Dua hari setelah diantar Bastian dan sahabatnya, Frischa pun mulai bekerja di sekolah yang di pimpin oleh Tante Ratna. Dan Frischa pun memutuskan untuk tinggal bersama Tante Ratna.
"Selamat pagi bapak ibu guru dan anak-anak sekalian. Pagi ini kita kedatangan guru baru dari kota. Dengan hormat saya mempersilahkan ibu untuk memperkenalkan diri." Ucap Tante Ratna dalam amanat upacara di pagi itu.
Frischa pun melangkahkan kaki kedepan untuk memperkenalkan dirinya.
"Selamat pagi, yang saya hormati ibu Ratna selalu kepala sekolah, yang saya hormati bapak ibu guru sekalian serta anak-anak yang saya cintai. Saya berdiri di depan dengan maksud ingin memperkenalkan diri. Baik, nama saya Ibu Frischa. Asal saya dari Kota ****** dan sebelum saya pindah ke sini, saya pernah mengajar di salah satu sekolah negeri di kota saya. Sekian perkenalan diri saya, selamat pagi." Ucap Frischa memperkenalkan dirinya.
Setelah selesai melaksanakan kegiatan upacara, Frischa di ajak untuk ke ruangan kepala sekolah untuk menandatangani kontrak kerja dan mengambil SK-nya.
Setelah dari ruangan kepala sekolah, Frischa dibawa oleh Tante Ratna untuk berkenalan dengan para guru yang ada di sekolah itu.
"Bapak Ibu guru, mohon perhatiannya. Saya mohon kerjasamanya di antara kita semua terlebih saya mohon untuk membantu ibu Frischa. Ibu Frischa akan menjadi wali kelas 5C." Ucap Tante Ratna pada guru-gurunya.
"Pak Arman, tolong antarkan ibu Frischa ke kelas 5C." Ucap Tante Ratna pada seorang guru muda.
"Baik Bu." Jawab guru laki-laki itu.
Frischa pun mengikuti langkah guru muda itu untuk menuju ke kelas yang akan menjadi tanggung jawabnya.
"Selamat pagi anak-anak. Mohon perhatiannya, hari ini kalian akan bersama guru baru kalian. Bapak mengharapkan kalian semua untuk membantu ibu Frischa. Jangan ada yang menjahili ibu Frischa seperti yang pernah kalian lakukan pada guru-guru yang lain. Kalian paham." Ucap guru muda itu pada anak-anak.
"Siap, mengerti pak." Jawab anak-anak serempak.
Selepas kepergian guru muda itu, Frischa pun mulai memperkenalkan kembali namanya dan meminta anak-anak pun memperkenalkan dirinya satu persatu.
****
Di lain tempat, Evan ternyata sedang mempersiapkan acara wisudanya. Yah, Evan telah lulus sidang skripsi.
"Nak, Ibu pengen Frischa ada di sini juga. Biar bagaimanapun dia sudah sangat berjasa padamu. Tolong hubungi Frischa yah nak. Ibu pun sudah merindukannya." Ucap Ibunya Evan ketika menengok anak lelakinya itu di kamar.
"Frischa sudah aku hubungi, Bu. Dan Frischa tidak bisa hadir dalam wisudanya Evan. Mungkin Frischa sedang sibuk. Sudah yah Bu, nanti kalau Frischa sudah tidak sibuk, baru Frischa datang bertemu ibu." Jawab Evan dengan ekspresi wajah yang tidak suka.
"Baiklah nak. Ibu hanya rindu pada anak ibu itu." Ucap Ibunya Evan dengan lirih.
"Kak, kenapa sih. Ibumu menanyakan terus perempuan itu. Jujurlah saja pada ibu kalau kita ini sudah berpacaran dan si perempuan itu sudah pergi. Ingat yah kak, aku sekarang sedang mengandung anak kakak. Dan aku mau kakak harus membuat ibu jatuh hati padaku." Ucap perempuan itu pada Evan dengan wajah cemberut.
"Iya sayang. Kamu yang sabar yah." Ucap Evan.
"Dan satu lagi, aku mau kakak segera menikahiku. Aku tidak mau semua orang curiga tentang kehamilanku ini. Setelah acara wisudanya kakak selesai, kakak harus segera melamarku.” Ucap wanita itu lagi penuh penegasan.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata sepasang mata dan telinga sedang melihat dan mendengar ucapan mereka.
"Jadi perempuan itu hamil? Kenapa Evan begitu tega pada Frischa? Apa yang harus aku lakukan sekarang. Yah, mau dan tidak mau, Frischa harus tahu semuanya." Gumam wanita itu dalam hati ketika melihat Evan dan kekasihnya itu berbicara. Ia kemudian mengambil benda pipihnya kemudian mulai mencari nomor Frischa untuk memberitahukan semuanya.
"Halo mbak." Sapa Frischa dari seberang telepon.
"Halo juga dek. Dek kamu di mana sekarang? Ada hal penting yang harus mba katakan padamu." Ucap kakaknya Evan.
"Frischa lagi di luar kota mba. Kalau boleh mba bisa katakan saja lewat telepon." Jawab Frischa penasaran.
"Baiklah. Tapi mba mohon kamu jangan melakukan hal-hal aneh setelah mendengar ini. Dan satu hal yang harus kamu ketahui, sampai kapanpun kamu tetap menjadi anaknya ibu dan tetap menjadi adik perempuannya mba." Ucap wanita itu dengan nada suara yang bergetar menahan tangisannya.
"Iya mba. Frischa janji. Jadi sekarang katakan saja mba."
"Pertama, dua hari lagi Evan wisuda dek. Dan ibu pengen sekali kamu bisa hadir. Yang kedua.... hufffff, perempuan yang sering bersama Evan tengah hamil dek. Dan perempuan itu meminta Evan untuk menikahinya setelah acara wisudanya Evan selesai." Ucap wanita itu. Seketika itu juga air matanya jatuh.
"A-a-apa mba? Oh Tuhan Evan...Evan kenapa tega sama aku mba. Aku masih kekasihnya mba, belum ada kata pisah dari kami. Tapi kenapa berita ini yang harus aku dengar. Mba, Frischa tidak kuat. Sakit mba, sakit hati Frischa. Ternyata Evan sudah melangkah jauh dari hubungan perselingkuhan mereka itu. Mba, Frischa benar-benar tidak kuat. Padahal Frischa sedang dalam masalah, tetapi Evan malah menambahkan masalah baru buat aku.
Frischa sayang Evan mba, sayang sekali. Tapi...hiikss..hiikksss...mba...."Seketika juga tangis Frischa pecah. Orang yang begitu ia cintai sudah berkhianat. Terlebih lagi kekasihnya itu sudah menghamili selingkuhannya.
Dunia Frischa benar-benar runtuh. Ia baru saja dikhianati oleh para sahabat sekarang kekasihnya pun tega mengkhianatinya.
*Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments