Chapter 18

Keesokan harinya Entah itu jam berapa Aska terbangun karena tubuhnya merasa tidak nyaman. Merasakan panas dan juga dingin secara bersamaan. Kepalanya terasa pusing dan juga berat. Badannya pun terasa lemas. Belum lagi batuk dan pileknya membuat semakin tidak nyaman.

Azka menarik selimut menutupi tubuhnya sampai batas leher karena rasa dingin yang sudah tidak tertahan.

"Kenapa mendadak badan aku gak enak," gumam Azka.

Azka kembali terpejam meskipun cukup sulit, tetapi akhirnya bisa terlelap kembali.

Di bawah Keisha baru selesai mandi. Ia ingin mengajak Azka untuk menjenguk kakaknya Viona. Namun sampai pukul 11 Azka belum juga terlihat batang hidungnya.

"Bibi, Azka belum bangun?" tanya Keisha kepada salah satu asisten rumah tangganya yang sedang menyapu.

"Saya belum lihat. Biasanya kalau hari Sabtu mas Azka suka ada di tempat gym, tapi tadi saya ke sana mau antar minum ternyata tidak ada," jawab Bibi.

"Kok tumben?" ucap Keisha.

"Mas Irfan juga tadi nanyain. Katanya hari ini ada jadwal ke luar kota. Sudah di telepon tapi tidak di angkat," jelas Bibi lagi.

"Bibi tidak bangunkan?" tanya Keisha.

"Saya tidak berani, Bu. Takut ganggu," jawab Bibi.

"Ya sudah saya yang bangunin saja. Bibi lanjut kerja saja," ucap Keisha diikuti senyumannya.

"Baik, Bu," ucap Bibi.

Keisha menuju lift untuk naik ke lantai atas. Sejujurnya dirinya juga merasa cemas saat sampai siang Azka belum juga bangun. Apalagi mengingat semalam Azka terlihat pucat dan juga lemas.

Keisha mempercepat langkahnya agar cepat sampai. Sesampainya di depan kamar Azka, Keisha mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada sahutan dari sang anak. Keisha bertambah cemas ia kemudian menekan handle dan pintu ternyata tidak terkunci.

"Azka." Keisha kembali memanggil Azka dan tetap tidak mendapatkan sahutan.

Keisha masuk ke kamar yang masih dalam keadaan gelap. Keisha meraba dinding menekan saklar dan lampu pun menyapa. Keisha tersenyum melihat Azka masih menggulung di bawah selimut.

"Azka, bangun, Nak sudah siang. Irfan katanya sudah nunggu kamu," ucap Keisha.

Keisha duduk di tepi tempat tidur memerhatikan Azka yang masih terlelap.

"Azka!" Keisha menyentuh tubuh Azka ia justru melihat keringat begitu banyak di kening sang anak.

Keisha ingin mengusap keringat itu tetapi justru dikejutkan oleh suhu panas di kening Azka.

"Kamu demam nak?" Keisha bangun membuka selimut dan mendapati seluruh tubuh Azka panas.

"Mam, dingin," gumam Azka.

"Kamu sakit kenapa tidak bilang sama Mami," ucap Keisha.

"Azka gak kenapa napa kok, Mam. Azka cuma capek," ucap Azka lirih tetapi masih bisa didengar oleh Keisha.

"Kita ke rumah sakit saja," bujuk Keisha.

"Tidak usah, Mam. Azka istirahat di rumah saja nanti juga sembuh," tolak Azka.

"Tidak ada penolakan," ucap Keisha.

"Tidak mau nanti Azka disuntik," rengek Azka.

"Kamu ini seperti anak kecil saja. Masa takut jarum suntik," ledek Keisha.

Keisha duduk di tepi ranjang sembari mengusap keringat yang ada di kening Azka.

"Ya sudah Mami panggilin dokter saja," ucap Azka.

"Itu lebih baik, Mam." Azka mengangguk kecil.

Keisha berdiri menelpon dokter pribadi dari telepon yang ada di kamar Azka. Sambil menunggu dokter datang Keisha memilih mengompres Azka untuk mengurangi suhu panasnya.

"Padahal Mami ada rencana ngajak kamu jenguk kakaknya Viona eh malah kamu sakit," ucap Keisha.

Keisha menempelkan handuk setengah basah ke kening Azka.

"Besok ajak, Mam kalau Azka baikkan," ucap Azka. "Lagian Mami peduli banget sih sama mereka."

"Mami juga gak tahu. Tapi hati mami mengatakan ada hal baik ketika Viona datang ke sini untuk pertama kali," jelas Keisha.

Azka memandang Keisha sejenak lalu berkata di dalam hatinya, "Mami tidak tahu saja. Bukan hal baik yang datang, tetapi hal buruk."

Setengah jam kemudian dokter pribadi keluarga mereka datang. Dokter laki-laki separuh baya yang sudah akrab dengan keluarga mereka. Keisha segera meminta dokter untuk memeriksa kondisi sang anak.

Dokter bernama Hendra membuka alat untuk menyimpan stetoskop dan mulai memeriksa kondisi Azka.

"Bagaimana keadaannya, Dokter Hendra?" tanya Keisha.

"Hanya kecapean saja." Hendra melepas stetoskop dari telinganya. "Saya berikan beberapa obat. Nanti diminum obat dan vitaminnya."

Keisha duduk di samping Azka untuk menerima obat yang diberikan oleh dokter Hendra. "Terima kasih, Dokter Hendra."

"Sama-sama dan jangan sungkan padaku." Dokter Hendra menepuk pundak Keisha. "Saya permisi dulu dan Azka cepat sembuh ya."

"Terima kasih, Dokter," ucap Azka lirih.

"Sama-sama. Oh iya sudah lama gak main ke rumah saya. Sherly kayaknya kangen sama kamu," ucap Hendra.

"Lain kali Dokter. Atau kalau Dokter ke sini ajak sherly. Tapi Suruh potong kuku dulu Dokter. Azka tidak mau kena cakar lagi," ucap Azka.

"Siap." Dokter Hendra mengacungkan jempol ke arah Azka.

Setelah itu Dokter Hartono dan Keisha tertawa bersamaan.

"Irfan tolong antar Dokter Hendra ke depan," perintah Keisha.

"Baik, Bu. Mari Dokter," ajak Irfan.

Keisha kembali duduk di samping Azka. Ia mengambil bubur yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Bini. Keisha membantu Azka duduk agar mudah untuk makan. Hanya beberapa suapan dan Azka sudah tidak mau makan.

"Ya sudah kamu minum obat dan setelah itu kamu istirahat," ucap Keisha.

Azka mengangguk. Setelah itu membuka mulutnya saat sang ibu memberinya beberapa obat.

"Mami tinggal dulu ya. Kamu istirahat." Keisha mengusap kening Azka lalu menciumnya.

Keisha kembali menyelimuti Azka dan membereskan bekas makan Azka lalu memberikannya kepada Bibi.

"Mam, sekalian minta tolong bilang ke Irfan untuk handle semua pekerjaan Azka," pinta Azka.

"Iya, Sayang," ucap Keisha.

"Kalau butuh apa-apa bilang sama Mami kalau gak sama bibi," ucap Keisha sebelum meninggalkan kamar Azka.

"Iya, Mam." Azka menganggukkan kepala dan mencoba untuk kembali tidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Keisha merasa sangat gelisah. Hatinya mengatakan untuk pergi ke rumah sakit. Akan tetapi ia tidak bisa meninggalkan Azka sendiri. Namun rasa gelisah yang sudah tidak tertahankan Keisha memutuskan untuk ke rumah sakit dan sebelum meminta penghuni di rumah itu untuk menjaga Azka.

Keisha akhirnya pergi ke rumah sakit di antar oleh sopir. Akan tetapi karena terburu-buru Keisha sampai lupa bertanya nama kakaknya Viona kepada Azka membuat Keisha kesulitan bertanya di bagian informasi.

"Aku juga lupa meminta nomor telepon Viona. Kanapa aku jadi lupa seperti ini," gumam Keisha.

"Loh Mami? Mami di sini?"

Keisha menoleh ke sumber suara yang sangat familiar.

"Ya ampun, Viona. Syukurlah Mami ketemu kamu. Mami ke sini mau jenguk kakak kamu. Tapi Mami lupa bertanya kepada Azka siapa namanya dan juga Mami lupa tidak punya nomor kamu," ucap Keisha panjang lebar.

Jujur Viona dibuat terkejut dengan kedatangan Keisha.

"Ya ampun Mami. Tidak usah repot-repot," ucap Viona.

"Tidak apa. Mami tidak repot kok," ucap Keisha.

"Oh iya bagaimana keadaan kakak kamu?" tanya Keisha.

"Kak Brandon sudah lebih baik, Mam," jawab Viona.

"Jadi namanya Brandon?" ucap Keisha diangguki oleh Viona. "Boleh Mami bertemu?"

Viona diam sesaat. Ia merasa ragu mempertemukan Keisha dengan Brandon. Sebab Viona takut jika Brandon berhadapan langsung dengan Keisha tidak bisa mengendalikan diri mengingat kebencian Brandon kepada Keisha amat besar

"Viona? Ada apa? Kenapa melamun?" Keisha menggoyangkan tangan Viona membuat Viona tersadar.

"Maaf Mami. Bukannya tidak boleh. Tapi … kakak sedang tidur," ucap Viona.

"Tidak apa? Mami hanya ingin melihatnya saja," ucap Keisha.

"Ya ampun memaksa sekali wanita tua ini," batin Viona.

"Viona …?"

"Eh, iya Mam. Baiklah, Mam. Mari Viona antar."

"Ya Tuhan semoga saja benar kak Brandon sudah tidur," batin Viona.

Keduanya berjalan beriringan menuju kamar VVIP. Dari situ Keisha bisa menebak jika Viona berasal dari keluarga berada.

Sampai di kamar rawat sang kakak, Viona segera membuka pintu. Ia mengela napas lega sebab sang kakak sudah terlelap.

Keisha sendiri berjalan menuju tempat tidur. Tidak tahu kenapa hatinya berdebar seperti sedang merasakan sesuatu yang tidak tahu itu apa.

Keisha sampai di samping tempat tidur memandangi anak muda yang tidur membelakanginya. Keisha menggerakan tangannya dengan ragu untuk mengusap kening Brandon. Sampai pada akhirnya Keisha dikejutkan dengan sesuatu.

"Ibu!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!