Belum sempat Frischa membalas ucapannya teleponnya sudah terputus. Frischa hanya menghela nafas kasarnya. Ia kemudian masuk kedalam kamar kosnya dan langsung menghubungi Willy.
"Hallo, Frischa. Ada apa?" Tanya Willy.
Frischa pun menceritakan kepada Willy tentang maksud Reni menghubunginya.
"Oke. Baiklah kalau begitu mau mereka. 15 menit lagi aku sampai di kos. Kamu langsung siap-siap yah. Biar kalau aku sampai kita langsung berangkat," Ucap Bastian lalu memutuskan sambungan telepon.
Frischa kemudian mulai bersiap-siap dan menunjukkan Willy. 15 menit kemudian Willy datang dan mereka langsung berangkat.
"Ini alamat yang di kirim Reni, Will", Ucap Frischa ketika di dalam mobil sambil memperlihatkan hp nya ke Willy.
"Oke,' Jawab Willy singkat.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke alamat yang sudah di berikan Reni. 20 menit perjalanan mereka, akhirnya mereka berdua tiba di alamat yang di tuju.
"Frischa, seriusan itu alamat yang diberikan si Reni". Tanya Willy dengan raut wajah khawatir.
Frischa hanya menggelengkan kepalanya kepada sang sahabat.
"Hei, turun kalian!" Teriak seorang pria yang berwajah sangar.
Frischa dan Willy saling memandang. Willy akhirnya memutuskan untuk turun dari mobilnya lebih dahulu. Ia meminta Frischa untuk tetap berada di dalam mobil.
"Ada apa yah, pak?" Tanya Willy.
"Kalian sudah ditunggu bos. Ayo ikuti saya," Ucap pria itu dengan nada sedikit menggertak.
Willy pun membukakan pintu mobil dan meminta Frischa untuk turun. Mereka pun akhirnya mengikuti langkah pria itu. Akhirnya mereka tiba di sebuah gubuk. Frischa dan Willy saling memandang dengan wajah yang bingung.
"Akhirnya pencuri ini datang juga yah," Ucap Reni dengan nada yang menghina Frischa.
"Ren, jaga yah mulutmu itu. Frischa bukan pencuri. Dan kau Reni, kalian itu kan udah sahabatan 5 tahun, kok bisanya kau menuduh Frischa tanpa bukti." Ucap Willy dengan sedikit emosi. Willy tidak bisa mendengar sahabat kecilnya di sebut pencuri oleh orang yang sudah dianggap sahabat Frischa.
"Alah..aku punya buktinya, Will. Tidak usah kau membela pencuri ini. Bilangnya kaya, kok jadi pencuri. Ehh, Frischa, kurang baik apa lagi aku. Kamu sampai tega mengambil uang mbak Icha. Kamu tahu tidak, uang itu mbak Icha kumpulkan buat ikut tes nanti. Kamu seenak jidatnya saja mengambil tanpa menyisakan seribu rupiahpun," Cerca Reni dengan nada yang menghina dan menyindir Frischa.
"Ren, buktinya mana kalau aku yang mengambil uang itu. Kamu tahu kan, didalam kamar kamu waktu itu bukan hanya aku. Kenapa hanya aku yang kamu tuduh. Ren, 5 tahun kita sama-sama. Susah senang kita jalani persahabatan kita, terus dengan mudahnya kamu dan yang lainnya memfitnah aku kayak begini. Ternya selama 5 tahun ini, cuman aku yang kenal luar dalamnya kalian. Sedangkan kalian hanya mengenal luarnya aku saja. Jujur aku tidak terima dengan hal ini," Jawab Frischa dengan nada yang tegas, ia sampai mengepalkan tangannya menahan emosi dan tangisannya.
"Ayo, kita masuk ke dalam. Di dalam sana sudah ada dukun yang bisa melihat siapa pencurinya," Jawab Reni sambil menarik tangan Frischa. Tetapi buru-buru Frischa menghempaskan tangannya.
"Hahaha..kau percaya dukun, Ren? Dan dukun ini sudah kalian siapkan sebelum kami datang. Kalau di pikir-pikir yah otomatis si dukun kamu yang di dalam pasti akan bilang aku yang pelakunya. Kita masih punya Tuhan, Ren. Dan kalau kalian mau, ayo kita ke kantor polisi untuk sidik jari. Biar kita tahu siapa pelaku sebenarnya." Jawab Frischa dengan emosi.
Reni hanya cengar-cengir mendengar perkataan Frischa. Dan Willy tersenyum puas ketika mendengar sahabatnya menjawab dengan tegas seperti itu kepada Reni.
"Aku setuju sama Frischa. Kalau kalian main dukun kayak gini, kami curiga kalian sudah membayar dukun itu untuk mengatakan kalau Frischalah pelakunya. Supaya jelas semuanya, kita ke kantor polisi saja untuk sidik jari di tas dan dompetnya mbak Icha." Ucap Willy tiba-tiba.
"Aku tidak setuju," Tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam gubuk itu. Yah, itu Icha kakak dari Reni.
"Takutnya langsung di penjara si Frischa ini. Kan sudah jelas dia pelakunya. Lebih baik kita masuk ke dalam saja. Dukunnya sudah terlalu lama menunggu. Biar masalah ini selesai dan Frischa harus mengembalikan uangku," Lanjutnya.
"Maaf mbak, aku tidak akan masuk ke dalam. Kalau mbak mau kita langsung ke kantor polisi saja. Aku tidak takut, kalau kita tetap berada di sini aku yakin seratus persen akulah pelakunya. Mau setuju atau tidak aku akan tetap mau untuk melakukan sidik jari di tas dan dompetnya mbak Icha." Jawab Frischa dengan tegas.
"Kalau begitu kami permisi. Ayo Will kita pulang. Kita harus banyak mencari bukti supaya pelakunya cepat tertangkap dan mulut orang-orang ini bisa diam menuduh saya." Lanjut Frischa sambil menarik tangan Willy.
"Mbak, bagaimana ini, kalau sampai dia mendapatkan buktinya? Atau kita setuju saja untuk melakukan sidik jari. Nanti kita minta bantuan bang Alin supaya sidik jari kita tidak terlihat di tas dan dompetnya mbak." Ucap Reni dengan sedikit gugup.
"Iya, kamu benar dek. Nanti sebentar kamu hubungi lagi si Frischa itu dan bilang kita setuju untuk sidik jari. Kalau untuk bang Alin nanti mbak yang hubungi sendiri," Jawab Icha kakaknya Reni.
"Pak, kami pulang dulu yah. Ini bayaran untuk bapak berdua. Nanti kalau kami butuh jasa kalian, akan kami hubungi lagi." Lanjut Icha sambil memberikan amplop coklat kepada dua pria tua di dalam gubuk itu.
****
"Will, kamu boleh tidak anterin aku ke rumahnya Vhia? Ada sesuatu yang mau aku tanyakan ke dia," Tanya Frischa ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Willy hanya mengangguk dengan senyuman. Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah. Mereka turun dari mobil dan langsung menuju ke rumah itu.
Tokk!!
Tokk!!!
Akhirnya pintu terbuka dan seorang wanita tua yang membukakan pintu itu.
"Selamat sore Tante. Vhia ada Tante?" Tanya Frischa kepada wanita itu.
"Ada nak. Ayo masuk dulu. Sudah lama loh kamu tidak main-main ke sini Frischa," Ucap wanita itu yang merupakan mama dari Vhia.
"Frischa sibuk Tante. Maaf ya." Balas Frischa dengan senyuman manisnya.
"Kalian duduk dulu yah. Tante panggilkan Vhia dulu." Ucap wanita itu meninggalkan Frischa dan Willy.
Tidak berselang lama Vhia muncul.
"Ehh.. Frischa. Ada apa?" Tanya Vhia dengan sedikit gugup.
"Mmmm...maaf yah, Vhia. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan. Mungkin kamu sudah mendengar gosip tentang aku dari Reni dan Anjela. Jadi aku mau tanya, apa Reni dan Anjela pernah mengatakan sesuatu padamu?"
Tanya Frischa pada Vhia. Tetapi Vhia hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Frischa.
"Vhia, apapun yang kamu tahu aku mohon jawablah. Kamu tidak ingat persahabatan kita selama 5 tahun ini? Apa salahku sampai kalian setega ini. Kalau memang kalian kamu dan yang lainnya tidak mau bersahabat lagi dengan aku, bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini." Lanjut Frischa dengan nada yang lirih ketika melihat Vhia hanya diam.
"Aku tidak tahu apa-apa, Cha. Itu urusanmu dengan Reni dan Anjela. Mengapa harus bertanya kepadaku?" Jawab Vhia dengan sinis.
"Vhi..." Panggil Frischa dengan lirih.
"Baiklah kalau kamu pun tidak tahu. Aku akan mencari tahu sendiri. Jika saat aku mendapatkan buktinya dan kau pun terlibat dalam permainan Reni dan Anjela jangan salahkan aku, kalau Tante Paula tahu yang sebenarnya." Ucap Frischa dengan nada sedikit mengancam.
"Ayo, Will kita pulang. Percuma kita datang kemari." Lanjut Frischa kemudian mengajak Willy untuk pulang.
"Frischa, kamu baik-baik saja?" Tanya Willy ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Will, mereka semua jahat." Jawab Frischa dengan sedikit terisak.
"Menangislah, Frischa." Ucap Willy sambil memeluk sahabatnya itu.
Selepas kepergian Frischa dan Willy dari rumahnya. Vhia langsung mencari hpnya untuk menghubungi seseorang.
"Ren, tadi si Frischa sama Willy ke rumahku. Dia pakai ngancam aku segala lagi. Gimana nih, aku tidak mau sampai mamaku tahu dari mulutnya Frischa." Ucap Vhia pada Reni dengan nada sedikit panik.
"Tenang, Vhi. Yang penting kan kamu tidak membocorkan informasinya. Serahkan semuanya padaku. Ini adalah kali terakhir dia menemuimu." Jawab Reni dari seberang telepon.
Vhia akhirnya memutuskan sambungan teleponnya itu.
"Cha, maaf. Maaf harus menyembunyikan semua ini darimu. Aku memang bukan sahabat yang baik, Cha." Lirih Vhia dalam hatinya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments