Bertemu Reni

"Ka-ka-kamu" Ucap Reni dengan terbata ketika melihat Willy.

"Hai, Ren. Kenapa kaget begitu sih? Kaget apa takut nih." Ucap Willy dengan nada sinis.

"Ma-maksud kamu apa? Aku tidak sedang takut kok." Ucap Reni dengan raut wajah yang masih panik.

"Hahaha.. lucu yah kamu, raut wajahmu itu mengatakan kalau kamu sekarang sedang takut. Kayak maling yang ketangkap basah" Ucap Willy kembali dengan tatapan yang masih terlihat sinis pada Reni.

"Ada yang ingin bertemu denganmu. Ayo, ikut aku. kamu harus menjelaskan semua ini pada seseorang." Willy langsung menarik tangan Reni tanpa meminta persetujuan dari wanita itu.

Willy membawa Reni untuk bertemu dengan Frischa. Yah, dia sudah memberitahu pada Frischa kalau dirinya sudah bertemu dengan Reni.

Ketika melihat Frischa, Reni terlihat semakin panik. Ia dengan sekuat tenaga ingin melepaskan diri dari cengkraman Willy, tetapi tenaganya tidak cukup untuk melepaskan cengkraman tangan Willy.

"Hai, Ren. Wahh, ada acara kok tidak mengundang kami. Apalagi pengantin lelakinya itu calon tunangan saya loh." Ucap Frischa ketika Willy sudah berhasil membawa Reni berhadapan dengannya.

Mendengar ucapan Frischa, Reni hanya diam.

"Permainan kalian sangat menarik yah. Hanya demi sepupumu itu, kamu tega memfitnah saya. Sampai-sampai orang tuaku sendiri pun lebih percaya sama kamu ketimbang saya yang notabenenya adalah anak mereka." Frischa mengeluarkan semua unek-uneknya yang ia pendam selama ini.

Reni hanya tersenyum sinis ketika mendengar ucapan dari Frischa.

"Terus mau kamu apa? Emang kamu itu pencuri kok. Uang mbak Icha benar-benar hilang. Dan kamu itu pelakunya" Ucap Reni tanpa beban. Ia pikir Frischa belum tahu yang sebenarnya.

"Oh yah. Kalau begitu, boleh dong saya memanggil orang yang memegang rahasia kalian selama ini." Ucap Frischa membuat Reni tersentak kaget.

"Ra-rahasia apa? Kamu jangan sok tahu yah. Kalau emang dasarnya pencuri yah pencuri" Ucap Reni tetap tak mau mengakui semuanya.

"Baiklah kalau begitu. Saya akan membawa masalah ini ke meja hijau. Karena saya sudah punya cukup bukti dan saksi. Kita lihat saja sampai di mana kamu, sepupumu itu dan lelaki yang sudah menjadi iparmu itu bersandiwara" Ucap Frischa penuh penekanan. Terlihat Reni semakin gelisah dan takut dengan ucapan Frischa.

"Silahkan. Siapa takut" Ucap Reni menantang. Ia pun kemudian berlari menghindari Frischa, Willy dan Bastian.

Ketika Willy hendak mengejar Reni kembali, Frischa langsung mencegahnya.

"Biarkan saja, Will. Yang terpenting kita sudah mengetahui yang sebenarnya. Sekarang yang harus aku lakukan adalah bertemu dengan papa dan mama. Aku akan mengajak Vhia dan Cherly, supaya mereka bisa membantu menjelaskan pada papa dan mama." Ucap Frischa dengan raut wajah sedih.

Frischa pun kembali melihat ke arah pelaminan. Di mana di atas pelaminan itu ada lelaki yang sangat ia cintai. Bohong jika Frischa tidak sakit hati. Bagaimana pun Evan itu adalah laki-laki yang sangat dia cintai dan laki-laki yang pernah berjanji akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.

Tangisan Frischa kembali pecah. Ia hampir terjatuh karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya. Melihat Frischa kembali terpuruk, Willy memberi kode pada Bastian untuk mendekati Frischa.

"Cha, kita pulang yah" Ucap Bastian lembut sembari memegang kedua bahu Frischa.

Frischa hanya menggelengkan kepalanya.

"Frischa, dengarkan aku. Sekarang kita pulang. Jangan siksa dirimu dengan laki-laki biadab itu. Aku sebagai sahabatmu tidak ikhlas kalau kamu membuang airmatamu untuk bajingan itu" Ucap Willy dengan menahan amarahnya.

"Will, Bas..apa yang akan aku katakan saat bertemu dengan papa dan mama. Kamu tahu sendiri Will, bagaimana sayangnya papa sama Evan. Bagaimana keluarga besarku menerimanya dengan cinta dan kasih sayang. Aku tidak sanggup Will." Ucap Frischa kembali terisak.

"Cha, ayo. Sedari tadi orang-orang terus melihat kita." Bastian kembali menuntun Frischa menuju mobilnya.

"Bas, kita bawa Frischa ke rumahku saja" Ucap Willy pada Bastian.

Mereka bertiga pun akhirnya kembali pulang. Willy meminta Bastian untuk membaw Frischa ke rumahnya. Ia begitu khawatir pada keadaan sahabatnya itu. Sahabat yang sudah dia anggap seperti saudarinya sendiri.

"Kamu pasti bisa menemukan lelaki yang mencintaimu dengan tulus, Cha. Aku akan selalu mendukungmu" Gumam Willy dalam hati sembari melirik ke arah sahabat yang dia sayangi itu.

*Bersambung.....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!