Kenyataan Pahit

"Cha, bangun. Kamu jangan kayak begini." Ucap Bastian sambil mengusap kepala Frischa dengan cemas.

Setelah kembali dari taman tempat janjian mereka dengan Vhia dan Cherly, Frischa belum sadar sama sekali. Vhia dan Cherly yang ikut bersama Bastian pun terlihat panik dengan keadaan Frischa.

"Kak, maafin kita berdua yah. Gara-gara kita memberitahukan yang sebenarnya pada Frischa, malahan kayak begini akhirnya." Ucap Cherly dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Kalian tidak salah. Justru apa yang sudah kalian lakukan ini membantu Frischa keluar dari permasalahan ini. Mungkin Frischa shock mendengar semuanya, jadinya yah dia pingsan kayak begini." Ucap Bastian dengan tersenyum.

Beberapa menit kemudian Frischa mulai sadar dari pingsannya.

"Bas, kamu di mana?" Tanya Frischa ketika sadar.

"Aku di sini, Cha. Kamu minum dulu yah" Ucap Bastian sambil memberikan minuman untuk Frischa.

"Bas, hubungi Willy dulu yah. Aku mau bertemu dengannya. Katakan untuk bertemu di kos lamaku saja" Ucap Frischa dengan nada lirih.

Bastian pun kemudian menghubungi Willy untuk bertemu di kos Frischa yang dulu. Sementara Bastian menghubungi Willy, Vhia dan Cherly mendekat pada Frischa.

"Cha, kamu marah yah sama kami" Tanya Vhia ketika melihat Frischa seakan-akan tidak mempedulikan mereka.

"Aku tidak marah. Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku Willy. Aku makasih banget sama kalian berdua, walaupun masih terasa sakitnya tapi berkat kalian berdua, ada sedikit harapan untuk membuat nama baikku pulih. Vhia, Cherly kalian akan tetap jadi temanku, tapi aku minta tolong berikan sedikit waktu untuk menerima semua ini." Ucap Frischa pada Vhia dan Cherly dengan memberikan senyuman pada kedua sahabatnya itu.

"Baiklah, Cha. Tapi kami berdua mohon jangan pernah lagi membenci kami. Maafkan semua kesalahan kami, Aku, Cherly, Irlan, dan Elisa. Kalau kalian butuh informasi yang lebih detail lagi, kalian ke harus bertemu Anjela saja. Kunci utamanya adalah Anjela, karena Anjela sudah menjadi kaki tangannya Reni dan Evan." Ucap Vhia sambil memegang tangan Frischa.

"Akan saya coba menghubungi Anjela. Sekarang aku sama Bastian antarkan kalian pulang yah" Ucap Frischa pada kedua sahabatnya itu.

"Tapi kamu masih sakit, Cha. Biar kami memesan taksi saja yah." Ucap Cherly merasa tidak enak hati karena Frischa menawarkan untuk mengantarkan mereka pulang.

"Sudah. Kalau kalian menolak, aku tidak mau memaafkan kalian berdua" Ucap Frischa dengan nada sedikit mengancam.

"Terima kasih, Cha. Maaf kami pernah membuatmu kecewa." Ucap Cherly dengan terisak.

Cherly dan Vhia pun memeluk Frischa. Mereka bertiga pun sama-sama terisak. Bastian yang melihat ketiganya menangis, hanya tersenyum penuh haru.

***

Setelah mengantarkan Vhia dan Cherly. Bastian dan Frischa pun melanjutkan perjalanan menuju ke kos. Ternyata Willy telah sampai di kos Frischa.

"Will, sudah lama menunggu? Maaf yah tadi kami mengantar Vhia dan Cherly dulu." Ucap Frischa ketika sudah berada di dekat Willy.

"Vhia dan Cherly?" Tanya Willy tidak percaya.

"Iya, Will. Vhia dan Cherly. Tadi aku bertemu dengan mereka. Setelah bertemu mereka, aku langsung meminta Bastian untuk menghubungimu." Ucap Frischa pada Willy.

"Masuk yuk, biar aku jelaskan di dalam saja"

Mereka bertiga pun masuk ke dalam kos nya Frischa. Keadaan kos Frischa masih bersih karena belum lama juga dia keluar dari kos itu.

"Sekarang jelaskan padaku. Apa maksudmu bertemu dengan Vhia dan Cherly tanpa memberitahu aku." Ucap Willy dengan raut wajah yang sedikit kecewa.

"Tenang dulu, bro. Biar Frischa jelaskan. Ini menyangkut masalah yang sedang Frischa hadapi sekarang" Terang Bastian menenangkan Willy. Tetapi Willy hanya tersenyum kecut kearah Bastian.

"Aku minta maaf yah, Will. Bukan maksud aku lupa sama kamu. Tapi aku buru-buru karena ketika mendapat telepon dari Vhia, yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang mau sampaikan oleh Cherly. Aku langsung meminta Bastian yang kebetulan berada di rumah Tante Ratna untuk mengantarku bertemu mereka di taman tadi." Ucap Frischa kemudian menceritakan lagi apa yang sudah disampaikan oleh Cherly.

Mendengar perkataan Frischa. Willy begitu emosi, ia mengepalkan tangannya karena menahan emosinya.

"Biadab si Evan itu. Akan aku beri pelajaran padanya. Dan Reni, akan aku buat dia menyesal seumur hidupnya." Ucap Willy masih dengan emosi.

"Sekarang juga kita ke rumahnya Reni" Lanjut Willy.

Frischa dan Bastian hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Willy.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun sampai di rumahnya Reni.

Tokk!!

Tokk!!

Tokk!!

Tak menunggu lama pintu pun terbuka.

"Maaf, mau bertemu siapa?" Tanya wanita paruh baya itu.

"Kami mau bertemu Reni" Ucap Willy.

"Non Reni tidak berada di rumah. Mereka sedang berada di rumah sepupunya, karena ada acara kawinan di sana." Ucap wanita paruh baya itu lagi.

"Kalau boleh, apa bisa kami meminta alamatnya? Karena ada hal penting yang harus kami sampaikan pada Reni." Kata Willy meminta alamat pada wakita itu.

"Baiklah, sebentar yah. Bibi ambilkan kartu alamatnya" Ucap wanita itu sambil berlalu ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, ia keluar membawa kartu alamat dari sepupu Reni itu.

"Terima kasih yah, bi. Kami permisi" Pamit Willy.

Mereka pun melanjutkan lagi perjalanan menuju ke alamat yang di berikan oleh pembantu Reni. Tidak berselang lama, akhirnya mereka pun sampai di alamat yang dituju. Dan benar saja, di depan halaman rumah itu masih berdiri kokoh tenda yang menandakan sedang ada acara di tempat tersebut.

"Apa kita masuk saja sekarang?" Tanya Bastian pada Frischa dan juga Willy.

"Kita harus masuk, biar para bajingan itu mendapatkan balasan" Ucap Willy berapi-api.

"Will, tolong. Jangan pakai emosi yah. Kamu tidak ingat aku. Aku paham kamu begitu peduli padaku, tapi kita harus pakai otak. Biar apa yang kita rencanakan berjalan dengan lancar." Ucap Frischa pada Willy.

"Sekarang kita masuk sebagai tamu. Dan kita harus memastikan apakah benar, yang menikah di dalam sana adalah Evan?" Ucap Frischa lagi.

Frischa sebenarnya tidak sanggup untuk masuk ke dalam sana. Tetapi untuk memastikan semuanya, ia pun membesarkan hatinya untuk berani menghadapinya.

Mereka pun masuk ke dalam acara itu, dengan berpura-pura sebagai tamu undangan. Ketika mendekati pelaminan, betapa terkejutnya mereka bertiga ketika melihat siapa yang menjadi pengantinnya.

Bastian dan Willy dengan sigap langsung berada di antara Frischa. Mereka takut Frischa tidak kuat melihat apa yang sedang terjadi sekarang.

Frischa yang melihat semua itu hanya menjatuhkan airmata. Sakit yang bertubi-tubi ia rasakan sekarang.

"Van, kenapa kamu tega melakukan ini semua. Kenapa Van?" Lirih Frischa dalam hati. Ia tidak henti-hentinya menjatuhkan airmatanya.

"Bas, ayo temani aku ke depan. Dan kamu Will, cari Reni sekarang." Ucap Frischa dengan suara bergetar.

"Kamu yakin untuk ke depan bertemu dengan Evan, Cha?" Tanya Bastian memastikan pada Frischa.

"Iya, Bas. Aku sangat-sangat yakin. Kamu tenang saja, aku masih bisa mengontrol diriku" Ucap Frischa penuh keyakinan.

"Baiklah. Will, kamu bisa kan mencari Reni sendiri?" Tanya Bastian pada Willy.

"Kamu tenang saja. Sekarang kamu temani Frischa ke depan. Aku akan mencari perempuan sialan itu" Ucap Willy pada Bastian.

Bastian pun menemani Frischa untuk bertemu Evan dan istrinya di depan pelaminan.

Betapa terkejutnya Evan ketika melihat Frischa hadir dalam pernikahannya.

"Selamat yah atas pernikahan kalian. Oh yah, kenapa tidak mengundangku. Padahal aku pengen sekali mendapat undangan pernikahan darimu, sayang. Istrimu cantik yah, tapi sayang dia murahan. Buktinya dia hamil duluan sebelum kalian menikah, kan?" Ucap Frischa dengan senyuman lebar.

"Siapa kamu? Jangan asal memfitnah anak saya begitu. Anak saya ini masih gadis sebelum menikah." Ucap Ibu dari istrinya Evan.

"Hahahaha...ternyata anak dan menantu tante ini belum jujur yah. Baiklah, saya hanya mempertegas sekali lagi yah tante. Laki-laki yang sekarang menjadi menantu tante ini adalah calon tunangan saya. Dan dia ini hanya laki-laki yang bermodalkan tampang saja, tapi perilakunya di bawah standar. Saya hanya berharap dia tidak membuat anak Tante yang katanya masih gadis ini sengsara. Dan satu lagi Tante, saya hanya mau memberikan catatan ini pada menantu tante. Dan saya berharap dia segera melunasi semua hutangnya pada saya. PERMISI." Ucap Frischa kemudian menarik tangan Bastian untuk turun dari panggung pengantin Evan dan istrinya.

Evan begitu kaget dengan kedatangan Frischa. Ia pun langsung panik ketika Frischa mengatakan semua itu di depan mertuanya.

"Setelah acara ini mama harap kamu menjelaskan semua ini" Ucap mertua Evan dengan sorot mata yang tajam.

Evan hanya menelan salivanya mendapati tatapan tajam dari mertuanya itu.

**

Di lain tempat, Willy masih terus mencari keberadaan Reni. Tiba-tiba sorot mata Willy menangkap seseorang yang ia cari. Willy pun berjalan ke arah Reni.

"Hai" Sapa Willy pada Reni dengan nada yang halus.

"Ka-ka-kamu" Ucap Reni dengan terbata. Ia benar-benar kaget ketika mengetahui kedatangan Willy.

*Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!