Sudah tiga hari tetapi Frischa belum sadar juga. Keadaannya masih belum stabil pasca operasi itu.
"Pa...kakak kenapa lama bangunannya? Mama rindu pa..kita sudah bersalah meninggalkannya sendiri melalui semua ini. Kita sudah gagal menjadi orangtua pa.." Isak Mamanya Frischa pada suaminya. Ia begitu menyesal telah mengusir anaknya hanya karena gosip murahan yang mereka saja tidak tau kebenarannya.
"Sudahlah ma..kita doakan saja yang terbaik buat kakak" Ucap pak Frans dengan raut wajah penuh sesal.
***
"Kamu kenapa cari Frischa? Belum puas sudah menyakitinya. Dasar bajingan. Bugghh...bugghh..." Willy begitu terpancing emosinya ketika melihat wajah laki-laki yang sudah menyakiti hati sahabatnya.
"Saya hanya mau ketemu Frischa, bukan bertemu denganmu. Kau itu hanya sahabat, sedangkan saya adalah orang yang Frischa cintai" Ucap Evan dengan tidak tau malunya mengatakan kalau Frischa mencintai dia.
"Hahaha..bajingan kau. Sudah lupa kalau kau punya istri di rumah. Frischa bahkan tidak Sudi untuk bertemu denganmu" Ucap Willy dengan tertawa sinis.
"Akhhh... Frischa... Frischa...ini aku..." Teriak Evan memanggil nama Frischa.
"Sudah saya katakan bajingan, Frischa tidak mau bertemu denganmu" Ucap Willy sambil mendorong tubuh Evan.
"Frischa.. frischa...ini aku datang.." Teriak Evan lagi.
Karena semakin emosi pada Evan. Willy pun menyeret Evan keluar dari rumah Frischa. Kebetulan Willy sedang berada di rumah Frischa karena papa Frans dan istrinya meminta Willy untuk menjemput Renal dan juga Fanya.
"Kak Evan..? Kak Willy, kenapa di serat-serat kak Evannya. Kalau kakak tau nanti di marahin kakak loh" Ucap Fanya yang tak tahu-menahu tentang perlakuan Evan sekarang.
"Dek, bantuin kak Evan" Ucap Evan dengan pura-pura tersakiti. Evan sangat yakin Fanya pasti akan luluh.
"Kak Evan mau ketemu sama kakakmu tapi di halangi sama pria ini" Ucap Evan dengan senyuman penuh kemenangan.
"Kak Evan tidak tau yah. Kakak di rumah sakit sekarang" Ucap Fanya dengan ekspresi wajah yang tidak yakin kalau Evan tidak tau tentang keadaan kakaknya.
"A-a-apa? Sejak kapan dek? Ayo kita ke rumah sakit sekarang" Ucap Evan langsung menarik tangan Fanya.
"Kak Willy tungguin kak Renal saja yah. Fanya duluan sama kak Evan" Ucap Fanya dan langsung menuju ke arah mobil Evan.
"Fanya...tunggu" Teriak Willy, tapi sayangnya mobil Evan sudah berlalu.
Setelah kepergian Evan dan Fanya. Willy langsung bergegas menghubungi Bastian.
"Bas, kamu di mana" Tanya Willy langsung tanpa menyapa.
"Saya dalam perjalanan ke rumah sakit. Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi sama Frischa?" Ucap Bastian kemudian dengan mencerca beberapa pertanyaan pada Willy.
"Tidak. Saya harap kamu segera ke rumah sakit. Evan sekarang sedang menuju ke rumah sakit, saya mau sebelum dia sampai kamu sudah lebih dulu biar kamu bisa menahannya sampai saya datang. Saya lagi berada di rumah Frischa, di suruh papa dan mamanya untuk menjemput Renal" Ucap Willy pada Bastian.
"Mau apa lagi bajingan itu? Oke. Saya sudah dekat rumah sakit" Ucap Bastian langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Akhhh..sial banget nih orang. Main memutuskan telepon tanpa permisi" Sungut Willy kesal pada Bastian.
****
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Bastian ketika melihat Evan ingin masuk ke dalam rumah sakit.
"Kak, ini pacarnya kakak. Jadi kak Bastian tidak ada hak untuk melarangnya masuk" Ucap Fanya sedikit kesal pada Bastian.
"Belum puas menyakiti Frischa? Terus istrimu tau tidak kalau kamu sedang mencari Frischa" Ucap Bastian yang membuat Evan menjadi takut dan salah tingkah ketika melihat Fanya menatapnya penuh curiga.
"Istri? Kak Evan ini maksudnya gimana yah" Tanya Fanya pada Evan.
"Itu tidak benar dek, kamu percaya kan sama kakak" Ucap Evan meyakinkan Fanya. Ia sangat berharap Fanya tidak termakan omongan Bastian.
"Aku percaya sama kak Evan" Ucap Fanya yang membuat Evan tersenyum penuh kemenangan ke arah Bastian.
Bastian begitu emosi melihat Evan bisa masuk ke dalam rumah sakit. Tetapi ia pun menyesal karena tidak bisa membuat Fanya percaya.
"Pa...ma.." Sapa Fanya ketika sudah berada di dekat orangtuanya sambil mencium tangan mereka.
"Mana kakakmu Renal sayang?" Tanya sang mama.
"Kak Renal nanti sama kak Willy ma. Adek ke sini tadi sama kak Evan. Tuh kak Evannya lagi di luar" Ucap Fanya pada kedua orangtuanya.
"Panggil Evan masuk yah sayang"
"Oke pa"
Fanya pun keluar untuk memanggil Evan bertemu orangtuanya dan juga Fanya.
"Om..Tante.." Sapa Evan dengan mencium tangan kedua orangtuanya Frischa.
"Kenapa baru datang, nak. Padahal tante berharapnya kamu ada kemarin saat operasinya Frischa" Ucap mama Frischa dengan kembali terisak.
"Evan minta maaf yah tante. Soalnya tidak ada yang mengabari Evan. Bahkan sekarang Evan sama Frischa sudah jarang bertemu karena di Willy selalu melarang Frischa bertemu dengan Evan lagi" Ucap Evan dengan memfitnah Willy.
"Masa sih Willy kayak begitu? Bukannya kamu pun sudah berteman baik dengan Willy, nak?" Tanya mama Fanya dengan sedikit tidak percaya.
"Iya Tante. Serius. Bahkan nomorku saja di blokir sama Frischa tante" Ucap Evan lagi dengan memasang wajah sedihnya.
Melihat Evan sedih, mama Frischa pun hanya memberikan pelukan.
"Yes.. berarti mereka belum tau kalau aku sudah menikah dengan Lena. Ini kesempatan aku buat semakin mengambil hatinya mereka" Evan tertawa di dalam hatinya.
"Om..tante.. sebenarnya Frischa sakit apa sih.." Tanya Evan ketika sudah duduk di samping ranjang Frischa sambil menggenggam tangan Frischa.
"Tiga hari yang lalu Frischa di Operasi, nak. Operasi kanker lambung" Ucap mama Frischa kembali sedih.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu Evan. Evan merasa gagal menjaga Frischa" Ucap Evan dengan berpura-pura sedih dan menangis.
Melihat Evan terisak, pak Frans memeluk Evan untuk memberikan kekuatan. Di saat sudah melepaskan pelukannya pada Evan. Tiba-tiba Willy, Renal dan juga Bastian masuk bersama dengan Cherly.
Melihat Cherly pun berada di situ, Evan semakin gelisah. Ia begitu takut kalau Cherly akan membongkar semuanya.
"Hai tante...maaf yah baru bisa jenguk Frischa sekarang lagi" Ucap Cherly kemudian mencium kedua tangan orangtuanya Frischa.
"Tidak apa-apa sayang" Ucap Mama Frischa.
"Om..boleh kita bicara? Ada sesuatu yang mau Cherly sampai ke om" Ucap Cherly pada pak Frans.
"Yah sudah, kita bicara di luar saja" Ucap pak Frans.
Melihat papanya Frischa keluar bersama dengan Cherly. Bastian semakin takut dan juga gelisah. Willy dan Bastian pun tersenyum puas ketika melihat ekspresi wajah dari Evan.
****
Ketika sudah berada di luar, Cherly pun akhirnya menceritakan semuanya tentang Evan dan Ia pun memberikan beberapa bukti foto Evan di hari pernikahannya.
"Kurang ajar..." Ucap pak Frans penuh dengan emosi.
*Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments