Chapter 4

Dari rest area Azka berniat untuk pergi ke rumah asisten pribadi sang ayah. Namun dalam perjalanan Azka baru tersadar, ia baru ingat waktu masih dini hari pasti asisten pribadi sang ayah masih beristirahat. Azka pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Azka kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemennya. Jarak ke kantor lebih dekat dari apartemen ketimbang rumahnya.

Sampai di apartemen Azka menjatuhkan dirinya di tempat tidur dengan posisi terpelungkup. Beberapa detik kemudian Azka pun berbalik. Kini pandangannya tertuju pada langit-langit kamarnya. Dirinya masih memikirkan tentang adiknya yang hilang. Kesal karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan Azka pun memilih untuk mandi.

Setelah setengah jam berada di kamar mandi Azka keluar dengan tubuh yang segar. Ia berjalan menuju lemari sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

Saat membuka lemari Azka tidak sengaja melihat benda-benda laknat beberapa bungkus alat kontrasepsi dan juga pakaian wanita yang entah siapa pemiliknya. Azka mengambil barang-barang itu dan membuangnya ke tempat sampah. Azka tidak ingin lagi melihat barang-barang laknat itu di apartemennya.

Waktu terus berjalan matahari pun sudah menunjukkan diri. Azka juga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Pekerjaan banyak sudah menanti membuat ia melupakan sejenak masalahnya. Ia harus memfokuskan diri pada pekerjaannya, apalagi sang ayah sedang pergi. Ia tidak ingin ada masalah di perusahaan nantinya.

*****

Tepat pukul 7 malam Azka baru selesai bekerja. Ia membereskan barang-barangnya lalu keluar dari ruangan kerjanya. Ia ingin sampai di rumah untuk beristirahat.

Sepanjang perjalanan ke lobi ia mengecek ponselnya. Ada pesan dari sang mami. Beliau mengatakan sudah sampai di London. Azka pun merasa lega mereka tiba dengan selamat. Ia juga berharap ada titik terang atas hilangnya sang adik.

Azka mengetikan jarinya membalas pesan dari sang mami. Sambil mengetik pesan Azka membalas sapaan para karyawan yang juga akan pulang. Setelah pesannya terkirim Azka memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya. Baru saja ponsel itu masuk Azka kembali merasakan getaran. Azka kembali menarik ponsel melihat siapa yang menghubunginya. Ada nama Erwin muncul di layar ponselnya. Azka berhenti sejenak untuk menerima panggilan itu.

Azka bicara sambil berjalan. Sang sahabat memintanya untuk datang ke tempat biasa mereka berkumpul yaitu club malam luxury. Azka tidak langsung mengiyakan ajakan Erwin. Ia sudah berjanji untuk tidak melakukan hal gila seperti dulu. Namun Erwin terus memaksa dia mengatakan sudah menyiapkan pesta kecil untuk merayakan ulang tahunnya. Merasa tidak enak untuk menolak Azka pun setuju untuk datang. Azka masuk ke mobilnya ia meletakkan tas kerja di bangku yang ada di sebelahnya. Ia menyalakan mobil lalu pergi.

Jalanan sudah mulai padat bahkan untuk berjalan kaki pun susah. Dalam situasi seperti itu kesabaran Azka sangat diuji. Bagaimana tidak, baru saja menginjak pedal gas dirinya harus kembali menginjak rem. Jika salah perhitungan pasti akan terjadi masalah. Hal itu juga membuat Azka merasa dua kali lebih lelah.

Saat mobilnya sudah tidak bisa berjalan Azka mengambil ponselnya. Ada pesan masuk. Bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman melihat pesan dari Bella. Namun senyuman itu meredup saat membaca pesan itu. Ternyata Bella memberitahu dirinya akan rencana tujuh bulanan.

Azka menggeram, mengenggam ponselnya dengan erat, dan menahan napas untuk meredam emosi. Azka mengira dirinya tidak akan lagi terpengaruh oleh apapun yang berhubungan dengan Bella. Namun kenyataannya ia salah. Azka memilih meletakan ponselnya kembali ke tempat semula.

Azka memejamkan mata sejenak, menyadarkan kepalanya, menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya. Azka melakukan hal itu berulang-ulang berharap bisa meredam rasa kesalnya. Semua itu berhasil, perlahan rasa kesalnya pun hilang. Azka mencoba kembali menyakinkan hatinya jika Bella adalah kakak iparnya.

Kemacetan mulai mereda dan mobilnya bisa melaju dengan lancar. Sampailah ia di club malam. Setelah memarkirkan mobil Azka turun dan segera masuk. Sudah cukup lama dirinya tidak masuk ke tempat itu, rasanya mulai asing baginya.

Azka berhenti sejenak, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu temannya dan bertanya keberadaan mereka. Setelah tahu di mana, Azka mematikan sambungan telepon. Azka membuka pintu utama club. Dirinya langsung disambut oleh musik keras yang memekikkan telinga dan juga salah satu wanita malam di sana.

"Hai tampan, lama tidak bertemu," sapa wanita malam itu.

Azka menghadang tangan wanita penghibur itu yang akan menyentuh dirinya.

"Jangan menyentuhku! Tanganmu itu kotor," ucap Azka.

Kening wanita itu mengernyit. Ia heran biasanya Azka akan membawanya langsung untuk memuaskan hasratnya. Wanita malam itu tidak menyerah, ia tetap mencoba untuk merayu Azka. Namun yang wanita itu dapatkan justru penolakan Azka yang lebih kasar. Wanita malam itu membelalakan matanya ia kesal dengan penolakan Azka. Tidak ingin dipermalukan lagi wanita malam itu menjauh dari Azka.

Tidak menunggu lagi Azka kembali berjalan melewati para pengunjung lainnya juga wanita malam yang pernah melewati malam bersemangat dulu. Azka naik ke lantai atas ada ruang vvip di sana. Azka membuka salah satu pintu di lantai itu. Ia angsung disambut oleh teman-temannya dan juga ucapan selamat ulang tahun.

Para sahabatnya mempersilakan Azka untuk duduk. Salah satu temannya yang bernama Azka juga memberinya segelas wiski. Azka menerimanya lalu meminumnya.

Azka memilih duduk di dekat jendela yang terbuat dari kaca. Dari tempat itu Azka bisa melihat lantai dansa dipenuhi oleh para pengunjung. Azka teringat kembali dengan kenakalannya dulu.

"Hai, Man? Kenapa diam saja. Apa kamu sedang melihat-lihat wanita mana yang ingin kamu puaskan?" ledek Niko.

Azka menaikan kedua bahunya lalu menghabiskan sisa wiski.

"Aku tidak berminat untuk melakukan hal itu." Azka menaruh gelas di meja.

"Come on, Man? Pilih salah satu dari wanita seksi di bawah sana. Wajahmu terlihat kusut. Sepertinya kamu butuh pelumas," imbuh Erwin.

Azka diam tidak ingin merespon ucapan oara temannya. Ia memilih bermain dengan benda pipih kesayangannya. Mengecek e-mail yang masuk.

"Azka, apa kamu baik-baik saja?" tanya Erwin disambut anggukkan oleh Azka.

Erwin, Niko, dan Erick saling bertukar pandang. Para sahabatnya jelas dibuat heran. Ada apa dengan sahabat mereka yang satu itu. Biasanya Azka orang yang paling bersemangat jika menyangkut dengan kehangatan dan juga ranjang.

Erwin beranjak dari tempatnya, ia duduk di samping Azka. Ia mencoba untuk membangkitkan hasrat Azka.

"Aku siapkan wanita ini untukmu." Erwin duduk di samping Azka dan menunjukkan seorang perempuan malam. "Dia masih baru dan katanya masih perawan." Erwin berbisik di telinga Azka.

Azka menaikkan satu alisnya menatap Erwin bergantian dengan perempuan yang baru saja dikirim oleh anak buah mucikari di tempat itu. Azka melihat perempuan itu dari atas hingga bawah. Hanya dengan memerhatikan sikap perempuan itu Azka bisa menebak perempuan itu memang baru dan mungkin benar masih perawan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!