Frischa Drop

Matahari pagi sudah bersinar cerah. Hari yang begitu indah untuk dilewati bersama keluarga.

Di kos itu, Frischa masih terlelap. Belum menyadari kalau pagi sudah menyapa.

Hari ini, Bastian berencana menjemput Frischa untuk bertemu dengan Cherly dan Irlan. Ia begitu bersemangat ketika Willy memintanya untuk menjemput Frischa.

Ketika sampai di kos, Bastian kaget karena pintu dan jendela kos Frischa masih tertutup rapat.

Tokk!!

Tokk!!

Tokk!!

Beberapa kali Bastian mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang membukakan pintu untuknya.

Karena panik dan cemas Bastian terus memanggil nama Frischa.

"Cha... Frischa...kamu di dalam, kan?" Teriak Bastian memanggil nama Frischa. Terlihat dia begitu cemas karena tidak mendapati jawaban dari dalam. Ingin menghubungi Frischa tetapi ia sadar hp Frischa masih ada di tangannya.

Karena panik, Bastian kemudian berlari ke arah rumah penilik kos untuk meminta kunci serep. Ketika sudah mendapatkan kunci serep dari pemilik kos, buru-buru ia berlari ke arah kos Frischa.

Begitu kagetnya Bastian ketika melihat Frischa tergeletak di lantai kamarnya.

"Frischa...Cha..bangun" Pekik Bastian cemas. Buru-buru dia menggendong tubuh Frischa menuju ke mobilnya. Ia kemudian membaringkan Frischa di kursi bagian belakang.

Bastian langsung melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit. Dalam perjalanan, dia menghubungi Willy untuk memberitahukan kondisi Frischa saat ini. Tetapi tak ada jawaban dari Willy.

"Will, saya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kamu kalau tidak sibuk, segera ke rumah sakit. Frischa tadi pingsan di kamar kos nya" Bastian kemudian mengirimkan pesan kepada Willy.

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Bastian buru-buru turun dari mobil dan langsung menggendong tubuh Frischa menuju ke dalam rumah sakit.

"Sus..suster..tolong teman saya." Teriak Bastian memanggil Suster. Beberapa suster keluar membawa keranda untuk pasien.

Frischa kemudian di bawa masuk ke dalam UGD untuk di tangani oleh dokter.

Tidak berselang lama, Willy berlari ke arah Bastian.

" Bas, bagaimana keadaan Frischa?" Tanya Willy. Terlihat dia begitu cemas dengan keadaan sahabatnya itu.

"Belum tau, Will. Frischa masih ditangani oleh dokter" Ucap Bastian lirih.

Tiba-tiba pintu UGD di buka, dan muncullah seorang dokter laki-laki dari dalam UGD.

"Maaf, adakah yang di sini bernama Evan? Sedari sadar pasien terus memanggil nama Evan" Ucap dokter itu.

Bastian dan Willy saling memandang dengan heran.

"Dia yang bernama Evan, dok" Ucap Willy menunjuk ke arah Bastian.

Bastian hanya memberikan ekspresi wajah bingung. Willy kemudian mendorong tubuh Bastian untuk masuk ke dalam ruangan UGD.

"Bas, kamu datang" Tanya Frischa ketika melihat Bastian masuk ke dalam ruangan itu.

"Iya, Cha. Maaf yah, aku yang bawa kamu ke sini. Karena tadi pagi aku menemukan kamu pingsan di lantai kamar" Ucap Bastian ketika sudah duduk di dekat Frischa.

"Tidak apa-apa, Bas. Terimakasih yah, kamu selalu saja membantuku. Dan maaf selalu saja merepotkan kamu" Ucap Frischa memalingkan wajahnya.

"Cha, kamu tidak usah bicara begitu. Aku ikhlas menolong kamu. Jangan pernah bicara seperti itu lagi yah." Ucap Bastian dengan menggenggam tangan Frischa.

"Mas, bisa ikut ke ruangan saya" Ucap dokter tiba-tiba, membuat Bastian dan Frischa sedikit kaget.

"Baik dokter. Cha, aku ketemu dokter dulu yah. Nanti aku minta Willy menemani kamu. Dia ada diluar" Ucap Bastian dengan lembut dan tersenyum manis pada Frischa.

Frischa hanya mengangguk tersenyum pada Bastian.

"Hei, mana Frischaku yang kuat?" Ucap Willy ketika masuk ke dalam ruangan Frischa.

"Will..." Ucap Frischa dengan terisak.

"Hei..kenapa Frischa yang sekarang menjadi cengeng yah? Apa yang sudah terjadi? Ke mana Frischaku yang periang itu." Ucap Willy kemudian memeluk erat tubuh Frischa.

"Aku mau ketemu papa dan mama, Will. Aku takut tidak bisa melihat mereka lagi" Ucap Frischa pada Willy.

"Kamu bicara apa? Siapa bilang kamu tidak akan melihat papa dan mamamu lagi?" Tanya Willy dengan sedikit tegas.

Frischa hanya terisak dalam pelukan Willy.

****

Sedangkan di dalam ruangan dokter, Bastian sedang mendengarkan penjelasan dokter tentang Frischa.

"Apa dok, kanker lambung?" Tanya Bastian tidak percaya dengan ucapan dokter tentang penyakit Frischa.

"Iya, mas. Dan sudah di stadium tiga. Operasilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan pasien." Ucap dokter, Bastian hanya kembali syok mendengar semua perkataan dokter.

"Dok, apa masih ada cara lain selain operasi?" Tanya Bastian lagi. Ia begitu tidak tega kalau Frischa harus masuk dalam ruangan operasi.

"Tidak ada lagi mas. Satu-satunya cara yah hanya operasi" Ucap dokter itu lagi.

"Kalau begitu saya harus menyampaikan ini semua pada orang tuanya dulu, dok." Ucap Bastian kemudian pamit dari ruangan dokter menuju ke UGD lagi.

Sebelum memasuki ruangan UGD, Bastian menetralkan dirinya supaya tidak terlihat raut wajah cemasnya.

"Hai..." Ucap Bastian ketika sudah berada di dalam ruangan itu.

"Cha, boleh tidak aku bicara berdua sama Willy" Tanya Bastian pada Willy. Ia kemudian memainkan matanya ke arah Willy.

"Bicaranya di sini saja yah." Ucap Frischa dengan nada memohon.

"Bentar saja, Cha. Tidak lama kok" Ucap Bastian kemudian menarik tangan Willy tanpa permisi.

"Apaan sih kamu main tarik-tarik saja" Ucap Willy sedikit emosi ketika tangannya ditarik oleh Bastian.

"Will, Frischa terkena kanker lambung. Dan harus segera di operasi" Ucap Bastian ketika mereka sudah berada di luar.

"A-a-apa?" Ucap Willy kaget mendengar ucapan Bastian.

"Kamu jangan bercanda Bastian"

"Apa terlihat wajah saya berbohong" Ucap Bastian datar.

"Kamu kan lebih dekat dengan orangtuanya Frischa. Saya mohon kamu sampaikan berita ini pada mereka, karena kata dokter harus segera mendapatkan tanda tangan persetujuan operasi ini" Ucap Bastian lagi.

"Kenapa begitu banyak masalah yang Frischa hadapi?" Ucap Willy dengan lirih ketika mengetahui bahwa sahabat yang ia sayangi mempunyai penyakit seperti ini.

"Baiklah, kalau begitu saya akan ke rumah Frischa memberitahukan ini pada orangtuanya. Kamu bantu jaga Frischa. Saya percayakan Frischa padamu" Ucap Willy kemudian berlalu meninggalkan Bastian menuju ke rumah Frischa.

***

"Kamu mau makan, Cha? Tanya Bastian ketika sudah berada kembali di dalam ruangan Frischa.

"Aku tidak bisa, Bas. Bawaan muntah terus kalau sudah ada makanan yang masuk" Ucap Frischa dengan lirih.

"Dipaksakan dulu yah. Biar cepat sembuh. Karena sahabat-sahabatmu ingin cepat bertemu denganmu." Ucap Bastian dengan menyodorkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut Frischa.

Tetapi lagi-lagi Frischa menggelengkan kepalanya.

"Atau kamu mau makan sesuatu dari luar, biar aku belikan? Tanya Bastian.

"Bas, aku tidak mau makan."

****

Willy pun akhirnya sampai di rumah Frischa. Ia kemudian mengetuk pintu rumah itu, dan tidak berselang lama pintu rumah itu terbuka.

"Kak Willy" Ucap seorang gadis ketika melihat Willy.

"Hai, dek. Om sama Tante ada? Tanya Willy pada gadis kecil itu.

"Papa sama mama ada kak. Ayo masuk"

"Kakak tunggu di sini yah, Fanya panggilkan papa dan mama dulu" Ucap gadis kecil itu.

Tak berselang lama, muncullah kedua orangtua Frischa.

"Selamat siang om Tante" Ucap Willy sembari mencium tangan kedua orangtua Frischa.

"Kamu ada perlu apa kesini? Frischa kan sudah tinggal di sini lagi." Tanya Papanya Frischa dengan nada ketus.

"Om Frans, saya tau om masih marah pada Frischa. Tetapi hari ini saya ke sini, bukan meminta om untuk menerima kembali Frischa. Tetapi hanya ingin menyampaikan, Frischa sedang berada di rumah sakit, dia terkena kanker lambung dan membutuhkan tanda tangan om supaya operasinya segera dilakukan." Ucap Willy dengan sedikit menahan emosinya, karena melihat keangkuhan papanya Frischa.

"A-a-apa" Ucap Papa dan mama Frischa bersamaan dengan suara keras

*Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!