Setelah pertemuan Frischa dengan kedua orangtuanya itu. Bastian dan Willy kemudian memutuskan untuk mengantarkan pulang Frischa ke kos.
Dalam perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka bertiga. Frischa masih larut dalam kesedihannya ketika bertemu dengan kedua orangtuanya.
Bastian pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa Frischa bertemu dengan mamanya. Sedangkan Willy, dia hanya diam melihat keadaan Frischa.
Sesampainya di kos Frischa, Willy pun menuntun Frischa untuk berjalan.
"Cha, sekarang kamu masuk yah. Istirahat, sudah malam juga kan. Biar besok kamu bisa ikut untuk mencari Vhia dan Cherly." Ucap Bastian pada Frischa.
"Iya, Bas. Makasih yah sudah membantuku sejauh ini" Ucap Frischa dengan senyum.
"Kamu masuk yah. Cuci muka, terus jangan lupa berdoa dan tidur. Jangan terus memikirkan hal-hal yang membuat kamu bersedih lagi" Ucap Willy dengan mengusap kepala Frischa. Willy pun bisa merasakan kesedihan yang sedang dirasakan sahabatnya itu.
Frischa hanya mengangguk dengan tersenyum kepada Bastian dan juga Willy. Ia kemudian pamit masuk ke dalam kosnya.
Setelah Frischa masuk ke dalam kosnya. Bastian dan Willy pun kembali menuju ke mobil.
"Will, gimana kita lanjut atau aku antar kamu balik?" Tanya Bastian ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Belum sempat Willy menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi nada dering hp. Mereka berdua pun segera mengecek ke hp masing-masing, tetapi bukan nada dering hp mereka yang berbunyi.
Mereka kemudian menajamkan kembali pendengaran, dan melihat ke arah belakang tempat duduk. Ternyata bunyi nada dering dari hp Frischa yang ketinggalan.
"Nomor tidak di kenal, Bas." Ucap Willy ketika melihat ke layar hp Frischa.
"Diangkat saja, Will. Siapa tau penting" Ucap Bastian.
"Halo, Cha" Terdengar suara seorang perempuan dari seberang telepon dengan nada bergetar.
"Halo, ini siapa? Maaf hpnya Frischa tertinggal di dalam mobil saya" Jawab Willy penasaran dengan suara perempuan itu.
"Kak Willy. Syukurlah, ini saya Cherly" Ucap perempuan itu. Dan ternyata yang menelpon itu adalah Cherly.
"Cherly? Kamu di mana sekarang. Dan kamu baik-baik saja, kan? Vhia mana?" Tanya Willy dengan beberapa pertanyaan pada Cherly.
"Kak, saya baik-baik saja. Dan sekarang saya lagi di rumah Irlan. Saya melarikan diri dari Anjela dan Reni. Vhia, masih tertinggal di tempat itu, kak" Ucap Cherly dengan nada sedikit terisak.
"Kak, bantu selamatkan Vhia. Anjela dan Reni benar-benar kejam. Saya takut Vhia kenapa-kenapa, kak. Dan untuk sekarang, kakak jangan berusaha mencari saya. Karena saya yakin, Anjela dan Reni pasti berusaha untuk mencari saya lagi." Ucap Cherly lagi.
"Cherly, boleh kami menjemput kamu. Kamu akan aman bersama kami. Boleh? Nanti kamu tinggal di rumah saya sampai masalah ini selesai " Ucap Willy. Ia pun merasa khawatir tentang keselamatan Cherly.
"Saya takut kak." Ucap Cherly lagi.
"Tidak usah takut. Saya yang akan menjamin keselamatan kamu" Ucap Bastian tiba-tiba.
"Baiklah kak. Saya sharelock alamat rumahnya Irlan" Ucap Cherly kemudian memutuskan sambungan telepon.
Beberapa detik kemudian mereka mendapatkan alamat yang dikirimkan oleh Cherly.
"Will, nanti kita bawa Cherly ke rumahku saja. Di sana lebih aman. Karena Reni maupun Anjela tidak tau alamat rumahku" Ucap Bastian saat mobil melaju meninggalkan kos Frischa.
"Boleh saja" Ucap Willy kemudian.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di alamat yang diberikan oleh Cherly.
Tokk!!
Tokk!!
Tokk!!
Tidak menunggu lama kemudian pintu rumah itu terbuka. Dari dalam muncullah seorang wanita paruh baya.
"Maaf mau cari siapa?" Tanya wanita itu.
"Kami mau bertemu Cherly, bu" Ucap Willy dengan sopan pada wanita itu.
"Oh, ada di dalam, mas. Mari masuk" Ucap wanita itu kemudian mempersilahkan Willy dan Bastian untuk masuk.
"Silahkan duduk dulu yah mas. Saya panggilkan mbak Irlan dan mbak Cherly" Ucap wanita itu kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
Tak berselang lama, muncullah Cherly dan juga Irlan.
"Bu, buatkan minuman untuk tamuku yah" Ucap Irlan pada wanita paruh baya itu, yang ternyata adalah asisten rumah tangganya.
"Baik, mbak" Ucapnya kemudian langsung menuju ke arah dapur.
"Frischanya mana, kak? Tanya Cherly pada Willy dan juga Bastian.
"Frischa sudah kami antarkan pulang ke kosnya. Kasihan kalau kami harus membawanya lagi" Ucap Bastian kemudian.
"Frischa tinggal di kos? Sejak kapan?" Tanya Irlan tiba-tiba.
"Sudah 2 bulan dia tinggal di kos, semenjak diusir oleh papa dan mamanya" Jawab Willy.
"Diusir? Memangnya ada masalah apa? Cherly, kamu belum cerita apa-apa tentang Frischa. Kenapa kamu sembunyikan dari saya?" Irlan dengan begitu banyak pertanyaan pada Willy dan juga Cherly.
"Ceritanya panjang, Ir" Ucap Cherly, kemudian menceritakan semuanya pada Irlan.
Terlihat Irlan begitu menahan emosinya ketika mendengar cerita dari Cherly.
"Boleh saya bertemu dengan Frischa?" Tanya Irlan dengan airmata yang terus jatuh.
"Besok pagi kami akan membawa kalian bertemu dengan Frischa. Malam ini biarkan dia istirahat dengan tenang dulu." Ucap Bastian.
"Kamu Bastian, bukan?" Tanya Irlan ketika mendengar ucapan Bastian.
"Iya, saya Bastian" Jawab Bastian dengan senyuman.
"Sekarang kamu siap-siap, kita langsung berangkat. Irlan, kami akan membawa Cherly. Cherly untuk sementara waktu akan tinggal di rumah Bastian. Karena besar kemungkinan Reni dan Anjela akan menemukan Cherly di sini. Setelah keselamatan Cherly aman, kita akan mencari cara untuk menemukan Vhia." Ucap Willy kemudian mendapat anggukan kepala dari Irlan dan juga Cherly.
Setelah beberapa saat mereka berada di rumah Irlan mereka pun memutuskan untuk berpamitan dan pulang.
"Besok kalian bisa bawa Frischa untuk bertemu dengan saya?" Tanya Irlan ketika mengantar ketiganya sampai di mobil.
"Iya, besok kami akan membawa Frischa bertemu dengan kamu. Kalau begitu kami pamit, yah." Ucap Willy kemudian berpamitan pada Irlan.
Setelah dari rumah Irlan. Bastian kemudian memutuskan untuk mengantar Cherly ke rumahnya terlebih dahulu.
"Will, kita antarkan Cherly ke rumah saya dulu yah. Setelah itu baru saya antarkan kamu pulang" Ucap Bastian dengan sedikit berbisik di telinga Willy.
"Terserah kamu saja. Kan, kamu yang nyetir" Ucap Willy dengan acuh.
Setelah beberapa menit mereka akhirnya sampai di rumah Bastian.
"Ayo turun" Ucap Bastian pada keduanya.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
Tidak menunggu lama akhirnya pintu rumah Bastian terbuka. Dan dari dalam muncullah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Ma..." Ucap Bastian kemudian mencium tangan mamanya. Diikuti oleh Willy dan juga Cherly.
"Kok, baru pulang. Ayo ajak teman-temanmu masuk" Ucap mamanya Bastian dengan tersenyum ramah.
"Ayo masuk" Ajak Bastian pada Willy dan juga Cherly.
"Ma..kenalkan ini temanku Willy dan juga Cherly. Dan Cherly ini untuk sementara waktu nginap di rumah dulu. Boleh yah ma. Nanti Bastian ceritakan kenapa Cherly harus menginap di sini" Ucap Bastian pada mamanya dengan hati-hati.
"Boleh, sayang. Hmm..terus mana gadis itu?" Tanya mamanya Bastian dengan nada yang lembut.
"Nanti yah ma. Setelah semuanya selesai, Bastian bawa dia untuk bertemu dengan mama lagi" Ucap Bastian dengan sedikit berbisik pada mamanya.
"Baiklah. Mama ke dalam dulu yah. Oh iya, nanti temanmu boleh tidur di kamar tamu" Ucap mamanya Bastian.
"Nak, tante pamit dulu yah. Mau istirahat, maklum sudah tua" Ucap mamanya Bastian lagi dengan tersenyum lembut.
Setelah kepergian sang mama, Bastian kemudian menunjukkan arah kamar tamu pada Cherly. Ia meminta Cherly untuk segera beristirahat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam.
*Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments