Azka menyeringai mendengar pengakuan Viona. Ternyata gadis kecil itu sangat nekad lebih nekad dari perempuan-perempuan lain yang pernah dekat dengan dirinya. Padahal umur Viona bisa dibilang jauh lebih muda.
"Kamu ingin masuk ke dalam lingkaran keluargaku?" tanya Azka.
"Ya. Aku ingin menjadi bagian dari keluargamu tapi bukan karena aku suka. Tapi karena aku membenci keluargamu!" ucap Viona penuh penekanan.
Lagi-lagi Azka dibuat terkejut dengan pengakuan Viona.
"Why ...?" tanya Azka lirih.
"Karena aku membencimu dan juga keluargamu terutama wanita yang kamu panggil mami itu," jawab Viona penuh penekanan.
"Kamu! Apa alasanmu?" Azka mengencangkan cengkraman tangannya membuat Viona mengerang.
"Arrght!" Meskipun merasakan sakit, tetapi tidak membuat Viona menjadi lemah. Justru api kebencian semakin membara. Viona kembali menatap Azka dengan tajam. "Karena ibumu ... ibuku melenyapkan diri. Ibumu perempuan jahat!"
Azka sangat marah mendengar penuturan Viona. Dan karena amarah itu Azka kembali menekan pergelangan tangan Viona membuat Viona mengerang kesakitan.
"Jangan pernah bicara hal jelek mengenai ibuku!" ucap Azka.
"Tapi itulah kenyataannya!" balas Viona. "Ibumu menjadi penghalang antara ibuku dan ayahmu. Ibumu perempuan jahat!"
"Diam! Berhenti bicara buruk tentang ibuku! Atau aku akan —" Ucapan Azka terpotong oleh Viona.
"Atau apa? Kamu akan melenyapkan aku?" sela Viona.
"Heh, tidak semudah itu. Aku belum bermain-main denganmu, setan kecil!" Azka menyeringai licik.
"Lepaskan aku!" Viona kembali memberontak, tetapi masih tidak bisa melepaskan diri dari Azka.
"Sekarang katakan siapa ibumu?" tanya Azka.
"Aku tidak akan memberitahumu," tolak Viona.
"Kalau kamu tidak mau memberitahukan padaku jangan harap aku mau melepaskanmu," ancam Azka.
"Aku bisa melepaskan diriku sendiri," tantang Viona.
"Heh, coba saja!" Azka menyeringai licik lalu mulai menjelajahi setiap inci tubuh Viona bahkan sampai ke pusat inti tubuh Viona.
Viona menahannya meskipun jiwanya rasanya begitu sakit saat Azka mulai menyentuh inti tubuhnya. Viona mulai terisak dan berhasil mengusik Azka.
Azka pun bangun dari atas tubuh Viona lalu kembali memakai kemejanya.
"Baiklah jika kamu tidak ingin mengatakannya. Aku bisa mencari tahu ini sendiri," ucap Azka seraya memgancing kemejanya.
Azka kembali duduk di sofa di dekat Viona yang sedang merapikan pakaiannya. Meskipun wajah Viona tertutup oleh rambut panjangnya, tetapi Azka bisa tahu jika gadis itu sedang menangis.
"Heh, baru seperti ini kamu sudah menangis. Jangan sok ingin bermain-main demganku," ucap Azka.
"Aku pasti akan membalas ini. Lihat saja," ucap Viona.
"Baiklah, aku akan menunggu itu." Azka tertawa kecil. "Ayo kita bermain-main. Kita akan lihat siapa yang kalah!" tantang Azka.
"Baik, aku terima tantanganmu!" Viona menatap Azka dengan tajam dan mata yang basah.
"Kita mulai hari ini, setan kecil!" Azka ingin menyentuh pipi Viona, tetapi berhasil di tepis oleh Viona.
"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" ucap Viona.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Azka kembali mencengkeram pergelangan tangan Viona.
"Heh, harusnya aku tahu. Kamu ini pembangkang." Viona menarik tangannya lalu melipatnya ke dada.
"Aku lapar," ucap Viona.
"Kamu mengatakan apa?" Azka menaikan satu alisnya.
"Apa pendengaranmu bermasalah? Aku lapar!" Viona berteriak di dekat telinga Azka.
"Dasar setan kecil!" Azka mengusap-usap telinganya yang berdengung.
"Aku lapar, cepat pesankan aku makanan," ucap Viona.
"Kamu berani menyuruhku!" Azka mendelikan matanya.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Aku saja yang pesan. Sekalian aku kirim pesan ke polisi jika di sini sudah terjadi penculikan dan tindak penganiayaan," ancam Viona.
"Kamu!" Azka menahan geramannnya lalu mengambil ponselnya. "Dasar setan kecil."
Viona terkikik geli melihat ekspresi wajah Azka. Jika dilihat dari dekat wajah Azka memang sangat mempesona. Tanpa sadar Viona terus memandangi Azka yang sedang menggerutu melupakan kejadian beberapa saat yang lalu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Azka.
Viona terlonjak mendengar suara Azka yang sedikit keras.
"Kamu dengar tidak?" tanya Azka sewot.
"Apa saja," jawab Viona tidak kalah keras.
"Apa saja itu yang seperti apa?" tanya Azka.
"Ya apa saja," jawab Viona.
"Kalau kamu mau ngajak aku berantem katakan saja secara langsung. Jangan membuat aku bingung," ucap Azka.
"Ck, baiklah. Dasar laki-laki tidak peka." Viona berpikir sejenak. "Aku mau pizza, burger, spagetti, ayam bakar, rendang, dan —" Ucapan Viona dipotong oleh Azka.
"Apa kamu bisa makan sebanyak itu?" sela Azka.
"Tentu saja. Makan kamu sekaligus juga aku bisa," jawab Viona asal.
"Benarkah?" Mendengar ucapan Viona membuat pikiran Azka traveling.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Viona saat m|lihat Azka melamun.
"Kau mengatakan tadi bisa memakanku sekaligus, 'kan. Ayo buktikan," ajak Azka.
Viona mengerutkan keningnya, ia tidak paham apa yang diucapkan oleh Azka. Namun saat melihat Azka membuka kancing kemejanya, Viona sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
"Hah, dasar otak mesum!" Viona mendorong wajah Azka.
"Mana ponselmu biar aku yang pesan sendiri saja." Viona merebut ponsel dari tangan Azka dan memesan apa yang ia inginkan. "Nih sudah!" Viona mengembalikan ponselnya kepada Azka.
"Jangan sembarangan mengambil barang milik orang lain," ucap Azka.
"Jangankan ponselmu, mengambil nyawamu tanpa izin juga akan aku lakukan," ucap Viona.
Azka meletakkan ponselnya lalu menarik tengkuk Viona. Azka meraup bibir Viona dengan rakus hingga Viona tidak bisa berbuat apa-apa.
"Emmmp!" Viona menepuk-nepuk pundak Azka karena dirinya hampir kehabisan napas.
Viona menarik napas berulang-ulang mengisi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.
"Kamu benar-benar sudah gila. Kamu baru saja membuat aku hampir kehabisan napas," ucap Viona.
"Itu pelajaran karena kamu bicara seenaknya padaku. Aku ini lebih tua darimu. Meskipun kamu membenciku setidaknya bicaralah yang sopan padaku," ucap Azka.
"Kamu saja tidak punya sopan santun sok sokan mengajariku sopan santun," gerutu Viona.
"Kamu bicara sesuatu?" tanya Azka.
"Tidak!" jawab Viona dengan cepat.
"Hah, sudahlah. Bicara denganmu membuat aku sakit jiwa." Azka pergi meninggalkan Viona.
"Sekarang saja kamu sudah sakit jiwa!" Viona melempar bantal ke arah Azka.
Hening.
Suasana hening seketika setelah Azka pergi. Entah ke mana ia pergi?
Padahal bisa saja Viona pergi dari tempat itu, tetapi Viona sudah merasa sangat kelaparan dan rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga untuk kabur. Tenaganya sudah habis saat melakukan perlawanan. Bukan hanya itu saja, apartement Azka terlihat sangat rapi dan memiliki pemandangan yang indah.
Tidak lama setelah itu ada suara bel. Viona akan membuka pintu, tetapi kalah cepat dengan Azka. Lagi-lagi Viona dimajakan dengan pemandangan yang begitu indah. Penampilan Azka sudah berubah. Laki-laki nampak sangat segar sepertinya baru saja mandi.
"Ya, Tuhan sadarkan aku," batin Viona.
"Cepat makan!" Azka meletakan beberapa paper bag berisi berbagai banyak makanan. "Habiskan! Kamu butuh tenaga banyak untuk melawanku nanti."
"Baiklah." Viona dengan segera melahap makanan itu.
"Makannya pelan-pelan! Aku tidak akan merebutnya." Azka mendengkus saat ucapannya diabaikan oleh Viona.
"Habiskan makananmu dan ikut aku!" suruh Azka.
"Kamu mau bawa aku ke mana lagi?" tanya Viona.
"Kau menginginkan masuk ke dalam keluargaku, 'kan? Aku akan mengabulkannya," jawab Azka.
Maaf semua baru bisa, up. Terima kasih juga yang masih baca karyaku ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments