Chapter 2

Azka masih terdiam dengan tubuh gemetar. Tangannya mengepal seraya melihat sang mami berdiri menunduk di belakang suaminya. Mata Azka merah bukan karena marah, tetapi menahan air matanya.

"Satu hal yang harus kamu tahu, Azka! Alasan mami kamu posesif padamu itu hanya karena dia tidak ingin kehilangan satu anak lagi. Dia juga ingin kamu menjadi anak yang baik. Itu saja, Nak," ujar Arya.

"Mam …," gumam Azka.

Keisha mengusap air matanya lalu pergi ke kamarnya. Dirinya tidak akan kuat jika membahas anaknya yang hilang.

"Mam …." Azka ingin mengejar ibunya, tetapi sang ayah mencegahnya.

"Biarkan mami kamu sendiri," cegah Arya.

Azka berhenti melangkah dan menjatuhkan dirinya di sofa diikuti oleh Arya.

"Kenapa tidak ada orang yang menceritakan ini padaku?" tanya Azka.

"Karena mami kamu yang memintanya. Kami juga tidak tega melihat mami kamu. Setiap kali mengenang adikmu mami kamu akan bersedih. Kamu bisa bayangkan betapa hatinya sangat hancur setelah melahirkan dia belum sempat menggendong adik kamu," ungkap Arya.

Arya menceritakan kepada Azka kondisi Keisha setelah tahu bayinya hilang. Dua bulan setelah itu Keisha depresi dan harus mendapatkan perawatan khusus. Akan tetapi perlahan kondisinya membaik berkat dukungan dari keluarganya begitu juga dengan Azka kecil. Lambat laun Keisha mengikhlaskan bayinya meskipun begitu ia masih menanti keajaiban anak keduanya ditemukan.

"Hal ini juga yang membuat kami tidak ingin memiliki anak lagi, Nak," ungkap Arya. Kamu tentunya ingat saat kamu masih kecil dan merengek meminta adik, 'kan?"

Azka menoleh ke arah Arya seraya mengangguk.

"Bukan kami tidak ingin. Hanya saja kami sudah saling berjanji untuk tidak memiliki anak lagi sebelum adikmu ditemukan," jelas Arya. "Tapi … ternyata keberuntungan tidak berpihak pada kami. Sampai detik ini kami belum juga mendapatkan satu petunjuk apapun. Satu harapan kami waktu itu meninggal sebelum mengatakan apapun pada kami."

"Tapi, Pi. Keluarga kita —" Kata-kata Azka dipotong oleh Arya.

"Papi tahu apa yang akan kamu katakan. Tapi kami juga manusia, Nak. Kami tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Hal besar yang kami harapkan cuma satu, sebelum kami meninggalkan dunia ini kami bertemu dengan adikmu," ucap Arya.

Azka membeku pikirannya berkecamuk ia merasa bersalah atas ucapannya kepada perempuan yang sudah melahirkannya. Penyesalan yang ia rasakan membuat cairan bening keluar dari matanya.

"Aku akan menemui mami." Azka berdiri dan kembali dicegah oleh Arya.

"Jangan! Berikan mami kamu waktu untuk sendiri. Biarkan dia tenang dulu. Baru setelah itu kamu bisa bicara banyak dengannya," larang Arya.

"Tapi, Pi —" Ucapan Azka dipotong oleh Arya.

"Percaya sama Papi. Ini sudah malam pergilah istirahat. Dan papi minta berhentilah mengejar Bella. Dia istri kakak kamu." Arya beranjak dari tempat itu dan pergi ke kamarnya. Ia melepas kaca matanya untuk menghapus air matanya yang ada di sudut matanya.

Kehilangan anak selama berpuluh-puluh tahun adalah hal yang sangat menyakitkan bagi Keisha dan Arya. Mereka tidak habis pikir dosa apa yang telah mereka lakukan sampai mereka mendapatkan takdir yang begitu menyedihkan.

Azka sendiri masih berada di tempat yang sama. Ia duduk bersandar di sofa seraya mengusap wajah dan rambutnya secara kasar. Penyesalan ia rasakan mengingat kata-kata yang ia ucapan pada sang ibu.

Cairan bening masih menetes dari matanya. Ia tidak membayangkan kondisi sang mami dulu seperti apa yang diceritakan oleh ayahnya. Azka juga membayangkan rasa sakit yang kedua orang tuanya rasakan setiap kali dirinya merengek meminta seorang adik.

Azka beranjak dari ruangan itu. Ia berjalan menaiki anak tangga. Kakinya lemas, hampir tidak kuat menahan berat tubuhnya menjadikan langkahnya tidak seimbang hingga ia butuh berpegangan pada birai tangga.

Sampai di kamar Azka menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi terlentang. Pandangan menatap langit-langit kamarnya. Azka masih tidak percaya atas apa yang baru saja diungkapkan oleh kedua orang tuanya. Selama berpuluh-puluh tahun dirinya baru mengetahui peristiwa pilu yang dialami oleh keluarganya.

Azka bangun lalu mengambil posisi duduk. Ia beranjak dari tempat tidur berjalan ke balkon kamarnya. Banyak hal yang ia pikirkan hingga membuat kepalanya rasanya ingin pecah. Di ambilnya bungkus rokok dari dalam sakunya. Ia menyelipkan batang bernikotin itu di antara sela jarinya. Setelah menyalakan rokok Azka menghisapnya lalu mengepulkan asap ke udara.

Pikiran kacau mengingat masalah yang terjadi antara dirinya dan Keanu. Dirinya masih merasa tidak percaya akan jatuh cinta kepada Bella setelah wanita itu menjadi kakak iparnya.

Setelah merenung sesaat Azka merasa dirinya sudah sangat salah. Karena cinta butanya pada Bella ia sampai menyakiti Keanu juga kedua orang tuanya.

Azka menarik napas dalam-dalam lalu membuang rokok di tangannya ke lantai. Ia mematikan rokok itu dengan menginjaknya.

Mulai detik itu Azka berjanji tidak akan mengganggu Bella juga melupakan rasa cintanya kepada wanita itu. Setelah itu Azka mengambil ponselnya menghapus semua nomor wanita yang pernah ia kencani.

Azka juga berpikir untuk ikut mencari adiknya. Akan tetapi dirinya tidak memiliki petunjuk sedikitpun tentang adiknya dan Azka tidak tahu apakah sang adik masih hidup atau sudah tiada. Jika benar masih hidup pasti dia sudah dewasa.

Saat pikirannya sedikit tenang Azka masuk ke kamarnya. Ia melangkah ke kamar mandi. Berendam air hangat mungkin bisa membuat ketegangan di kepalanya menghilang.

*****

Keesokan harinya suara ketukan pintu mengusik tidur Azka. Pria itu menggeliat di balik selimut.

"Azka, kamu belum bangun, Nak?"

Azka bangun seraya mengucek matanya menggunakan punggung tangannya. Terdengar kembali suara sang mami membuat Azka bergegas untuk bangun.

"Azka, kamu di dalam, Nak?" panggil Keisha.

"Ya, Mam. Sebentar." Azka menyahut dengan suaranya yang serak.

Azka menyibakkan selimut lalu beranjak dari tempat tidur. Sambil berjalan Azka melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.

"Ya ampun Azka, kamu baru bangun, Nak?" tanya Keisha setelah Azka membuka pintu kamarnya.

"Iya, Mam. Azka sedang malas ke kantor," jawab Azka.

"Ya sudah cuci wajahmu. Mami sudah bawakan sarapan untuk kamu," suruh Keisha.

"Ya, Mam." Azka membuka pintunya lebar-lebar memberikan jalan pada Keisha juga asisten rumah tangga di rumah itu.

Azka langsung masuk ke kamar mandi. Setelah mencuci wajahnya Azka pun keluar. Ia melihat sang mami sedang berdiri di balkon melihat pemandangan komplek. Sikapnya seolah tidak terjadi sesuatu, tetapi raut di wajahnya menunjukkan kesedihan yang teramat dalam.

"Mam," panggil Azka.

Keisha menoleh dengan senyum cerianya.

"Ini sudah siang dan kamu belum makan. Mami tadi masak makanan kesukaan kamu," ucap Keisha.

"Mam." Azka berjalan ke dekat sang mami lalu memeluknya. "I am so sorry, Mom."

"Maafkan Azka jika kata-kata Azka semalam sudah sangat menyakiti Mami," ucap Azka. "Azka janji akan menuruti semua yang Mami mau dan tidak akan membuat Mami sama papi mendengar lagi keluhan orang-orang atas Azka."

Keisha mengangguk seraya membalas pelukan Azka dengan erat kemudian mencium wajah Azka kayaknya mencium seorang bayi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!