Chapter 10

Azka dalam kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia masih memikirkan tentang Viona. Sejujurnya ia malas memikirkan gadis itu, tetapi hatinya berkhianat. Rasa penasaran akan gadis itu mencuat setelah Azka melihat banyak hal dari Viona.

Pertama, Viona menolak uang yang ia berikan waktu di hotel dan marah ketika dirinya di sebut wanita malam.

Kedua, gadis itu bahkan tidak malu membuat kerusuhan di depan umum dengan meminta pertanggung jawaban.

Ketiga, jika Viona itu wanita malam pasti dengan mudah dia menyerahkan tubuhnya kembali, tetapi saat di kantor Viona berusaha keras melawan.

Keempat, dengan mudahnya Viona meluluhkan hati mami dan papinya.

Kelima, tentang perumahan cermai yang perumahan elite juga pria yang menjemputnya dengan mobil berharga fantastis.

"Sial!" Azka memukul gagang setir, ia kesal karena pikirannya menjadi kacau gara-gara memikirkan semua tentang Viona.

Setelah melewati perjalanan selama satu jam Azka akhirnya sampai di rumah. Azka merasa lega berharap di rumah dirinya bisa membuang semua tentang Viona. Setelah memarkirkan mobil Azka masuk ke dalam rumah dengan bersiul-siul.

"Kamu sudah pulang? Cepat sekali? Apa kamu bertemu dengan keluarganya?" tanya Keisha.

Azka yang sudah menaiki anak tangga kembali turun saat mendengar suara sang mami.

"Azka tidak mengantarkannya sampai ke rumahnya. Azka menurunkan dia di jalan," jawab Azka tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Apa?" Arya yang sedang berkutat dengan beberapa berkas terkejut dengan jawaban sang anak.

"Kamu keterlaluan, Azka. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Viona," ucap Keisha.

"Jangan terlalu menduga-duga, Mam. Lagi pula Azka juga tidak peduli," ucap Azka.

"Azka …." Keisha menarik napas dalam kemudian mengeluarkannya kembali. Sikap tidak peduli Azka membuat Keisha kehabisan kata-kata. "Terserah kamu saja."

"Mam … please." Azka menyusul kedua orang tuanya duduk di ruang tengah. Azka mendudukkan dirinya di sofa panjang di samping sang mami. "Tadi Azka melihat dia dijemput oleh pria. Jadi jangan terlalu mengkhawatirkan setan kecil itu."

"Pria? Apa dia itu pacarnya?" tanya Keisha penasaran.

"Mana Azka tahu? Apa perlu Azka tanyakan padanya?" ledek Azka.

"Tapi sepertinya tidak mungkin. Bukankah dia …." Keisha menoleh ke arah Azka dengan tatapan meledek.

"Jangan menatap Azka seperti itu. Jika pria itu benar pacarnya, itu justru bagus. Azka bersyukur dia tidak mengejar Azka lagi. Azka bisa gila dengan sikapnya yang menyebalkan," ucap Azka.

"Menurut Mami Viona anak yang manis. Iya, 'kan, Papi?" Keisha melihat ke arah Azka untuk meminta pendapat suaminya.

"Iya, Papi setuju," imbuh Arya.

"Tapi bagi Azka dia tidak lebih dari setan kecil," dengkus Azka membuat Keisha dan Arya tertawa.

"Jangan terlalu membenci Viona. Nanti kamu bisa jatuh cinta padanya," goda Keisha.

"Bagaimana bisa benci jadi cinta?" tanya Azka.

"Bisa. Kamu pernah mendengar pepatah benci jadi cinta, 'kan?Contohnya Papi sama mami kamu," ucap Arya. "Kamu tidak tahu sebenci apa mami kamu pada papi dulu. Tapi sekarang lihat! Mami kamu sangat tergila-gila dengan Papi," ucap Arya membuat Azka tertawa kecil.

"Itu tidak akan ada dalam kamus hidup Azka," uucap Azka remeh. "Lagi pula dia masih terlalu muda buat Azka."

"Mami kamu juga dulu terlalu muda untuk Papi," ucap Arya.

"Betul Azka, cinta itu tak kenal usia. Kakek buyut kamu juga jatuh cinta sama anak sma. Umur mereka bahkan selisih 15 tahun. Tapi kehidupan mereka katanya harmonis," jelas Keisha.

Kening Azka mengerut sembari melihat kedua orang tuanya secara bergantian. Azka menatap keduanya dengan curiga.

"Oke, mari kita hentikan obrolan ini. Azka tahu arah pembicaraan kalian," ucap Azka.

"Bagus kalau begitu," ucap Arya.

"Kalian menyebalkan!" Azka memberengut.

"Kami ingin kamu bahagia, Nak." Keisha mengusap kepala Azka. "Ini baru pertama kali mami suka dengan gadis yang kamu bawa."

"Aku lelah, Mam. Bisa tolong hentikan untuk terus memuji setan kecil itu?" Azka merenggangkan kedua tangannya.

"Ya sudah istirahat sana," suruh Keisha.

"Baiklah." Bukannya pergi ke kamarnya Azka justru memilih untuk merebahkan kepalanya di atas pangkuan Keisha.

"Ya Tuhan anak ini sudah dewasa tapi masih bertingkah seperti anak kecil," ucap Arya sembari menggelengkan kepalanya.

"Ini tempat terbaik untuk beristirahat." Azka menutupi sebagian wajahnya dengan lengannya, tetapi beberapa detik kemudian Azka menyingkirkan tangannya dari wajahnya. "Oh iya, Mami sama Papi kalian belum menceritakan apapun saat kalian di London?"

"Tidak ada apapun di sana," jawab Keisha cepat.

Susana menjadi hening. Mata Keisha juga mulai dipenuhi oleh air mata. Itu terlihat oleh Azka. Melihat perubahan mimik wajah kedua orang tuanya Azka sudah bisa menebak apa yang terjadi di London.

"Come on, Mam. Jika memang kalian ditakdirkan untuk bertemu pasti kalian akan bertemu." Azka mengusap air mata di sudut mata sang mami.

"Dari pada kamu memikirkan ini lebih baik kamu cepat menikah dan beri kami cucu yang banyak. Jadi kami tidak kesepian." Keisha sengaja meledek Azka untuk mencairkan susana.

"Tidak." Azka berteriak dan juga bergidik ngeri membayangkan dirinya akan selalu diganggu oleh tingkah dan suara tangisan anak kecil. "Azka tidak bisa membayangkan jika Azka memiliki anak. Itu pasti akan merepotkan."

"Azka, kapan kamu akan berhenti bersikap seperti ini. Bersikaplah dengan serius." Keisha menoyor kepala Azka karena merasa gemas dengan sikap kekanak-kanakan sang anak.

"Mami selama dia belum menemukan pawangnya dia akan selalu seperti ini. Sebaiknya kita segera temui keluarganya Viona dan kita lamar dia untuk Azka," ledek Arya.

"Kenapa Azka merasa menyesal sudah membawa setan kecil itu ke sini. Ini bukan rencana Azka, Mam," keluh Azka.

"Itu artinya senjata makan tuan," ledek Keisha.

Keisha dan Arya tertawa saat melihat ekspresi Azka yang memelas.

Tawa Keisha dan Arya masih berlanjut. Azka juga tidak keberatan menjadi bulan-bulanan keduanya, asalkan kedua orang tuanya merasa senang.

"Ini sudah malam sebaiknya kalian berdua beristirahat," ucap Keisha. "Bukankan besok perusahaan kita akan ada meeting dengan klien baru."

"Ya itu benar sekali. Azka berharap mereka tidak mempersulit kita," harap Azka.

"Kita berdoa saja, Nak." Arya melepas kaca matanya lalu meletakan di meja.

"Baiklah Azka ke kamar dulu." Azka bangun dari pangkuan Keisha. "Selamat malam, Papi, Mami." Sebelum pergi Azka mencium pipi sang mami.

Azka berjalan menaiki anak tangga. Sampai di kamarnya Azka memilih pergi ke balkon menikmati angin malam yang terasa segar. Azka merogoh saku celananya mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebatang rokok dan korek api.

Azka menghisap batang rokok bernikotin lalu mengepulkan asapnya ke udara. Pria itu merenung masih memikirkan tentang Viona.

"Aku harus mencari tahu tentang setan kecil itu. Tidak mungkin ia mengejarku sampai sejauh itu hanya untuk meminta pertanggungjawaban."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!