"A-apa bunda?" Ucap Frischa dengan suara yang lantang.
Bukan hanya Frischa, Willy dan Bastian pun kaget mendengar ucapan bunda Marta. Willy begitu tersulut emosi, sedangkan Frischa hanya tertunduk menangis. Frischa tidak percaya, selama 5 tahun bersahabat dengan mereka tidak ada artinya apa-apa. Ia bahkan dikhianati oleh para sahabatnya.
Frischa kembali meratapi nasibnya sekarang. Ia sudah terusir dari rumahnya. Papa, mama dan keluarganya pun sudah termakan dengan omongan Reni dan kakaknya. Bahkan, kekasih yang begitu ia cintai pun tidak tahu berada di mana setelah Frischa memergokinya bersamaa wanita lain.
"Apa yang bunda sampaikan itu adalah kenyataan. Yang bunda harapkan sekarang Frischa bisa menyelesaikannya dengan hati yang dingin. Jangan membalas perbuatan mereka, biarkan saja mereka berbuat seperti yang mereka mau. Nanti disaat mereka lengah kamu membongkar semuanya. Bunda hanya bisa membantumu dengan cara ini. Bunda harap kamu terus berdoa, minta petunjuk dari Tuhan. Kejahatan tidak selamanya menang, nak." Ucap bunda Marta dengan lembut.
"Iya bunda. Hanya saja aku tidak percaya mereka bisa berbuat seperti ini. Aku terlalu menyayangi sahabat-sahabatku bunda. Tetapi aku tidak menyangka rasa sayangku kepada mereka akan membawa masalah seperti ini dalam hidupku. Papa dan mama pun sudah mengusirku. Aku benar-benar tidak kuat menjalani ini semua bunda. Sakit sekali hatiku." Ucap Frischa dengan terisak meratapi nasibnya sekarang.
Baik Willy maupun Bastian hanya bisa menatap iba wanita cantik di depan mereka. Di dalam hati mereka tersimpan emosi yang begitu besar terhadap orang-orang yang sudah dengan tega menyakiti wanita sebaik Frischa.
"Cha, udah yah. Tidak usah menangisi orang-orang seperti itu. Mereka tidak pantas mendapatkan cinta dan sayang darimu. Bahkan mereka tidak pantas menjadi sahabatmu. Masih ada orang yang lebih menghargai dan mencintaimu. Ingat, kamu tidak sendirian sekarang." Ucap Bastian dengan nada yang tegas.
Willy hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Bastian.
"Bunda, terima kasih sudah membantuku. Aku akan tetap mengingat pesan bunda. Kalau boleh, apakah aku masih bisa berkunjung ke sini bunda?" Tanya Frischa.
"Boleh, nak. Bunda akan dengan senang hati menerima kedatanganmu." Ucap bunda Marta dengan senyuman tulus.
"Kalau begitu kami pamit yah bunda. Takut kemalaman nanti." Ucap Frischa sambil bangkit dari tempat duduknya.
Frischa, Bastian dan Willy pun mencium tangan bunda Marta. Setelah keluar dari halaman rumah bunda Marta mereka bertiga menuju ke mobil Bastian.
Selama perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka bertiga tetap fokus dalam pikiran masing-masing. Frischa akhirnya tertidur pulas dalam perjalanan itu. Baik Bastian ataupun Willy hanya tersenyum melihat Frischa bisa tertidur dengan pulasnya.
"Cha, bangun yuk. Kita udah sampai di kosmu." Ucap Bastian membangunkan Frischa.
Frischa akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Frischa, kamu baik-baik saja kan. Kalau kamu merasa tidak baik-baik saja, kita ke rumah saja yah." Ucap Willy ketika melihat wajah Frischa kembali sendu.
"Mmmm..Aku baik-baik saja, Will." Ucap Frischa dengan tersenyum kepada Willy.
"Ayo kita turun." Ajak Bastian pada Frischa dan Willy.
"Frischa, aku langsung balik yah. Barusan mamaa chat aku, minta diantar ke tempat arisan." Ucap Willy kemudian.
"Hati-hati di jalan yah, Will. Makasih udah temani aku hari ini. Titip salam buat tante Eva yah." Ucap Frischa dengan senyum.
"Oke. Ehh, aku titip Frischa. Awas ajah kalau kamu macem-macem sama Frischa." Ucap Willy pada Bastian dengan nada sedikit mengancam. Bastian hanya tersenyum mendengar ucapan Willy.
Selepas kepergian Willy, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke area kos Frischa.
"Evan?" Ucap Frischa dengan raut wajah tidak percaya melihat sang kekasih datang ke kosnya.
Evan hanya tersenyum pada Frischa. Detik kemudian ia melihat ke arah Bastian dengan tidak suka.
"Hai, sayang. Maaf yah, aku baru datang." Ucap Evan dengan angkuhnya dan langsung memeluk Frischa.
"Mmmm...Kamu ngapain ke sini? Terus perempuan kemarin mana? Tidak di bawa sekalian ke sini." Tanya Frischa dengan senyuman sinis.
"Kamu kenapa sih sayang. Perempuan kemarin itu yang ngekos di tempatnya mbak Intan. Dia kemarin minta tolong diantarkan buat belanja, jadi aku membantunya." Ucap Evan sedikit cemas.
"Cuman penghuni kos kok sampai meluk-meluk kayak gitu yah. Padahal sama aku ajah jarang loh kamu perlakukan kayak gitu." Ucap Frischa lagi dengan sinis.
"Apaan sih sayang. Jangan marah dong, kamu kalau marah kayak gini aku jadi tidak semangat buat ngerjain tugas akhirku. jangan marah lagi yah sayang. Aku minta maaf." Ucap Evan dengan nada manja yang dibuat-buat.
Frischa hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu lagi harus percaya atau tidak pada kekasihnya ini.
"Oh iya, siapa laki-laki ini? Kamu berani bawa laki-laki lain ke kosmu?" Tanya Evan dengan nada sinis ketika melihat Bastian.
"Kamu jangan sembarangan. Dia ini temanku yang baru datang dari perantauan. Kenalin ini Bastian. Bas, kenalin ini Evan. Pacara aku." Ucap Frischa memperkenalkan Bastian pada Evan. Bastian dan Evan saling berjabat tangan.
"Cha, aku balik ajah yah. Besok aku ke sini lagi. Oh iya, jangan lupa pikirkan tawaranku. Aku tunggu jawabannya besok yah." Ucap Bastian tiba-tiba. Ia pamit pulang karena ia merasa tidak enak berada di situ ketika Evan ada.
"Oke, Bas. Sekali lagi makasih yah udah bantuin aku." Ucap Frischa berterimakasih pada Bastian dengan senyuman.
"Dia sering ke sini yah?" Tanya Evan selepas kepergian Bastian.
"Iya, semenjak aku diusir dari rumah hanya Bastian dan Willy yang sering kesini membantuku. Sedangkan kamu yang menjadi kekasihku, entah dimana." Ucap Frischa dengan nada sedikit menyindir.
"A-apa? Kamu diusir dari rumah? Kamu kenapa tidak menelpon aku. Sayang, maaf aku benar-benar sibuk sampai tidak tahu masalah yang sedang kamu hadapi ini." Ucap Evan dengan sedikit kaget.
"Ahhh.. Sial, kalau dia diusir berarti dia tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku harus gimana ini." Gumam Evan dalam hati. Ia begitu terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan Frischa.
"Kenapa wajah kamu kayak gitu? Aku udah coba hubungi kamu, tapi nihil. Nomor kamu tidak pernah aktif dan terakhir aku bertemu kamu saat kamu bersama perempuan itu." Ucap Frischa dengan senyum sinis.
"Aku minta maaf yah sayang. Mungkin waktu kami menghubungiku, aku sedang sibuk kuliah." Ucap Evan berkelit.
"Sibuk sampai mematikan hp-mu begitu." Ucap Frischa lagi dengan senyum sinis.
Evan hanya terdiam mendengar ucapan Frischa.
"Ngomong-ngomong kamu ngapain ke sini?" Tanya Frischa membuyarkan lamunan Evan.
"E..e..e...Aku hanya mau tanya sayang. Kemarin ibu menghubungi aku. Ibu tanya uang untuk wisudaku nanti kamu yang nyiapin atau ibu ajah." Ucap Evan dengan hati-hati.
"Hmmm..Aku minta maaf, Van. Kamu tahu sendiri kan kondisi aku yang sekarang. Aku belum punya pekerjaan dan uang tabunganku sudah menipis. Bilang sama ibu yah, maaf aku tidak bisa bantu sekarang." Ucap Frischa dengan nada suara yang pelan.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pulang yah. Soalnya mau lanjutin kerja skripsi aku. Minggu depan harus sudah sidang, karena pendaftaran wisudanya ditutup akhir bulan ini." Pamit Evan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan lagi.
"Oke. Hati-hati yah. Dan titip salam buat ibu." Ucap Frischa seraya melambaikan tangan pada Evan.
"Apa kamu benar-benar sudah tidak peduli padaku, Van. Bahkan sekedar bertanya masalah yang aku hadapi saya tidak. Kau bahkan semakin menghindari aku. Apa kau sudah menemukan orang yang baru? Aku sakit Van dengan sikapmu yang sekarang. Aku terlalu mencintaimu, sampai aku harus merasakan sakit hati ini." Lirih Frischa dalam hati seusai kepergian Evan. Frischa merasa Evan sudah benar-benar berubah dan tidak lagi memperdulikannya.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Al^Grizzly🐨
hanya perduli dgn uang
2024-05-05
0