Chapter 6

Happy Reading

Azka terbangun oleh suara jeritan seorang wanita. Ia mengumpat lalu perlahan membuka matanya, tetapi kepalanya yang terasa sakit membuat Azka memejamkan matanya kembali.

"Apa yang sudah kamu lakukan padaku?"

Mendengar teriakan seseorang membuat Azka mencoba untuk membuka mata. Ia meringis menahan pening di kepalanya. Beberapa kali Azka mengedipkan mata agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.

Saat matanya terbuka ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tempat itu nampak asing baginya.

"Di mana ini?" batin Azka.

"Dasar pria jahat!"

Azka menoleh ke asal suara betapa terkejutnya dirinya saat melihat seorang wanita berasa di sisinya dengan tubuh telanjang. Wanita itu juga menutupi tubuhnya dengan selimut sampai batas dada.

"Siapa kamu dan di mana ini?" tanya Azka seraya kembali melihat sekelilingnya "Dan kenapa kita …."Azka menjeda ucapannya saat ia sadar dirinya juga telanjang. "Oh, ****!"

Azka menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang seraya menggusar rambutnya. Ia kembali menoleh ke arah wanita yang sedang menangis. Dan sekali lagi ia kembali mengulangi kesalahannya. Akan tetapi Azka tidak ingat apapun, yang ia ingat hanyalah ia minum banyak untuk melampiaskan rasa kesal di dalam dirinya.

"Bagaimana ini bisa terjadi," batin Azka.

Azka kembali melihat ke arah wanita di sampingnya yang masih terisak. Ia menyipitkan matanya mempertajam penglihatannya. Ia merasa pernah melihat wanita itu. Setelah beberapa detik berpikir Azka baru sadar jika wanita di sampingnya itu adalah wanita yang pernah ia temui di club malam.

Club malam?

Azka kembali mengedarkan pandangannya dan ia pun mulai mengenali tempat itu. Hotel yang berada di atas club malam.

"Kamu!" Belum sempat Azka melanjutkan ucapanya wanita itu memukulnya dengan bantal.

"Dasar pria jahat!" maki wanita itu.

Awalnya Azka membiarkan wanita itu memukulnya, namun beberapa saat kemudian Azka menahan bantal itu merebutnya lalu membuangnya.

"Awwww!" Azka kembali meringis saat rasa pening di kepalanya kembali.

Setelah itu Azka mengedarkan pandangannya lagi mencari keberadaan pakaiannya. Saat menemukannya Azka langsung menyibakkan selimut, ia beranjak dari tempat tidur untuk mengambil celananya.

Wanita itu melebarkan matanya saat melihat Azka telanjang.

"Apa yang kamu lakukan?" Wanita itu menjerit lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

"Apa kamu tidak bisa diam!" ucap Azka dengan nada bicara yang cukup keras.

"Bagaimana aku bisa diam saat kesucianku telah diambil oleh pria yang bukan suamiku," ujar wanita itu.

"Heh, kesucian apa maksudmu? Lagi pula aku tidak ingat apapun," ucap Azka tanpa rasa berdosa sedikitpun.

"Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku? Aku mencoba menolongmu saat kamu mabuk berat," cicit wanita itu.

"Aku membawamu ke sini. Tapi kamu justru memaksaku," ucap wanita itu lagi.

Wanita itu kembali terisak seraya memeluk kedua lututnya. Dia juga membenamkan wajahnya di antara lututnya.

Tubuh wanita itu nampak bergetar. Hal itu tidak membuat Azka merasa iba justru makin membuat Azka merasa kesal.

"Apa kamu tidak bisa diam! Tangisanmu membuat kepalaku makin sakit," teriak Azka

Wanita itu mendongak lalu menatap Azka tajam dengan matanya yang basah.

"Kamu harus bertanggung jawab," ucap wanita itu.

"Heh, bertanggung jawab? Apa aku tidak salah dengar?" Azka tersenyum sinis seolah sedang mengejek wanita itu.

"Kenapa kamu tertawa! Apa kamu pikir ini lucu!" teriak wanita itu.

"Jangan berani berteriak padaku!" Azka kembali naik ke tempat tidur lalu mencengkram kedua sisi wajah wanita itu. "Aku tidak akan pernah bertanggung jawab kepada wanita murahan sepertimu! Lagi pula aku tidak ingat apapun, aku tidak tahu apakah kita melakukannya atau —"

"Atau apa?" Wanita itu memotong perkataan Azka.

"Mungkin saja kamu sengaja menjebakku!" Azka menghempaskan cengkraman tangannya membuat wanita itu sedikit kehilangan keseimbangan tubuhnya.

"Aku tidak melakukan itu. Aku juga bukan wanita murahan." Wanita itu menatap tajam ke arah Azka. "Aku Viona Alexandria."

"Heh, masih bisa berkilah. Kalau bukan wanita murahan lalu sebutan apa yang pantas untuk wanita yang mau menjual dirinya sendiri?" teriak Azka.

"Aku datang ke club malam itu bukan untuk menjual diri! Aku diculik dan dipaksa untuk melayani pria berengsek sepertimu!" ucap wanita itu dengan tegas.

"Kamu pintar sekali mengarang cerita. Lebih baik kamu pergi sebelum aku kehabisan kesabaran!" Azka melepar wajah wanita itu dengan pakaiannya. "Cepat pakai pakaianmu dan keluarlah!"

Azka berbalik berdiri membelakangi wanita itu. Tarikan napasnya sangat tidak beraturan. Ia merasa kesal kepada dirinya sendiri karena sudah melanggar janjinya kepada kedua orang tuanya. Berulang kali Azka menarik napasnya untuk meredam amarahnya.

Saat Azka tengah memunggungi dirinya wanita itu bergegas memakai pakaiannya. Setelah selesai ia beranjak dari tempat tidur dan kembali mendesak Azka untuk belenggu jawab.

"Aku tidak akan diam. Aku akan terus meminta pertanggungjawaban darimu," ucap wanita yang memiliki Viona Alexandria.

Azka berbalik seraya menatap Viona dengan tatapan enggan.

"Dengar ini baik-baik! Aku Azka Narendra Atmaja tidak akan pernah bertanggung jawab. Lagi pula kamu ini wanita penghibur, 'kan? Tugasmu untuk menghibur para pria di atas ranjang, bukan aku saja. Kamu tidak bisa menuntut klienmu." Azka tersenyum sinis lalu berjalan ke meja nakas. Ia mengambil banyak uang cash dari dompetnya. "Ini yang pantas kamu dapatkan." Azka melempar uang ke wajah Viona.

"Kamu!" Viona membuka mulutnya bersiap untuk membalas perkataan Azka. Namun Viona mengurungkan niatnya, ia justru memunguti uang yang berserakan di lantai lalu mengeluarkan uang dari tasnya. Ternyata uang yang sebelumnya diberikan oleh Azka. "Aku tidak butuh ini!" Viona melepar kembali uang itu ke wajah Azka.

"Sampai ke ujung dunia pun aku akan tetap mengejarmu. Sebelum aku dapatkan apa yang aku mau aku tidak akan tinggal diam." Setelah mengatakan kalimat itu Viona pergi dari ruangan

Azka yang kesal mengikuti Viona. Setelah Viona sudah berjalan melewati pintu Azka menutup pintu itu dengan keras membuat Viona terkejut.

Azka kembali masuk ke kamar. Ia terus mengumpat untuk melampiaskan amarahnya. Saat melihat tempat tidur yang berantakan Azka pun makin kesal.

Azka kembali mengumpat lalu menarik selimut yang berantakan itu. Namun, tiba-tiba Azka terdiam dengan kening yang mengerut saat melihat ke tempat tidur. Azka menoleh sejenak ke arah pintu sebelum ia mendengkus kesal.

"Perempuan sialan!" gumam Azka.

Azka meninggalkan kamar lalu pergi ke kamar mandi. Azka bergegas mandi, ia harus pergi ke tempat tinggal asisten pribadi ayahnya. Ia harus mendapatkan informasi mengenai adiknya. Sebenarnya bisa saja ia bertanya langsung kepada ayah ataupun ibunya, hanya saja Azka tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih saat kembali mengingat kejadian menyakitkan itu.

Terpopuler

Comments

Diana Susanti

Diana Susanti

lupa sek an

2024-07-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!