Bab. 20

Acara Bazar sudah di mulai setelah ashar. Di halaman pondok sudah sangat ramai. Semua sangat bersuka cita dalam menyambut acara.

Haidar pun sama ia juga sudah berada di pondok pria untuk mengikuti acara bersama dengan Mustofa. Dan yang membuat lebih spesial adalah acara ini di buka untuk umum. Jadi bukan hanya anak pondok saja. Haidar sebagai pengurus memberikan undangan untuk para wali murid supaya berkenan hadir.

Haidar berjalan jalan dengan segerombolan pengurus pondok lainnya. Haidar melihat banyak barang yang di pamerkan. Ketika waktu hendak magrib semua stand di tutup sementara untuk solat berjamaah.

"Ayo pada solat dulu semuanya jangan ada yang melipir. Dan satu lagi khusus untuk anak vokal di larang makan gorengan ya..." Kata Haidar bercanda Ali sebagai Vokalis hanya meringis

Sehabis magrib Haidar kembali ke ndalem dan melihat masih ada Bella yang sedang di temani oleh Syena, Chana dan mamahnya. Tapi bunda hanum dan suaminya entah pergi kemana.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam..."

"Dar sudah solat apa belum...?" tanya Mama Hanna

"Sudah ma, Haidar tadi solat jamaah di masjid.." Kata Haidar

"ehm gitu, tadi mama mau ajak kamu jamaah bersama. Kebetulan Mamah sama Bella belum solat" kata Mama Hanna

"kenapa harus tunggu Haidar ma, Ya sudah mama langsung solat aja ini udah mau akhir waktunya. Magrib itu waktunya pendek. Kamu juga Syen sama Chan udah solat belum...?" Kata Haidar

"ih udah ya Chana udah solat ya. Itu yang belum solat kak Syena tuh.." jelas Chana

"Sebenarnya saya nunggu bib Haidar supaya bisa di imami solat, eh ternyata Bib Haidar sudah jamaah di masjid" Jelas Bella

Mereka akhirnya solat di tempat solat ndalem. Di ruang tamu tinggal ada Chana yang sedang menunggui Lana

"Bang Hisyam sama kak Hasna kemana emang chan..? " Tanya Haidar

"Tadi pamitnya mau beli susu sama kelengkapan si bocil ini nih, katanya mereka ndak bawa perlengkapannya si Lana. Biarin ah bang, mungkin mereka lagi pacaran mumpung ada yang jagain Lana" jelas Chana

"Iya abang kan cuma tanya Chan.."

"ehm mbk Milla kemana..?" Tanya Haidar pelan

" Tadi mbk Milla sehabis solat langsung ke dapur lagi. Kasian tau bang mbk Milla kerepotan sekali, walaupun di bantu sama bu Umi dan mbk ndalem tetep aja. Tadi Chana ajak Mbk Milla ke sini biar kumpul sekalian istirahat sejenak. Tapi katanya masih ada yang harus di beresin.. Gitu.." jelas Chana panjang. Sedangkan Haidar hanya mendengarkan saja

*******

Di Dapur Milla sedang menyiapkan makan untuk keluarganya. Ketika sedang mengambil menyusun piring Milla dikagetkan oleh siara Mamanya

"Mil tadi kok makanan untuk tamunya mama sedikit banget, mama lihat untuk anak hadroh kok banyak sekali. Lain kali jangan gitu semua di bagi rata. Trus tadi juga kamu bisa bisanya di minta buatkan kopi kok malah Bella yang buat kopi sendiri. Saya malu lo Mil, Bella kan tamu masak ia yang malah buatkan minum. Kamu kalau di kasih amanat dikerjakan dengan baik. Ingat kalau ada satu kekurangan itu kamu yang harus tanggung jawab sebab kamu tuan rumahnya" Mamah Hanna sebenarnya sudah kesal dari tadi tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Tak mungkin ia memarahi Mila di depan Hanum dan Bella

"Iya Mah Milla ngerti, Mila akan sebisanya supaya tidak ada yang kurang" Milla tak mau jika di beri tahu mamahnya menjawab dengan sanggahan itu sama saja dengan membuat masalah baru. Sedangkan Milla tak suka yang ribet ribet jadi Milla hanya mengiyakan saja

"Ya Sudah siapin makan.." Mamah hanna dengan ketus

"Sudah selesai sholatnya bell..?"kata mamah Hanna kepada Bella yang keluar dari ruang sholat

"Sudah mah,, mama sama mbk Milla lagi apa..?" tanya Bella berbasa basi

"ini lo mama minta Mbk Milla siapin makan malam takutnya sudah pada kelaparan. Kamu mau makan sekarang biar disiapkan...? " Jelas mama hanna dan Milla hanya diam dan melanjutkan tugas nya

"ehm tidak dulu ma, Bella mau siap siap saja, Bella mau ajak Syena lihat bazar.." Jelas Bella

"Ya sudah kalau gitu.." mereka meninggalkan Milla yang masih sibuk di dapur

Sedangkan Haidar yang melihat mama dan Bella kembali ke ruang tamu segera mencari alasan supaya tidak diminta menemani Bella.

"Mah Haidar lapar, Haidar tak ke dapur langsung biar Milla siapkan.." sebelum Mamah Hanna menjawab Haidar sudah berdiri dan pergi ke dapur

****

Di meja makan Milla sedang menata lauk pauk. Ia sedikit melamun memikirkan tentang mamahnya dan Bella.

"Mama benar benar perhatian sekali kepada Bella, Tadi kata mama Tuan Rumah..??, sepertinya bukan tuan rumah tapi Milla hanya kepala asisten rumah tangga... Ya Allah Milla ingin sekali ikhlas dalam menjalani ini Ya Allah tapi rasanya sangat sulit" Milla dalam hati

Milla membayangkan perbedaan perlakuan mamah Hanna ke dirinya dan ke Bella, sangat berbeda..

"Ehm.." suara deheman membuat Milla tersadar dari lamunannya

"Jangan melamun kalau lagi bawa barang takutnya nanti jatuh.." Kata Haidar. Ketika tau yang datang adalah Haidar ia merasa kesal juga. Sebagai suami seharusnya ia lebih perhatian terhadap istrinya. Milla menebak jika ia pasti sedang membutuhkan sesuatu.

"Saya Lapar.." Iya Milla sudah menebak

"Jenengan mau makan sama apa bib..?" Haidar menunjuk beberapa lauk dan Milla mengambilkannya

"kamu mau kemana lagi, sudah makan belum..? ayo duduk dan makan juga. Jangan buat makanan terus tapi kamu nya ndak makan." Kata Haidar pelan.

"jenengan sendiri yang suruh saya di dapur terus ndak selesai selesai " kata Milla dalam hati

Memang benar Mila belum makan nasi sama sekali ia hanya makan sedikit roti.

"Kenapa sih di suruh makan aja kamu masih mikir.." Haidar melihat Mila masih mematung. Mila mengambil lauk secukupnya dan itupun lauk tadi pagi bukan yang ada di meja. Jika mamahnya tau ia makan makanan di meja sebelum yang lain makan pasti ia akan salah lagi. Ada banyak batasan yang mamah Hanna berikan kepada Milla

"kenapa ndak ambil yang di meja.." tanya Haidar

"ndak bib, lauk tadi pagi masih enak dan sayang kalau ndak di makan.." jelas Milla, Milla yang melihat ada Bella dan Mamahnya masih di ruang tamu, ketika hendak duduk di maja makan takut sekali. Akhirnya Milla duduk di kursi sebelah kompor

"Kamu ngapain disitu. Ada meja makan kok malah makan disitu. Kamu banggel sekali ya. Ayo duduk disini jangan duduk di situ " Haidar kesal bisa bisanya ada meja makan malah duduk di dekat kompor

Milla yang takut dibentak lagi akhirnya menurut dan duduk di meja makan..

Mereka makan berhadapan dan makan dalam diam. Milla sesekali melihat ponselnya bergetar ada notice masuk. Mau tak mau Milla sesekali membalas chat tersebut.

"Kalau makan jangan sambil main ponsel, makan dulu baru wa nan. Kamu kasih tau dia, kalau kamu lagi makan nanti dihubungi lagi.." Haidar kesal sebab dengan dirinya pun ia tak pernah mengirim pesan. Tapi saat ini dengan siapa ia bertukar pesan.

"Dia siapa bib,,,?? ini lo temannya Milla waktu di kampus..." Milla bingung sekaligus tak suka. Ia merasa tersindir padahal dirinya tak melakukan chat aneh aneh

"Waktu di kampus kamu sebelum dropout itu, masih awet ya komunikasinya itu kan sudah lama.."Sindir Haidar dan Mila merasa sedikit sakit hati. Tapi ya sudah lah biar mereka yang menilai. Bahkan suaminya sendiri tak tau apa apa tentang dirinya.

"Oh iya tadi mamah bilang jangan sampai ada yang kurang untuk jamuan besok. Kata mamah kamu ndak jamu tamunya mamah dengan baik. Saya ndak mau sampai mamah kekurangan apapun. Kamu yang manut sama mamah..."Ketika selesai makan Haidar membahas tentang keluhan mamahnya. Jika Milla susah sekali di atur. Haidar sebagai anak sebisa mungkin ia menengahi jika mamahnya mengeluhkan sikap Milla. Padahal pada kenyataannya ia yang sulit mendengarkan Milla dan lebih memihak ke Mamahnya

Milla yang mendengar Haidar berbicara seperti itu rasanya sangat kesal. Milla tau akan seperti ini dan ini bukan pertama kalinya. Ketika ada sesuatu yang tak sesuai dengan dirinya. Mama Hanna akan mengadukan ke Haidar. Pada akhirnya ia yang akan disalahkan oleh Haidar. Jadi jalan paling aman adalah Milla hanya mengiyakan saja untuk menghindari perdebatan.

"Kok diam, kamu ndak pingin jelasin apa yang terjadi..??" kata Haidar

"Mau jelasin bagaimana pun, tetap saja Milla yang salah dan Milla yang harus manut ke orang tua. Iya kan bib.." Kata Milla gemas. Sebisa nya ia berusaha tetap tenang kenapa malah suaminya yang mulai bertanya

"Terus maksud kamu saya yang salah,,," jawab Haidar. Mila menghela nafas kesal

"Siapa yang bilang jenengan salah, jenengan kan ndak pernah salah bib. Sudah bib Milla mau beres beres. Habis ini Milla izin mau pergi ke bazar sama Risti dan Rusda"

Sebelum Haidar menjawab Chana datang dan memberitahu jika Haidar sudah di tunggu di pondok.

Mereka tak tau jika sedari tadi Bella memperhatikan interaksi mereka berdua.

"Siapa Mbak Milla sebenarnya kenapa ia berani makan satu meja dengan bib Haidar.." Kata Bella dalam hati. Ketika Bella hendak menghampiri mereka Chana datang dan mengejutkan dirinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

pengen tak tonjok tuh si Haidar

2024-08-04

1

Rahma Putri

Rahma Putri

ustadz kok gak tahu adab sama istri gimana itu

2024-05-16

0

erma

erma

Haidar ini ktnya pandai ceramah ke-mana² tp ga bs komunikasi dg istri sendiri, ustad kok gitu...hanya bs nasihati org lain, ga bs lihat kesalahan sendiri. jangan hanya dengar apa kt mama.

2024-03-26

2

lihat semua
Episodes
1 Bag. 1
2 Bag. 2
3 Bag.3
4 Bag. 4
5 Bag. 5
6 Bag. 6
7 Bag. 7
8 Bag.8
9 Bag. 9
10 Bag. 10
11 Bag. 11
12 Bag.12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab.18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab.29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab.71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 Bab. 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116 (Sekilas Ustadzah Halimah part. 1)
117 Bab. 117 (Sekilas Ustadzah Halimah part 2)
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab. 124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128
129 Bab. 129
130 Bab. 130
131 Bab. 131
132 Bab. 132
133 Bab. 133
134 Bab. 134
135 Bab. 135
136 Bab. 136
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
141 Bab. 141
142 Bab. 142
143 Bab. 143
144 Bab. 144
145 Bab. 145
146 Bab. 146
147 Bab. 147
148 Bab. 148
149 Bab. 149
150 Bab. 150
151 Bab. 151
152 Bab. 152
153 Bab. 153
154 Bab. 154
155 Bab. 155
156 Bab. 156
157 Cuap-cuap
158 Extra bab. 1
159 Extra bab. 2
160 Extra bab. 3
161 Extra bab. 4
162 Extra bab. 5
163 Extra bab. 6
164 Extra bab. 7
165 Extra bab. 8
166 Extra bab 9
167 Extra Bab. 10
168 Extra bab. 11
169 Extra bab 12
170 Extra bab. 13
171 Extra bab. 14
172 Extra Bab. 15
173 Extra bab. 16
174 Extra bab. 17
175 Cuap-cuap
Episodes

Updated 175 Episodes

1
Bag. 1
2
Bag. 2
3
Bag.3
4
Bag. 4
5
Bag. 5
6
Bag. 6
7
Bag. 7
8
Bag.8
9
Bag. 9
10
Bag. 10
11
Bag. 11
12
Bag.12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab.18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab.29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab.71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
Bab. 107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116 (Sekilas Ustadzah Halimah part. 1)
117
Bab. 117 (Sekilas Ustadzah Halimah part 2)
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab. 124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128
129
Bab. 129
130
Bab. 130
131
Bab. 131
132
Bab. 132
133
Bab. 133
134
Bab. 134
135
Bab. 135
136
Bab. 136
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140
141
Bab. 141
142
Bab. 142
143
Bab. 143
144
Bab. 144
145
Bab. 145
146
Bab. 146
147
Bab. 147
148
Bab. 148
149
Bab. 149
150
Bab. 150
151
Bab. 151
152
Bab. 152
153
Bab. 153
154
Bab. 154
155
Bab. 155
156
Bab. 156
157
Cuap-cuap
158
Extra bab. 1
159
Extra bab. 2
160
Extra bab. 3
161
Extra bab. 4
162
Extra bab. 5
163
Extra bab. 6
164
Extra bab. 7
165
Extra bab. 8
166
Extra bab 9
167
Extra Bab. 10
168
Extra bab. 11
169
Extra bab 12
170
Extra bab. 13
171
Extra bab. 14
172
Extra Bab. 15
173
Extra bab. 16
174
Extra bab. 17
175
Cuap-cuap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!