ini tadi. Mami seperti ini pasti juga kerena dia!" tuduh Azka.
"Bukan seperti itu, Nak. Kalau saja bukan karena dia menahan panci itu Mami akan terluka lebih parah. Kamu coba lihat tangannya," suruh Keisha.
Azka terdiam seketika. Azka melepas cengkraman tangannya lalu meminta Viona menunjukkan telapak tangannya. Azka terbelalak telapak tangan kanan Viona berubah menjadi merah.
"Tadi Mami tidak sengaja menyenggol panci itu. Panci itu bisa saja jatuh mengenai kaki Mami, tapi Viona menahannya dengan tangan kosong" jelas Keisha. "Ayo cepat sebaiknya kamu obati luka Viona."
Tanpa bicara apapun lagi, Azka membantu Viona berdiri lalu menggandengnya membawanya ke ruang tengah.
"Tunggulah di sini!" suruh Azka.
Viona mengangguk lalu duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Ia memerhatikan punggung Azka lalu beralih ke telapak tangan kanannya. Rasanya sangat perih. Viona meniup telapak tangannya untuk mengurangi rasa perih.
Azka sendiri berjalan menuju lemari kabinet lalu membuka salah satu laci di sana. Setelah itu ia kembali dengan membawa kotak obat. Azka pun duduk di hadapan Viona.
"Tunjukkan tanganmu!" suruh Azka.
Viona menuruti perkataan Azka. Ia menunjukkan tangan kanannya. Azka mengoleskan salep luka bakar tangan Viona sembari meniupnya.
"Aku tahu kamu pasti berpikir aku yang sengaja menyiram kaki wanita itu?" tebak Viona.
Azka menghentikan aktivitasnya lalu mendongak menatap Viona sejenak kemudian kembali menunduk untuk mengoleskan salep ke tangan Viona. Azka memilih mengabaikan perkataan gadis itu karena sedang malas untuk berdebat.
"Aku minta maaf," ucap Azka tiba-tiba.
"Heh, bisa saja aku melakukannya. Tapi ... ini terlalu awal dan terlalu mudah. Aku ingin ibumu itu tersiksa," ucap Viona.
Mendengar penuturan Viona membuat Azka merasa menyesal sudah meminta maaf. Ia menyudahi kegiatannya lalu melihat sekeliling memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.
"Jika kamu berani menyakiti mami ... aku tidak akan segan-segan melukai dirimu." Azka menyengkram kedua sisi wajah Viona lalu menghempaskannya.
Viona tertawa kecil melihat ekspresi wajah Azka.
"Kamu akan tahu bagaimana sakitnya aku saat kehilangan sosok ibu," ucap Viona.
"Dengar ini, Setan kecil! Ibuku perempuan baik-baik dan ... mungkin saja ibumu melenyapkan dirinya karena frustrasi dan menjadi gila karena gagal bersanding dengan ayahku," ucap Azka penuh penekanan.
"Jangan menjelekan ibuku!" balas Viona.
"Heh, itu terlihat jelas dengan tindakannya yang bodoh." Azka menyeringai lalu tertawa. Tawanya seolah sedang mengejek Viona.
"Kamu ...." Ucapan Viona tertahan karena kedatangan Keisha.
"Azka Viona
Perdebatan Azka dan Viona terhenti karena suara Keisha. Keduanya mengubah sikap dan menoleh ke arah Keisha yang sedang berjalan ke tempat mereka.
"Viona, kamu tidak apa-apa?" tanya Keisha.
Azka bergeser memberikan tempat untuk Keisha.
"Viona terima kasih sudah menolong Mami. Tangan kamu tidak apa-apa, 'kan?" Keisha melihat telapak tangan yang masih terlihat memerah. "Kita ke rumah sakit ya," tawar Keisha.
"Tidak usah, Mami. Aku baik-baik saja," tolak Viona. "Bagaimana keadaan Mami?" tanya Viona.
"Anak baik. Mami tidak apa. Seharusnya kamu khawatirkan keadaanmu dulu baru orang lain." Keisha mengusap sisi wajah Viona.
"Mami," panggil Azka. "Mami kenapa bisa ceroboh kaya tadi tanya Azka?"
Keisha menoleh ke arah Azka sembari mengela napas.
"Mami juga tidak tahu, Nak. Tadi Mami tiba-tiba merasa cemas lalu ... mami bingung bagaimana menjelaskannya. Yang jelas saat itu perasaan Mami gelisah," jelas Keisha.
"Ya sudah Mam. Mulai sekarang Mami tidak usah makan lagi. Ada bibi Mami tidak perlu repot-repot memasak," ucap Azka.
"Tapi, Azka ... kamu tahu papi kamu tidak bisa makan kalau bukan Mami yang masak. Lagi pula yang sakit kaki Mami bukan tangan Mami," ucap Keisha.
"Baiklah jika Mami bersikeras. Sekarang Azka mengerti dari mana Azka memiliki sifat keras kepala. Itu dari Mami," gurau Azka yang ingin mencairkan suasana.
"Dasar anak nakal." Keisha menarik telinga Azka karena gemas. Hal itu berhasil menciptakan tawa Keisha dan Viona.
Suasana mencair seketika. Akan tetapi percakapan mereka terhenti karena ponsel Viona berdering. Viona segera menerima pangilan itu. Tiba-tiba wajah Viona berubah serius dan tegang.
"Mami, maaf aku harus pulang sekarang." Viona buru-buru memasukkan kembali ponselnya j9e dalam tas.
"Ada apa Viona? Kamu terlihat cemas?" tanya Keisha.
"Kakakku kecelakaan, Mam. Aku harus pergi," jawab Viona.
Tanpa bicara apapun lagi Viona pergi dari rumah itu.
"Eh, Viona tunggu, Nak!" Panggilan Keisha tidak dihiraukan oleh Viona. "Azka, cepat susul Viona. Mami takut terjadi sesuatu dengannya."
"Tapi, Mam —" Ucapan Azka dipotong oleh Keisha.
"Azka ...!" Keisha memberikan tatapan tajam kepada Azka.
"Ya, baiklah, Mam. Aku pergi dulu." Azka mencium pipi Keisha sebelum pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Ina Karlina
ikut lah bersama viona biar kamu tau siapa dan dimana rumahnya..dan jangan jangan Kaka viona itu adiknya Azka yg di culik oleh Melisa
2025-03-18
0