Azka sudah berjanji kepada kedua orang tuanya untuk berubah. Hal pertama yang Azka lakukan adalah melupakan cintanya kepada Bella. Azka sadar Bella bukanlah jodohnya. Apalagi saat mendengar kabar kehamilan Bella. Untuk bersama Bella menjadi hal yang mustahil. Akan tetapi terkadang rasa penyesalan karena menolak perjodohan mereka dulu masih terasa.
Azka kini menjadi sering pulang ke rumah ketimbang pulang ke apartemennya seperti dulu. Banyak waktu yang ia habiskan bersama kedua orang tuanya terutama Keisha, sang mami. Azka tidak ingin melihat perempuan yang melahirkannya merasa sedih jika terus mengingat anaknya yang entah di mana dan bagaimana kabarnya?
Waktu pun berlalu begitu cepat. Enam bulan setelah kejadian itu perubahan Azka amat besar. Ia menghabiskan waktu dengan bekerja. Tidak seperti dulu setiap ada celah Azka akan pergi diam-diam untuk berkencan. Akan tetapi perubahan Azka tidaklah mudah. Terkadang ada saja teman wanita yang sengaja merayunya. Namun tekad Azka yang bulat membuat Azka bisa melewati semua godaan itu dan dengan tegas menolak ajakan untuk tidur bersama atau bahkan hanya disentuh oleh para wanita.
Hal itu membuat Arya juga Keisha merasa senang. Tidak ada lagi juga kabar buruk mengenai anaknya. Hanya kabar prestasi juga kejayaan sang anak dalam pekerjaannya.
*****
Tengah malam, tepatnya pukul 12, Azka terbangun oleh suara nyanyian selamat ulang tahun. Azka yang saat itu tengah terlelap terkejut saat ia mendengar kegaduhan itu. Seluruh penghuni di rumahnya masuk ke kamarnya. Sang mami membawa kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka dua puluh delapan.
"Selamat ulang tahun, Azka," ucap KeishaKeisha seraya duduk di tepi tempat tidur, tepat di hadapan Azka.
"Thank you, semua." Azka menyibakkan selimut lalu mengambil posisi duduk.
"Ayo, tiup lilinnya! Tapi sebelum itu make a wish dulu," ucap Keisha.
Azka mengangguk kemudian memejamkan matanya. Setelah mengucapkan harapan di dalam hati Azka membuka matanya lalu meniup lilin.
Semua orang yang ada di ruangan itu bertepuk tangan juga mengucapkan selamat kepada Azka. Setelah itu para pekerja di rumah itu keluar meninggalkan ketiganya.
Saat hanya ada Azka dan kedua orang tuanya Azka kembali memeluk sang mami dan papi secara bersamaan. Mereka pun duduk bertiga di atas tempat tidur.
"Sekali lagi terima kasih Mai, Papi," ucap Azka.
"Sama-sama, Sayang." Keisha menggenggam tangan Azka. "Mami tidak tahu waktu berlalu begitu cepat. Ternyata kamu sudah setua ini. Ck, Tapi … sayangnya kenapa kamu belum mau menikah sampai saat ini."
"Ayolah, Mam. Jangan bahas pernikahan," rengek Azka.
"Ck, Mami yakin akan merindukanmu ketika suatu saat nanti kamu menikah," ucap Keisha lagi.
"Memang saat Azka menikah nanti Azka sudah bukan anak kalian lagi," ujar Azka.
"Mami punya teman. Anaknya cantik sekali," ucap Keisha.
Azka menelan air liurnya. Ada kode keras dalam ucapan beliau. Azka langsung melihat ke arah Arya. Raut wajahnya seperti meminta tolong.
"Sudahlah, biarkan anakmu ini memilih pendampingnya sendiri," sela Arya.
Yes!
Azka bersorak dalam hatinya.
"Thank you, Pap." Azka bicara di dalam hatinya.
"Baiklah. Sekali lagi selamat ulang tahun. Doa terbaik untukmu, Nak," ucap Keisha disambut anggukkan oleh Azka.
Suasana menjadi hening sesaat. Keisha memotong kue lalu menyuapi anak dan suaminya.
"Oh iya, sekalian kami mau pamit," lanjut Keisha.
"Memangnya kalian mau ke mana?" tanya Azka seraya memakan kue ulang tahunnya.
"Kami mau pergi ke London pagi ini. Papi kamu ada urusan pekerjaan dan Mami akan ikut," jawab Keisha.
Azka terdiam sejenak seraya menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Keningnya mengerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Azka juga menangkap ketegangan dan kegelisahan di wajah kedua orang tuanya.
"Apa benar urusan pekerjaan. Atau ini menyangkut …?" batin Azka.
"Azka, ada apa? Kenapa kamu melamun?" Pertanyaan Keisha membuyarkan lamunan Azka.
"Apa kalian pergi ke sana untuk berbulan madu." Azka meledek kedua orang tuanya untuk mencairkan suasana.
"Tutup mulutmu!" Mata Keisha mendelik lalu memukul lengan Azka membuat sang anak memekik.
"Mami kejam sekali," rengek Azka seraya mengusap lengannya.
"Rasakan itu. Itu hukuman untuk kamu yang suka meledek orang tua," ucap Keisha.
Ucapan Keisha berhasil membangkitkan tawa ketiganya.
"Jadi kapan kalian berangkat?" tanya Azka
"Kami harus berangkat sekarang. Penerbangan jam 4 pagi," jawab Arya.
"Baiklah, aku akan mengantar kalian," ucap Azka.
"Apa kamu tidak mengantuk?" tanya Keisha.
"No, Mam," jawab Azka.
"Baiklah, kami keluar dulu. Kami akan bersiap-siap," ucap Keisha disambut oleh Azka.
"Azka tunggu di bawah." Azka bicara sedikit keras saat kedua orang tuanya berjalan melewati pintu kamarnya.
"Ya," sahut Arya.
Setelah semuanya siap Azka memasukkannya barang-barang kedua orang tuanya ke bagasi mobil dibantu oleh beberapa pekerja di rumahnya, kemudian ia masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi.
Azka mengendari mobilnya membelah angin malam. Jalanan nampak kosong karena waktu masih tengah malam, hal itu membuat Azka bisa mengendarai mobilnya dengan leluasa.
Saat mobil melaju di jalan bebas hambatan Azka melihat kedua orang tuanya melalui kaca spion di depannya. Kedua orang tuanya menyatukan tangan mereka. Raut wajah kedua orang tuanya juga menunjukkan kegelisahan, tetapi juga memperlihatkan sebuah harapan yang begitu besar.
Sebenarnya dari awal Azka sudah menduga tujuan mereka bukanlah sebuah pekerjaan, mungkin kepergian kedua orang tuanya ada hubungannya dengan anak mereka yang hilang.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam tibalah mereka di bandara. Azka menekan tombol untuk membuka pintu juga kunci bagasi. Kemudian Azka turun menyusul kedua orang tuanya.
Azka menurunkan semua barang bawaan orang tuanya lalu memindahkan ke troli. Saat semua barang bawaan Arya dan Keisha sudah ada di troli mereka berdua bersiap masuk untuk check in.
"Kami pergi dulu ya. Baik-baik di rumah," pesan Keisha.
"Ya, Mam," balas Azka. "Oh ya, Mami papi … semoga sampai di sana kalian mendapatkan kabar baik."
Keisha dan Arya saling menatap kemudian sama-sama melihat ke arah Azka. Mereka bisa menebak jika sang anak tahu tujuan sebenernya mereka ke London.
Keisha langsung memeluk Azka sambil menahan air mata.
"Do'akan kami ya, Nak," ucap Keisha.
"Selalu, Mam," ucap Keisha.
Azka menarik diri terlebih dahulu meminta kepada kedua orang tuanya untuk bergegas atau mereka bisa terlambat untuk check in.
"Kalian hati-hati. Kabari Azka jika kalian sudah sampai," pesan Azka.
"Tentu, Nak." Arya mengacak-acak rambut putra kesayangannya.
"Oh iya Mami lupa." Keisha berhenti melangkah menepuk keningnya sendiri kemudian berbalik melihat ke arah Azka. "Ingat ini Azka, saat kami tidak ada di rumah jangan macam-macam. Jadilah anak yang baik."
"Siap, Bos." Azka memberikan hormat membuat Arya dan Keisha tersenyum seraya menggelengkan kepala mereka.
Beberapa saat kemudian Azka masih berdiri di tempat yang sama seraya memandangi kedua orang tuanya. Dari kejauhan Azka melihat kedua orang tuanya melambaikan tangan mereka dan Azka pun membalasnya. Setelah bayangan kedua orang tuanya lenyap dari pandangannya Azka kembali ke mobil ia pun pergi dari area bandara.
Sepanjang perjalanan Azka mengemudi sambil memikirkan sesuatu. Siapa sebenarnya yang tega menculik adiknya?
Rasa penasaran Azka sangat besar dan rasa penasaran itu membuat dirinya tidak bisa berkonsentrasi mengemudi. Azka memilih masuk ke rest area dan menghentikan laju mobilnya di sana.
Azka keluar dari mobil. Ia bersandar pada badan mobil dengan ditemani oleh sebatang rokok yang terselip di jarinya. Ia masih bertanya-tanya mengenai manusia jahat yang sudah memisahkan bayi dari ibunya.
Pertanyaan yang tidak bisa Azka dapatkan jawabannya membuat ia merasa frustrasi. Isi kepalanya juga mendadak berhenti bekerja. Azka memutar isi kepalanya kembali mencari cara untuk bisa membantu kedua orang tuanya.
Satu batang rokok sudah habis, tetapi Azka belum mendapatkan apapun. Azka pun kembali menyalakan satu batang rokok lagi. Saat dua batang rokok itu habis tiba-tiba Azka mendapatkan sebuah ide. Ia berniat menemui sahabat sang ayah yaitu Tio. Ia ingin tahu semua mengenai apa saja yang terjadi di masa lalu kedua orang tuanya sebelum mereka kehilangan anak kedua mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments