Chapter 13

Setelah makan Azka membawa kembali Viona. Rencananya Azka membawa Viona menemui ayah dan ibunya. Entah apa yang sedang Azka rencanakan?

Mereka berjalan beriringan menuju basement. Nampak akur padahal dalam hati masing-masing menyimpan rasa ketidaksukaan.

"Aku kenyang sekali," seru Viona seraya mengelus perutnya.

"Makan sebanyak itu jika tidak kenyang namanya kebangetan?" sindir Azka.

"Huh, kamu senang sekali meledekku." Viona memberengut

"Kamu ingat, bukan? Status kita saat ini adalah musuh. Jadi ... jangan harap aku akan bersikap baik padamu," ucap Azka.

"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengamu. Aku ingin bertanya apa tujuanmu membawa aku menemui orang tuamu lagi? Apa kamu ingin mengadu pada mereka jika aku membenci mereka?" tanya Viona.

Azka melirik ke arah Viona lalu berjalan mendekati Viona terus berjalan membuat Viona berjalan mundur dan terduduk di cup mobil. Azka langsung mengunci pergerakan Viona dengan menaruh kedua tangannya di samping tubuh Viona.

"Aku bukan pengecut! Ini permainan kita berdua. Jadi aku tidak akan membawa-bawa orang lain. Lagi pula menghadapi setan kecil seperti cukup aku saja," ucap Azka.

"Lalu untuk apa kamu membawaku ke sana?" tanya Viona lagi.

"Kita sedang melakukan permainan. Jadi ... aku punya strategi sendiri, setan kecil." Azka menyentil kening Viona.

"Benarkah? Baiklah, aku ingin lihat strategimu seperti apa?" ucap Viona diikuti seringai di bibirnya.

"Kalau begitu jangan buang waktu lagi!" Azka menyeret Viona memasukkan ke mobilnya.

Setelah itu Azka berjalan memutar ke sisi lain dan masuk ke mobil lalu duduk di bangku kemudi. Tidak ada lagi pembicaraan dan perdebatan. Mereka diam sepanjang perjalanan. Jalanan yang padat dan macet membuat Viona memilih untuk tidur.

Azka yang ada di sampingnya diam-diam mencuri pandangan. Ia melihat Viona yang nampak manis saat tidur, tetapi jika ia bangun nampak seperti singa kelaparan.

"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu membenci keluargaku, terutama mami? Ada masalah apa sebenarnya?" batin Azka.

Karena melamun konsetrasi Azka terganggu dirinya menabrak kendaraan di depannya. Azka begitu terkejut begitu juga Viona.

"Ada apa?" tanya Viona.

"Ini semua gara-gara kamu." Azka keluar dari mobil saat ada orang yang keluar dari mobil yang ia tabrak.

"Eh, memang apa salahku?" Viona kesal sampai ingin memukul Azka.

Awalnya Viona hanya diam di mobil, ia menahan tawa melihat Azka kena marah sesorang. Namun, Viona terkejut saat orang itu mendorong Azka dan hampir memukul Azka.

Viona segera keluar dan menahan Azka yang ingin memukul pemuda yang merupakan pemilik mobil tersebut.

"Azka, jangan!" tahan Viona.

"Minggir, setan kecil!" suruh Azka.

Ya Tuhan!

Viona ingin meremas mulut Azka yang seenaknya memanggilnya dengan sebutan setan kecil di depan umum.

"Dia pacarmu! Bilang kalau gak bisa nyetir mobil jangan nyetir. Lihat mobil mahal milikku hancur." Pemuda itu menunjuk bagian belakang mobilnya nyang penyok dan lampu yang pecah.

Viona menahan tawa. Mobil mahal? Jika dibandingkan dengan mobil milik Azka jelas sangat jauh. Harga mobil milik Azka bisa untuk membeli 10 mobil baru yang sana dengan mobil tersebut.

"Eh, dengar! Aku sudah minta maaf dan akan mengganti mobil milikmu ini. Tapi cara bicaramu itu seperti orang yang tidak punya etika," ucap Azka.

Perdebatan itu berhasil menyita perhatian bahkan membuat kemacetan panjang. Banyak orang yang meminta keduanya untuk menyingkir, tetapi pemuda itu menolak jika Azka tidak mau meminta maaf dengan bersujud di kakinya.

"Itu namanya keterlaluan!" ucap Viona. "Sekarang lebih baik katakan apa maumu?" tanya Viona.

"Belikan aku mobil baru yang sama seperti ini!" jawab pemuda itu.

"Sudah aku duga," ucap Azka.

"Terserah, sujud atau mobil baru," ucap pemuda itu.

"Aku minta nomor rekening kamu," ucap Viona.

"Ini nih, perempuan pengertian. Dari pada ikut laki-laki ini mending ikut aku." Pemuda itu mencoba menyentuh dagu Viona, tetapi di tepis oleh Azka.

"Cepat berikan! Harga mobil ini tidak lebih dari uang jajanku selama sebulan," ucap Viona.

Setelah menerima nomor rekening pemuda itu Viona segera mengirim sejumlah uang senilai mobil tersebut dan setelah itu masalah pun selesai. Azka kembali ke mobilnya dan Viona membawa mobil milik pemuda itu yang kini sudah menjadi miliknya.

Hampir dua jam mereka melewati perjalanan termasuk juga waktu yang terbuang karena perdebatan itu pada akhirnya mereka sampai di kediaman Azka. Viona lebih dulu turun dari mobil, sedangkan Azka masih di dalam mobil sambil memerhatikan Viona.

"Siapa sebenarnya gadis itu? Aku tidak bisa melacak siapa keluarganya," batin Azka.

"Hei, kamu mau di mobil saja atau mau mengajakku masuk?" Viona mengetuk kaca mobil Azka.

Azka menurunkan kaca mobilnya dan melihat Viona membuat gadis itu mengerutkan keningnya.

"Kenapa melamun?" tanya Viona membuat lamunan Azka buyar.

"Tidak ada?Hanya tidak habis pikir kenapa kamu tadi mau memberi pemuda gila itu uang?" jawab Azka.

"Hanya agar aku bisa cepat pergi saja," ucap Viona. "Dan asal kamu tahu, tidak kurang dari 24 jam uangku akan segera kembali," lanjut Viona.

"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Azka.

"Kamu tidak perlu tahu," jawab Viona. "Oh ya, apa kamu masih ingin tetap di sini atau membawa aku masuk?"

"Tunggu sebentar." Azka menutup kembali kaca mobilnya sebelum keluar dari mobil. "Ayo masuk!" Azka menarik Viona masuk ke dalam rumah.

"Mam, aku pulang," seru Azka. "Mami di mana?"

"Ya, Nak. Mami di dapur," jawab Keisha.

Azka menarik Viona menuju dapur untuk menemui Keisha. Viona yang bertubuh langsung kesulitan untuk menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Azka.

"Apa kamu tidak bisa pelan-pelan?" protes Viona tetapi diabaikan oleh Azka.

"Mam, lihat siapa yang aku bawa," ucap Azka.

"Siapa?" Keisha tersenyum saat melihat Viona.

"Setan kecil," ucap Azka.

"Azka ...!" Keisha mendirikan matanya.

"Ya, Mam. Ini calon menantu Mami!" Azka menarik kerah Viona menentangnya seperti anak kucing.

Azka jangan bersikap seperti ini. Viona Mami minta maaf ya," ucap Keisha.

"Kenapa Mami minta maaf. yang salah pria tua ini." Viona menjulurkan lidahnya dan dibalas Azka.

"Azka, jaga sikapmu." Keisha memukul pundak Azka membuat Azka tertawa.

"Mami sedang apa?" tanya Azka.

"Masak untuk makan malam," jawab Keisha.

"Kebetulan, suruh saja Viona membantu," usul Azka.

"Kenapa memangnya?" tanya Viona.

"Kamu bilang ingin menjadi menantu mami, 'kan. Belajar masak sana," jawab Azka.

"Tapi —" Ucapan Viona dipotong oleh Azka.

"Aku ke kamar dulu," sela Azka.

"Issh, anak itu?" decak Keisha.

"Viona jangan marah ya. Dia memang seperti itu, tapi sebenarnya dia baik kok," imbuh Keisha.

"Iya, Mam. Justru kalau dia bersikap baik aku akan merasa heran," ucap Viona.

"Kamu benar juga." Keisha tertawa begitu juga dengan Viona.

"Ya sudah kamuami duduk saja. Mami lanjut masak dulu sebentar lagi selesai," ucap Keisha.

"Boleh aku bantu. Aku akan sangat bosan jika menunggu," tawar Viona.

"Baiklah jika itu mau kamu," ucap Keisha.

Diam - diam Azka memerhatikan kebersamaan ibunya dan Viona. Azka ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Viona.

"Jika kamu berani menyakiti mami. Aku akan membuat perhitungan dengamu setan kecil," batin Azka.

Beberapa saat Azka menunggu tidak ada yang mencurigakan, justru keduanya terlihat akrab.

"Aktingmu hebat juga, setan kecil," gumam Azka.

Azka masih terus memerhatikan dan situasi nampak aman dan terkendali. Azka memilih untuk pergi karena sangat membosankan berdiri di tempat itu. Namun baru beberapa langkah terdengar teriakan sang ibu.

"Mami!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!