Pengakuan Vhia dan Cherly

Pagi telah menyapa. Frischa pun bangun untuk membantu tante Ratna dan bersiap-siap untuk ke sekolah.

"Pagi Tante" Sapa Frischa pada Tante Ratna.

"Pagi juga nak. Gimana tidurnya semalam?" Tanya Tante Ratna dengan senyum.

"Puji Tuhan, aman Tante. Frischa sudah berjanji tidak akan mengingat hal-hal itu." Ucap Frischa dengan senyuman manisnya.

"Tante bahagia dengarnya. Yah sudah, sekarang kamu panggilkan Bastian dan Delia untuk sarapan. Biar kita segera ke sekolah." Ucap Tante Ratna pada Frischa.

"Oke tante cantik" Ucap Frischa dengan menggoda tante Ratna.

Tante Ratna hanya tersenyum melihat Frischa tidak lagi bersedih. Setelah memanggil Bastian dan Delia untuk sarapan, mereka pun duduk bersama.

"Kamu masih nginap di sini nak? Tanya Tante Ratna pada Bastian.

"Aku di sini dulu tante. Hari sabtu baru pulang sekalian mau ngajak Frischa ke kota dulu." Ucap Bastian sambil melirik ke arah Frischa. Frischa yang melihat lirikan Bastian hanya tersenyum malu.

"Cieee..kak Frischa kok pipinya merah kayak tomat sih.." Goda Delia pada Frischa, membuat Frischa semakin salah tingkah.

"Delia, sudah yah. kasihan kakakmu kalau di godain terus begitu. Ayo selesaikan sarapannya, agar kita segera berangkat ke sekolah." Ucap tante Ratna menegur putri semata wayangnya.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Frischa dan Tante Ratna pun bersiap untuk ke sekolah. Sedangkan Delia sudah diantarkan oleh Bastian.

***

"Bu, ibu sakit yah" Tanya seorang siswa pada Frischa.

"Ibu tidak sakit sayang. Memangnya Ariel lihat ibu seperti orang sakit yah" Tanya Frischa kembali pada siswanya itu.

"Iya, ibu kelihatan pucat. Atau ibu lagi bersedih yah. Kata nenek Ariel, kalau kita sedih kita harus segera pergi bertemu Tuhan, biar Tuhan yang menghibur kita" Ucap anak lelaki itu dengan polosnya.

"Iya sayang. Terimakasih yah, Ariel sudah mengingatkan ibu. Sekarang Ariel Kembali ke tempat duduknya yah dan selesaikan latihan yang ibu berikan tadi yah." Ucap Frischa pada siswanya itu sambil mengelus kepalanya.

Setelah jam pelajaran selesai, Frischa pun menuju ke ruang guru untuk beristirahat sejenak.

Ketika sedang bersantai, tiba-tiba telepon genggam Frischa berbunyi. Ia sedikit kaget ketika melihat ke layar telepon nama yang menghubunginya.

"Halo" Sapa Frischa.

"Halo, Cha. Apa kabar?" Tanya seorang wanita dari seberang telepon.

"Baik. Kenapa yah menelpon saya?" Tanya Frischa dengan nada yang sedikit tidak suka.

"Mmmmm...Cha, boleh kita bertemu? Ada hal penting yang mau aku dan Cherly sampaikan." Ucap wanita itu lagi.

"Aku sibuk Vhi. Kalau kamu menelpon hanya karena permintaan Reni, maaf. Aku benar-benar sibuk." Ucap Frischa dengan nada suara yang masih terdengar tidak suka.

"Ini niat aku dan Cherly yang ingin meneleponmu, Cha. Ada hal penting yang harus kamu tahu tentang Reni." Ucap Vhia. Ternyata yang menelpon Frischa itu adalah Vhia. Ia sangat berharap Frischa meluangkan sedikit waktu untuk bertemu dengannya.

"Baiklah. Kalau memang ini adalah hal penting. Aku besok akan ke kota, kebetulan besok aku libur. Lagipula jarak dari tempat tinggalku sekarang ke kota lumayan jauh. Dan aku berharap ini bukan tipuan lagi yang kalian mainkan untuk menghancurkanku" Ucap Frischa dengan nada suara yang sedikit tegas.

"Iya Cha. Aku dan Cherly akan menunggumu" Ucap Vhia langsung memutuskan sambungan telepon.

*****

Sabtu pagi Frischa dan Bastian pun berangkat ke kota untuk bertemu dengan Vhia dan Cherly.

Selama perjalanan Frischa hanya memilih untuk tidur. Bastian pun hanya diam membiarkan Frischa untuk tidur.

Dua setengah jam perjalanan mereka, akhirnya mereka tiba di tempat yang dijanjikan oleh Vhia dan Cherly.

"Vhi, kami sudah tiba. Kalian di mana?" Tanya Frischa ketika menelpon Vhia.

"Kami di dekat danau, Cha" Balas Vhia sambil melambaikan tangannya ketika melihat Frischa dan Bastian.

"Cha.." Teriak Vhia dan Cherly berlari memeluk Frischa sambil menangis.

"Maafkan kami, Cha. Maafkan kami. Kami memang tidak pantas menjadi sahabatmu lagi. Maafkan kami, Cha." Ucap Vhia dengan sesegukan.

Frischa yang melihat dua sahabatnya ini menangis sambil memeluknya pun hanya ikut menangis.

"Vhi, sudahlah. Tidak usah menangis lagi. Aku sudah ikhlas menjalani ini semua. Memang masih ada kecewa dan benci terhadap kalian semua. Tetapi kalau memang ada sesuatu yang mau kalian sampaikan, sampaikan saja. Aku siap mendengarkan, walaupun itu akan melukaiku lagi." Ucap Frischa menuntun kedua sahabatnya itu untuk duduk di bangku panjang taman.

Sedangkan Bastian yang melihat kejadian itu pun hanya diam. Ia hanya memantau dari kejauhan.

"Cha, sebenarnya Cherly tahu semua rahasia yang disembunyikan oleh Reni. Dan tujuan kami meminta bertemu denganmu, yah karena kami ingin nama baikmu segera dibersihkan." Ucap Vhia.

"Rahasia?" Ucap Frischa dengan penuh tanda tanya.

"Cherly, ceritakan saja pada Frischa"

"Cha, sebenarnya uang yang dibilang hilang itu ada. Dan Reni melakukan ini semua karena....... sepupunya Reni sekarang sudah menjadi istrinya Evan. Reni melakukan itu semua agar, pertunanganmu dengan Evan batal dan semua orang akan menyalahkanmu karena masalah yang dibuat oleh mereka." Ucap Cherly ketika ia menjeda beberapa saat. Cherly hanya tertunduk ketika mengatakan semuanya itu pada Frischa.

"A-a-a-a-paa?" Teriak Frischa tidak percaya. Bastian yang mendengar teriakan Frischa pun langsung berlari menuju ke tempat Frischa dan dia sahabatnya itu berada.

"Cha, kamu mungkin tidak percaya. Tapi inilah kenyataannya. Evan sudah menikahi Lena, sepupunya Reni itu. Aku berani jujur padamu, karena aku sudah tidak bisa menyimpan ini semua. Aku tidak bisa menyembunyikan masalah sebesar ini padamu. Kalaupun setelah ini, kamu kembali memutuskan hubungan persahabatan kita, aku siap Cha." Ucap Vhia dengan terisak.

"Bas..Bassss...bawa aku pergi jauh dari sini. Bawa aku pergi sekarang." Teriak Frischa memanggil nama Bastian.

Frischa begitu terpukul sekarang. Sahabat dan kekasihnya ternyata bekerjasama untuk menghancurkan hidupnya.

Karena tidak bisa menahan semuanya, seketika juga tubuh Frischa jatuh. Bastian yang melihat Frischa pingsan segera berlari menangkap tubuh Frischa.

"Kalian berdua bantu aku. Kita bawa Frischa ke mobilku." Ucap Bastian pada Vhia dan Cherly dengan panik.

"Ya ampun, Cha. Sadarlah, jangan buat aku semakin cemas." Ucap Bastian sambil menepuk pipi Frischa.

Vhia dan Cherly merasa sangat bersalah apalagi ketika melihat Frischa pingsan di depan mata mereka. Rasa sesal yang begitu besar dalam hati mereka.

*Bersambung.....

Terpopuler

Comments

anselmus damares

anselmus damares

semangat menulisnya athor☺❤❤

2023-11-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!