Chapter 17

Viona berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan di mana Azka istirahat sebelumnya dengan membawa kotak makan. Saat akan makan Viona mengingat Azka. Apakah laki-laki itu sudah makan atau belum.

Viona menjadi merasa tidak enak meninggalkan dia sendiri. Meskipun benci, tetapi ia merasa masih memiliki hutang budi. Berkat donor darah dari Azka kakaknya bisa selamat.

"Semoga dia masih ada. " Viona berharap di dalam hatinya.

Sampai di tempat itu Viona tidak mendapati keberadaan Azka. Hanya perawat yang sedang merapikan tempat tidur.

"Loh, Sus di mana laki-laki yang tadi di sini?" tanya Viona.

"Dia sudah pulang, Mba," jawab perawat itu.

"Apa? pulang?" Viona mengerutkan keningnya. Azka pulang dan tidak berpamitan. "Dasar orang tidak punya sopan santun."

"Iya, Mba. Seseorang datang menjemputnya tadi," jelas perawat itu.

Viona manggut-manggut mendengar perkataan perawat.

"Baguslah jika dia tidak pulang sendiri. Aduh … kenapa juga aku peduli padanya," batin Viona.

"Kalau begitu saya permisi, Sus," ucap Viona.

"Silakan, Mba" balas perawat itu.

Viona pergi dan kembali ke ruang rawat sang kakak. Saat akan membuka pintu ternyata pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam memunculkan Niko dari baliknya.

"Apa kamu habis menemui laki-laki itu?" tanya Niko.

"Ya." Viona mengangguk.

"Kenapa kamu begitu peduli dengannya. Kamu masih ingat tujuan kita, 'kan?" ucap Niko.

"Aku masih ingat. Tapi hari ini dia sudah menolong kak Brandon. Aku punya hutang budi padanya. Aku hanya ingin membalasnya," jelas Viona.

"Aku harap begitu." Niko membuka kacamatanya diikuti helaan napasnya yang cukup berat.

"Maksud Kak Niko apa?" Viona merasa kesal dengan perkataan Niko. Dari ucapannya terdengar seperti meragukannya.

"Sudahlah, lupakan itu. Aku minta jangan kamu katakan kepada Brandon jika Azka sudah mendonorkan darah untuknya," pinta Niko.

"Kenapa?" tanya Viona.

"Kamu tahu kakakmu, 'kan? Dia tidak suka memiliki hutang budi. Apalagi hutang budi kepada musuhnya," jawab Niko.

"Aku tidak janji, Kak," ucap Viona. "Kak Niko pulanglah! Aku yang akan jaga kak Brandon," ucap Viona.

"Aku tidak bisa meninggalkan kalian. Aku akan tetap di sini menjaga kalian," tolak Niko.

"Ada banyak hal yang harus kamu kerjakan. Sebelum kakakku sembuh hanya Kak Niko yang bisa mengurus semuanya," ucap Viona.

"Baiklah. Aku pulang dulu dan jika kamu butuh sesuatu langsung hubungi aku," ucap Niko.

Viona mengangguk lalu masuk ke ruang rawat Brandon.

Sementara itu

Azka baru saja tiba di rumahnya. Sebelumnya ia meminta Irfan untuk menjemputnya karena merasa tidak bisa mengendarai mobil sendiri. Azka merasa aneh, tidak biasanya tubuhnya lemas seperti itu hanya karena mendoronkan darah.

Perasaan tidak enak itu juga yang membuat Azka tidak ingat untuk mengabari Viona. Lagian siapa yang peduli.

"Menginaplah di sini," perintah Azka sebelum keluar dari mobil.

"Baik, Pak," ucap Irfan.

Azka berjalan masuk tetapi baru beberapa langkah Azka berhenti dan berpegangan pada pilar. Azka memejamkan matanya erat-erat sembari menggeleng. Kepalanya terasa sangat berat.

Irfan yang baru saja keluar dari mobil heran melihat atasannya berdiri bersandar pada pilar sembari memegangi keningnya. Irfan pun menghampiri Azka.

"Pak Azka, Anda tidak apa-apa?" tanya Irfan.

"Tidak. Hanya sedikit pusing," jawab Azka lirih.

"Mau saya bantu jalan, Pak," tawar Irfan.

"Ya." Azka mengangguk menerima tawaran Irfan.

Irfan langsung melingkarkan tangan Azka ke pundaknya lalu berjalan masuk.

"Di sini saja, Fan." Azka menunjuk sofa panjang di ruang tengah.

"Gak langsung ke kamar saja. Supaya Bapak bisa beristirahat," ucap Irfan.

"Tidak usah. Di sini saja. Terima kasih ya." Azka berucap sambil memijit keningnya.

"Baik, Pak. Kalau begitu saya keluar dulu. Jika perlu apa-apa saya di luar," ucap Irfan yang langsung dianggukki oleh Azka.

Setelah Irfan keluar Keisha keluar dari kamar karena sebelumnya mendengar suara mobil Azka.

"Azka kamu sudah pulang?" Keisha berjalan ke ruang tengah dan mendapati Azka di sana.

"Bagaimana keadaan kakaknya Viona?" tanya Keisha.

"Mam, anaknya Mami itu Azka. Kenapa yang ditanya malah keadaan orang lain," protes Azka.

Keisha dibuat terkekeh oleh perkataan Azka apalagi melihat raut wajah Azka yang nampak sangat lucu.

"Dasar kamu ini." Keisha duduk di samping Azka. "Kamu kenapa kelihatan pucat? Kamu sakit?" Keisha mengusap kening Azka.

"Tidak, Mam." Azka merebahkan kepalanya di pangkuan Keisha. "Kakaknya setan kecil itu —" Ucapan Azka dipotong oleh Keisha.

"Viona," sela Keisha.

"Ya,ya,ya. Kakaknya bocah itu kehilangan banyak darah dan kebetulan darahnya sama kaya Azka. Jadi Azka mendonorkan darah Azka ke dia," jelas Azka.

"Anak baik," puji Keisha.

"Jelas dong, Azka." Azka membusungkan dada membuat Keisha tertawa.

"Oh iya, kaki Mami masih sakit tidak? Lalu perasaan Mami bagaimana?" tanya Azka seraya melihat kaki sang ibu.

"Jangan cemas. Kaki dan perasaan Mami sudah baik-baik saja. Papi kamu tadi pulang terus bawa Mami ke dokter," jawab Keisha.

"Ngomong-ngomong soal papi. Beliau ke mana?" tanya Azka.

"Papi pergi ke Bandung. Harusnya tidak menginap. Tapi karena tadi papi kamu pulang lebih dulu jadi papi terlambat sampai Bandung," jawab Keisha.

"Secinta itu papi sama Mami," ledek Azka.

"Iya dong. Mami beruntung bisa berdampingan dengan papi kamu," ucap Keisha.

Suasana menjadi hening sesaat.

"Mam, bilang sama Papi jangan terlalu keras bekerja. Papi juga harus menjaga kesehatannya sendiri." Azka menuntun tangan Keisha untuk memijit keningnya.

"Mami sudah mengatakan kepada papi kamu. Berkali-kali bahkan. Tapi … papi kami tidak mau mendengarkannya." Wajah Keisha berubah menjadi muram.

"Sebenarnya … papi berkerja begitu keras hanya untuk bisa melupakan masalahnya. Papi kamu adalah orang yang paling merasa bersalah atas hilangnya adik kamu. Dia merasa bersalah karena kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan anak," ucap Keisha.

Keisha bercerita sambil menahan air mata. Namun sekeras apapun berusaha tetap gagal. Air matanya keluar membasahi pipinya.

"Mam …." Azka mendongak dan terkejut melihat sang ibu sedang menangis. Azka bangun dan mengusap air mata di pipi ibunya.

"Aku akan bantu sebisa mungkin untuk menemukan adik Azka. Meskipun nyawa menjadi taruhannya," ujar Azka.

Keisha langsung membumkam mulut Aska dengan tangannya diikuti gelengan.

"Jangan bicara seperti itu, Nak! Mami sudah kehilangan satu anak dan Mami tidak mau kehilangan satu anak lagi. Sekarang lebih baik kamu istirahat. Wajah kamu terlihat pucat," ucap Keisha seraya mengusap jejak air matanya sendiri.

"Baiklah." Azka kembali bersandar ke sofa yang ia dudukki dengan mata terpejam karena kembali merasakan pusing.

"Kamu kayaknya lagi gak baik-baik saja." Keisha menempelkan tangannya ke kening Azka untuk mengecek suhu badannya. "Mami antar ke kamar ya," tawar Keisha.

"Iya, Mam." Azka menganggukkan kepala.

Keduanya beranjak dari ruang tamu. Keisha berjalan merangkul pundak Azka dengan rasa cemas. Tidak biasanya Azka terlihat lemas seperti itu.

Terpopuler

Comments

Ina Karlina

Ina Karlina

fix Brandon itu adiknya Azka yg hilang
dan dia yg akan menghancurkan keluarga nya sendiri itu maksudnya tujuan s Melisa

2025-03-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!