Setelah beberapa menit perjalanan mereka, akhirnya mereka tiba di rumah Willy.
Willy pun mempersilahkan Frischa dan Bastian untuk masuk.
"Ma..Mama" Willy memanggil mamanya ketika mereka sudah berada di ruang tamu.
"Kalian duduk dulu yah. Anggap rumah sendiri. Aku mau kebelakang dulu, panggil mama" Ucap Willy dengan tersenyum pada Frischa dan Bastian.
Willy pun berlalu untuk memanggil mamanya. Sepeninggalan Willy, Bastian dan Frischa duduk tanpa ada sepatah katapun.
"Cha, setelah dari rumah Willy ikut aku ke rumah yah. Kita ketemu mama dulu" Ucap Bastian memulai percakapan.
"Mmmmm...aku malu ketemu mama kamu setelah kata-kata papa yang sudah menyinggung kamu dan mamamu" Ucap Frischa dengan tatapan sedih.
"Cha, percayalah. Aku sama mama sudah melupakan semua itu. Mamaku bukan orang pendendam. Lagian mama kok yang nyuruh aku buat ajak kamu ke rumah" Ucap Bastian lagi dengan tersenyum manis.
"Kamu yakin?" Tanya Frischa dengan raut wajah tidak percaya.
"Yakin banget. Mau yah?" Ucap dengan senyuman manis menyakinkan Frischa.
Frischa pun hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Lagi cerita apa sih" Ucap Willy tiba-tiba ketika ia bergabung bersama Frischa dan Bastian di ruang tamu.
"Ada deh, mau tau ajah sih" Ucap Frischa menggoda sahabatnya itu.
Willy hanya mencubit pipi sahabatnya itu dengan gemas.
"Udah jangan cemburu. Aku sama Frischa cuman sahabatan ajah kok." Ucap Willy ketika melihat ekspresi Bastian yang hanya tersenyum kecut.
"Apa sih kamu" Ucap Frischa mencubit lengan Willy. Ia terlihat malu ketika Willy berkata demikian pada Bastian.
"Cieehh..muka kalian kenapa merah merona kayak gitu sih" Goda Willy pada Bastian dan juga Frischa.
Frischa dan Bastian yang di goda oleh Willy terlihat salah tingkah.
Disaat mereka bertiga saling menggoda, dari arah dapur muncullah mamanya Willy membawakan minuman dan kue.
"Nih peneman ngobrol kalian" Ucap Mamanya Willy sambil menyodorkan cangkir minuman dan juga kue.
"Makasih yah tante" Ucap Frischa dan Bastian bersamaan.
"Sama-sama, nak" Ucap mamanya Willy dengan tersenyum.
"Cha, kamu sekarang tinggal di mana nak. Tante sudah dengar semuanya dari Willy. Kenapa kamu tidak datang ke sini saja, nak. Kamu kan sudah Tante anggap seperti anak sendiri." Ucap mamanya Willy ketika duduk di samping Frischa. Mamanya Willy mengusap kepala Frischa dengan wajah yang sedih.
"Tante, makasih udah perhatian sama aku. Aku baik-baik saja. Dan sekarang aku udah mulai mengajar kembali di desa. Udah 3 Minggu aku ngajar Tante. Aku tidak mau membebani tante dengan masalahku. Willy selalu ada di samping aku saja, aku udah bahagia banget tante" Ucap Frischa dengan tersenyum pada mamanya Willy.
"Tapi kalau ada apa-apa langsung kasih tau Willy atau tante yah, sayang. Oh iya, Tante hampir lupa. Ini yang tampan siapa? Pacar kamu, nak?" Tanya mamanya Willy ketika melihat Bastian.
"Oh itu calon pacarnya Frischa, ma. Namanya Bastian" Jawab Willy dengan senyuman penuh kemenangan ke arah Frischa dan Bastian.
"Tante jangan percaya sama Willy. Ini Bastian tante, dia yang nawarin pekerjaan mengajar di desa itu. Kebetulan yang jadi kepala sekolahnya itu Tantenya Bastian. Bastian ini bukan pacarnya Frischa, tante" Ucap Frischa dengan mata sedikit melotot ke arah Willy. Willy yang mendapatkan pelototan dari Frischa hanya tersenyum.
"Hai Tante" Ucap Bastian mencium tangan mamanya Willy.
"Panggil saja tante Emi yah" Ucap Tante Emi mamanya Willy dengan tersenyum.
"Yah sudah kalau begitu Tante tinggal dulu yah. Mau istirahat dulu." Pamit Tante Emi, yang kemudian mendapat anggukan kepala dari ketiganya.
Selepas kepergian mamanya Willy, mereka bertiga bercerita sambil tertawa. Tiba-tiba ekspresi wajah Bastian berubah ketika melihat sesuatu dari HP-nya.
"Kurang ajar, ternyata mereka tidak pernah sadar" Ucap Bastian dengan emosi sambil memperlihatkan hp-nya ke arah Frischa dan Willy.
"Kamu ambil jadikan ini sebagai bukti. Kita harus melaporkan ini ke kantor polisi. Frischa, coba kamu hubungi Vhia dan Cherly. Kita akan ke kantor polisi sekarang juga. Ini jelas-jelas pencemaran nama baik." Ucap Willy ekspresi wajah penuh emosi.
"Will, kita tidak punya pengacara. Seandainya papa sama mama ada di pihakku, pasti masalah ini cepat selesai" Frischa kembali terisak meratapi nasibnya sekarang. Reni dan Anjela benar-benar sudah tidak menganggapnya sahabat mereka.
"Cha, aku akan menghubungi om Niko. Beliau pengacara keluarga kami." Ucap Bastian sambil memegang tangan Frischa.
"Makasih, Bas" Ucap Frischa pada Bastian. Bastian hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Sekarang kamu hubungi Vhia dan Cherly. Kita akan jemput mereka. Ayo kita langsung berangkat" Ucap Willy pada Frischa dan Bastian.
"Will, kita belum pamit sama tante Emi" Ucap Frischa ketika beranjak dari tempat duduknya.
"Udah masalah mama gampang. Nanti aku hubungi mama lewat hp. Ini lebih penting, Frischa" Ucap Willy lagi.
Mereka pun keluar dari rumah Willy. Memasuki mobil Bastian dan beranjak untuk menjemput Vhia dan Cherly.
"Kok Vhia dan Cherly nomornya tidak bisa di hubungi yah? Ucap Frischa ketika nomor kedua sahabatnya itu tidak bisa dihubungi.
Terlihat ekspresi wajah Bastian dan Willy sama. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka berdua.
"Kita langsung ke rumahnya Vhia, Bas." Ucap Frischa.
Dua puluh menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai di rumah Vhia. Tetapi dari arah luar terlihat sangat sepi seperti tidak ada penghuni.
"Permisi..Vhi, ini aku Frischa. Vhi..Vhiaaa" Frischa terus memanggil nama sahabatnya itu mengetuk pintu.
Tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Frischa terlihat begitu khawatir.
"Aku takut Vhia dan Cherly kenapa-kenapa. Aku takut Reni dan Evan sudah mengetahui kalau Vhia dan Cherly sudah mengatakan semuanya padaku" Ucap Frischa dengan terisak.
"Cha, kamu tidak usah panik. Mungkin saja Vhia lagi keluar. Sekarang kita ke rumahnya Cherly yah. Semoga saja Cherly ada di rumahnya." Ucap Bastian kemudian memapah Frischa menuju ke mobilnya.
Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Cherly.
"Permisi.. Cherly.. Cherly.." Panggil Frischa dengan mengetik pintu.
Tak berselang lama, pintu rumah Cherly terbuka. Terlihat raut wajah Frischa kembali tenang.
"Non, Frischa. Mau cari Non Cherly yah?" Tanya pembantu yang bekerja di rumah Cherly.
"Iya bi, Cherlynya ada" Tanya Frischa kembali pada pembantu rumah Cherly.
"Non Cherlynya belum pulang sejak tadi pagi. Katanya tadi lagi ke taman mau ketemu sama Non Vhia dan Non Frischa" Ucap pembantunya Cherly.
"Bi, tadi memang Cherly dan Vhia memang bertemu saya tadi pagi. Tapi setelah kami bertemu, saya dan teman saya Bastian sudah mengantar mereka pulang." Ucap Frischa dengan nada yang mulai khawatir.
"Non Cherly belum pulang. Kalau non tidak percaya, non bisa ke atas kamarnya non Cherly" Ucap pembantunya Cherly dengan serius.
Bastian dan Willy sedari tadi melihat ke arah pembantunya Cherly tidak terlihat raut wajah yang menipu mereka.
"Mungkin Cherly dan Vhia lagi jalan-jalan, bi. Kalau begitu kami pamit yah bi, kalau Cherly belum pulang atau sudah pulang bibi hubungi di nomor ini yah" Ucap Willy pada pembantunya Cherly dengan memberikan kartu namanya.
Mereka pun pamit dari rumah Cherly. Sesampainya di dalam mobil, Frischa kembali terdiam.
"Cha, kamu tidak usah khawatir yah. Doakan saja Vhia dan Cherly baik-baik saja di mana pun mereka berada" Ucap Willy menenangkan sahabatnya itu.
"Will, seandainya saja mereka berdua tidak bertemu denganku. Mungkin keadaan mereka baik-baik saja. Aku takut sesuatu terjadi pada mereka. Kalau sampai itu terjadi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri" Ucap Frischa kembali terisak.
Frischa begitu merasa bersalah karena Vhia dan Cherly ternyata tidak berada di rumah dan nomor mereka tidak bisa dihubungi.
Dalam keheningan mereka bertiga, tiba-tiba ada nomor yang tidak di kenal menghubungi Frischa. Bastian dan Willy meminta Frischa untuk mengangkat telepon tersebut dan mengaktifkan speaker suara.
"Halo, sahabatku tersayang" Ucap seorang perempuan dari seberang telepon.
"Anjela" Ucap Frischa ketika mengenal suara yang menelponnya.
"Kamu ternyata pintar mengenali suara sahabat-sahabatmu yah. Hahahaha...." Ucap Anjela dengan tertawa.
"Apa tujuan kamu menelpon saya" Tanya Frischa dengan nada suara yang tidak bersahabat.
"Wahh...apa saya tidak boleh menelpon sahabat saya sendiri. Oh iya saya lupa, kita kan tidak bersahabat lagi" Ucap Anjela dengan tertawa lagi.
"Sudah, katakan dengan jelas. Apa tujuanmu menelpon saya" Tanya Frischa dengan nada tegas.
"Wow...pelan dong. Kamu sekarang pasti lagi mencari dua sahabatmu yang tidak berguna itu, kan?" Tanya Anjela yang membuat Frischa semakin cemas.
"Vhia dan Cherly tidak ada hubungannya dengan ini" Ucap Frischa.
"Tidak ada hubungan? Jelas-jelas mereka ada hubungannya dengan ini semua. Mereka berdua sudah memberikan berita yang tidak benar padamu. Dan itu membuat Reni dan saya merasa di rugikan" Ucap Anjela dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"Jadi kau dan Reni yang sudah membawa Vhia dan Cherly. Katakan di mana mereka Anjela" Ucap Frischa dengan sedikit emosi.
"Hahahaha..kami masih bermain-main dengan mereka berdua. Jadi jangan pernah melakukan sesuatu hal yang akan merugikan dirimu dan juga kedua sahabatmu ini." Ucap Anjela kemudian memutuskan sambungan telepon dengan tiba-tiba.
"Anjela...halo...halo..Anjela...." Teriak Frischa ketika sambungan teleponnya terputus.
"Bas, Will. Vhia dan Cherly sekarang berada di tangan Anjela dan Reni. Aku takut sesuatu hal akan terjadi pada mereka berdua. Tolong, kita harus bisa menemukan Vhia dan Cherly." Ucap Frischa terlihat begitu panik.
Bastian dan Willy melihat keadaan Frischa hanya menahan emosi. Mereka begitu tidak percaya Reni dan Anjela bisa bersikap kriminal seperti itu.
"Cha, kamu tenang saja yah. Kita akan segera menemukan Vhia dan Cherly, dan aku pastikan tidak akan terjadi sesuatu hal pada mereka berdua" Ucap Bastian dengan penuh keyakinan.
Frischa tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia kembali terisak meratapi nasibnya sekarang. Keluarga yang tidak mau percaya padanya, sahabat-sahabat yang mengkhianatinya dan sekarang kekasihnya pun berkhianat bahkan sudah menikah dengan perempuan lain.
Willy melihat Frischa menangis langsung memeluk sahabatnya itu.
"Percayalah Frischa, dibalik masalahmu sekarang Tuhan sudah menyiapkan kado istimewa untukmu. Sekarang kamu berdoa semoga kita bisa segera menemukan Vhia dan Cherly. Dan semua masalahmu secepatnya selesai" Ucap Willy sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Pa..ma.. Frischa rindu. Apakah di hati kalian tidak ada rasa sayang lagi untukku." Batin Frischa dengan kembali terisak dalam pelukan Willy.
*Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments