Azka menyusul Viona meskipun tidak ingin, tetapi niat untuk mencari tahu tentang Viona membuat kata tidak berubah menjadi iya. Azka berlari menyusul Viona.
"Viona tunggu!" Azka menarik Viona membuat gadis itu berhenti dan tidak jadi naik ke mobilnya.
"Lepaskan aku! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan kamu." Viona mendorong Azka.
"Jangan terlalu percaya diri! Siapa juga yang ingin berdebat denganmu," elak Azka.
"Kalau begitu menjauh dariku!" suruh Azka.
"Ck, sebenarnya aku benci mengatakan ini. Tapi … aku akan mengantarmu!" ucap Azka.
"Apa?" Viona mengangkat satu alisnya menatap Azka penuh curiga.
"Jangan banyak berpikir!" Azka menarik Viona membawanya masuk ke mobilnya tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu.
Viona sendiri tidak bisa berkutik pikirannya yang kacau membuat ia tidak tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya hanya tertuju kepada sang kakak. Keluarga satu-satunya yang masih ia milik.
Azka membukakan pintu untuk Viona. Lalu berjalan memutar ke sisi lain masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Ke rumah sakit mana?" tanya Azka.
"Mitra Keluarga," jawab Viona.
"Pakai sabuk pengamannya! Aku tidak mau di jalan nanti akan terkena masalah lagi," ucap Azka seraya melajukan mobilnya.
Viona mendengkus sembari menggerutu. Meskipun begitu ia tetap menuruti perkataan Azka.
"Jangan berpikir aku peduli padamu. Mami yang memintaku untuk mengantarmu," ucap Azka membuka percakapan.
"Aku tidak peduli," ucap Viona tanpa melihat ke arah Azka.
"Jadi … kamu tinggal bersama kakakmu?" tanya Azka.
"Bukan urusanmu!" jawab Viona.
"Akan menjadi urusanku jika kita menikah nanti," ucap Azka.
"Siapa yang ingin menikah denganmu?" Viona menatap Azka diikuti senyum mengejek.
"Kamu yang memintaku untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan, bukan?" sindir Azka.
"Heh, kamu akan menyesal sudah membawa aku masuk ke dalam keluargamu," ucap Viona.
"Aku mendapatkan maianan baru yang lumayan menarik. Jadi … aku memutuskan untuk menerimanya," ucap Azka datar.
"Apa bagimu pernikahan itu sebuah permainan?" tanya Viona.
"Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu pernikahan bukan ajang untuk membalas dendam," balas Azka.
"Kamu!" Viona berhenti bicara karena sudah kehabisan kata-kata.
"Kamu yang tidak memberiku pilihan lain, setan kecil," ucap Azka.
"Turunkan aku di sini!" suruh Viona.
"Aku tidak mau. Aku juga ingin bertemu dengan kakakmu untuk meminta restu," tolak Azka.
"Tutup mulutmu!" ucap Viona pelan tetapi penuh penekanan.
"Aku tidak bisa menutup mulut kecuali …?" Azka tersenyum jail.
"Kecuali apa?" tanya Viona.
Azka menoleh ke arah Viona dan mengisyaratkan untuk mencium bibirnya.
Viona membelalakan matanya kemudian memukul lengan Azka. "Dasar laki-laki mesum!"
Azka tertawa lepas karena berhasil menggoda Viona.
Setelah itu tidak ada lagi perdebatan. Suasana menjadi hening seketika. Apalagi saat Viona tiba-tiba meneteskan air mata. Azka tidak bisa berbuat apapun ia bingung bagaimana caranya membujuk seorang gadis jika menangis. Mungkin benar Azka seorang player, tetapi untuk membujuk seorang gadis adalah hal tersulit.
Lagipula apa peduli. Mereka berstatus sebagai musuh. Akan tetapi satu hal yang harus kalian tahu seberapa besar rasa tidak peduli laki-laki tidak bisa melihat perempuan menangis.
"Ini tisu." Azka menyodorkan wadah tisue.
Viona menoleh sekilas dan kembali menatap ke depan.
"Aku tidak butuh dan jangan sok peduli padaku," ucap Viona.
"Aku hanya tidak ingin mobilku kotor karena air matamu. Jadi jangan terlalu percaya diri, Nona," ucap Azka tanpa menoleh ke arah Viona.
Viona tetap diam lalu merogoh tasnya mengambil sapu tangan dan juga ponselnya. Seseorang mengirim pesan mengenai keadaan sang kakak. Tanpa menunggu waktu lagi Viona menghubungi seseorang dan bertanya langsung mengenai keadaan sang kakak.
Azka yang sedang mengemudi sesekali melihat ke arah Viona. Gadis itu menangis. Azka merasa bingung Viona yang menangis tetapi dirinya yang nampak kacau. Apa semua perempuan menyebalkan seperti ini.
"Aku tidak tahu jika kamu bisa menangis?" goda Azka.
"Diam! Lebih baik turunkan aku sekarang!" Viona memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Tidak mau!" Azka menggeleng cepat.
"Turunkan aku sekarang. Kalau tidak aku akan berteriak!" ancam Azka
Azka langsung menghentikan laju mobilnya. "Turun!"
"Apa?" Viona menatap Azka tidak percaya.
"Kamu bilang ingin turunkan? Sekarang turun!" Azka melepas sabuk pengamanannya lalu memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Viona secara langsung.
"Kamu! Dasar laki-laki jahat!" Viona melipat kedua tangannya di depan dada juga sesekali mengusap jejak air mata yang membasahi pipinya.
"Hei, setan kecil. Kamu tidak mau turun? Kita sudah sampai di rumah sakit," ucap Azka.
"Di rumah sakit?" Viona mengedarkan pandangannya. Benar saja rupanya mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Karena Azka dan pikirannya yang kacau membuat Viona tidak menyadari keberadaannya.
"Buka pintunya!" suruh Viona.
"Sudah dari tadi, Setan kecil," ucap Azka. "Cepat turun!"
Azka keluar dari mobil disusul oleh Viona. Keduanya berjalan memasuki bagian dalam rumah sakit. Viona kesal karena Azka terus mengikutinya, tetapi Viona mencoba untuk mengabaikan.
Setelah melewati beberapa lorong dan belokan mereka sampai di ruang IGD. Viona menghampiri seorang laki-laki bernama Niko yang merupakan asisten pribadi kakaknya.
"Kak Niko bagaimana keadaan kakak?" tanya Viona.
"Dokter tadi mengatakan jika pak Brandon butuh banyak darah," jawab Niko.
"Kalau begitu ambil darahku saja," ucap Viona.
"Kita tunggu, Dokter keluar. Kamu bisa bicara langsung dengannya," ucap Niko.
"Oh iya, Kak Niko. Kamu belum menjelaskan padaku bagaimana kakakku bisa kecelakaan?" tanya Viona.
"Maaf, Vio. Sebenarnya aku berbohong. Pak Brandon tidak kecelakaan. Ada yang menusuknya," ungkap Niko seraya menunduk.
Mengetahui kebenarannya membuat Viona kehilangan keseimbangan tubuhnya. Viona pun menjatuhkan dirinya di kursi tunggu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Niko.
"Apa kamu melihatku baik-baik saja?" tanya balik Viona.
"Maafkan aku, Viona. Aku gagal menjaga kakakmu," ucap Andi.
"Tugasmu saat ini hanya mencari tahu siapa orang yang mencelakai kakakku," ucap Viona.
"Itu pasti akan aku lakukan," ucap Niko.
Azka yang berdiri tidak jauh dari Viona hanya diam saja. Dari pembicaraan Viona dan pria itu menjelaskan Viona bukan dari kalangan biasa.
"Siapa kamu sebenarnya, Viona." Azka bertanya di dalam hatinya.
Suasana menjadi hening sebelum seorang dokter keluar.
"Keluarga Brandon Alexander Aditama," panggil Dokter.
"Saya adiknya, Dok." Viona menghampiri Dokter.
"Kakak Anda membutuhkan banyak darah," jelas Dokter.
"Ambil saja darah saya," ucap Viona.
"Golongan darah kakak Anda O. Dan —" Dokter belum menyelesaikan perkataannya dan Viona sudah memutuskannya.
"Apa? Darah O?" tanya Viona. "Tapi golongan darah saya B, Dok?"
"Segeralah cari golongan darah O. Karena stok darah O di rumah sakit ini kosong," jelas dokter.
"Bagaimana ini?" Viona mulai cemas dan bingung.
"Ambil saja darahku. Kebetulan golongan darah saya O, Dok," ucap Azka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments