Chapter 16

"Darah O? Bagaimana ini?" Viona mulai bingung saat dokter mengatakan Brandon membutuhkan golongan darah O. Selama ini dirinya tidak mengetahui akan hal itu.

Sementara itu Azka yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Ambil darahku saja. Kebetulan golongan darahku O," ucap Azka.

Semua orang menoleh ke arah Azka dan juga baru menyadari akan keberadaan laki-laki itu. Sama halnya juga dengan Niko. Niko melihat Azka lalu bergantian memandang Viona. Niko bertanya kepada Viona menggunakan bahasa isyarat.

"Dia …," ucap Viona.

Niko kembali memerhatikan Azka menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Setelah memperhatikannya beberapa saat mata Niko terbelalak mengetahui jika laki-laki itu adalah Azka.

"Benar Anda memiliki golongan darah O?" tanya Dokter.

"Ya," jawab Azka singkat.

"Kalau begitu ayo! Jangan membuang-buang waktu lagi," ajak Dokter.

"Tunggu, Dokter. Aku tidak mau menerima sumbangan darah dari dia," tahan Viona.

"Kenapa? Golongan darah O harus segera didapatkan untuk menyelamatkan kakak Anda," tanya Dokter.

Viona diam sembari melihat ke arah Azka. Tanpa ragu Viona bicara alasan dari penolakannya.

"Karena … karena dia … dia suka bergonta-ganti wanita. Aku takut dia terkena penyakit, Dok," jelas Viona.

Azka memutar bola matanya merasa jengah dengan perkataan Viona. Azka juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Viona dalam hal genting saja masih bisa menjatuhkan orang.

"Kebanyakan nonton drama!" Azka menyentil kening Viona. "Dokter, silahkan tes darah saya."

"Baik." Dokter menoleh ke arah perawat yang ada di samping kanannya. "Suster, tolong."

"Baik, Dok," ucap perawat itu. "Mari, Pak ikut saya."

"Ya ayo." Azka mengangguk kecil lalu melangkah mengikuti sang perawat.

Azka dibawa ke sebuah ruangan untuk di cek darahnya. Dan benar saja golongan darah Azka sama dengan Brandon.

Sepeninggal Azka, Niko mendekati Viona untuk menginterogasinya.

"Viona dia itu …?" tanya Niko.

"Azka Narendra Atmaja," jawab Viona.

"Kamu berhasil mendekatinya?" tanya Niko.

"Ya, setelah berjuang cukup keras," jawab Viona.

Viona tidak bicara jujur kepada Niko. Ia memilih untuk menyembunyikan kebenaran jika Azka sudah tahu rencana balas dendam terhadap keluarganya dan Azka sendiri yang membuka jalannya masuk ke dalam keluarganya.

"Bagus sekali. Terus jerat dia. Setelah itu kamu akan mudah menghancurkan keluarganya. Jika Pak Brandon sadar pasti dia bangga padamu," ucap Niko.

Viona pun tersenyum, senyum yang dipaksakan.

"Lupakan itu dulu. Aku ingin fokus dengan kesembuhan kakakku, Kak Niko," ucap Viona.

"Baiklah. Tapi … aku meminta agar kamu jaga diri baik-baik," ucap Niko disambut anggukkan oleh Viona.

Setelah menunggu selama lebih dari satu jam Viona mendapatkan kabar baik. Kondisi sang kakak sudah melewati masa kritisnya.

Viona merasa bahagia setelah mendengar kabar itu. Ia memutuskan menemui Azka di sebuah ruangan. Sampai di sana Viona melihat Azka tertidur dan sebagian wajahnya di tutupi oleh lengannya.

"Rupanya dia tidur. Aku akan kembali nanti," ucap Viona.

Viona akan pergi, tetapi langkahnya tertahan oleh suara Azka.

"Jangan mengucapkan terima kasih," ucap Azka.

Azka menjauhkan tangannya dari wajahnya. Matanya yang awalnya tertutup kini telah terbuka dengan sempurna. Pandangannya tertuju kepada Viona.

"Bukankah kamu tidur? Kenapa kamu tahu aku datang?" tanya Viona.

"Aku harus tetap waspada meskipun dalam keadaan lemah. Karena aku tidak tahu kapan musuh akan menyerang," ucap Azka.

Viona memutar bola matanya karena merasa jengah. Niat awalnya sebenarnya ingin melihat keadaan Azka dan mengucapakan terima kasih. Jika tahu reaksi Azka seperti itu Viona merasa menyesal tidak membawa sesuatu yang langsung bisa melenyapkan Azka.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Azka.

"Aku sedang memikirkan kapan waktu yang tepat untuk melenyapkan dirimu," jawab Viona.

"Huh, dasar setan kecil," gerutu Azka.

"Baiklah, katakan berapa yang harus aku bayar?" tanya Viona.

"Bayaran untuk apa?" Azka menaikan satu alisnya.

"Untuk darah yang kamu sumbangkan untuk kak Brandon," jawab Viona.

"Kamu pikir aku kekurangan uang hingga mau menjual darahku," ucap Azka.

"Karena aku tidak suka berutang budi. Jadi cepat katakan berapa yang kamu mau." Viona mengambil ponselnya dan masuk ke aplikasi perbankan.

"Apa kamu selalu menilai dan menyelesaikan sesuatu dengan uang?" tanya Azka.

"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ucap Viona.

"Simpan saja uangmu. Anggap saja aku membalas budi karena kamu sudah menolong ibuku tadi. Kita impas," ucap Azka.

"Baiklah, jangan menyesal untuk itu," ucap Viona.

Viona memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Kemudian duduk di kursi di dekat tempat tidur.

"Biar bagaimanapun aku mengucapakan terima kasih. Dia keluargaku satu-satunya dan aku tidak tahu jika sampai dia kenapa-napa," ucap Viona.

"Bagaimana keadaan kakakmu?" tanya Azka.

"Dia masih belum sadar, tetapi sudah melewati masa kritis," jawab Viona.

"Baguslah," ucap Viona.

"Setelah kakakmu sadar cari tanggal untuk pernikahan kita," suruh Azka.

"Kenapa terburu-buru." Viona melirik Azka.

"Aku hanya tidak sabar bermain-main dengamu," jelas Azka. "Bukankah kamu juga yang ingin cepat masuk ke dalam keluargaku."

"Dasar laki-laki aneh," gumam Viona dan Azka mendengar itu.

"Sudah dibantu malah mengatai." Giliran Azka yang menggerutu.

Bukan tanpa alasan Azka ingin cepat menikahi Viona. Karena mugkin setelah mereka tinggal bersama itu akan membuat Azka lebih gampang memantau Viona.

"Pergilah aku mau tidur," ucap Azka.

"Tentu. Aku juga tidak mau berlama-lama di sini." Viona berdiri dan pergi begitu saja.

Viona kembali ke ruang di mana Brandon dirawat. Sepanjang perjalanan ia menggerutu atas sikap Azka. Terkadang baik, tetapi terkadang juga menyebalkan. Sampai ia tidak menyadari sedang menjadi pusat perhatian orang di tempat itu.

"Huh, kenapa juga aku harus peduli," gerutu Viona.

"Viona, kamu dari mana saja?" tanya Niko.

"Aku habis melihat keadaan laki-laki itu. Aku pikir dia mati, tapi tidak," jawab Viona.

Niko mengela napas sembari menatap Viona dengan heran.

Keadaan Brandon sudah lebih baik bahkan sudah sadar dan bisa dipindahkan ke ruang rawat. Viona merasa lega akan hal itu.

Pukul 12 malam Viona masih terjaga menunggui Brandon yang baru sadar.

"Viona aku belikan makanan untukmu. Kamu belum makan dari tadi." Niko masuk ke ruang rawat itu dengan beberapa kantong berisi makanan dan menaruhnya di meja yang ada di sudut ruangan.

"Aku tidak lapar," tolak Viona.

"Viona, kami belum makan dari tadi," bujuk Niko.

"Vio, benar kamu belum makan dari tadi?" tanya Brandon.

"Bagaimana aku bisa makan melihat Kakak dalam kondisi seperti tadi," jawab Viona.

"Sekarang aku sudah baik-baik saja. Kamu makanlah aku tidak mau kamu sakit." Brandon menggenggam tangan Viona.

"Baiklah, Kak!" Viona beranjak dari kursi menuju sofa.

Saat membuka kotak makan Viona teringat Azka. Memikirkan apakah Azka sudah makan atau belum.

"Aku pergi dulu." Viona pergi ke ruang Azka beristirahat dengan membawa makanan.

"Vio, kamu mau ke mana?" tanya Brandon, tetapi tidak mendapatkan menjawaban dari Viona. "Ck, anak itu."

"Pak —" Ucapan Niko dipotong oleh Brandon.

"Sudah aku bilang selain dikantor jangan memanggilku dengan sebutan itu," sela Brandon. "Kamu sudah seperti kakakku sendiri.

"Baiklah. Brandon … apa kamu yakin menjadikan Viona sebagai umpan untuk masuk ke keluarga Atmaja?" tanya Niko.

"Kenapa? Itu rencana kita dari awal, 'kan?" tanya balik Brandon.

"Entahlah, aku ragu. Aku takut Viona justru terjebak sendiri nantinya," jawab Niko.

"Kamu mengenal Viona, 'kan? Dia benci laki-laki macam Azka," ucap Brandon.

"Ya, mudah-mudahan saja," ujar Niko.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!