Chapter 5

Azka melihat ke arah wanita yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita yang nampak lugu dengan rambut lurus dan panjang sampai batas pinggang. Parasnya cantik, siapa yang melihat pasti akan suka. Akan tetapi tidak dengan Azka, gadis itu nampak biasa saja. Mungkin karena Azka hanya melihat Bella di matanya.

"Suruh wanita itu pergi!" suruh Azka.

"Hah? Serius?" ucap Erwin, Erick, dan Niko bersamaan.

"Tumben menolak barang baru? Biasanya kamu suka lubang sempit?" tanya Niko.

"Lagi bosan saja." Azka menjawab dengan nada malas.

Alasan Azka menolaknya bukan karena ia sudah berjanji kepada orang tuanya Azka juga tidak ingin merusak perempuan lagi. Sudah berada gadis yang ia ambil kesuciannya dulu. Azka merasa bersalah dengan hal itu.

"Ini bayaran untukmu dan pergi dari sini!" Azka memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada wanita itu.

"Tapi …." Wanita itu nampak ragu untuk menerima uang dari Azka.

"Ambil dan anggap saja kamu sudah menyelesaikan tugasmu," ucap Azka.

"Baiklah, terima kasih." Wanita itu pun pergi setelah menerima uang dari Azka.

"Dan suruh mereka pergi juga!" perintah Azka.

"Mereka? Siapa yang kamu maksud?" tanya Erwin.

Azka menatap tajam para wanita malam di ruangan itu. Membuat para wanita malam itu merinding ketakutan.

"Tapi, Azka —" Ucapan Erick dipotong oleh Azka.

"Kalau begitu aku saja yang pergi." Azka berdiri dan berniat untuk pergi. Namun Erwin langsung mencegahnya.

"Wait!" Erwin mencegah Azka untuk pergi lalu menoleh ke arah para wanita malam itu. "Oke kalian pergilah! Nanti jika kami butuh kami akan memanggil kalian kembali."

Suasana yang tadinya tegang kembali santai saat para wanita malam itu pergi. Hanya tinggal para pria. Mereka kembali duduk dengan ditemani minuman beralkohol.

"Hai, kawan apa benar itu Azka?" gurau Erwin.

"Apa matamu bermasalah? Dia jelas Azka Narendra Atmaja, calon pengusaha muda yang sukses," ujar Erick.

"Bukan begitu. Tumben sekali dia menolak seorang gadis. Lagi pula perempuan tadi lumayan cantik hanya kurang seksi," ucap Erwin.

"Tutup mulut kalian!" Azka melempar bungkus rokok ke arah Erwin membuat mereka tertawa.

"Katakan pada kami! Apa kamu sedang ada masalah. Melihat sikapmu saat ini seperti bukan Azka yang kami kenal," tanya Erwin.

"Entahlah! Aku merasa muak melihat para wanita itu." Azka menaikan satu kakinya ke atas pangkuannya dan kembali menemani wiski.

"Oke, baiklah lupakan mereka. Kita berpesta saja. Anggap saja kita menikmati kebebasan." Erwin mengangkat gelasnya lalu memium wiski yang sama dengan Azka.

Ketiga pria di ruangan itu mulai mengobrol santai. Kadang saling meledek satu sama lain membuat mereka tergelak sendiri. Obrolan para pria dewasa itu juga tidak jauh dari wanita, malam yang panjang, juga kamar hotel. Azka hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dengan obrolan para sahabatnya.

Saat obrolan itu sudah mulai menggila Azka dan yang lainnya dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba masuk. Teman mereka yang Vino baru saja masuk. Semua orang menoleh mereka melihat Vino yang berdiri dengan wajah khawatir serta bingung. Hal itu juga membuat Azka dan yang lainnya merasa heran.

"Kenapa kamu melihat Azka seperti kamu sedang melihat hantu?" tanya Erwin.

"Azka, kamu cepat sekali sampai di sini? Bukankah tadi kamu sedang berkelahi di luar?" tanya balik Vino.

"Berkelahi?" Kening Azka mengerut. Ia justru makin bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Vino.

Pertanyaan itu bukan hanya membuat Azka bingung, tetapi juga membuat bingung ketiga teman mereka.

"Apa kamu sedang berhalusinasi? Sejak tadi Azka bersama kami di sini," ucap Erick.

"Ya itu benar," imbuh Erwin dan Niko.

"Tapi …? Sumpah aku benar-benar melihat Azka di sana tadi," jelas Vino.

"Apa kamu yakin itu aku?" tanya Azka.

"Jangan percaya padanya? Dia pasti sedang bergurau atau matanya sedang bermasalah," ucap Erwin.

"Hei, Vino sebaiknya duduk dan minum ini. Mungkin setelah meminum ini otakmu yang bermasalah itu sembuh." Niko memberikan segelas wiski kepada Vino.

"Sebenarnya aku tidak begitu yakin. Tapi … wajahnya sekilas mirip. Hanya saja postur tubuhnya dia tidak setinggi Azka. Tapi … ck entahlah!" Vino berdecak. Ia dibuat bingung dengan hal yang ia lihat sendiri.

"Kamu melihatnya di mana?" tanya Azka lagi.

"Parkiran mobil. Pria yang aku kira itu kamu berkelahi dengan beberapa pria berbadan kekar. Aku mengubungi kalian tapi tidak ada satupun yang menerima. Maka dari itu aku berlari ke sini. Aku bermaksud meminta bantuan pada kalian. Tapi justru aku dikejutkan oleh keberadaanmu di sini," jelas Vino.

"Dasar tidak waras!" ejek Erwin.

Semua pria di tempat itu kembali mengobrol. Mereka melupakan ucapan Vino tadi. Mereka mengira jika Vino salah melihat saja. Namun tidak bagi Azka. Azka masih tetap saja memikirkanmu hal itu dan tiba-tiba teringat sesuatu.

"Atau jangan-jangan!"

Azka tiba-tiba berlari keluar dari ruangan itu membuat para temannya terkejut.

"Azka, kamu mau ke mana?" teriak Erwin.

Keempat temannya pun mengejar Azka sampai ke parkiran mobil.

"Azka, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Niko.

Azka tidak menjawab pertanyaan dari Niko, ia justru menhampiri Vino.

"Vino, tadi kamu melihat perkelahian itu di sini, 'kan?" tanya Azka.

"Ya, tapi sepertinya sudah selesai," jawab Vino.

"Sebenarnya ada apa, Man? Jangan katakan kamu terpengaruh oleh ucapan si bocah ini?" tanya Erwin.

"Tapi sungguh aku benar-benar mengira dia itu Azka. Wajahnya lumayan mirip," ujar Vino.

"Tutup mulutmu!" Erwin menoyor kepada Vino.

Semua orang kembali fokus terhadap Azka. Mereka merasa heran kenapa Azka sebegitu ingin tahunya dengan pria yang katanya mirip dengannya.

"Azka, ada apa?" Erwin memegang pundak Azka membuatnya terkejut.

"Tidak, tidak ada. Aku hanya merasa penasaran saja," jawab Azka.

Tidak mungkin bagi Azka untuk mengatakan jika ia mengira pria itu adalah adiknya. Azka belum ingin menceritakan hal itu kepada para sahabatnya.

Azka berdecak, karena terlalu ingin menemukan adiknya ia sampai berharap pria itu adalah adiknya. Padahal belum tentu. Banyak orang di dunia ini yang memiliki wajah mirip tetapi bukan saudara.

"Lupakan itu. Ayo masuk," ajak Azka.

Azka berjalan lebih dulu diikuti oleh para sahabatnya. Namun langkahnya terhenti saat Erick bicara yang membuat dirinya kesal.

"Hei kawan, aku berpikir jika pria itu tadi benar-benar mirip Azka mungkinkah salah satu orang tuanya pernah memiliki hubungan gelap dengan seseorang," ucap Erick diikuti tawanya.

"Jaga bicaramu!" Azka mendaratkan pukulan di wajah Erick sampai temannya itu tersungkur di lantai. Tidak puas dengan itu Azka membangunkan Erick dengan mencengkram kerahnya.

"Azka, maaf aku hanya bercanda." Benar yang Erick katakan dirinya hanya bercanda dan ingin mencairkan suasana. Hanya saja caranya yang salah.

"Azka, lepaskan dia." Ketiga temannya berusaha memisahkan Azka dan Erick.

"Sekali lagi kamu bicara buruk mengenai kedua orang tuaku, habis kamu!" ancam Azka

Azka pergi setelah mendorong Erick ke tembok.

"Lain kali pikir dulu sebelum bicara," ucap Vino.

Mereka pun menyusul Azka ke tempat mereka berkumpul sebelumnya. Akan tetapi Azka meminta para temannya untuk pergi meninggalkan dia sendiri. Azka membebaskan mereka untuk menghabiskan waktu bersama para wanita malam itu di ruangan lain.

Setelah Azka sendiri, ia menenggak begitu banyak minuman beralkohol sampai ia mabuk. Dan pada esok harinya Azka bangun karena mendengar teriakan seseorang yang ternyata perempuan.

Terpopuler

Comments

Diana Susanti

Diana Susanti

lanjut kak

2024-04-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!